
"Reyhan?" Syifa memekik senang begitu melihat Reyhan.
Reyhan tersenyum saat Syifa meresponnya dengan baik. Sedangkan Bram, ia kesal setengah mati. Baru saja ingin menikmati pesta. sudah ada pengganggunya saja.
"Hai, Syifa!" Sapa Reyhan ramah. Syifa pun tersenyum senang dan langsung memeluk Reyhan.
Bram membelalakkan matanya tak percaya. Syifa terlihat begitu antusias bertemu Reyhan sampai-sampai memeluknya. la sendiri saja jarak dipeluk seperti itu oleh Syifa.
"Gak nyangka yah kamu juga ada disini" ucap Syifa mengurai pelukan singkat mereka.
"Hmm iya. Kamu juga ternyata masih mengenal aku, hehe" ucap Reyhan terkekeh la kira Syifa sudah lupa dengannya.
Reyhan sangat senang Syifa masih mengingatnya dan langsung memeluknya seolah-olah mereka sudah tidak bertemu sangat lama.
Bram yang sudah panas dan jengah melihat istrinya bersama pria lain, ia langsung berdehem pada Reyhan bahwa masih ada suaminya disini.
"Hmm. Reyhan, siapa yang mengundang anda datang di pesta ini?" Ucap sinis Bram menyadarkan Reyhan yang sedang asyik dengan Syifa. Bahkan Bram sudah tidak memanggilnya dengan pak dan terkesan diluar formal.
"Oh, Mr. Joseph. Saya diundang oleh Mr. Robert Kami adalah partner bisnis yang baik. Dan selamat untuk anda. Anda adalah CEO muda terhebat yang saya pernah temui." Ucap Reyhan ramah la sama sekali tidak mengetahui bahwa Bram sedang menatapnya dengan sinis dan menahan rasa cemburunya
"Thanks for your compliment." Reyhan balas Bram dengan datarnya tanpa senyum keramahan dibaliknya.
Dengan sifat posesifnya. Bram langsung memeluk pinggang Syifa. Reyhan memperhatikan Bram yang secara posesif memeluk Syifa. la juga merasa ada aura kecemburuan yang sangat jelas ditunjukkan oleh Bram.
"Silahkan nikmati pestanya dan jangan ganggu istri saya!" Bram menekan kata diakhir kalimatnya. Reyhan sangat tahu apa maksudnya.
"Baiklah. Mr. Joseph" ucap Reyhan dengan senyuman manisnya. la pura-pura tidak tahu bahwa Bram sedang cemburu. Reyhan pun pergi meninggalkan Bram dan Syifa.
"Sayang, ayo kita kesana. Ajak Bram pada Syifa. Syifa menahan lengan Bram membuat Bram menoleh padanya
"Aku mau ngobrol sama Reyhan" ucap Syifa.
Bram mengerutkan keningnya.
"Ada banyak cerita yang mau aku ceritakan padanya" lanjut Syifa.
"Sayang, sejak kapan kamu dekat dengannya?" Tanya Bram menahan emosinya agar tidak
"Sejak waktu kita bertemu. Reyhan itu orangnya asyik, aku sangat betah mengobrol dengannya" ucapan Syifa membuat Bram semakin kesal dalam hatinya.
__ADS_1
"Gak boleh "ucap Bram dengan tegasnya. la tak akan membiarkan Syifa berdua bersama Reyhan. "Please, Bram. Aku gak bakal ngapa-ngapain
kecuali ngobrol doang gak lebih." Sahut
Syifa. la sudah ingin sekali mengobrol dan
menceritakan hal banyak pada Reyhan.
"Gak boleh, sayang. Ayo, ikut aku!" Bram dengan tidak pedulinya langsung menarik tangan Syifa pergi.
Syifa dengan wajah cemberutnya hanya bisa pasrah dan dengan malasnya ia mengikuti Bram yang menarik tangannya. Bram sangat tidak suka jika Syifa dekat bahkan akrab dengan Reyhan. Walaupun Reyhan itu adalah kliennya. ia tetap tidak suka.
Sekarang Syifa merasa bosan dengan suaminya. Setelah suaminya itu menariknya, lalu dengan tak tahu dirinya Bram malah bercakap-cakap dengan para pegawainya.
Syifa merasa dirinya diabaikan. Ia hanya berdiri di samping Bram namun pria itu berbicara dengan yang lain. Terlebih lagi yang paling Syifa tak suka jika yang menjadi teman mengobrol Bram adalah para wanita.
