JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 5 Mama datang


__ADS_3

Sudah setengah hari saya di kampus. Sepertinya untuk hari ini tidak ada dosen yang masuk di kelas aku. Aku dan Wiwi sepakat untuk segera pulang. Aku harus istirahat sedikit sebelum aku menjemput mama di terminal.


Saat aku di parkiran, aku kembali bertemu dengan pak Arsyad, sepertinya waktu_waktu luangku di kampus all about pak Arsyad.


Kali ini aku menghindar darinya, karena waktu itu pak Arsyad sedang bersama dengan dosen_dosen yang lain. Aku takut dia menghampiriku karena dia sempat melihatku dari kejauhan dan dia pun mengetahuiku, apalagi dia melihat DD motorku. Hmmm,, tidak salah lagi kalau dia telah mengetahuinya semua tentangku.


Aku telah meninggalkan parkiran fakultasku, aku terus melajukan motorku dengan pelan dan tak terasa aku telah jauh dari kampus. Beberapa meter lagi aku sudah sampai di lorong rumah kakakku. Kurang lebih dua menit lagi aku sampai di rumah.


Dua menit kemudian, saat tiba di rumah kakakku, aku melihat begitu banyak sandal di teras. Aku masuk seraya mengucapkan salam, Ayla langsung saja ada di depanku dan meminta untuk di gendong. Sebelum sampai di ruang tengah aku duduk sejenak di ruang tamu untuk membuka sepatu dan juga helm yang masih terpakai di kepalaku.


Aku mendengar suara mama di dalam, dan aku sangat senang mendengarnya. Aku tidak menyangka kalau mama sudah datang padahal aku sudah rencanakan untuk menjemputnya sesudah sholat Adzar.

__ADS_1


Aku meninggalkan Ayla di ruangan tamu dan langsung masuk menuju ruang tengah, aku melihat di sana ada mama aku pun segera mendekatinya, aku memeluknya dan menciumnya. Ayla yang tadi aku tinggalkan di luar, kini sedang ada di belakangku dan berniat untuk memukulku karena aku memeluk mama, dia cemburu karena Ayla juga sangat dekat dengan mama. Ayla sempat menangis karena aku tidak melepaskan pelukan itu, sampai pada akhirnya mama memanggil cucu kesayangannya lalu memangkunya, dan membujuk untuk tidak menangis lagi.


Siapa yang jemput mama, tanyaku.


Kakak kamu karena kamu belum pulang kuliah, lagian papa kamu juga ikut jadi tidak cukup kalau kamu yang jemput. Jawabnya


Ayla yang masih di pangkuan mama aku bercandai, dan membuatnya semakin nakal padaku. Aku memang suka membuat dia kesal padaku, aku suka kalau Ayla marah. Namanya juga anak kecil kan lucu kalau dia marah, apalagi seumuran Ayla yang masih berumur 4 tahun, lucu_lucunya s’kali dan aku suka menjailinya begitupun dengan dia. Mama selalu memarahiku ketika aku menjailinya. Mama memarahiku bukan berarti dia lebih sayang cucunya dari pada aku, tetapi mama ingin aku dengan keponakan bisa akrab, mama bilang “ bagaimana dia tidak nakal, bagaimana dia tidak selalu mengganggumu kalau kau semua yang memulainya.”


Aku tetap saja melakukan hal konyolku untuk membuatnya menangis, aku merasa puas kalau dia menangis. sudah menangis pun aku masih selalu menjailinya, aku mengikuti cara menangisnya dan terkadang dia memukulku. Semakin dia memukulku semakin aku menjailinya.


@@@

__ADS_1


Suasana di rumah kakakku saat itu sangat ramai karena kami semua berkumpul. Ada papa mama dan kakakku juga kakak iparku dan Ayla.


Siang menjelang sore itu, aku keluar dari kamarku setelah aku ganti pakaian. Aku menuju dapur untuk makan siang. Sementara mereka semua sedang duduk di ruang tengah sambil nonton TV. Mereka telah makan siang sebelum aku datang.


Setelah aku makan aku ikut bergabung di tengah_tengah mereka. Aku kembali menjaili Ayla yang lagi baring di samping mama. Aku datang dari belakang mama dan langsung memeluknya sambil aku menarik_narik baju Ayla. Mungkin memakan waktu selama satu menit aku menarik_narik bajunya, tetapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya. Ayla sudah mengeluh dan merengek pada mama. Dia mencoba mencari tahu siapa biang keroknya dan tak sadar aku yang sembunyi di belakang mama dan pura_pura tidur, Ayla langsung datang menduduki belakangku sambil lompat_lompat. Aku berteriak, sakiiit sambil aku tertawa karena aku ketahuan, semakin aku tertawa semakin dia tidak mau menghentikan lompatannya. Aku mencoba untuk pura_pura menangis tetapi dia tidak mempedulikanku, dia tidak mau turun sebelum aku mengatakan ampun bos padanya. Dasar anak kecil menyuruhku memanggilnya bos.


Iya, ampun bos, ampun... ucapku mengeluh karena aku sudah merasakan sakit.


Sekali lagi, bilang ampun bos besar. Suruh Ayla yang benar_benar demdam denganku.


Ampun bos besaaaaaaaaaaar, ampuun Ayla cantiiiik... Teriakanku begitu keras, untung di rumah saat itu hanya ada aku, ibu, kakak iparku dan Ayla. Mereka yang lain lagi keluar entah kemana. Ayla belum juga turun dari belakangku, kini dia mengubah posisinya dengan posisi baring. Ayla benar_benar nakal, tapi itu semua karena ulahku.

__ADS_1


Ayla baru turun saat mama mengambilnya, itupun waktu mama mengambilnya dia kembali memukulku. Benar nakal anak ini, tapi aku tidak mau kalah, aku kembali memukulnya lalu aku lari masuk kamar hingga dia tidak bisa membalas pukulanku dan itu yang membuatnya menangis. Aku merasa puas karena aku telah membuatnya menangis, beberapa teguran dari mama dan kakak iparku yang aku tidak hiraukan.


Beberapa saat kemudian, aku keluar dari kamar dan ternyata dia masih ada di depan kamarku. Saat aku keluar dia kembali memukulku dan segera lari memeluk ibunya sambil tertawa. Aku pun langsung memeluk mama karena aku tahu dia akan cemburu ketika aku memeluknya. Dia pun kembali menangis dan ingin sekali memukulku tetapi dia di tahan oleh ibunya, dia menangis sekeras mungkin, mama memukulku dan menyuruhku untuk pindah dan segera mengambil Ayla di pangkuan ibunya. Ayla langsung diam dan menjulurkan lidahnya ke aku lalu berkata, ”aku punya ibu dua kau tidak punya ibu, ini ibuku bukan ibumu.” Katanya sambil memeluk mama. Aku ingin kembali untuk memeluk ibunya tetapi dia berteriak ingin menangis dan mamajuga menegurku untuk segera berhenti menjahili cucu kesayangannya.


__ADS_2