JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 52


__ADS_3

"Bram, please ini yang terakhir "pinta Syifa dengan wajah lelahnya.


Mereka sekarang berada di salah satu Mall di kawasan Oberhausen, pusat perbelanjaan terkenal di negara Jerman itu. Syifa ingin membeli gaun untuk koleksi terbarunya namun saat la mencoba semua gaun yang dipilihnya. Bram selalu menolaknya dan menyuruhnya mengganti yang lain. Tentu saja Bram terlihat menyebalkan bagi Karen.


"Ganti yang lain, sayang" Bram menggelengkan kepalanya. Syifa mendengus kesal pada Bram. Sudah tiga kali ia bolak-balik kamar pas untuk mencoba gaun.


"Bram, aku capek. Yang ini aja memangnya kenapa sih?" Syifa mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangannya di dada.


"Gak, sayang. Ini terlalu terbuka" komentar Bram yang selalu sama sejak dari gaun pertama yang Syifa coba.


"What?" Pekik Syifa tak percaya. Bram selalu mengatakan hal sama, ini terlalu terbuka. Syifa sampai bosan mendengarkannya.


"Cari yang lain!" ucap Bram.


"Bram, aku sudah tiga kali. TIGA KALI. Aku capek bolak-balik ke kamar pas terus" gerutu Syifa. ia malasnya begini dengan Bram. Mau beli baju atau gaun aja ribetnya seabad.


"Aku gak suka gaun ini. Terlalu rendah dan sangat ketat" ucap Bram dengan posesifnya. la tidak mau Syifa memakai gaun itu dan ada pria lain yang menggodanya seperti di Hawaii.


"Ini gaun santai, Bram. Bukan gaun formal. Aku juga mau membelinya buat koleksi gaun aku" jelas Syifa. la memutar kedua bola matanya malas.


"Aku bilang ganti, sayang" ucap Bram dengan nada tegas membuat Syifa tidak bisa menolak perintahnya.


"Huh, baik Tuan Oliver James Joseph yang terhormat" ucap Syifa dengan kesalnya. la pun kembali ke kamar pas dan mencoba gaun yang lain. Bram hanya terkekeh dengan Syifa yang seperti terpaksa olehnya.


"Okey, Nyonya Joseph" sahut Bram menahan senyum geli nya. Syifa hanya mendelik ke arahnya


Sambil menunggu Syifa yang sedang berada di kamar pas. Bram mengaktifkan ipadnya untuk melihat pesan-pesan yang masuk dan mengawasi pekerjaannya yang berada di Jakarta yang sekarang sedang digantikan oleh Angga, sahabatnya untuk beberapa hari.


Dengan kesalnya, Syifa mengganti gaunnya dengan gaun yang lebih tertutup. Ia berharap ini gaun terakhir yang ia coba Sungguh, ia lebih senang berbelanja dengan Alika daripada suami bule menyebalkannya itu. Syifa pun menarik nafas panjang dan berjalan keluar kamar pas menemui Bram


"Habis ini aku gak mau ganti lagi!" ucap Syifa sebelum Bram membuka mulutnya. Bram pun mengalihkan pandangannya dari ipad dan melirik Syifa dari atas hingga bawah.


"Hmm. Not bad. Ambil yang ini" komentar Bram manggut-manggut Syifa pun kembali ke ruang pas untuk mengganti bajunya dan membayar gaunnya.

__ADS_1


Setelah membayar gaunnya, Bram dan Syifa pun kembali ke hotel karena hari sudah semakin malam dan besok Bram baru akan ke kantornya untuk bekerja.


Pagi ini Syifa dan Bram bersiap-siap untuk menuju kantor cabang Bram yang berada di Negeri Jerman ini. Syifa tengah sibuk menyiapkan semua keperluannya dan juga kebutuhan Bram .


Setelah mereka selesai sarapan. Bram dan Syifa segera menuju kantor dengan mobil audi hitam beserta supir yang mengantarnya kemarin.


Sementara di kantornya, puluhan pegawai telah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan CEO besarnya untuk memantau pekerjaan mereka.


Sebagian dari mereka, berencana malam nanti akan mengadakan pesta atas sambutan CEO besarnya yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di perusahaan cabang ini.


Tak lama kemudian. Bram dan Syifa tiba di kantor Semua pegawai pun berbisik-bisik penasaran bagaimana rupa wajah CEO nya dan berbaris dengan rapi menyambut kedatangannya.


Bram merengkuh pinggang Syifa dan berjalan memasuki lobby kantor. Syifa melihat bangunan gedung megah ini tak jauh berbeda dengan gedung yang berada di Jakarta. Namun bedanya, gedung ini penuh dengan kaca.


