
Hari terus berlalu, keadaan kak Arsy juga sedikit membaik. Kak Arsy sudah 10 hari terbaring di rumah sakit. Aku dan mama setiap malamnya bernalam di rumah sakit, sementara Dela sesekali harus pulang karena harus masuk kuliah. Dela juga yang selalu menbawakan baju ganti untuk aku dan mama. Papa kak Reza kak Rifal dan istrinya datang secara bergantian karena Ayla harus di antar dan dijemput saat hendak ke sekolah dan saat kak Rifal dan istrinya harus masuk kantor papa yang selalu menjaga Ayla. Kak Reza pun demikian sangat sibuk dengan pekerjaannya. Iya, cuma aku dan mama yang tidak punya kesibukan selain menjaga kak Arsy di rumah sakit.
Sampai saat ini ayah dan ibu tiri kak Arsy belum datang menjenguk anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit. Kak Arsy seakan tidak punya lagi keluarga selain mama dan papa. Iya, sejak ibunya meninggal papanya menikah lagi dan sangat jarang menemui kedua anaknya kak Arsy dan Dela kecuali saat pernikahaan aku dan kak Arsy, ayahnya menyempatkan untuk datang...
Bukan karena hubungan kak Arsy dengan ayahnya tidak baik, tetapi kami tinggal di pulau yang berbeda, kak Arsy tinggal di pulau sulawesi dan ayahnya di pulau jawa. Kami paham karena penerbangan juga mahal, tapi ayah kak Arsy selalu menelfon ke papa untuk selalu menanyakan keadaan anaknya...
Aku paham bagaimana perasaan ayah saat mengetahui anaknya sedang sakit. Tapi apalah daya ketika jarak membuatnya tidak bisa menjenguk anaknya ditambah biaya yang mahal. Ayah kak Arsy juga merasakan apa yang kami rasakan, hanya doa untuk kesembuhan kak Arsy yang selalu ayah mertau aku yang selalu dipanjatkan untuk anak pertamanya dari pernikahan tante Bia' (mama kakArsy)..........
Keadaan kak Arsy sudah cukup membaik, sudah bisa berbicara, sudah bisa membangunkan dirinya dari pembaringan, sakit di kepalanya sudah mulai redah. Sesekali si baby menari dalam perut ketika papa Arsy mengecupnya, gerakannya semakin aktif dalam perut....
Aku masih setia dengan kak Arsy di rumah sakit, kak Reza sesekali datang begitupun dengan kak Rifal dan istrinya. Mama dan papa sudah balik ke kampung, rumah di kampung tidak boleh di kosongkan lama. Dela juga sesekali datang menggantikan aku menjaga kak Arsy ketika pulang dari kampus....
Aku belum tau pasti bagaimana kronologi kecelakaan kak Arsy, aku belum bertanya kejadian ini padanya. Aku biarkan waktu terus berjalan dan menunggu kondisinya kembali normal. Yang aku khawatirkan kak Arsy akan mengalami pusing ketika aku bertanya banyak hal karena harus mengingat kejadian-kejadian tersebut sementara saat itu kak Arsy tidak sadarkan diri....
Menurut dokter yang menangani kak Arsy, salah satu dokter dari rumah sakit ini juga yang menolongnya dan membawanya kemari tapi aku tidak tau siapa sosok superhero tersebut.....
Rasa penasaran tentang sosoknya, aku ingin s'kali mengucapkan rasa terima kasih telah menolong kak Arsy, kalau dia tidak datang saat itu mungkin takdirku sudah menjadi janda.....
Aku mencoba bertanya sama dokter yang menangani kak Arsy ketika datang memeriksa. Dok boleh aku tau siapa sosok superhero yang menolong suami saya saat kejadian itu. Aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan rasa terima kasih telah menolong suami saya..Tanyaku menjauh dari kak Arsy karena kejadian ini kak Arsy tidak tau siapa yang menolongnya.
Oh, iya namanya dr. Annavita, beliau kepala rumah sakit di sini. Jawab si dokter itu ramah.
Boleh aku menemuinya dok.? Pintahku,,,
Boleh, mari saya antar. Jawab dokter sambil berjalan keluar dari ruangan.
Aku terlebih dahulu izin sama kak Arsy untuk keluar sebentar. Tidak apa-apa aku tinggal sebentar yah ada urusan sama dokter di luar.. kataku pada kak Arsy,
Kak Arsy dengan tulus mengiyakan permintaanku....
Aku segera mengikuti langkah si dokter menuju ruangan dr. Annavita yang menolong kak Arsy ketika kecelakaan.....
Selamat siang dok, ada yang ingin bertemu dengan dokter. Ucap si dokter yang mengantar aku...
__ADS_1
Silahkan masuk, jawab dr. Annavita....
Selamat siang dok aku Putri, aku mendengar kabar bahwa dokter yang telah menemukan pasien atas nama Muh.Arsyad Ridwan yang kecelakaan di jalan Rajawali dan membawa pasien tersebut ke rumah sakit ini,,, maksud aku menemui dokter aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku telah menolong suami aku dok.
Aku sangat bersyukur Allah mengirimkan malaikat buat menyelamatkan suami aku, dengan keadaanku yang seperti ini. Sambil aku berbicara dan dr. Annavita melirik ke sekujur tubuhku. Terlihat jelas kalau perut aku besar.
Dr.Annavita belum mengeluarkan sepatah katapun dari apa yang telah aku katakan tadi. Masih terdiam menatapku kosong....
