
Matahari pagi mulai bersinar di luar sana, kak Rifal dan kak Reza harus pulang karena mereka harus ke kantor. Aku dan Dela masih setia menjaga. Kata kak Reza mama dan papa akan segera tiba. Mereka berdua akan menjemput mama di depan rumah sakit...
Dengan waktu yang sama, dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan untuk membawa kak Arsy ke ruang operasi. Aku meminta untuk menunggu beberapa menit lagi.
Dok, izinkan mama dan papaku melihat menantunya sebelum operasi di jalankan. Mereka sedang di jemput di luar, mereka akan segera tiba...
Baik bu' kami akan menunggu 5 menit lagi karena dokter lainnya sudah menunggu di ruang operasi...
Beberapa menit kemudian, papa dan mama sudah datang. Terlihat jelas raut wajah kesedihan mama hingga air mata tak terbendung lagi. Aku tak kuasa memberitahu mama soal anak kak Arsy yang aku kandung. Mama memeluk dan mencium wajah kak Arsy begitupun dengan papa mencium kening kak Arsy dengan raut wajah memerah menahan tangisnya...
Tiga perawat pengikut dokter, satu di bagian depan dan dua di bagian belakang mendorong tempat tidur kak Arsy keluar menuju ruang operasi...
Bapak, ibu silahkan tunggu kami di luar. Kami akan bekerja kurang lebih 30 menit. Kami mohon izin dan doa dari pihak keluarga pak Arsyad...
Aku, mama, papa dan juga Dela duduk di ruang tunggu. Kak Rifal dan Reza enggak untuk pergi, mereka akan tetap di sini menunggu hasil kerja dokter. Mereka berdua sepakat mengambil cuti hari ini...
Kak Rifal menghubungi istri untuk tidak masuk kantor kebetulan mereka satu kantor. Istri kak Rifal akan minta izin untuk datang ke rumah sakit menjenguk kak Arsy..
Mama menegurku, katanya muka aku pucat di tambah mata aku bengkak. Mama belum tau soal kandungan aku.
Aku berusaha untuk tersenyum di depan mama. Mama memelukku dengan penuh kasih sayang. Mama paham betul perasaan putri kecilnya....
Ada yang mama belum tahu dari aku. Kataku sambil menatap dan memegang kedua tangan mama.
Ada apa nak.? Tanya mama...
Mah, sebenarnya aku telah mengandung anak kak Arsy selama 4 bulan. Sembari aku menjawab dan tak kuasa menahan tangis saat pernyataan ini aku beritahu ke mama. Aku tahu ini waktu yang sangat terlambat buat mama tahu, tapi ini semua karena..... (aku tidak bisa melanjutkan ceritaku ke mama) mama memelukku aku tak kuasa menahan air mata ini. Orang di sekitar merasakan piluhku hingga mereka sangat terpukul juga...
Kamu yang sabar yah nak, mama tahu kamu kuat. Allah tidak akan memberi ujian pada hambanya di luar batas kemampuan. Kamu anak perempuan mama yang satu-satunya yang mama kenal kekuatannya...Mama memeluk dan mengusap-usap belakangku'...
__ADS_1
Papa ikut duduk di sampimgku dan ikut melambaikan tangannya di atas kepalaku. Mengusap-usap sambil tunduk. Papa terlihat sangat sedih melihat menanantu lelaki satu-satunya yang dia punya terancam akan keselamatannya....
Bagaimana kami sekeluarga tidak terpukul dengan keadaan aku dan kak Arsy saat ini. Meski berusaha kuat, tapi siapa pun yang mengalaminya pasti akan merasakan yang namanya sakit tak terbilang....
Kak Reza kembali membelikan makanan untukku dan si baby, juga untuk mama papa dan yang lain....
Nasi dan sup di bawakannya untukku. Sekantong buah-buahan untuk si baby juga. Aku tidak lagi meminum obat yang dk berikan dr.Kaina saat itu. Aku tidak mengingat apapun saat aku mendengar kabar tentang kak Arsy...😢😢😢
Sehari setelah operasi selesai. Kak Arsy masih terbaring lemah di rumah sakit. Kerabat dan keluarga dari pihak manapun datang bergantian menjenguk. Namun diagnosa dokter masih belum bisa sadar. Butuh satu sampai dua hari untuk bisa menyadarkan dirinya karena obat bius.....
Sesekali saat di ruangan hanya ada aku dan mama. Aku selalu mengajak kak Arsy ngobrol meski belum bisa mendengar keluhku'...
Meski belum sadar, aku selalu berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh perut buncitku. Agar si baby tau kalau papa Arsy masih selalu bersamanya meski dalam keadaan apapun. Sekedar mengobati rasa rindu si baby dari kecupan papa Arsy.
Aku sangat menanti kapan tiba yang di katakan dokter, sehari berlalu setelah dokter mengatakan kalau kak Arsy akan sadar dua hari setelah operasi. Ini sudah waktunya belum sadar juga.....
