JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 53


__ADS_3

"Sayang ingat. Nanti malam akan ada pesta di kantor" ucap Bram memperingati. Bram memang diberi tahu oleh Mr Robert bahwa nanti malam akan ada pesta di kantornya. Tujuannya adalah untuk menyambut kedatangan CEO besarnya itu.


"Ah pesta? kok kamu gak bilang sama aku kalau ada pesta?" Syifa malah justru balik marah pada Bram. la sama sekali tidak tahu-menahu tentang pesta yang bakal diadakan malam nanti.


"Tadi Mr Robert yang menyampaikan ke aku. Jadi sekarang, mending kamu siap-siap buat nanti malam daripada berenang" ucap Bram dengan senyum kemenangannya. Mungkin saja Syifa mengubah pikirannya untuk tidak berenang.


"Aku gak mau pergi ke pesta itu sebelum aku berenang dulu" ucap Syifa. Senyum di bibir Bram pun luntur. Bukan Syifa namanya jika mau menurutinya begitu saja. Pasti ia harus beragumen terlebih dahulu supaya Syifa menurutinya.


"Kalau aku gak izinin kamu gimana?" ucap Bram keras kepala. Syifa mendengus nafasnya kasar.


"Aku gak mau pergi ke pesta" sahut Syifa simple. Bram menggeleng-gelengkan kepalanya. la memang harus mengalah baru Syifa akan menurutinya.


"Okey, kamu boleh berenang tapi cuma lima menit aja "sahut Bram. Syifa kembali cemberut.


"Bram. lima menit itu durasi jalan dari sini sampai sana" Syifa greget sekali dengan ucapan suaminya itu. Mana bisa ia berenang secepat itu?


"Haha iya aku bercanda, sayang" Bram terkekeh melihat wajah kesal Syifa terhadapnya. Senyum di wajah Syifa pun kembali terbit dan dengan semangat ia menarik lengan Bram.


"Ayo. Bram " Bram menahan lengannya yang ditarik Syifa .


"Tunggu." ucap Bram dan menatap Syifa. Syifa merasa aneh dengan tatapan Bram .


"Apa?" ucap Syifa. Bram membuatnya kembali bertanya-tanya dengan tatapannya itu.


"Kamu pakai apa dibalik bathrobe itu?" Tanya Bram dengan tatapan curiganya. Wajah Syifa memerah.


"Ba-baju renang" jawabnya gugup, Syifa menunduk lemah tak berani menatap mata Bram.


"Coba buka" ucap Bram enteng. Syifa


membelalakkan matanya.


"Apa?"


"Coba buka, sayang" ucap Bram lembut namun ada nada tegas di dalamnya. Dilihatnya Syifa masih terdiam tak bergeming


"Atau mau aku yang bukain?" ucap Bram lagi dengan senyuman miringnya. Syifa menelan salivanya dengan susah payah.


"Aku mau renang, kamu bikin lama aja" sahut Syifa ketus.


"Kok kamu yang jadi marah sama aku?" Bram gemas sekali dengan istrinya ini. Padahal ia hanya ingin memastikan apa yang berada di dalam bathrobe yang dipakai Syifa itu.


"Cepat buka!" ucap Bram dengan tegas sekali lagi. Dengan malas, akhirnya Syifa membuka bathrobe yang di pakainya


Syifa yakin pasti sebentar lagi Bram akan memberinya wejangan. Syifa harus mencari penutup telinga jika Bram sudah menceramahinya.


"Kenapa kamu pakai itu lagi?" Bram menatap tajam istrinya. Syifa mendengus malas. Sudah berkali-kali Bram melarangnya namun Syifa tetap saja melanggarnya.

__ADS_1


"Bram, please ini pakaian renang. Masa gak boleh?" Syifa memprotes. la sangat aneh dengan suaminya yang selalu melarangnya memakai itu.


"Percuma dong aku beli mahal-mahal tapi gak dipakai". Syifa menggerutu pelan seraya memainkan jari-jarinya.


"Bukan gitu maksud aku, sayang"Bram menghela nafasnya. la habis kata-kata untuk menjelaskan pada Syifa.


"Kamu keterlaluan. Bram" tiba-tiba saja air mata mengalir dengan mulus dipipi Syifa. Syifa tidak tahu mengapa dirinya sesedih ini. Biasanya Syifa pasti selalu tak mau kalah dengan Bram .


Bram mengerutkan keningnya bingung melihat Syifa yang tiba-tiba menangis sambil menundukkan kepalanya tidak mau menatapnya. Tumben sekali Syifa se-cengeng ini biasanya juga Syifa sering beradu mulut dengannya.


"Kamu kenapa, sayang?" Bram memegang kedua pipi Syifa agar menatapnya.


"Kamu keterlaluan." Syifa berucap pelan dengan air mata yang berderai. Bram bingung harus melakukan apa saat ini.


"Oke kalau kamu nangis karena aku, aku minta maaf" Bram membawa Syifa kepelukannya. Hanya itu yang bisa dilakukan Bram agar Syifa tidak lagi menangis.


Syifa terisak di pelukan Bram membuat Bram semakin tidak mengerti dengan tingkahnya. Syifa sendiri pun merasa bahwa yang sekarang seperti bukan dirinya. Dirinya tidak secengeng ini cuma karena Bram melarangnya.


"Sekarang aku bakal turutin keinginan kamu. Jangan nangis lagi dong, sayang "Bram mengusap rambut Syifa dengan lembut berharap istrinya tidak menangis lagi


"Kamu mau apa biar gak nangis lagi, hmm?” Ucap Bram lagi. Syifa memeluk leher Bram dengan erat la pun menatap Bram.


