JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 62


__ADS_3

"Apakah Bram junior sudah memaafkanku?" Tanyanya lalu kembali mencium perut Syifa.


"Bram Junior sudah memaafkan daddy. Tapi daddy harus jujur sama mommy." Ucap Syifa menirukan suara anak kecil membuat Bram bahagia.


"Daddy janji akan jujur pada mommy." Bram mengelus perut Syifa lembut. Syifa tak sengaja melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 10.


"Jam 10. Bram. Kamu gak ke kantor?" Tanyanya pada Bram yang masih saja betah dengan perutnya.


"Aku gak ke kantor hari ini. Sahut Bram santai.


"Lalu bagaimana perusahaan kamu?" Tanya Syifa lagi.


"Sayang, aku itu bos nya jadi suka-suka aku


masuk atau tidak. Lagipula nanti kamu sama


siapa di apart?" Ucap Bram santai.


"Perut aku masih belum membuncit, Bram. Tenang aja, aku gak kenapa-kenapa kok" ucap Syifa.


"Oh ya, bagaimana dengan Raisa, sekretaris baru itu?" Tiba-tiba saja Syifa mengingat wanita itu yang membuatnya marah dengan Bram.


"Sudah aku pecat. Lagipula siapa bilang aku butuh sekretaris baru?" Sahut Bram dengan santainya.


"Aku maunya tetap kamu yang menjadi sekretaris aku, sayang. Biar sambil bekerja aku bisa mengawasi kamu secara langsung "lanjut Bram


"Ya sudah, tapi hari ini aku izin cuti, Mr. CEO "ucap Syifa . Bram terkekeh dengan panggilan baru Syifa padanya.


"CEO ini juga cuti hari ini sepertinya." Balas Bram . "Gak, kamu harus tetap ke kantor. Pekerjaan


kamu pasti numpuk apalagi kita baru pulang

__ADS_1


dari Jerman" ucap Syifa.


"Biar Angga yang mengerjakannya. Nanti aku kasih triple bonus untuknya" sahut Bram dengan entengnya.


"Bram, kasihan Angga. Ini kemauan anak kamu. Titik" ucap Syifa final.


"Tapi kamu sama siapa di sini, sayang?" Ucap Bram khawatir. Rasanya berat meninggalkan Syifa.


"Kamu gak usah khawatir. Aku mau ke rumah mama" ucap Syifa. Bram pun mengangguk setuju.


Bram pun bersiap-siap untuk ke kantor dan Syifa juga bersiap ke rumah mamanya. Pasti mamanya sangat senang saat Syifa memberi tahu padanya bahwa ia hamil.


Setelah mengantar dan menitipkan Syifa di rumah mamanya, Bram lanjut ke kantor. la yakin. pasti Angga marah-marah padanya karena ia ngaret selama berjam-jam. Jadi berasa yang pemimpin itu Angga bukan Bram.


Mama dan papa Syifa sangat senang sekali mendapati kabar bahwa Syifa tengah hamil saat Bram mengantarnya tadi. Tinggal mommy dan daddy nya Bram saja yang belum tahu perihal ini. Mengingat keduanya tinggal di London.


Hari ini Bram menjadi semangat bekerja mengingat berita kehamilan istrinya. la sampai tersenyum-senyum sendiri hingga masuk ke ruang kerjanya dan ternyata sudah ada Angga di dalamnya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku sambil menggelengkan kepalanya.


"Ngapain lo di ruangan gue?" Bukannya menjawab pertanyaan Angga, Bram malah tanya balik.


"Sudah hampir jam 12 lo baru datang Benar-benar bos yang tidak berguna." Ucap Angga. Bram memicingkan matanya. Apa salahnya ia datang siang hari. Toh kantor ini miliknya.


"Apa-apaan lo tiba-tiba ada di ruangan gue?" Tanya Bram sarkastik.


"Lama-lama gue pecat jabatan CEO lo. Mana ada bos datang seenaknya dan dengan gak tahu dirinya menyerahkan semua pekerjaannya ke gue." Sahut Angga menyindir. Ya memang. tadi pagi Bram menyerahkan pekerjaannya pada Angga karena dirinya ingin mengambil cuti. Namun akhirnya tak jadi.


"Ini kantor punya gue. Jadi suka-suka gue mau datang jam berapa. Dan soal pekerjaan yang gue kasih ke lo, tenang aja. Gue bakal kasih triple bonus" ucap Bram santai tak mengindahkan wajah kesal Gerald di hadapannya.


"Ngomong enak ya, Bram. Bukannya gue gak mau bonus, tapi kerjaan gue jadi 2 kali lipat" ucap Angga. Ya memang. pekerjaannya ditambah oleh pekerjaan Bram membuatnya tidak bisa beristirahat karena harus menyelesaikan dokumen-dokumen itu.


"Bagus, dong. Dengan begitu kan, lo adalah karyawan teladan. Gak salah gue jadiin lo wakil CEO" Bram menepuk-nepuk pundak Angga Angga segera menepisnya.

__ADS_1


"Lo aja yang jadi CEO gak bener." Sahut Angga tak mau kalah.


"Aduh merinding gue." Ucap Angga tiba-tiba,


Bram langsung menatap sahabatnya.


"Hah lo kebelet, Angga?" Tanya Bram dengan tampang polos.


"Bukan, hih seram banget ruangan lo. Bram!" Ucap Angga semakin membuat Bram tak mengerti padanya.


"Perasaan kantor ini sudah selamatan" sahut Bram.


"Bukan makhluk halus. Bram. Tapi senyum lo buat


gue merinding." Ucap Angga.


"Gue rasa lo kesambet. Datang siang ke kantor. senyum-senyum sendiri." Lanjut Angga.


"Lo gak tau apa yang gue rasakan, ngga" sahut Bram lalu tersenyum lagi.


Apaan?" Sahut Angga melipat kedua tangannya di dada


"Syifa hamil." Ucap Bram dengan senyum


yang semakin mengembang


"Apa? Jadi gue bakal punya keponakan?" Angga membelakkan matanya tak percaya. Bram hanya mengangguk.


"Wah, lo harus traktir gue, Bram" Angga juga ikut


senang dengan kebahagiaan sahabatnya itu.

__ADS_1


Tenang aja sahut Bram lalu menyalakan laptopnya dan kembali bergelut dengan dokumen.


__ADS_2