JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 10 Nomor Pribadi Lagi


__ADS_3

Malam yang begitu melelahkan bagiku. Aku mencoba untuk melanjutkan tidurku setelah aku sholat magrib. Tiba_tiba saja handponku berdering tanda sms, aku membuka dan membaca pesan itu. Aku tidak tahu siapa dia, aku tidak peduli dengan isinya smsnya yang hanya berupa kata_kata. Sekitar lima kali sms dengan kata_kata yang berbeda, namun tidak ada satu pun sms yang aku hiraukan.


Beberapa menit kemudian, ketika aku sedang membaca novel, tiba_tiba handphonke berdering tanda ada telfon masuk. Nomor penselfonya tidak muncul, hanya dengan tulisan Nomor Pribadi. Aku mengangkatnya namun aku tidak berbicara. Aku berusaha untuk mengenali suara penelfon. Sekitar 30 detik telfon itu berlangsung, akhirnya aku matikan.


Aku sama s’kali tidak mengenal suara itu, awalnya aku curiga dengan kak Divan dan kak Dion. Hanya mereka yang aku curigai karena tadi siang kak Divan mengambil nomor handphonku.


Aku penasaran dengan pemilik nomor pribadi itu, aku tidak tahu bagaimana cara mencari tahunya sedang aku tidak ingin bicara dengannya sebelum aku mengetahuinya.


Aku menceritakan Wiwi akan hal ini via BBM dan menyuruhku untuk mengajak berkenalan karena aku tidak akan mengetahuinya tanpa aku berkenalan dengannya.


Aku pun mengikuti saran Wiwi’. Untung saja dia kembali menelfon dengan tetap menggunakan nomor pribadinya. Aku langsung mengangkatnya seraya mengucap salam. Aku bertanya kepadanya tentang dirinya, lama dia tidak mau jujur. Aku sangat emosi di buatnya, aku mengamcam untuk mematikan telfonnya dan tidak akan pernah lagi aku mengangkat telfonnya. Dia hanya tertawa, seakan_akan ngeldekin aku. Aku sama s’kali tidak tahan dengan tingkahnya yang sok kenal. Aku pun mematikan telfonnya.


Berkali_kali dia menelfon setelah aku mematikannya, namun tak satu pun telfonnya yang aku hiraukan. Dengan susahnya, ketika aku ingin mengirimkan dia sms, nomornya tidak bisa di ketahui.

__ADS_1


Aku mematikan handphoneku dan membuka kartunya agar dia tidak mengagguku lagi.


Setelah setengah jam aku kembali memasang kartuku, dan menghidupkan handphoneku. Setelah kartu simku siap, begitu banyak sms yang masuk. Aku membuka dan membacanya, entah itu sms dari siapa tapi isi sms untuk kali ini membuatku senyum_senyum sendiri beda dengan sms sebelumnya. Aku semakin penasaran, ada apa denganku pada malam hari ini. Aku menerima begitu banyak sms dari orang yang tidak aku ketahui, bahkan beberapa telfon yang membuatku emosi.


Dengan begitu penasarannya aku dengan orang yang mengirim sms, aku mencoba menghubungi nomor itu satu persatu namun tak satu pun yang mengangkatnya.


Kembali nomor pribadi itu menghubungiku, aku sudah curiga kalau pemilik nomor pribadi ini juga pemilik sms konyol yang dia kirim ke aku. Aku mencoba untuk tidak mengangkat telfonnya, setelah itu dia kirim sms, dan lucunya nomor yang tadi dia sms kan itu juga yang dia gunakan untuk mengirim kembali satu sms berupa pertanyaan, isi smsnya “ kenapa tidak di jawab “. Melihat sms itu, aku pun langsung membalasnya, dengan isi smsku bahwa aku tidak akan melayani orang yang tidak jelas. Katakan siapa dirimu.


Setelah aku berbicara, orang itu pun berkata bahwa aku tidak menyangka kalau kamu sekasar ini. Aku semakin penasaran, dia sepertinya sudah mengenal aku jauh dari dulu. Aku mencoba untuk bersikap lembut dengannya, dan dia pun berkata sudah terlambat kamu memunculkan sikap lembutmu. Aku benar_benar tidak mengetahui siapa orang ini sebenarnya.


Aku segera mematikan telfonnya dan mengiriminya sms, bahwa aku hanya butuh kejujuran, aku sama s’kali tidak suka di kerjain seperti ini. Dia membalas smsku dengan kata_kata yang belum bisa aku tebak,


“ Aku orang yang tak lain dari keluargamu, dan juga tak lain dari hari_harimu”.

__ADS_1


Aku belum mengerti juga dengan isi smsnya, akhirnya aku tidak membalasnya lagi. Tiba_tiba dia kembali menelfonku, aku mengangkatnya dengan masih di selimuti rasa penasaran. Namun akhirnya dia pun jujur. Mendengar kejujurannya, aku sedikit terkejut, aku tidak menyangka dia akan melakukan hal konyol ini padaku. Aku tidak lagi di selimuti rasa penasaran melainkan rasa malu dan takut. Aku tidak menyangka pak Arsyad dosenku di kampus akan mengerjainku seperti ini. Aku benar_benar malu, tapi untuk menebus rasa maluku aku pun menjelaskannya bahwa aku sama s’kali tidak menyukai hal seperti ini, tetapi dia tidak mau menerima kejelasan. Dia hanya seolah_olah ngeledekin aku.


Aku masih tidak percaya dengan sikap kekanak_kanakan pak Arsyad terhadapku. Dia begitu dekat denganku, aku merasa malu denganya. Aku minder, dia sudah jadi dosen sedangkan aku masih berstatus sebagai mahasiswa.


Obralanku semakin berlanjut dengannku sampai tengah malam, aku dengan dia mengobrol dengan akrab seperti telah bertahun_tahun kami saling mengenal, tidak ada batasan antara mahasiswa dan dosen. Aku memberitahunya, bahwa dia adalah dosen dan aku mahasiswanya, tetapi dia berkata bahwa dia berstatus dosen dan aku berstatus mahasiswa ketika kami di kampus. Di luar kampus di anggap kakak adik yang memiliki suatu hubungan di luar dari keluarga. Aku tidak mengerti dengan perkataannya itu. Dia menjelaskan atas keinginannya bahwa dia akan tetap menikahiku setelah aku lulus S1. Aku merasa sangat malu, namun dia mengajarkan aku untuk mengilangkan rasa malu itu bahwa ketika di kampus jangan ada kedekatan di antara kami, tetap menjadi staus dosen dan mahasiswa supaya tidak ada yang mengetahui kedekatan dan hubungan kita berdua. Ketika di kampus anggap kalau kita tidak kenal.


Aku tidak tahu mesti berkata apa lagi. Hati dan pikiranku begitu tidak tenang. Sungguh aku tidak menyangka kalau pak Arsyad masih peduli dengannku dan diam_diam masih menyimpan perasaan denganku.


Kurang lebih tiga jam aku ngobrol, dia pun segera mengakhiri telfonnya dan besok dia harus bangun pagi untuk ke kampus, aku pun begitu.


Obrolanku telah berakhir, aku segera keluar dari kamarku dan mengambil air wudhu, lalu aku sholat Isya kemudian tidur.


@@@

__ADS_1


__ADS_2