
Bram sedang sibuk dengan berkas-berkas yang bertumpuk di meja kerjanya. Berulang kali ia membaca dan mengerjakan berkas itu dengan teliti dan tidak ada yang terlewat satupun la sedang pusing. Tadi saat baru sampai kantor, ia menerima surat pengunduran diri dari sekretaris pribadinya. Jadilah ia repot mengerjakan semuanya.
Angga masuk ke dalam ruangan Bram, la tahu bahwa sekretaris pribadi Bram baru saja mengundurkan diri secara mendadak, la pun bolak-balik ke ruang Bram untuk mencari sekretaris baru untuk Bram
"Bram, untuk sementara gue bersedia jadi sekretaris lo." ucap Angga mendudukan dirinya di sofa. Bram masih fokus pada laptopnya.
"Gak usah. Angga. Kan lo juga punya kerjaan
sendiri. Sementara ini gue sanggup selesain ini
semua" sahut Bram tanpa menoleh dan jarinya
bernari-nari ria diatas keyboard.
"Tapi lo bakal kerepotan kalau kerjain semuanya sendiri" sanggah Angga la sendiri jadi capek melihat sahabatnya yang dilanda kerepotan
"Kita harus cari sekretaris baru buat lo. Bram" lanjut Angga. la tak bisa melihat sahabatnya yang terus-terusan terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya. Cari secepatnya" Bram langsung menjawab tanpa mengalihkan tatapannya pada laptop.
"Gue bakal berusaha secepatnya" ucap Angga kemudian ia beranjak dan berpamitan keluar dari ruangan Bram.
Sebuah ide terlintas di otaknya. Bram kemudian meraih ponselnya di samping laptop Lalu mendial salah satu kontak di ponselnya. Tak lama kemudian panggilan itu terjawab
dikantor papa nya Syifa
"Selamat Alika. Akhirnya lo jadi pengganti gue juga jadi manager "ucap Syifa memberi selamat pada Alika. la baru saja di ceritakan oleh Alika bahwa sahabatnya itu sudah menjadi manager di perusahaan papanya
"Thanks. Lo tau gak? Sejak gue jadi manager, gue kewalahan karena kerjaan yang datang tak menentu" adu Alika pada Syifa. Syifaa hanya terkekeh. la tahu ini pertama kalinya bagi Alika bekerja lebih giat
"Nanti lo juga terbiasa. Alika" ucap Syifa terkekeh karena Alika yang terus saja menggerutu.
"Ternyata jadi atasan itu gak enak juga ya.” ucap Alika. Syifa hanya terkekeh. Syifa merasakan ponselnya berdering. la pun buru-buru mengangkat panggilan itu.
"Siapa, fa?" Tanya Alika yang mendengar
suara Syifa Karen.
"Bram " Jawab Syifa setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
__ADS_1
"Cepat angkat. Nanti si ganteng marah-marah" Alika tersenyum menggoda Syifa. Syifa pun mengangguk dan menggeser layar ponselnya.
"Halo"
"Halo, sayang" sahut Bram dari seberang.
"Ada apa?"
"Sayang, kamu bisa ke kantor aku sekarang gak?
"ke kantor kamu?" Syifa mengerutkan keningnya. Mengapa Bram memintanya ke kantor pria itu atau ada berkas yang ketinggalan sehingga ia di telepon oleh suaminya itu.
"Iya sekarang. Aku tunggu"
"Lho, bukannya ini masih pagi dan belum masuk waktu makan siang? Jadi kenapa aku harus ke kantor kamu?" Ucap Syifa terheran. Biasanya juga ia akan datang ke kantor pria itu untuk membawakan makan siang.
"Sudah datang aja"
"Tapi."
"Datang aja. sayang" Syifa membuang nafasnya. la mengerti jika Bram sudah berbicara dengan nada tegasnya, tandanya ia tidak boleh menolaknya.
"Okey. Sampai jumpa nanti, sayang"
"Ya Bye"
Sambungan teleponnya dengan Bram pun terputus. Sejak tadi Alika hanya memperhatikan Syifa yang sedang menelpon dengan Bram. Syifa membuang nafasnya kasar. Untuk apa ia disuruh ke kantor Bram? Padahal ini masih Pagi dan jadwal biasanya ia akan ke kantor Bram siang hari
"Kenapa. Syifa?" Tanya Alika yang melihat wajah Syifa yang menahan kesal.
