
Selang waktu berjalan kilat, kak Reza dan kak Rifal tiba di rumah sakit. Aku berusaha tegar di depan mereka. Mereka berdua kakak aku yang tau pasti bagaimana perasaan aku meski belum tau kalau sekarang aku mengandung anak kak Arsy...
Aku tidak tahu sekarang aku telah menunggu selama tiga jam atau belum, aku tidak merasakan apa-apa selain sakit selama tiga jam ini. Dokter memanggilku untuk masuk ke ruangan.
Silahkan bu di lihat suaminya, bapak ini tidak sadar diri. Kami para dokter telah berdiskusi untuk menindak lanjuti tanggung jawab kami kepada pak Arsyad tapi kami menunggu kedatangan dari keluarga termasuk istri bapak sendiri.
Lakukan apapun dokter bisa lakukan demi kesembuhan suami saya dok, aku tidak sanggup mengetahui apa diagnosanya, kuserahkan pada Allah yang maha pemberi kesembuhan...
Aku semakin tidak kuasa menahan tangis, kedua kakak kandungku terlihat begitu terpukul. Lebih-lebih Dela yang di dunia ini hanya ada kak Arsy di hidupnya...
Aku mendekat memegang tangan kak Arsy terasa sangat dingin tak berdaya... aku menciumnya sangat dalam. Orang yang selalu mencurahkan kasihnya lewat kecupan tidak bisa mengecupku pagi ini sebagaimana yang sering dia lakukan saat hendak ke kantor. Lalu bagaimana dengan anaknya yang masih dalam perut yang selalu menanti kecupan hangat dari papanya, aku tidak tahu cara menjelaskan kejadian ini pada si baby...
Papa Arsy, tadi sore si baby bertanya katanya kenapa papa belum menciumku, biasanya ketika sore dia selalu memberiku ciuman saat pulang dari kantor. Sekarang sudah jam pulang tapi belum juga dia menciumku, katanya seperti itu. Yah aku jawab papa sibuk kerja untuk kamu dan mama, kamu yang sabar yah nak, sebentar lagi papa pulang. Tapi nyatanya kamu di sini, aku dan baby dari tadi menunggu kepulangan kamu di rumah. Kami rindu saat kamu mengecup kening kepada kami, saat hendak tidur kamu mengajak si baby ngobrol, saat kamu menyanyikan nina bobo buat aku dan si baby, di saat kamu ngantuk tapi memaksakan mata untuk terjaga menceritakan dongeng.. itulah aku rindukan dari sosokmu yang perhatian dan sayang....
Aku sembari bercakap dengannya meski tak mendengar keluhku', tangannya aku tempelkan ke pipi berharap dia sadar dengan sentuhan tanganku.....
__ADS_1
Di samping kiri kak Arsy ada Dela yang tak kalah denganku, menangis meski telah berusaha untuk kuat di depan aku...kak Reza dan kak Rifal berada di samping aku dan mengelus-elus pundakku berusaha tegar juga melihat keadaan kak Arsy...
Kak Reza beranjak keluar dari ruangan entah kemana, sesekali di sana dokter masih memandang kami yang sedang piluh. Kak Reza yang tadi keluar kini masuk kembali,
Putri kamu makan dulu yah kasihan anak kamu kalau kamu tidak makan, kata Dela kamu belum makan. Rayu kak Reza menyeka air mataku,
Aku merasakan kasih sayang kak Arsy dari sentuhan hangat kak Reza, aku terus memandang separuh wajah kak Arsy yang d baluti kain putih berharap segera sadar dan menyuruhku makan....
Ayolah kak bangun, ayolah anak kita lapar, bangun dan suapi aku makan ajak anak kamu ngobrol untuk tidak rewel saat malam, ayolah kak buka matamu...Gumamku tak menghiraukan kak Reza. Yang aku harapkan kak Arsy mendengar pintahku, tapi hanya sekedar harapan...
Kak Reza menyuapi aku, aku masih terpaku pada wajah pucat kak Arsy.