Para pegawai yang menyaksikan CEO nya masih terlihat muda itu sedikit terkejut. Apalagi dengan pegawai wanita yang memandang Bram dengan tatapan kagumnya, tak menyangka CEO nya tampan dan masih muda pula.


"Welcome, sir." Mereka memberi sambutan yang ramah pada Bram. Bram tersenyum menanggapinya.


Syifa pun juga tersenyum dan membalas para pegawai yang menyapanya.


"Welcome, sir. My name is Robert direkturnya" memperkenalkan dirinya pada Bram saat mereka sampai di ruangan paling atas yang khusus untuk petinggi di perusahaan tersebut.


"Thank you for welcoming. Mr Robert. My name is Bram James Joseph" Bram l menjabat tangan pria yang berwajah oriental itu dengan ramah.


"OK Mr Joseph. I am so grateful to meet you in


this time "ucapnya membuka percakapan.


"Yeah, me too. How are you and how about this office?" Bram mulai bercakap-cakap hangat dengan pria berumur sekitar lima puluh tahun itu.


Sedangkan Syifa, ia mengamati Bram yang sedang berbicara dengan Mr Robert. la merasa terabaikan. Mungkin saja Bram lupa dengan kehadirannya. Syifa pun memainkan ponselnya untuk menghilangkan sedikit rasa bosannya.


"I am very well and so this office sahut Mr Robert" tersenyum ramah.

__ADS_1


"Glad to hear that "sahut Bram . Kemudian ia melirik Syifa yang duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri dengan Mr Robert. Istrinya itu sedang bermain dengan ponselnya.


"And I'll introduce my wife to you. Sayang?" Panggil Bram pada Syifa.


Merasa dirinya dipanggil Syifa pun menyimpan ponselnya di tas dan menghampiri Bram yang masih bersama Mr Robert.


"Mr Robert, this is Syifa Anindya. She is my wife also my secretarity "Bram memeluk pinggang Syifa setelah Syifa menghampirinya dengan posesif.


"Syifa " Syifa tersenyum ramah dan menjabat tangan pada pria bermata sipit itu.


"Nice to meet you. Mrs Joseph" ucap Mr Robert dengan ramahnya.


"Nice to meet you too. Mr Robert" balas Syifa.


Setelah pertemuan singkat itupun, Mr Robert permisi untuk kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Begitupun Bram yang mulai menyalakan laptopnya dan Syifa yang mulai bekerja sesuai yang diperintahkan Bram


Setelah seharian sibuk dengan pekerjaannya, Syifa dan Bram sudah kembali lagi ke hotel mereka. Bram ingin bersiap-siap untuk berendam di kolam renang di rooftop hotel ini. la memang ingin sekali berenang di sana sejak kemarin.


Bram yang sedang memainkan ipad sambil duduk di sofa itupun mengalihkan pandangannya melihat Syifa yang sudah siap memakai bathrobe putih yang melekat di tubuhnya. Bram sedikit curiga akan tingkah Istrinya itu.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Bram menatap tajam Syifa yang ingin membuka pintu hotel.


"Aku mau berenang. Bram. Kamu mau ikut?" Bukannya takut akan tatapan intimidasi dari suaminya, Syifa malah mengajak Bram berenang bersamanya.


"Gak boleh. Siapa suruh kamu berenang?" Larang Bram. Syifa memutar kedua bola matanya malas dan menghadap Bram dengn kedua tangannya yang bersedekap


"Bram, please deh. Aku gak bakal kabur lagi kok, aku cuma berenang di rooftop" Syifa berucap dengan malasnya. Mulai lagi sifat menyebalkan suaminya itu.


"Iya aku tahu. Aku cuma gak mau kamu kesana sendirian" ucap Bram dengan posesifnya. Lagi-lagi ia hampir saja ditinggal sendirian oleh Syifa. Beruntung saat ini Bram tidak lengah dan langsung melihatnya.


"Ya makanya aku ajak kamu. Ayo. Bram! "Syifa menarik-narik lengan Bram persisi seperti anak kecil yang berumur lima tahun.


"Sebentar lagi senja. Kamu gak usah berenang disana" Syifa mengerucutkan bibirnya sebal. Lagi-lagi Bram melarangnya. Keras kepala sekali suaminya itu. Syifa kan ingin memanfaatkan waktunya selama di sini dengan mencoba semua hal-hal yang menarik tentunya.

__ADS_1


"Senja masih lama kok. Ini baru jam setengah lima. Masih keburu kalau aku berenang" ucap Syifa.


__ADS_2