
Pada malam hari rumah mulai sunyi, tak ada interkasi anatara aku dan keluargaku. Bodoh, aku bodoh. Aku harus pergi...Cinta tak seindah yang kubayangkan, ini sangat konyol klo aku menerimanya kembali.
Sementara kak Arsy d rumahnya merasa tidak tenang membayangkan masa-masa indah saat bersama dulu. Menarik rambutnya keras saat mengingat masa dimana dia mengucapkan untuk melepaskan aku dari hidupnya...
Arrggghh... ini semua karena Vita (Vita si dokter itu). Nyatanya kak Arsy tidak mencintainya, tetapi saat itu dia berada dalam jebakan Vita. Vita berpura-pura hamil anak kak Arsy. Sementara kak Arsy ingat betul tidak pernah melakukan hal konyol terhadap Vita. Hanya saja Vita menjebaknya dengan foto-foto romantis saat nginap d hotel, dan berpura pura bahwa saat itu kak Arsy sedang tidak sadarkan diri. Ternyata foto itu hasil editan Vita untul menjebak kak Arsy agar dia menikahinya. Ini terbongkar saat kak Farzan menemui Vita di tempat jaza edit foto.
Namun hal itu aku tidak mengetahuinya. Mama dan papa lebih dulu tahu saat kak Arsy memberitahu papa alasan dia melepaskan aku dulu....
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku masih gerah tak bisa memberi jawaban iya saat papa kembali bertanya. Hatiku masih mengatakan tidak, meski rasa cinta itu masih ada. Aku tahu saat ini papa sedang sakit. Aku harus menjaga kesehatannya tapi tidak menerima lamara kak Arsy.
Ketika suatu hari saat papa di rawat d rumah sakit, aku semakin terpuruk dengan keadaanku. Di mana papa memintaku untuk segera menikah. Bagaimana mungkih pah, papa sekarang sakit lamaran tidak bisa di tersukan sampai papa sehat. Papa akan sembuh setelah kamu menikah dengan Arsy. Aku tak bisa berkutip, saat ini penyakit levernya kambu lagi. Bagaimana aku menerimanya sedangkan aku tidak belum bisa menerima kenyataan ini. Papa menggenggam tanganku erat, tak kuasa menahan air mata. Mama yang duduk d dekat papa juga ikut menangis. Saat ini kami cuma bertiga d ruangan d mana papa d rawat. Kami sudah tiga hari di sini. Kak Arsy tidak pernah absen menjenguk papa meski aku dan dia dalam keadaan tidan nyaman. Pah, papa sembuh dulu yah baru putri nikah. Seraya ku mencium punggung tangan papa dengan isak tangis. Papa sangat lemah...
Harii ini hari ke empat kami di rumah sakit. Saat siang, kami bergantian jagain papa karena kerjaan kami. Malamnya baru bisa rame-rame. Mama selalu ada untuk papa. Bahkan kak Arsy pun pernah nginap jagain papa. Bukan karena dia cinta sama aku, tapi memang dia sayang papa juga, karena sejak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi kak Asry d rawat dan di besarkan oleh papa, Jadi sudah menganggap orang tua sendiri. Padahal ibu kak Arsy dan papaku cuma sepupu dua kali...
Suasana di rumah sakit saat ini terbilang cukup rameh. Para pembesuk pasien yang di rawat di rumah sakit ini juga rame berdatangan. Aku termenung mengingat kisahku dulu sama kak Arsy, saat aku membuang cincin hadiah yang di berikan saat itu, aku berharap rasaku terhadapnya pun hilang tapi nyatanya tidak.
__ADS_1
Kenapa aku menyia-nyiakan kesempatan ini dengan menolak lamarannya untuk yang kedua kalinya. Aku tahu dia pun masih cinta sama sepertiku. Tapi bagaimana nasib si Dokter itu. Iya dia melepasku karena bertemu dengan seorang Dokter. Aku sadar saat itu aku masih berstatus mahasiswa. Tapi bukannya perempuan yang d sebut itu dokter juga masih berstatus mahasiswa saat itu... ahh. Bodoh, buat apa mikirin.
Tiba-tiba kak Arsy datang membangunkan aku dari nostalgia tadi. Nervous seketika, jantung tolong diam. Seakan ini pertama kali aku jatuh cinta, iya rasanya aneh dia duduk di dekatku', Saat ini kami di depan rumah sakit menikmati malam. Di dalam ada mama, kak Rifal dan kak Reza. Ayla d rumah sama ibunya. Ayla tidak bisa bermalam d rumah sakit karena besoknya dia harus sekolah. Sesekali saja dia datang menjenguk papa.
Sudah makan.? Tanyanya
Iya, jawabku singkat. Seakan aku baru mengenal cinta.
Perlahan tangan kanannya menyentuh tangan kiriku. Di genggamnya erat. Sumpah jantungku seakan copot padahal dulu kita pernah sedekat ini kenapa sekarang perasaanku beda. Tanyaku dalam hati.
Put, kamu menolak aku untuk yang kedua kalinya.?
Tidak. Jawabku sambil tunduk.
Dia mengangkat daguku untuk mamastikan, kamu jawab tidak? Tanyanya.
Iya. Demi papa.
__ADS_1
Kak Arsy berfikir bahwa aku tidak mencintainya lagi karena jawabku ini demi papa.
Aku mau kita nikah setelah papa sembuh, ucapku.
Kamu serius .? Tanya kak Arsy lagi.
Iya, aku berdoa supaya papa cepat sembuh dan kita segera nikah. Mungking saja setelah nikah aku kembali jatun cinta pada kak Arsy... bohong, mulutku berbohong saat ini, padahal hatiku masih ada dia.
Kamu tidak cinta lagi sama dosen kamu.? Tanyanya.
Tidak sekarang, karena kak Arsy bukan dosen aku lagi, jawabku
Entah setelah nikah aku akan jatuh cinta atau.... yang penting papa sehat...
Kak Asry tersenyum entah dia tahu isi hatiku klo akuasih cinta dia...
♡♡♡♡♡♡
__ADS_1