Sejak percakapan aku tadi ke kak Arsy kedua kakakku sudah tau kalau aku sedang mengandung anak kak Arsy, oleh karena itu kak Reza sangat menjaga kandungan ini...
Aku menerima suapan kak Reza, suapan demi suapan hingga buburnya nyaris habis, aku bahkan tidak sadar kalau bubur semangkuk ini akan habis aku makan. Kak Reza persis sama juga dengan kak Arsy, begitu perhatian dan sayang sejak dari aku masih kecil...
__ADS_1
Aku, kak Reza, kak Rifal dan Dela masih terjaga menunggu keputusan dokter. Hingga waktu subuh tiba, mereka berdua kak Rifal dan kak Reza harus ke mushollah rumah sakit, aku dan Dela akan sholat di ruangan.
Hingga selesai sholat, seorang dokter dengan beberapa perawat memasuki ruangan ini. Aku dengan mata membengkak meratapi wajah kak Arsy....
Pak Arsyad ini dia sebenarnya tidak koma, hanya saja kami dari pihak dokter memberi obat penenang karena saat kejadian bapak sempat pinsang dan salah satu dokter kami disini yang menyaksikan saat bapak kecelakaan akhirnya bapak di bawa ke sini, dan setelah kami periksa bapak mengalami luka berat di bagian kepala oleh karena itu kami akan menindak lanjuti dengan operasi di bagian kepalanya karena kalau tidak pak Arsyad akan mengalami amnesia dan sebelum itu terjadi kami telah memberinya penenang untuk istirahat cukup sebelum operasi di jalankan,,
Jadi pagi ini kami akan memulai bekerja semaksimal mungkin untuk membuat pak Arsyad kembali pulih, kami tidak berjanji untuk menyembuhkan tapi kami akan tetap berusaha dan menunggu keputusan sang Ilahi.. Kami rekan dokter dan juga perawat memohon doa atas kelancarannya. Kami akan kembali setelah ada perintah dari dokter ahlinya, kami permisi bu' . Jelas diagnosa dokter...
Aku tak habis pikir jika kekhawatiran dokter benar terjadi, kak Arsy akan melupakan aku dan juga anaknya yang belum tau apa-apa tentang kejadian ini...
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
*Dear My anggel
Nak.. kamu harus kuat menerima keadaan papa Arsy. Yang penting kamu tahu papa Arsy sangat menyayangi kamu sebelum kejadian ini. Kamu tau kan papa Arsy tidak pernah merasa capek saat pulang kerja yang harusnya istirahat malah nemanin kamu ngobrol, menceritakan semua kebiasaan papa saat di kantor. Kamu tau kan sayang papa Arsy itu orangnya baik, sayang, perhatian itu tidak hanya sama kamu tapi juga sama mama dan keluarga kita...
__ADS_1
Kamu harus tau nak, meski mama yang mengandung kamu kelak mama akan melahirkan kamu ke dunia, menjadikan mama surgamu tapi papa Arsy lebih berarti dari pada apa yang mama yang lakuin. Papa Arsy juga tau bagaimana rasanya mengandung, bagaimana rasanya kamu di dalam perut mama, bagaimana rasanya saat kamu menari-nari dalam perut mama. Papa Arsy lebih rasakan itu dari pada mama. Kamu juga tau kan, papa Arsy kerja dari pagi sampai sore hanya buat kamu dan mama. Papa Arsy bekerja sendirian untuk kamu dan mama. Kamu taukan pengorbanan papa Arsy. Bahkan dengan kejadian ini itu karena papa pulang cari nafkah untuk kita. Jadi kamu harus kuat jika ini adalah takdir kita. Jika ini ketentuan Allah kita harus sabar menerima kenyataan ini. Maafin mama karena mama tidak bisa ngelakuin apa yang papa Arsy sering lakukan ke kamu. Mama tidak bisa mencium kamu nak*....
Sambil aku mengelus-mengelus perut aku yang makin hari makin membesar. Aku masih di ruangan menunggu dokter menjemput kak Arsy ke ruang operasi......