
"Sayang". Panggil Bram pada Syifa. Syifa yang sedang memasak nasi goreng di dapur merasa terganggu karena suaminya terus memanggilnya.
"Iya sebentar" sahut Syifa berteriak karena
Oliver berada di kamar sedangkan dirinya di dapur.
"Sayang." Panggil Bram lagi membuat Syifa kesal sambil mengaduk nasi goreng yang sedikit lagi matang
Syifa mengumpat kesal dan setelah matang. ia mematikan kompor lantas melepas celemek yang ia gunakan saat memasak dan beranjak menemui Bram yang cerewet memanggilnya.
"Bram, kamu ini bawel banget sih!" Syifa datang menghampiri Bram dengan tangan yang ia lipat di dada dengan wajah bersungut kesal.
"Sayang, kamu itu kalau dipanggil suami wajahnya jangan ditekuk. Senyum dong" Bram menghampiri Syifa yang kesal padanya.
"Abisnya kamu ganggu aku lagi masak aja. gimana gak kesel?" sewot Syifa. Bram mengusap pipinya dengan lembut. la rindu saat momen Syifa merajuk padanya.
"Iyadeh aku minta maaf sayang" ucap Bram dengan lembut Mereka sudah tidak lagi saling mengabaikan seperti beberapa hari yang lalu. Bahkan Bram sudah kembali ke sifat aslinya yang ingin dimanja oleh Syifa.
"Terus kenapa kamu manggil aku?" tanya Syifa
"Oh iya aku lupa. Aku minta tolong pasangin dasi aku ya." Bram memberi Syifa sebuah dasi berwarna Dongker bergaris. la sudah rapi dengan kemeja berwarna putihnya.
Karen segera mengambil dasi yang Bram berikan padanya dan mulai melilitkan dasi itu di kerah kemeja Bram Syifa dengan telatennya menyimpulkan dasi itu dengan sedikit berjinjit karena tubuhnya yang hanya setinggi bahu Bram. Bram sedikit menunduk agar Syifa lebih mudah memasangkan dasinya.
Bram menikmati wajah Syifa yang lebih dekat dengannya, la pun merapatkan pinggang ramping Syifa agar lebih dekat dengannya. Syifa mendengus kesal saat Bram mendelik ke arahnya dan tangan Bram yang berada di pinggang Syifa malah turun ke bokongnya.
"Bram, tangan kamu!" Syifa melotot kesal.
"Kenapa tangan aku emangnya?" Tanya balik Bram dengan tersenyum pura-pura tidak tahunya. Bram dengan gemas, malah sedikit mencubit pantat Syifa yang membuat Syifa semakin kesal padanya.
"Bram, bisa diam gak?" Ketus Syifa yang malah membuat Bram terkekeh.
"Aku diam kok" sahut Bram masih menggoda Syifa. la pun mencubit pantat Syifa lagi dengan gemas.
__ADS_1
Syifa sedikit meringis dan dengan kesal, ia mencekik Bram dengan dasi di kerahnya. Bram terkejut dan terbatuk karena tidak bisa nafas.
"Kalau kamu gak bisa diam, aku cekik nih"
Ancam Syifa. Wajah Bram memerah. Ia tidak menyangka dengan reaksi istrinya yang bisa dibilang sadis itu.
"Sayang, lepasin dasinya. Aku gak bisa nafas" ucap Bram memohon. Syifa pun melonggarkan dasi yang ia cekik karena tak tega melihat wajah Bram yang memerah. Namun ia masih kesal dengan suaminya itu.
Bram merasa lega setelah Karen melonggarkan dasinya la tak habis pikir bahwa Syifa akan seperti itu
"Kamu mau bunuh aku, sayang?" ucap Bram pada Syifa. Syifa membelalakan matanya.
"Lagian kamu bikin aku kesal." ucap Syifa mengerucutkan bibirnya.
"Aku gak menyangka reaksi kamu bakal segitunya" tutur Bram, la tadi hanya berniat menggoda istrinya namun malah ia yang kena akibatnya dengan Syifa yang mencekiknya secara tiba-tiba.
"Makanya jangan macam-macam sama aku" ucap Syifa. Bram mengelus pipinya dengan lembut.
"Abisnya pantat kamu itu bikin aku gemas untuk mencubitnya" ucap Bram mengerlingkan matanya genit
"Kan aku mesumnya cuma sama istri aku doang." sahut Bram dengan santainya.
