JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 70


__ADS_3

Tak lama kemudian, seorang dokter wanita dan


dua suster menghampirinya.


"Permisi. Maaf, ibu Syifa harus di pindahkan ke ruang bersalin karena akan segera melahirkan" ucap dokter yang berumur sekitar empat puluh tahunan itu.


"Dok, apa proses persalinannya akan baik-baik saja? "Belum juga melahirkan, Bram sudah khawatir duluan membuat dokter itu tersenyum simpul.


"Semoga baik-baik saja. Kemungkinan ibu Syifa akan menghabiskan tenaga untuk melahirkannya ucap dokter tersebut.


"Maksud, dokter?" Bram mengerutkan


keningnya tak paham.


"Dugaannya adalah laki-laki. Sangat positif" jelas dokter tersebut membuat Bram terkejut sekaligus bahagia.


"Apakah benar, dok?" Tak dapat dipungkiri ekspresi wajah Bram saat ini.


Sebelum dokter itu menjawab, suara Karen


yang melengking lebih dulu menyahut


"DOKTER JANGAN KEBANYAKAN NGOMONG SAMA SUAMI SAYA. PERUT SAYA SAKIT!!! Teriak Syifa yang berhasil membuat Bram, dokter. dan dua suster melonjak kaget.


"Eh. lya. baik bu. Sebaiknya kita lakukan persalinan sekarang" ucap sang dokter yang panik.


Dua suster itu pun mendorong brankar Syifa. Sedangkan Syifa, ia tidak mau melepaskan cengkraman nya pada lengan suaminya. la butuh pelampiasan rasa sakitnya saat persalinan.


Saat di ruang bersalin, Syifa sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi. Ingin rasanya la mendorong agar bayinya keluar dengan segera. Namun dokter belum memberinya aba-aba.


Sedangkan Bram, ia sudah berganti baju dengan baju hijau khas rumah sakit. Sedangkan mama Syifa lebih memilih menunggu cucunya di luar.


"Sekarang, ibu tarik nafas, buang perlahan" instruksi sang dokter sedangkan Syifa sudah bersiap. la mengikuti instruksi tersebut.


"Aaaaa!!!" Syifa berteriak


sekencang-kencangnya saat mulai melahirkan.


Bram sangat terkejut saat tiba-tiba Syifa menarik bajunya dan mencengkram lengannya lebih erat.


"Ayo, bu! Tarik nafas, buang!" Ucap dokter


tersebut sambil melihat bagian bawah Syifa


"Aaaaahhhh!!!! Syifa berusaha mendorongnya lebih kuat dengan seluruh tenaganya.

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti bisa! Ayo, buruan!" Bram terus menyemangati istrinya walaupun Karen sampai mencakar nya.


la tidak tega melihat Syifa yang rela berjuang melahirkan anaknya. Maka dari itu. Bram sudah tidak peduli dengan penampilan berantakannya saat Syifa menjambaknya. mencakar nya untuk melampiaskan rasa sakitnya.


"Kamu enak tinggal teriak doang gak berjuang kayak aku!" Sahut Syifa dengan nafas terengah di sela-sela perjuangannya mendorong anaknya keluar.


Ini aku lagi berjuang juga, sayang "ucap Bram menahan rasa perih pada rambutnya yang dijambak Syifa.


"Berjuang apanya? Uhh aku gak mau punya anak lagi kalau seperti ini sakitnya!! "Syifa semakin keras menjambak rambut suaminya. Bram mengerang pelan, jambakan Syifa sungguh perih demi apapun


"Ayo, bu. Terus dorong. Ya, sudah kelihatan kepalanya." Sang dokter terus memberi instruksi.


"Dokter sabar! Saya lagi berusaha!" Dengan kesal Syifa membentak dokter tersebut membuat sang dokter terkejut akan respon Syifa.


"Ayo, sayang. Semangat!" Timpal


Bram disampingnya.


"Kamu juga! Sakit. Bram. Besok-besok biar kamu aja yang melahirkan biar tau rasanya seperti apa!" Bentak Syifa dengan kesal pada Bram.


"Eh mana bisa begitu, sayang. Tugas aku hanya memberi gen yang bagus" sahut Bram. Walaupun sedang melahirkan, tetap saja cerewetnya tidak hilang.


"Aaaahh!! Bram ini anak kamu gak mau keluar!! Teriak Syifa dengan tergesa-gesa


"Dorong terus, Bu. Sedikit lagi" ucap sang dokter tanpa mempedulikan pasangan unik di depannya.


