JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 49


__ADS_3

"Ini semua kamu yang masak, sayang?" Tanya Bram. Syifa pun mengalihkan perhatiannya untuk melihat suaminya.


"Aku dibantu oleh Bi Inem juga" sahut Syifa. Syifa pun menghampiri Bram dan mengambil dasinya. la sudah paham betul jika Bram selalu memintanya untuk memakaikan dasinya.


Bram pun menunduk agar Syifa lebih mudah memasangkan dasi di lehernya. Syifa tersenyum puas melihat simpulan dasi yang dibuatnya. Bram terlihat gagah dan wibawa.


"Ayo, kita sarapan, Bram" ajak Syifa. la pun menyediakan nasi beserta sayur sop kacang polong yang dibuatnya untuk Bram.


Setelah sarapan, Bram dan Syifa pun berangkat kerja bersama.


"Sayang, hari ini jadwal aku apa?" Tanya Bram pada Syifa saat mereka dalam perjalanan menuju kantor


"Hmm. Sebentar" Syifa pun meraih tasnya dan mengambil buku catatan khusus.


"Hari ini kamu ada meeting diluar kantor pas jam makan siang, lalu untuk besok kamu ke Jerman. Wait, Jerman?" Gumam Syifa. Jadwal itu memang sebelumnya sudah ditulis oleh sekretaris Bram jadi Syifa tinggal mengatur ulang saja jadwal pertemuan Bram .


"Bukannya aku ditugaskan ke Jerman minggu depan?" Tanya ulang Bram


"Gak, Bram. Disini tulisannya besok" ucap Syifa menunjuk tanggal yang tertera di buku tersebut


"Berarti besok kita ke Jerman" ucap Bram dengan entengnya.


"Kenapa harus ke Jerman?" Syifa


menautkan alisnya bingung


"Aku harus mengontrol pekerjaan aku yang bercabang di sana" ucap Bram Syifa membulatkan kedua bola matanya terkejut.


"Kamu punya kantor cabang disana?" Tanya


Syifa Bram mengangguk memberi jawaban.


Syifa baru tahu jika Bram memiliki anak atau cabang perusahaannya hingga ke luar negeri. Yang ia tahu, kantornya saja yang berada di Jakarta.

__ADS_1


"Untungnya yang sekarang jadi sekretaris aku itu kamu" ucap Bram.


"Maksud kamu?" Syifa tidak mengerti.


"Coba kalau sekretaris aku itu bukan kamu. Aku akan pergi ke Jerman bersama sekretaris aku" sahut Bram yang merasa senang. la sangat berterima kasih pada sekretarisnya yang mengundurkan diri, berkatnya Bram bisa pergi bersama istrinya itu.


"Itu mah maunya kamu aja" Syifa mendelik kearah suaminya.


"Kok kamu gitu sih sayang? Bukannya senang suami ngajakin ke Jerman." ucap Bram. Syifa memang selalu begitu awalnya. Namun nanti juga ia akan ikut apa kata Bram .


"Berapa lama kita di Jerman?" Tanya Syifa. Sebenarnya Syifa tidak masalah jika Bram akan mengajaknya ke negera itu. Lumayan juga Syifa bisa berlibur sedikit.


"Hmm kurang lebih tiga sampai empat hari"


sahut Bram.


"Selama itu kamu bekerja terus?" Tanya Syifa dengan raut penasarannya.


"Gak juga. Kalau kamu mau jalan-jalan disana. ya gak apa-apa" jawab Bram langsung


"Untuk kamu apasih yang gak serius" sahut Bram menyunggingkan senyumnya. Wajah Syifa bersemu merah


"Iya sayang" Bram mengacak rambut Syifa. la senang jika Syifa bahagia bersamanya.


Syifa menepis tangan Bram dikepalanya. Suaminya itu sering sekali membuat Syifa kesal. Syifa sudah susah payah menata rambutnya yang malah diacak-acak Bram dengan seenak jidatnya.


Siang ini. Bram dan Syifa sudah tiba di salah satu restoran tempat pertemuan Bram dengan kolega bisnisnya. Bram dengan setianya selalu menggandeng tangan Syifa mengitari restoran ini mencari tempat dimana koleganya duduk.


"Pak Reyhan?" sapa Bram pada seorang pria yang duduk di pojok bersama satu wanita yang sepertinya sekretarisnya.


"Ah ya. Mr Joseph Silahkan duduk" Reyhan mempersilahkan Bram dan Syifa duduk.


