JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 12 Arwin dan Wiwi


__ADS_3

Aku tetap di dalam ruangan ketika dosen telah keluar. Aku tidak ingin keluar. Wiwi mengajakku ke kantin makan, tetapi aku memilih untuk di kelas saja. Saat itu aku cuma bertiga di dalam ruangan. Aku menyibukkan diriku dengan handphoneku. Tiba_tiba Arwin masuk membawa sebuah kantongan yang berisi kue_kue. Arwin memberikan kue_kue itu pada kedua temannya yang duduk berdekatan. Setelah menyerahkan kue_kue itu kepada mereka. Dia menghampiriku dan mengagetkanku tetapi aku sama s’kali tidak kaget karena sebelum dia mendekatiku aku melihat dia berjalan menuju kursi yang aku duduki. Setelah dia duduk di dekatku dia membercandaiku dan meminta pin BBMku, aku pun memberinya. Aku meminta handphonenya dia, dia spontan memberiku tanpa ada alasan. Berbeda dengan laki_laki lain, ketika di minta handphonenya alasannya menghapus dulu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak bisa di lihat oleh perempuan.


Aku lihat camera handphone Arwin begitu cerah, aku menyempatkan selfi_selfi di handphonenya. Begitu banyak fotoku dalam handphonenya. Aku membuka galerinya untuk melihat hasil selfi_selfiku dan memilih untuk aku kirim. Sebelum aku mengirim fotoku, aku melihat_lihat dulu isi galerinya. Aku melihat ada foto Wiwi’ di dalam galeri dengan album download. Aku curiga dengan Arwin, tetapi aku tidak kepo saat itu Itu urusan mereka, lagian Wiwi juga teman dekatku, jadi ketika terjadi sesuatu pasti dia memberitahuku.


Tak lama kemudian, satu persatu teman_temanku yang dari kantin masuk satu persatu, tapi Wiwi’ belum masuk juga. Aku bertanya kepada mereka yang telah datang, dan katanya Wiwi’ tinggal di bawah sebentar. Pasti Wiwi’ sedang menunggu pak Arsyad lewat, untung aku tadi tidak ikut karena pasti kalau Wiwi’ tinggal di bawah dia minta untuk di temani. Ucap hatiku.


Tak lama kemudian, Wiwi datang. Dia segera mengampiriku dan duduk di dekat Arwin. Arwin sepertinya salah tingkah ketika Wiwi duduk di dekatnya. Arwin segera meninggalkan aku dan Wiwi. Wiwi berteriak memanggil Arwin untuk tetap bersama kami, tetapi Arwin langsung keluar dengan muka memerah.

__ADS_1


Hmmm.....tidak salah lagi kecurigaanku kalau Arwin sepertinya menyukai Wiwi’... pikirku


Aku langsung mengalihkan pembicaraan supaya Wiwi tidak curiga dengan pikiranku.


Wi’ kamu pernah pacaran tidak.? Tanyaku


Iya tawwa, ujarku.

__ADS_1


Aku bertanya akan pengalaman Wiwi’ ketika dia pacaran, dan dia bilang bahwa dia pacaran hanya untuk mengusir rasa galaunya. Dia pacaran bukan karena suka apalagi cinta melainkan sebagai penghibur. Katanya kalau dia pacaran itu paling lama dua minggu dan tak satu pun mantannya yang dia suka.


Aku bertanya dan sekaligus mengujinya bahwa kalau misal ada orang yang menyukaimu sekarang bagaimana. Apa kamu mau menerimanya atau tidak, dan sepertinya Wiwi telah sadar akan perbuatannya yang lalu_lalu, dia tidak mau lagi pacaran kalau dia tidak cinta karena dia hanya memanfaatkannya dan menjadikan sebagai pelampiasan.


Seiring berjalannya waktu setelah mata kuliah selesai. Aku tinggal di dalam kelas, sedangkan Wiwi’ dan teman_teman lainnya telah keluar duluan. Suasana di ruangan ini terlihat sangat sunyi karena tinggal aku sendiri. Setelah aku membereskan semua buku_bukuku, aku juga ikut keluar. Aku berjalan menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah, aku melihat Arwin duduk di depan gedung fakultas. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. Aku mengajaknya makan karena aku lihat tadi dia tidak ke kantin. Arwin pun menerima ajakanku. Aku ke kantin bersama Arwin dengan jalan kaki. Aku berbincang_bincang dengannya tentang mata kuliah. Tak terasa aku dan Arwin tiba di kantin, di sana aku melihat kak Divan yang senior itu. Sepertinya dia sedang meminum kopi. Aku mengajak Arwin untuk mendekati kak Divan, aku memberitahu Arwin kalau kak Divan itu senior kita. Aku menyapanya dan dia pun memberikan respon yang baik kepada kami. Aku duduk di samping kak Divan dan Arwin di sampingku. Arwin menjulurkan tangannya untuk berajabat tangan dengan kak Divan sebagai tanda sopannya. Kak Divan bertanya kalau Arwin ini siapa, aku pun memberitahunya kalau Arwin ini teman kelasku sekaligus sebagai ketua di kelas.


Aku dan Arwin memesan makanan yang sama, ternyata selera Arwin sama dengan seleraku. Sementara kak Divan cukup dengan secangkir kopi saja. Sambil aku menikmati makanku bersama Arwin juga serius mendengar cerita kak Divan tentang pengalamannya, kak Divan berbicara dengan sangat rendah diri. Padahal kak Divan cerdas, ramah, sopan, perhatian, namun dia sama s’kali tidak angkuh dengan apa yang ada dalam dirinya. Sepanjang perbincangan kami, kami merasa sangat nyaman dengan obrolan kak Divan sampai_sampai kami tidak ingin meninggalkan kantin ini. Kak Divan juga memberikan sedikit motivasi untuk menjadi mahasiswa yang terkenal. Kak Divan memang sosok senior yang patut di contoh.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, kami pun segera meninggalkan tempat karena sepertinya hari sudah sore. Aku dan Arwin meninggalkan kak Divan di kantin sendiri. Aku berjalan menuju parkiran fakultas yang tak jauh dari kantin. Di parkiran ini aku berpisah dengan Arwin. Aku pulang duluan sementara Arwin masih tinggal di kampus menunggu kakaknya yang masih kuliah.


__ADS_2