"Aku gak mau berenang" sahutnya. Bram melebarkan kedua matanya. Tadi Syifa merengek, mengapa sekarang ia sendiri tidak mau berenang?


"Bukannya tadi---" Syifa dengan cepat menyela perkataan Bram.


Bram mengangguk patuh. la tak mau membuat istrinya menangis lagi seperti tadi. Sepertinya Syifa menurut apa katanya untuk tidak berenang, mungkin istrinya itu tidak mau berdebat dengannya


Bram tidak pernah mengizinkan Syifa untuk memakai bikini seperti sekarang untuk berenang. Ia hanya tak mau ada pria lain yang menggoda istrinya seperti waktu di Hawaii. Bram lebih senang Syifa menggunakannya didepannya saja. Itu kesempatan untuknya.


Malam pesta penyambutan di kantor Bram pun tiba. Syifa mematut dirinya di cermin. Bram masuk ke kamar dan seperti biasa ia membawa dasi kupu-kupu meminta Syifa untuk memasangkannya walaupun tanpa bantuan Syifa pun la bisa.


Bram melongo di depan pintu kamar melihat istrinya di cermin yang memakai gaun maroon yang terlihat sangat menggodanya. Syifa menoleh ke arah pintu yang terbuka. Ternyata Bram berdiri di depan pintu dengan melongo melihatnya dengan tangan yang masih memegang knop pintu.


"Kamu ngapain disitu?" ucap Syifa memicingkan matanya. Bram tersadar dari lamunannya.


"Aku. Hm. aku mau masuk" Bram pun masuk ke dalam dan menutup pintu kemudian menghampiri Syifa.


Bram memberikan dasi kupu-kupu yang dipegangnya pada Syifa. Bram memutar kedua bola matanya malas.


"Ini dasi kupu-kupu masa kamu gak bisa pakai sendiri? omel Syifa sambil mengambil dasi ditangan Bram.


"Kan biar romantis kalau dipasang sama kamu" ucap Bram dengan cengiran lebarnya.


"Dasar manja." cicit Syifa lalu memasangkan


dasi dileher Bram

__ADS_1


"Aku jadi gak tega biarin kamu ke pesta pakai baju ini" bisik Bram. Tangannya mengusap punggung Syifa yang terbuka membuat Syifa geli dengan sentuhan kecil dari Bram.


"Sudah jam 7. Ayo. Bram nanti kita telat!" Syifa mengabaikan ucapan Bram. Ia pun mengambil clutch silvernya dan keluar meninggalkan Bram.


Mereka pergi ke acara pesta dengan diantar supir pribadi Bram. Sekitar 20 menit perjalanan, mereka pun sampai di kantor. Jarak dari hotel dengan kantor memang tidak terlalu jauh apalagi jalanan di Jerman juga tidak terlalu macet seperti di Jakarta.


Pesta yang dihadiri oleh pegawai-pegawai kantor pun cukup meriah. Pesta tersebut diselenggarakan di ballroom kantor yang lumayan luas. Banyak para pegawai yang membawa pasangannya ke pesta ini dan juga ada beberapa klien yang datang diundang


Kedatangan Bram disambut meriah oleh para pegawai. la pun tak melepaskan pelukannya di pinggang Syifa, Syifa sendiri tak henti-hentinya tersenyum ramah pada semua orang yang hadir di pesta ini. Dan tentunya para pegawai menatap keduanya dengan pandangan takjub


"Thank you so much for coming tonight and thank you to Mr Robert for this amazing party. Yeah. I am so grateful to be here with you all. And I wish this company will be moving forward in the future. So please enjoy this party!" Kata-kata sambutan Bram diberi tepukan tangan yang meriah. Bram pun turun dari podium menghampiri istrinya beserta Mr Robert yang juga datang bersama istrinya.


"You're welcome, sir "Mr Robert menjabat tangan dengan Bram.


"Yeah. hope RAIN Company will be moving


forward" ucap Bram.


Yeah, I hope so" ucap Mr Robert dengan ramah.


Setelah berbincang-bincang dengan Mr Robert. Bram pun pamit untuk ke tempat yang lain bersama Syifa. Tak dapat dipungkiri, sedari tadi Syifa ikut senang melihat Bram yang berdiri di atas podium dengan gagahnya. Bram terlihat tampan dimata Syifa.


"Kamu hebat. Bram " puji Syifa seperti anak kecil. Bram tersenyum. Baru kali ini ia mendengar pujian yang tulus dari istrinya.


"Makasih, sayang" Bram mengecup bibir Syifa.


"Hmm. Aku tampan gak malam ini?" Tanya Bram dengan pedenya.


"Sok pede banget!" Jeda sebentar, lalu Syifa


melanjutkan kalimatnya.


"Tapi emang kamu tampan malam ini" lanjut Syifa dengan pipi bersemu.


"Kamu bisa aja" Bram mencubit kedua pipi Syifa. Syifa menepis tangan Bram yang mencubit pipinya.


"Ayo sayang kita kesana "ajak Bram. Baru saja ingin melangkah, ada sebuah suara yang menghentikannya.


"Congratulation, Mr. Joseph!" Ucap orang


tersebut membuat Bram dan Syifa pun


menoleh bersamaan.


"Reyhan? Syifa langsung mengenali orang tersebut dengan riangnya.


Reyhan tersenyum atas respon Syifa padanya. Sedangkan Bram merasa kesal sekaligus heran mengapa Reyhan ada dipestanya.

__ADS_1


__ADS_2