JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 43


__ADS_3

Terlihat seorang wanita yang sudah berkepala tiga itu masuk dan menghampiri Alika .


"Maaf bu Alika, Meetingnya sebentar lagi akan dilaksanakan" ucap wanita itu pada Alika.


"Panggil Alika aja. Bu Vera . Saya kan lebih muda." ucap Alika. la sudah memberitahukan Bu Vera bahwa dirinya tidak suka dipanggil "bu karena usianya yang lebih muda


"Tapikan bu Alika atasan saya" ucap Bu Vera


dengan sopan.


"Saya merasa tua kalau dipanggil ibu" Alika tertawa. Bu Ver pun ikut terkekeh.


"Baiklah saya sebentar lagi kesana" Ucap Alika. Bu Vera pun pamit untuk keluar ruangannya. Alika segera mematikan komputernya lalu mengambil tablet dan membuka bahan presentasi untuk meeting


Sementara di basement kantor itu, seorang pria memakai jas abu-abu dengan gagahnya keluar dari mobil BMW nya . la segera memasuki kantor yang akan menjadi tempat meetingnya kali ini. la berjalan dengan tergesa-gesa karena sedikit telat karena jalanan ibu kota yang macet.


Banyak pegawai-pegawai di kantor itu yang memperhatikannya. Terutama kaum hawa. la tak peduli dengan kaum hawa sekarang. Ia lalu masuk keruang meeting yang sudah dikasih tahu sebelumnya.


"Maaf sebelumnya, saya telat" ucapnya saat masuk ruangan meeting.


"Silahkan duduk, Pak Vincent" ucap salah satu atasan kantor itu.


"Baiklah kita mulai saja meeting kali ini.." ucap Pak damar yang memimpin meeting itu. Semua hadirin memperhatikannya, termasuk pria yang dipanggil Vincent tadi.


Pak Damar dengan semangatnya menjelaskan dengan detail perkembangan kantor itu. Vincent memperhatikan dengan serius. begitu pula dengan yang lain.


"Saya rasa sudah cukup penjelasan saya. Terima kasih. Sekarang. silahkan Pak Vincent yang menyampaikan tentang perusahaan anda" Ucap Pak Damar mengakhiri presentasinya di depan.


Vincent pun berdiri dan segera ke depan untuk menyampaikan sepatah dua kata sambutan mengenai perusahaannya.


"Perkenalkan nama saya ucap Vincent memulai sambutannya dengan panjang lebar.


"Tujuan saya kemari adalah ingin mengajak perusahaan ini untuk bekerja sama dengan perusahaan saya. Saya yakin bahwa kita dapat bekerja sama dengan baik. Bagaimana pendapat kalian? Apakah setuju jika kita menjalin kerjasama?" Tanya Vincent pada semua hadirin di ruangan itu.


"Saya sangat setuju, Pak Vincent" sahut Pak Damar


"Bagaimana pendapat anda yang lain?" ucap Vincent pada yang lainnya.


"saya juga setuju, Pak Vincent " sahut Pak Harto yang duduk di samping Pak Damar


"Saya juga sangat setuju" sahut Bu Vera yang duduk di samping Alika. Sedangkan Alika. sedari tadi ia tidak memperhatikan orang di depannya. la malah asyik bermain game di tabletnya


"Baiklah. Bagaimana dengan anda?" Tanya Vincent pada seorang wanita yang duduk di samping Bu Vera. Sedari tadi ia melihat wanita itu tidak memperhatikannya dan malah bermain dengan tablet di tangannya.


"Hmm. Tolong perhatiannya. Nona" Vincent berdeham agar wanita yang sedang bermain tablet itu menoleh padanya. Namun lagi-lagi wanita itu tidak mendengarnya.


"Sstt Bu Alika" Bu Ratna menyenggol lengan


Alika disampingnya.


"Apa?" sahut Alika tanpa menoleh dan asyik dengan game yang masih dimainkannya. Sedangkan yang lain menunggu Alika memperhatikan Vincent


"Itu anda diminta untuk memperhatikan" ucap Bu Vera.


"Hmm Alika!" Deham pak Damar. Alika pun tersentak, la langsung meletakkan tabletnya dan menoleh pada orang yang didepannya.

__ADS_1


"Bisa tolong pendapatnya, nona?" Tanya Vincent sekali lagi.


"Saya setuj- wait." ucapan Alika terputus saat la menyadari siapa kliennya.


"Ngapain lo disini?" ucap Alika tidak memperhatikan yang lainnya. Pak Damar, Harto dan Bu Vera pun memandang tajam Alika yang bersikap tidak sopan saat meeting.


Sedangkan Vincent sedikit syok melihat wanita yang tidak memperhatikannya sedari tadi


"Alika, tolong bersikap sopan!" Ucap Pak Damar


memperingati.


"Maaf" ucap Alika lirih. Ia tidak sadar bahwa ia masih didalam ruangan.


"Hmm bagaimana pendapat anda jika perusahaan ini akan menjalin kerjasama dengan perusahaan saya?" Tanya Vincent pada Alika. la berusaha bersikap profesional.


"Ya jika yang lain setuju, saya setuju" sahut


Alika tidak bersemangat.


Terima kasih. Baiklah, perusahaan kita resmi akan menjalin kerjasama ucap Vincent melanjutkan presentasinya di depan.