"Dah selesai. Sana cepat berangkat kerja!" Syifa dengan kesalnya, mengusir Bram agar cepat berangkat kerja. Supaya dirinya tidak digoda terus oleh suami bulenya itu.
"Nanti aja. Aku mau manja-manja dulu sama kamu" Bram meraih dagu Syifa lalu mencium bibir Syifa. Syifa mendorong bahu Bram karena main cium saja.
"Bram, kamu kebiasaan ya. Main sosor aku aja." ucap Syifa melepas ciumannya dengan Bram. Wajahnya terlihat merona karena malu la selalu saja merona pasca Bram menciumnya. Bram hanya terkekeh
"Ayo sarapan, sayang. Aku sudah lapar" ucap Bram berjalan mendahului Syifa. Syifa segera menyusul suaminya dibelakang.
Syifa menuangkan nasi goreng yang tadi di buatnya di piring dan menyajikannya untuk Bram yang sedang menunggu di meja makan. Tak lupa juga Syifa menuang susu cair ke gelas Bram .
Syifa ragu-ragu ingin bertanya kepada Bram tentang kejadian semalam Bram yang mabuk la masih bingung siapa yang wanita yang dimaksud Bram.
__ADS_1
"Sayang, kok melamun?" Tanya Bram yang melihat istrinya hanya melamun sambil memegang sendok ditangannya.
"Eh? Engga kok" kilah Syifa la pun menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Bram hanya mengangguk mengerti dan melanjutkan sarapannya.
"Hmm. Bram?" Lirih Syifa. Ia mau bertanya tetapi mengapa menjadi gugup.
"Ya sayang?" Bram menoleh padanya.
"Hmm. Aku mau tanya" Syifa menggigit bibir
bawahnya gugup.
"Yang waktu semalam kamu mabuk, kamu bilang ke aku bahwa kamu ingin melupakan dia Aku gak ngerti dia siapa maksud kamu?" Syifa memberanikan dirinya bertanya walaupun ia bertanya dengan wajahnya yang sedikit menunduk
Bram sedikit terkejut dengan pertanyaan Syifa. Memang sebelumnya ia tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya pada Syifa. Karena ia tidak ingin membawa-bawa yang sudah lalu ke kehidupannya yang sekarang bersama istrinya.
"Maaf sayang, aku harus berangkat kerja. Sudah telat" Bram tiba-tiba bangkit dari duduknya.
Syifa hanya melongo ditempatnya saat Bram mencium keningnya. Bram membenarkan letak jasnya lalu mengambil kunci mobilnya segera bergegas ke kantor.
"Kamu hati-hati di apartemen ya, sayang. Kalau mau keluar, minta Pak Kardi buat anterin kamu" Ucap Bram tersenyum lalu meninggalkan Syifa.
menghela nafasnya dengan kasar Ada apa dengan Bram? la merasa tidak beres
Syifa menghela nafasnya dengan kasar. Ada apa dengan Bram? la merasa tidak beres dengan suaminya itu. Syifa pun tidak ambil pusing, ia pun membereskan meja makan dan mencuci piring.
Saat diperjalanan menuju kantor. Bram kembali mengingat pertanyaan Syifa tadi. Ia belum siap menceritakan kepada istrinya itu. Bram tidak mau membawa-bawa yang sudah lalu ke kehidupannya yang sekarang. Namun lambat laun ia pasti menceritakan masa lalunya pada Syifa Kalau sekarang, ia belum siap.
Sejak pagi Alika terlihat sangat repot sekali mengurus arsip dan dokumen untuk keperluan meeting dengan salah satu klien perusahaan lain. Beberapa hari yang lalu, dirinya sudah resmi diangkat menjadi manager oleh papanya Syifa la tidak menyangka dirinya yang dulu hanya menjadi seorang asisten, kini diangkat menjadi manager.
"Uh ternyata jadi manager itu begini." keluh Alika sambil memeriksa beberapa dokumen yang masih tersimpan di komputer. Alika sedang sibuk akhir-akhir ini. la bahkan belum memberi kabar pada Syifa bahwa dirinya sudah menjadi manager menggantikan sahabatnya itu
"Syifa, coba lo masih disini. Demi apapun gue lebih enak jadi asisten lo ketimbang jadi bos yang sibuk mulu" Alika menghela nafasnya lalu bersandar pada kursinya.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu diluar. Alika segera menyuruhnya masuk. Terlihat seorang