
Seiring berjalannya waktu, perlahan aku mengikuti perkembangan keceriann Wiwi yang sempat buram karena kepergian kekasihnya beberapa bulan lalu.
Ide papa tentang keinginannya untuk menjodohkanku dengan keponakannya kini tertular padaku. Mungkin ini bukan cara yang tepat bagi Wiwi’ untuk membuat dirinya move on dari Arwin, tetapi apa salahnya aku coba. Rencanaku untuk mengenalkan Wiwi dengan kak Reza kakak kandungku mungkin juga tak di setujui oleh kak Reza, karena aku tahu kak Reza tidak sembarang mengenal perempuan, tapi aku akan berusaha membuat kak Reza mengenal Wiwi lebih dalam.
Rencanaku ini akan aku rahasiakan, meski ini rencana konyol tetapi aku yakin aku bisa membuat mereka saling mengenal dengan baik. Walau sebenarnya aku bingung cara apa yang harus aku lakukan untuk mengenalkan mereka sementara aku tidak ingin ketahuan dengan keduanya.
Suatu hari ketika aku menonton FTV di sela_sela waktu kerjaku di Studio, ide konyolku muncul. Aku punya rencana seperti apa yang baru saja aku saksikan di TV. Aku mengajak Wiwi untuk datang di suatu Taman dengan alasanku untuk mengobati rasa kangen dan rasa jenuhnya dan itu akan aku sesuaikan dengan jadwal kak Reza di kampus. Setelah jam mengajar kak Reza selesai aku langsung menyuruhnya untuk datang menemuiku di Taman sesuai dengan tempat perjanjianku dengan Wiwi’.
Setelah mereka tiba di Taman itu, aku beralasan bahwa jalanan macet. Padahal aku sudah tiba di Taman itu, aku memperhatikan mereka dari jauh dan mereka duduk berseblahan namun tidak ada komunikasi di antara mereka. Aku kembali bingung, cara apa lagi yang harus aku lakukan. Ini tidak sejalan dengan apa yang tadi aku lihat di TV. Yang aku lihat kan mereka sudah saling mengenal, jadi pas bertemu mereka saling sapa. Terus dengan kondisi seperti ini mereka tidak saling mengenal lalu cara apa lagi yang harus aku lakukan.
@@@
__ADS_1
Sejam yang lalu, ku lihat mereka telah jenuh menungguku. Aku perlahan menghampiri mereka dengan pura_pura jalan terburu_buru. Dari jauh kak Reza telah melihatku dengan bola matanya yang sayup di sertai senyumannya yang membuat lesung pipinya terlihat jelas, aku memperhatikan kak Reza dengan gaya sederhananya namun itu yang membuatku selalu kagum sama dia karena dengan kesederhanaanya dia selalu kelihatan sempurna walau banyak kekurangan dalam dirinya, tak salah kalau aku mengenalkan dia dengan Wiwi’ yang memiliki kepribadian yang sederhana juga.
Setelah aku tiba di tempat di mana mereka duduk, aku mengajak Wiwi’ untuk mendekat denganku. Aku memperkenalkan kak Reza kepada Wiwi,
Wi’ Ini kak Reza, kakak keduaku.! Ucapku
Wiwi’ hanya tersenyum, sementara kak Reza menjulurkan tangannya untuk salaman kepada Wiwi’ akhirnya mereka berkenalan.
Dari kejauhan aku melihat perbincangan mereka begitu asyik, Wiwi kelihatan senang entah apa yang mereka bahas. Dengan rasa penasaranku, aku mempercepat langkahku untuk sampai di tempat mereka.
Aku memberikan minum dan makanan sesuai selera mereka masing_masing. Sambil minum aku menambah topik perbincangan mereka di mana kami berbagi pengalaman dalam dunia kerja sesuai yang pernah kami alami.
__ADS_1
Tak terasa matahari sudah di ufuk Barat, tandanya sudah sore. Kami semua meninggalkan Taman itu. Taman ini cukup membantu rencanaku walau baru tahap awal.
Beberapa saat kemudian aku dan kak Reza harus berpisah dengan Wiwi di tengah jalan karena rumah tante Wiwi yang dia tinggali berbeda arah dengan rumah kakakku.
Begitu setianya kak Reza denganku hingga dia tetap mengikut di belakangku sampai rumah.
Sesudah shalat Magrib, ketika aku sedang beristirahat di atas kasurku tiba_tiba pintu kamarku bergerak dan perlahan terbuka. Aku menoleh dan melihat siapa yang membukanya, ternyata tidak ada siapa_siapa di balik pintu itu. Aku bangkit dari pembaringanku dan segera keluar dari kamar. Aku melihat rumah ini tidak ada siapa_siapa, perlahan aku melangkahkan kakiku keluar ke ruangan tamu dan di sana aku melihat kak Reza sedang duduk sendirian. Firasatku tidak salah lagi kalau kak Reza yang membuka pintu kamarku tadi.
Saat itu cuma ada aku dan kak Reza di rumah. Kak Rifal dan istrinya belum pulang dari kantornya. Suasana di rumah pada saat itu sangat sunyi hingga aku membuka pembicaraan dengan kak Reza untuk melenyapkan kesunyian. Selain aku berbincang_bincang mengenai dunia kerja, aku pun tak melewatkan kesempatan untuk menanyakan tipe cewek yang bisa membuatnya jatuh hati.
Namun tampaknya kak Reza belum mau mengenal wanita yang dalam, menurutnya wanita saat ini sama. Belum ada yang menarik hatinya, belum ada yang spesial semua sama wanita di matanya. Mungkin dia masih ingin merasakan kesendiriannya.
__ADS_1
***