Syifa melihat kolega bisnis Bram yang satu ini terlihat masih muda seperti seumuran dengan Bram. Terlihat tampan, namun bagi Syifa yang paling tampan adalah Bram. Tidak ada yang lain.

__ADS_1


"Perkenalkan ini sekretaris saya" ucap Reyhan memperkenalkan wanita yang sudah berkepala tiga itu pada Bram.


"Intan" ucap wanita itu tersenyum. Ia terkagum pada kolega bosnya satu ini yang sangat tampan. Apalagi saat melihat mata birunya. Intan semakin kesemsem dengan Bram.


"Perkenalkan juga, ini sekretaris sekaligus istri saya" ucap Bram yang memperkenalkan Syifa. Senyum diwajahnya diva setelah mengetahui bahwa Bram sudah menikah luntur seketika. la tidak menyangka jika pria tampan didepannya sudah mempunyai istri.


"Syifa" ucap Syifa. Reyhan menyambut tangan Syifa dengan ramah. Ia tersenyum kikuk melihat Syifa yang terlihat cantik natural


"Reyhan" sahut Reyhan namun pandangannya masih menatap Syifa dengan intens. Syifa pun merasa risih karena tangannya belum dilepas oleh Reyhan.


Bram sangat geram melihat Reyhan yang tidak mau melepaskan pegangan tangannya pada tangan Syifa. la menahan emosinya agar tidak keluar saat itu juga. Lalu berdehem agar membuat orang itu tersadar


"Ehmm. Bisa kita langsung mulai saja rapatnya?" Dehem Bram. Reyhan pun tersadar dan melepas tangan Syifa yang digenggamnya. la sedikit kecewa karena Syifa merupakan istri dari koleganya.


Sedangkan diva yang duduk disamping Reyhan dapat melihat raut wajah Bram yang sangat cemburu dengan Reyhan yang memegang tangan istrinya. Beruntung sekali Syifa dapat diperebutkan oleh kedua pria tampan seperti Bram dan bos nya itu, batin diva.


"Baiklah kita mulai rapatnya" ucap Reyhan yang memulai rapat. Bram,Syifa, dan diva mendengarkan penjelasannya dengan seksama


Syifa pun dengan sigap mencatat semua yang disampaikan oleh Reyhan. Bram pun melirik Syifa yang sedang serius mencatat penjelasan Reyhan. Namun ia dapat menangkap jika Reyhan sedari tadi terus menatap istrinya yang sedang mencatat. Hal itu membuat Bram geram dan menahan kepalan tangannya di bawah meja.


Bram jadi greget sendiri pada Syifa yang asyik mencatat tanpa sadar jika dirinya terus ditatap oleh Reyhan. Ingin rasanya Bram mencolok mata pria itu yang berani-beraninya menatap istrinya seintens itu.


Selama rapat itu Bram menahan emosinya melihat Reyhan yang tidak berhenti memandangi Syifa. Apalagi saat mereka makan siang. Syifa terlihat sangat akrab mengobrol pada Reyhan dan juga sedikit tertawa bersama.


Sedangkan Syifa yang asyik mengobrol pada Reyhan, ia tidak sadar jika Bram cemburu padanya, la malah asyik tertawa bersama Reyhan dan diva. Bram hanya diam dan berbicara seperlunya jika ditanya saja olehnya.


Akhirnya makan siang yang paling membosankan itupun selesai juga. Bram langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa berkata satu katapun pada Syifa. la sangat cemburu jika mengingat Syifa yang tertawa bersama Reyhan.


"Ternyata Reyhan asyik juga" ucap Syifa saat diperjalanan kembali menuju kantor. Bram hanya diam dan tidak membalas ucapan Syifa.


"Reyhan itu orangnya ramah banget Iho, Bram " ucap Syifa lagi. Bram hanya semakin kesal saja pada Syifa yang terus membicarakan Reyhan. Istrinya itu tidak tahu apa jika dirinya sedang dilanda cemburu tingkat dewa.


"Oh ya?" sahut Bram datar tanpa mengalihkan pandangannya pada Syifa dan terus menatap fokus pada jalanan.

__ADS_1


"Dia humoris orangnya dan suka bercanda" sahut Syifa. Bram menahan emosinya agar tidak sampai membentak Syifa


"Kamu tau gak? Reyhan belum punya pacar. Bram " ucap Syifa dengan raut senangnya. Bram semakin tidak suka dan berusaha menahan emosinya yang sudah diujung kepala.


__ADS_2