JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 69


__ADS_3

Menjauhkan wajan suaminya yang masin saja mengganggu anaknya.


Syifa hanya menggeleng-geleng melihat kakaknya itu. la jadi tidak sabar menunggu anaknya lahir di tengah-tengah keluarga kecilnya.


"Ok aku mandi dulu" Dion mencium kening ivana kemudian menuju kamarnya. Ivana hanya memberi tatapan maklum pada Syifa yang memperhatikannya sedari tadi.


"Kak, aku boleh gendong Kiara?" Tanya syifa menghampiri ivana yang menggendong Kiara.


"Boleh. Tapi hati-hati ya "ivana menyerahkan Kiara ke dalam gendongan Syifa.


Syifa menoel-noel pipi chubby kemerahan


keponakannya itu. Kiara tampak tenang


digendongan Syifa la memejamkan matanya


setelah kenyang meminum asi


"Aku jadi gak sabar deh menunggu Little Bram lahir". Gumam Syifa sambil memainkan tangan Kiara yang terlelap di gendongannya.


"Tinggal beberapa hari lagi kamu akan berjuang.Syifa " sahut ivana


"Ya aku akan menjadi seorang ibu bukan Syifa yang manja lagi "Syifa terkekeh. Tidak terasa selama hampir dua puluh lima tahun hidupnya. Syifa sudah memiliki keluarga sendiri.


"Nanti kamu akan merasakannya saat anak kamu menangis untuk pertama kalinya" ucap ivana la sudah merasakannya saat melahirkan Kiara.


Tak lama kemudian, mama dan papa Syifa, Bram beserta Dion sudah siap dan duduk di meja makan untuk sarapan, Kiara pun sudah berada dalam gendongan ivana


"Selamat pagi anak-anakku semua dan juga cucuku." Mama Syifa langsung mengambil alih Kiara ke dalam gendongannya.


"Pagi ma." Sahut Dion, ivana. Syifa dan Bram.


"Mama senang deh kalian pada kumpul semua disini. Mama jadi gak kesepian. Terlebih lagi beberapa hari lagi mama akan punya cucu lagi" ucap mama Syifa berujar senang.


Mereka semua sarapan dengan suasana yang penuh canda tawa kehangatan. Syifa benar-benar merindukan keluarganya saat berkumpul.


Selesai sarapan, Syifa mengantar Bram sampai depan rumah karena Bram mau berangkat kerja.


"Sayang, aku berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah, jangan kecapean!" Ucap Bram terus memperingati Syifa dengan ucapan yang sama.


"Iya aku paham, Bram!" Syifa memutar kedua bola matanya malas. Bram semakin menjadi protective padanya semenjak kejadian beberapa bulan lalu.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kamu sebentar lagi akan melahirkan" Nasehat Bram. Syifa mengangguk


Bram kemudian mengecup bibir Syifa lembut lalu beralih ke keningnya.


Okey, aku berangkat dulu” ucap Bram


"Bram, kamu gak mau pamit sama Little Bram?" Bram menahan lengan Bram.

__ADS_1


Bram langsung berjongkok mensejajarkan


wajahnya dengan perut besar istrinya.


Kemudian ia mencium perut Bram dengan


penuh sayang


"Hey boy! Jaga mommy baik-baik. Sabar ya sebentar lagi kamu akan lahir." Bram menyapa anaknya.


"Kamu senang banget panggil dia boy sih? "Syifa membelalakkan matanya. Setiap berinteraksi dengan anaknya, Bram selalu memanggilnya boy. Sepertinya Bram menginginkan nama anak mereka boy nanti.


"Feeling aku dia itu laki-laki, sayang" Bram kemudian berdiri dan mengelus perut Syifa.


"Kalau dia perempuan?"


"Gak Seratus persen dia laki-laki "Bram tetap keras kepala akan pendapatnya.


"Awas aja kalau dia lahir dugaan kamu itu salah" ancam Syifaa.


"Gak akan, sayang" Bram terkekeh kemudian mencubit pipi Syifa dengan gemas.


"Aku berangkat dulu. Jangan banyak gerak. sayang" pamit Bram kemudian naik ke dalam mobilnya.


Syifa memperhatikan mobil Bram sampai hilang di balik pintu gerbang rumahnya. Kemudian Syifa menghampiri Bi Inah yang sedang menyiram taman kecil di halaman rumahnya. Kelihatannya asyik, jadi Syifa tertarik ingin menyiram tanaman itu.


"Pagi, Bi Inah!" Sapa Syifa dengan suara menggelegar nya membuat Bi Inah tersontak kaget.


"Hehe maaf bi"Syifa hanya terkekeh tanpa dosa.