Dengan setia menunggu waktu tiba, pada malam hari, ini sudah malam ketiga pasca operasi yang kata dokter hari ini atau besok kak Arsy akan segera sadar....
Tangan kak Arsy aku lekatkan ke perut, sambil menatap wajahnya yang tak lagi nampak raut wibawanya, terlihat sangat pucat....
Aku mengobrol dengannya di sepanjang malam meski aku tahu kak Arsy tidak pernah mendengarkan segala ceritaku...
Pada malam ini juga, tepat pukul 02.35 pagi hari. Aku berniat melaksanakan sholat malam memohon kesadaran kak Arsy, memohon kesembuhannya, memohon untuk aku dan dia di pertemukan dengan anak kami yang masih dalam kandunganku...
😢😢😢😢😢
Ya Allah, semoga engkau mendengar rintihanku, engkau mendengar keinginanku. Ya Allah aku berharap apa yang aku inginkan itupula yang aku butuhkan... aku menginginkan kesadarkan untuk suami hamba, aku menginginkan kesembuhan untuknya, ya Allah aku butuh kak Arsy seorang suami dan ayah untuk anakku di dunia hingga di akhiratMu kelak.. Izinkan aku melihat wajah anakku yang masih dalam kandungan, izinkanlah suamiku melihat wajaku, melihat wajah anak hamba. Ya Allah tiada yang lebih baik selain pemberian darimu. Jadikanlah keinginan ini menjadi kebutuhan hamba....Aamiin ya Rabbal Alamin...
💕💕💕💕💕💕
__ADS_1
Ketika selesai berdoa, aku kembali duduk di kursi di samping tempat tidur kak Arsy...seketika aku terkejut melihat gerakan tangannya, kuratapi wajahnya dengan mata yang masih tertutup rapat. Masih terlihat rapi mukenah yang aku kenakan, aku bergegas keluar memanggil dokter... dua orang dokter mengikut berjalan di belakang aku dan satu orang perawat....
Saat itu juga mama dan Dela terbangun. Masih dengan gerakan tangannya yang semakin aktif bergerak. Matanya terlihat berat untuk di buka. Belum bisa berbicara, masih terlihat sangat lemah. Tapi sedikit rasa legah akhirnya kak Arsy telah sadar setelah menjelang tiga hari pasca operasi...
Dokter mulai memeriksa dan melihat detak jantung yang mulai berdetak normal... Dokter memberitahu bahwa kak Arsy telah sadar, akan tetapi masih butuh istirahat yang cukup dan tidak boleh banyak gerak....
Kami akan kembali pada pukul 07.00 pagi hari....Kata dokter sambil keluar dari ruangan...
Dela mendekat dan memeluk kak Arsy, aku tersenyum haru melihatnya telah sadar, mama memelukku....
Ya Allah terima kasih engkau telah mengijabah doa hamba. Hamba tidak tau harus mengucapkan berapa kali syukur atas segala yang telah engkau berikan. Ya Allah cukup memberikan kesadaran pada suami hamba itu lebih dari cukup dari apa yang aku miliki sekarang..
Kak Arsy mulai membuka matanya, melihat wajahku bergelinang air mata.
Alhamdulillah nak, kamu sudah sadar, ucap mama sambil mencium tangan kak Arsy yang masih lemah....
Kak Arsy tetap menatapku meski tangannya dalam dekapan mama. Kak Arsy ingin s'kali menyeka air mataku tapi tangannya belum bisa ia gerakkan...
Aku tersenyum melihatnya menatapku semakin dalam seakan ingin mengatakan sesuatu, aku mendekat mencium keningnya. Air mataku mengalir deras merintih di atas wajahnya.....Kepalanya masih di baluti kain putih. Masih terlihat sangat lemah....
Aku mengangkat tangannya menyentuh perutku, cepat sembuh yah baby kangen dengan obrolan papa Arsy... kataku menatap wajahnya sembari memberinya senyuman..
Kak Arsy berusaha menggelengkan kepala, aku menyentuhnya menahan. Tidak usah menggeleng aku sudah mengerti kalau papa Arsy telah mengiyakan permintaanku, Allah maha baik memberikan aku kekuatan dengan keadaan seperti ini. Anak kita juga pintar tidak rewel tau papanya lagi sakit....
Putri kamu istirahat dulu nak, semalam kamu belum tidur. Nanti kamu sakit kasihan anak kamu dalam perut, kamu harus jaga kesehatan juga. Kata mama yang berdiri di samping aku...
In syaa Allah Putri kuat mah. Jawabku sambil tersenyum.
Nak, kamu harus istirahat yang lebih, tenaga kamu dipakai untuk dua orang, kamu bernafas untuk dua orang, kasihan kalau kamu sakit anak kamu jadi lemah juga, bujuk mama memaksa aku untuk tidur.
__ADS_1
Kak Arsy menatapku menggerakkan tangannya menyentuh tanganku, tanda dia mengiyakan pintah mama. Aku mengangguk dan beranjak menuju sofa tempat di mana mama selalu merebahkan tubuhnya,
@@@@@@@