"Bram menyuruh gue ke kantornya" sahut Syifa
dengan lirih.
"Buat apa dia menyuruh lo ke kantornya?" Tanya Alika penasaran.
"Gak tau. Biasanya gue ke kantornya nanti siang sekalian bawain dia makan siang" Syifa menggendikan bahunya.
"Oh yaudah. Lo ke sana sekarang, gih" Ucap Alika
__ADS_1
"Lo ngusir gue ka?" Syifa mengerucutkan
bibirnya Alika tertawa
"Bukan gitu. Nanti si ganteng kelamaan nungguin dia "ucap Alika .
"Gue duluan ya. Selamat bekerja, bu Manager" ucap Syifa pamit sambil menggoda sahabatnya itu. Alika membulatkan kedua bola matanya akan godaan yang Syifa lontarkan Syifa padanya.
"Syifa..." ucap Alika. Syifa terkekeh dan segera meninggalkan ruangan Alika . la tahu Alika tidak suka digoda olehnya.
Syifa pun segera ke kantor Bram. Setibanya di depan kantor, Syifa menyetop taksi karena Pak Kardi, supirnya sudah ia suruh pulang saat mengantarnya. Syifa pun merasa tak enak
Jika menelpon Pak Kardi untuk menjemputnya Karena sekarang, pasti Pak Kardi baru sampai di apartemennya.
Tak lama, sebuah taksi berhenti dan ia langsung masuk ke dalam taksi itu.
"Mau ke mana, mbak?" tanya Pak supir taksi dengan ramah.
"Ke Kantor RAIN Company, pak" sahut Syifa. Pak supir mengangguk dan segera ke alamat yang dituju.
Dua puluh menit kemudian, taksi yang membawa Syifa sampai di depan kantor Bram. Syifa segera mengambil dua lembar uang seratusan dan memberikannya pada supir taksi tersebut. Tak lupa juga ia berterima kasih pada supir taksi yang sudah mengantarnya.
Beberapa pegawai Bram menyapanya dengan ramah. Syifa pun membalasnya dengan tersenyum ramah la pun segera menaiki lift menuju ruangan Bram Sampai sekarang ia masih menebak-nebak mengapa Bram menyuruhnya datang ke sini
Bram langsung masuk ke dalam ruangan Bram tanpa mengetuk pintu dahulu la bisa melihat berkas-berkas yang menumpuk di samping meja kerja Bram dan Bram yang tenggelam dalam perkerjaannya belum menyadari bahwa dirinya sudah datang Syifa pun berdeham agar Bram menyadari kehadirannya
"Akhirnya kamu datang juga, sayang" Bram beranjak dari kursinya lalu mencium Syifa. la terlalu serius dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari kehadiran Syifa.
"Kenapa kamu suruh aku datang ke sini?" Syifa langsung menanyakan intinya pada Bram.
"Hmm aku butuh bantuan kamu" sahut Bram
"Bantuan apa?" Syifa mengernyitkan dahinya.
"Tolong bantuin aku menyelesaikan berkas-berkas ini. Tadi pagi sekretaris aku mengundurkan diri" ucap Bram. Untung saja. la mempunyai ide bahwa istrinya itu pernah bekerja sebagai manager dan tidak salah ia mencobanya. Lagipula lumayan jika Syifa menemaninya bekerja. Bram menjadi lebih semangat jika Syifa di sampingnya.
"Sekretaris kamu berhenti kerja?" Tanya Syifa. Pantas saja pada saat ingin masuk ke ruangan Bram, Syifa melihat meja sekretaris Bram di depan kosong dan terlihat lebih rapi karena sudah tidak ada berkas yang bertumpukan di meja itu.
"Iya. Aku gak tahu dia berhenti secara mendadak. Jadi aku minta bantuan kamu. Aku tahu kamu mempunyai kemampuan. Lumayan juga kan daripada kamu sendirian di apartemen" ucap Bram panjang lebar dengan senyumnya.
__ADS_1
"Kamu ganggu aku aja. Bram . Tadi pas kamu telepon aku, aku sedang berada di kantor papa" ucap Syifa cemberut mengingat pertemuannya dengan Alika harus ditunda. Padahal Syifa ingin mengobrol lebih banyak dengan sahabatnya itu.