"Biar aku aja yang siram tanamannya, bi" ucap Syifa menawarkan dirinya.


"Jangan. Non. Nanti kecapekan, biar Bibi aja"


ucap Bi Inah.


"Gak apa, bi. Cuma siram doang gak bakal capek kok" Syifa langsung mengambil selang yang dipegang Bi Inah.


"Eh nanti Bibi dimarahin sama suami bulenya, Non" ucap Bi Inah.


"Gak, Bi. Nanti aku yang jelasin ke Bram " ucap Syifa beralih menyiram tanaman.


"Yaudah kalau begitu, bibi masuk dulu ya. Mau cuci baju" ucap Bi Inah yang akhirnya mengalah. Syifa menganggukan kepalanya.


Syifa asyik menyiram tanaman yang berada di taman kecil milik mamanya. Ia jadi teringat pada taman yang terdapat bermacam bagai bunga di rumah besar


Syifa memang sudah pernah menanya pada Bram mengapa mereka tidak pindah saja ke rumahnya. Namun Bram bilang, tunggu anaknya sampai berumur enam bulan baru mereka akan pindah ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, Syifa merasa perutnya keram dan nyeri pada bagian pinggul serta punggungnya.

__ADS_1


"Awh. Syifa lalu mematikan keran air dan memegang perutnya. la takut kejadian seperti yang lalu terjadi lagi.


Mama Syifa tidak sengaja melihat Syifa yang merintih sakit langsung menghampiri Syifa.


"Syifa, kamu kenapa sayang?" Tanya mama


dengan wajah khawatir.


"Awh. Ma, perut aku sakit" ucap Syifa.


Wajahnya sudah memucat "Kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya kamu akan melahirkan ucap mama


"Tapi dokter bilang, Syifa akan melahirkan hari ke empat atau lima" sahut Syifa tetapi kemudian ia merasakan cairan bening mengalir di pangkal paha dan kakinya.


"Ucapan dokter tidak selalu tepat, Syifa. Tuh air ketuban kamu sudah pecah. Ayo kita ke rumah sakit!" Ucap mama khawatir.


Mama memanggil Pak Kardi untuk menyiapkan mobil dan Bi Inah untuk mengambil beberapa pakaian Syifa. ivana yang sedang memandikan Kiara. juga ikut panik melihat adik Iparnya.


"ivana, tolong kamu hubungi Bram. Mama dan Syifa langsung berangkat ke rumah sakit "ucap mama lalu menuntun Syifa masuk ke dalam mobil.


ivana mengangguk lalu ia meraih ponselnya menghubungi Bram


Bram yang baru saja sampai di kantor, namun tak lama ia mendapat telepon dari kakak iparnya bahwa Syifa dilarikan ke rumah sakit. la langsung menancap gas mobilnya kembali menuju rumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit,Bram langsung menghampiri mertuanya dan istrinya. la sungguh panik saat ini.


"Bram, bagus kamu datang. Syifa sepertinya akan melahirkan "ucap mama mendapati menantunya yang datang tepat waktu.


"Syifa di mana ma?" Sahut Bram mencari keberadaan istrinya.


"Syifa ada di dalam, sudah pembukaan ke delapan dan masih dua pembukaan lagi akan lahir "jelas mama.


Tanpa banyak bicara. Bram langsung memasuki ruang IGD yang disana ada istrinya yang sedang berjuang.


Peluh bercucuran di dahi Syifa. Serta wajah pucat menahan sakit yang amat di bagian perutnya.


"Bram, sakit!" Tanpa aba-aba, Syifa langsung mencengkram lengan Bram dengan kuat


"Kamu yang kuat sayang. Demi anak kita!" Ucap Bram mengelap peluh di dahi Syifa.


"Sumpah, kalau tahu rasanya sesakit ini aku gak bakal mau punya anak lagi" Syifa mengoceh


tidak jelas sambil menahan rasa sakitnya.


"Kok gitu, sayang? Menjadi ibu itu adalah anugerah terbesar Tuhan" sahut Bram menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja istrinya ini.


"Kamu enak tinggal sumbang. Aku yang gak enak harus menjaga selama sembilan bulan plus melahirkannya" Syifa terus saja memaki suaminya dengan tangannya yang semakin kuat mencengkram lengan Bram.


"Aku kan maunya kita punya anak hingga dua puluh." Bram terkekeh pelan.

__ADS_1


"Enak aja! SAKIT, Bram!" Syifa mencubit pinggang Bram dengan gemas. Bram hanya tertawa geli


"Ayo. sayang kamu harus kuat!" Bram membelai lembut pipi Syifa yang terlihat memerah mungkin karena menahan sakit.


__ADS_2