"Hoek. Hoek." Suara tangis bayi pun keluar.Syifa merasa lega setelah anaknya berhasil keluar.


"Selamat. Bu. Bayinya laki-laki. Ganteng seperti ayahnya ucap sang dokter lalu memberi bayi mungil yang masih berlumur darah itu agar dipeluk ibunya.


Mata Bram sudah berkaca-kaca. Tidak ada yang dapat melukiskan betapa bahagianya la saat ini. la sudah menjadi seorang ayah seutuhnya.


Syifa memeluk bayinya dengan air mata menggenang di pelupuknya. la tidak menyangka menjadi seorang ibu sesungguhnya.


Terima kasih, terima kasih, sayang" Bram memeluk Syifa dan juga mengecup keningnya dan mencium anaknya secara bergantian


setelah selesai melahirkan anak Bram dan Syifa di masukkan ke dalam ruangan inkubator bayi dulu


Mereka keluar ruangan dan menuju ruang Inkubator bayi. Mama. Mommy beserta Daddy juga ikut melihat cucunya itu.


Setibanya di ruang bayi, Bram meminta izin pada suster yang menjaga bayinya. Suster itupun dengan hati-hati menyerahkannya pada Karen yang duduk di kursi roda.


Syifa memeluk bayinya dan memperhatikan bagaimana rupa bayinya. Rambut tipis berwarna kecoklatan, hidung mancungnya, bibir tipisnya dan kulit putihnya benar-benar mirip dengan Bram. Namun tidak terkecuali matanya. Syifa belum dapat melihat warna mata anaknya apakah berwarna biru seperti Bram atau coklat seperti dirinya.


"Ih ini curang. Kenapa semuanya mirip kamu? Gak mirip aku sama sekali!" Ucap Syifa membuat Bram sedikit terkekeh dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan istrinya.

__ADS_1


Tapi sepertinya sifatnya seperti kamu sayang" ucap Bram lalu mengecup pipi gembul anaknya.


"Masa yang mirip sama aku hanya sifatnya? CK. gak adil "Syifa mengerucutkan bibirnya. Bram mengecup sekilas bibir Syifa yang mengerucut.


"Omong-omong, kamu sudah memberinya nama?" Tanya Syifa kemudian. Bram mengangguk


"alshakar rafka Ravindra Joseph" sahut Bram tersenyum.


6 bulan kemudian.


Seiring berjalannya waktu, rafka semakin tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Bram terus memanjatkan syukur dalam hatinya tiada henti. Mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan


Semakin hari, putra pertamanya. rafka. semakin mirip dengan Bram. Dari rambutnya. kulitnya, wajahnya, namun yang berbeda adalah warna matanya. Matanya berwarna coklat seperti Syifa.


"Ini sungguh tidak adil. Aku gak suka!" Ucap


Syifa cemberut karena merasa semakin hari. putranya semakin mirip dengan suaminya. "Apanya yang tidak adil, sayang?" Ucap Bram


Hampir setiap hari Syifa selalu mendumel.


"Anak kita. rafka, dia lebih mirip kamu daripada aku" sahut Syifa dengan cemberut


"Wajar dong kan aku yang buat "Bram menyengir lebar. Ekspresi wajah Syifa makin kesal.


"Tapikan aku yang melahirkan. Harusnya lebih


mirip aku" ucap Syifa tidak terima.


"Sudah, sayang. Kamu selalu begitu terus setiap hari ucap Bram mengacak rambut Syifa dengan gemas.


"Aku mau masak dulu. Nanti papa, mama, Kak Dion mau main. Kamu jagain rafka Awas kalau sampai lecet!" Ancam Syifa membuat Bram terkikik geli. Istrinya semakin galak saja setelah melahirkan.


Syifa pun beranjak menuju dapur untuk siap-siap bersama bi Inem. Sepeninggal Syifa,


Bram mengangkat rafka tinggi-tinggi membuat bayi mungil itu tertawa.


"Oh rafka, kenapa mommy jadi galak sama daddy, hah? Gumamnya pada rafka.


"Ea... rafka tertawa lebar membuat Bram


gemas dengan anaknya.


"Kok kamu ketawain daddy, hmmm?" Bram dengan gemas mencium pipi gembul rafka bertubi-tubi membuat bayi itu tertawa.


Ting nong Ting nong.. Suara bel rumah membuat Bram menghentikan bercandanya dengan rafka. la pun menggendong rafka dan membuka pintu melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


"Hai, sayang" Bram terkejut mendapati mommy dan daddynya di depan pintu.


"Mommy, daddy!" Gumamnya.


__ADS_2