Seharusnya tadi Syifa pergi mengobrol saja dengan Reyhan. Telinga Syifa sangat panas mendengar Bram yang terus mengobrol bahkan tertawa dengan tiga wanita itu. Apalagi para wanita itu terus menatap Bram dengan tatapan kagumnya.
"HELLO DISINI ADA ISTRINYA!!! Ingin sekali Syifa berteriak seperti itu didepan para wanita itu. Namun ia urungkan. Ia hanya mampu berteriak didalam hatinya.
"You look so handsome, Mr. Joseph" Yeah, you are very very handsome" "I like your eyes. Blue is my favorite color" "Hahaha I know. Thanks for your compliment all
Syifa mendengar percakapan itu dengan sangat jelas ditelinga ya. Para wanita itu memuji suaminya. Apalagi Bram tertawa menanggapinya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bram dengan tatapan tajamnya.
"Aku mau cari Reyhan. Kamu ngobrol saja sana sama wanita-wanita cantik itu" sinis Syifa. Bram menaikkan sebelah alisnya.
"Sayang, kamu ngomong apa sih?" Bram tidak
mengerti.
"Kamu ngobrol saja sana sama wanita-wanita tadi. Gak usah peduliin aku!" ucap Syifa yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya.
Syifa merasa aneh dengan dirinya. Mengapa ia harus menangis jika cemburu pada suaminya? Ini seperti bukan dirinya. la juga jadi merasa ingin sekali mengobrol dengan Reyhan
Bram membelalakan matanya. Lagi-lagi Syifa menangis karenanya. Apalagi ia sempat mengucapkan kata yang sinis padanya.
Bram langsung merengkuh tubuh Syifa ke dalam pelukannya. Syifa semakin menangis dipelukannya sehingga Bram merasakan jas yang dipakainya basah.
__ADS_1
"Hey, ada apa sayang?" Bram menarik dagu Syifa agar menatapnya.
"Aku gak suka kamu abaikan aku". Ucap Syifa dengan lirih. la masih terisak kecil.
"Aku juga gak suka kamu dekat dengan wanita itu" Lanjut Syifa
Bram sedang mencerna kalimat yang diucapkan Syifa. Kemudian ia dapat menyimpulkan bahwa Syifa cemburu padanya
sewaktu ia mengobrol dengan tiga pegawai
wanitanya. Bram langsung mendekap Syifa
kembali ke pelukannya.
"Aku minta maaf, sayang" ucap Bram pada Syifa.
"Aku tadi cuma mengobrol dengannya. Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik. Namun mereka yang terus memaksaku mengobrol. "Jelas Bram.
Memang tadi ia tidak sengaja karena tiga pegawai wanitanya saja yang mengajaknya mengobrol dan Bram juga tidak mungkin mengabaikannya. Bisa-bisa ia dicap jelek oleh para pegawainya.
"Kamu jangan menangis lagi, sayang" ucap Bram lagi
"Tapi-" Bram langsung membungkam bibir Syifa dengan bibirnya. Syifa sedikit terkejut namun tak lama kemudian ia membalas ciuman Bram .
Keduanya saling ciuman dengan lama. Apalagi Syifa sudah mengalungkan tangannya ke leher Bram Mereka sukses membuat orang lain yang melihatnya tersenyum memaklumi.
Bram melepaskan ciumannya setelah dirasa mereka butuh oksigen. Bram tak menyangka Syifa membalasnya lebih dari perkiraannya.
"Wow ciuman kamu sangat luar biasa, sayang" bisik Bram ditelinga Syifa.
"Bram, aku malu!" Syifa langsung
membenamkan wajahnya pada dada Bram Tak dapat dipungkiri Bram, jika saat ini wajah Syifa merona malu atas tingkahnya tadi.
Namun Bram sangat menyukainya.
"Aku rasa kita butuh kamar, sayang" ucap Bram menahan senyumnya. Syifa yang mendengarnya bertambah memerah wajahnya.
"Bram, kamu ngomong apa sih!" Syifa langsung membekap mulut Bram dengan tangan mungilnya. Bram lalu mencium jari-jari tangan Syifa yang membekap mulutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba suara dentingan piano dibunyikan. Saat ini tiba waktunya berdansa bagi yang membawa pasangan. Bram juga heran akan acara yang dibuat oleh bawahannya ini sampai-sampai ada pesta dansa segala.
Bram lalu mengulurkan tangan kanannya pada Syifa mengajaknya berdansa.