Alika terduduk lesu dan malas memperhatikan ke depan la bertumpu pada tangan kanannya.


"Haduh kenapa tuh orang yang bakal jadi klien gue sih?" Tanya Alika di dalam batinnya sendiri. la sungguh malas ketemu pria itu lagi. Pria yang belum lama bertemu dengannya di cafe dan menumpahkan kopi kesukaannya saat itu.


Akhirnya meeting yang membosankan itupun selesai. Vincent dan beberapa orang lainnya menjabat tangan tanda resminya kerjasama Alika pun dengan malas segera berdiri dan


Alika pun dengan malas segera berdiri dan mengambil tabletnya di atas meja. Semuanya telah meninggalkan ruangan meeting. Kecuali Alika dan Vincent


"Duh apalagi sih?" sahut Alika dengan


malasnya.


"Lo bukannya temannya Syifa ya?" Tanya Vincent pada Alika.


"Lebih tepatnya gue sahabatnya" sahut Alika meralat ucapan Vincent


"Seinget gue, lo itu asistennya Syifa?" ucap Vincent mengingat-ingat terakhir ia menemui Syifa dan melihat Alika di kantor ini.


"Sorry ya gue itu manager" ucap Alika


menyombongkan dirinya.


"Dasar cewek aneh" Vincent menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lepasin. Gue mau balik ke ruangan gue" Alika menepis tangannya dan segera berjalan keluar ruangan. Vincent pun ikut menyusulnya dibelakang.


Saking buru-burunya Alika sampai tidak melihat orang di depannya. Ia menabrak orang tersebut.


"Alika, kenapa lo buru-buru?" Tanya Syifa saat dirinya ditabrak oleh sahabatnya sendiri.


"Syifa." Alika langsung memeluk Syifa tiba-tiba membuat Syifa sesak nafas.


"Syifa, sudah berapa abad lo gak pernah main kesini lagi?" Tanya Alika heboh pada Syifa. Mulai lagi sifat lebaynya jika bersama Syifa.

__ADS_1


"Lepas. Gue gak bisa nafas" Syifa terengah.


Alika hanya terkekeh dengan tampang sok polosnya.


"Gue lagi bete aja di apartemen. Makanya gue sekalian mampir kesini" ucap Syifa. la ingin


mengalihkan pikirannya sejenak tentang Bram .


"Eh cewek aneh." Ucap Vincent memanggil Alika Syifa dan Alika pun menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


"Dika? Kamu ada apa kesini?" Syifa mengerutkan alisnya. Tak biasanya Dika ke kantornya.


"Oh Hai. Syifa. Sudah lama gak ketemu ya" sahut


Dika kikuk.


"Ngapain lo masih disini? Bukannya balik" ketus Alika pada Dika.


"Lho kalian berdua saling kenal?" Ucap Syifa mengerutkan keningnya.


"Gak Gue gak kenal sama dia. Ayo Syifa kita keruangan lo yang lama aja" ajak Alika pada Syifa la sungguh malas bertemu Dika yang menyebalkan.


"Tunggu. Alika. Kamu ada hubungan apa sama Alika, Dika?" Tanya Syifa pada Dika dengan setengah menggodanya.


"Eh? Aku cuma meeting disini. Perusahaan kita akan kerjasama" ucap Dika tersenyum. la senang sekali bertemu dengan Syifa lagi.


"Wah. Bagus" sahut Syifa manggut-manggut. Alika disebelahnya hanya menatap malas sahabatnya itu.


"'Tadi aku mendengar kamu panggil cewek aneh itu siapa?" Tanya Syifa la memang tak mengerti dan tidak tahu panggilan itu untuk siapa


"Eh? Gak kok. Maksud aku Alika. Iya Alika." Sahut Dika sedikit terbata. la tidak tahu mengapa tiba-tiba menjadi terbata.


"Apa lo?" Ucap Alika dengan tatapan tajamnya. Syifa bergidik. Sahabatnya kalau sedang marah, seram juga.


"Gue cuma mau kasih ini. Berkas lo ketinggalan tadi" ucap Dika memberikan map ditangannya pada Alika.


"Alika, jangan galak-galak. Dika cuma kasih ini


kok." Ucap Syifa pada Alika.


"Kalau begitu. hmm aku duluan ya" ucap Dika tersenyum pada Syifa.


"Sana lo cepat pergi!" Alika mengusir Dika. Sedangkan Dika greget sekali dengan cewek aneh itu.


"Senang bertemu kamu, Syifa" ucap Dika lalu berjalan menuju lift.


"Ih sok-sok an manis" umpat Alika.


Syifa mulai mengerti dengan Alika. Pasti sahabatnya itu ada apa-apa dengan Dika.


"Sudah. Alika . Jangan gitu, nanti suka lho celetuk Syifa menggoda Alika.


"Apa suka? Hellow. Dunia kiamat kalau gue sampai suka sama dia: ucap Alika


"Kita lihat aja nanti" sahut Syifa dengan terkekeh melihat wajah kusut sahabatnya. la pun berjalan meninggalkan Alika dibelakangnya.

__ADS_1


"Syifaaaaa!! Teriak Alika yang membuat Syifa semakin tertawa..


__ADS_2