Dok, maaf apa dokter mendengarkan aku bicara. Aku kembali membuka mulut.
Oh, iyaa.maaf. aku pikir ibu tidak perlu mengucapkan rasa terima kasih karena itu sudah kewajiban saya sebagai dokter untuk membantu seseorang yang lagi butuh apalagi orang yang sedang mengalami kecelakaan. Aku tidak tau pasti wajah si pasien atas nama siapa tadi.? Pak Aryad dok, jawabku. Iya pasien atas nam Pak Arsyad ini mengalami luka yang sangat serius di bagian kepala, dan saat kejadian itu saya minta tolong sama warga untuk mengangkat bapak naik di mobil saya dengan darah yang berlumuran di wajahnya. Dan kebetulan saya tugas di sini jadi langsung saya larikan bapak ke rumah sakit ini, dan saya memerintahkan dokter yang lain untuk segera di tindak lanjuti karena kalau sudah terlambat nyawanya tidak akan selamat....
Aku seketika terharu mendengar pernyataan dr. Annavita apabila tidak ada dirinya menolong kak Arsy mungkin kak Arsy tak di dunia lagi saat ini...
Dok, aku sangat berterima kasih. Aku tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi apabila dokter tidak membawa suami aku kerumah sakit, lirihku dengan suara tangis...
Ibu, jangan khawatir bapak akan segera sehat. Semua laporan sudah aku terima dan in syaa Allah tiga sampai empat hari kedepan bapak bisa pulang dan istirahat yang cukup di rumah yah. Saat ini masih di tangani sama dokter lain karena takut ada infeksi di kepalnya, selama masih di sini perban akan di ganti tiap hari kecuali kalau sudah mengering perbanya bisa di buka dan bapak juga sudah bisa pulang.
Oh. Sangat di bolehkan dok dengan senang hati karena dokter telah menolongnya....
Aku dan dr. Annavita segera keluar dari ruangannya dan menuju ruangan kak Arsy...
Kak Arsy yang sedang terbaring melihat aku dan dr. Annavita masuk rungan.
Selamat siang pak bagaimana keadaan bapak sekarang.? Tanya dokter Annavita,
Alhamdulillah, sudah membaik dok. Jawab kak Arsy...
Ini dr. Annavita yang menolong kamu waktu kecelakaan di jalan dan dia membawa kamu ke rumah sakit ini. Ucapku.
Kak Arsy tidak menyadari bahwa saat itu dia pingsan dengan lumuran darah di wajahnya, Kak Arsy mencoba mengingat sesuatu.
Annavita,? iya dia Vita. Gumam kak Arsy masih menatap dr. Annavita dengan tatapan yang tak bisa kumaknai..
__ADS_1
Vita.? Kamu Vita kan, tanya kak Arsy.
Dr. Annavita mengangguk sambil tersenyum.
Aku tak habis pikir mereka saling mengenal. Apa iya ini dokter yang di maksud kak Arsy dulu, tapi mana mungkin bukan kah dokter yang di maksud dulu itu orangnya tidak seprofesional dokter yang ada di depan aku saat ini. Gumamku semakin penasaran. Iya, aku tidak mengenal dokter Vita yang mengejar cinta kak Arsy dulu meski harus menjebaknya, nama Vita pun ini aku baru dengar. Apa benar dia dokter yang pernah kak Arsy cerita dulu...
Kak Arsy diam, menatap aku dan sesekali melirik ke dr. Annavita, aku tentu tidak paham maksudnya tanpa ada penjelasan darinya.
Kalau begitu, aku permisi dulu. Silahkan memencet tombol ini (dr. Annavita sambil menunjuk tombol yang berada di atas kepala tempat tidur kak Arsy) jika perlu sesuatu atau terjadi apa-apa pada bapak yah.... seru dr. Annavita sambil keluar dari ruangan dengan senyuman dengan sangat nampak wajah profesionalnya....
Kak Arsy tau siapa dokter Annavita, tanyaku menghampirinya.
Hmmmm. Iyaaa, jawab kak Arsy.
Siapa dia.? Tanyaku kembali.
Kak Arsy bangun dari pembaringannya, mendekap kepalaku sambil mengecupnya.
Kamu ingat waktu itu, saat aku kena jebakan dari seorang dokter.? Iya dia pelakunya... jawab kak Arsy dengan nada kesal ataupun bagaimana gitu...
Aku melepas dekapannya, masa iyyya dia orangnya, kenapa dia nampak biasa saja saat menemui kamu tadi. Dia yang meminta untuk masuk ke ruangan ini... Aku tidak pernah membayangkan bagaiamana wajahnya saat dia berlagak jahat. Dia seprofessional itu menanggapi ini, bagaimana kamu kalau tidak ada dia. Dia yang menolong kak Arsy dan membawa ke sini. Bukankah dia menolong karena masih cinta sama kamu kan.? Tanyaku merasa di rundumg sedih.
Hzzzttttt,, jangan pikir yang aneh-aneh, tidak boleh. Dzu'udzon sama orang kan dosa. Kak Arsy ambil menyeka air mataku...
Mungkin saja dia sudah berubah kan, lihat bagaimana professionalnya dia menangani pasien, semuanya di samakan aku dan dan pasien yang lain...
Kak Arsy kembali mendekapku dengan jarum impus yang masih melekat di punggung tangan kanannya...
♡♡♡♡♡
☆☆☆☆
💓💓💓💓
__ADS_1