JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 60


__ADS_3

Kekanakkan. Tanpa sadar, Bram tersenyum melihatnya.


Angga menyadari jika di sampingnya ada Bram yang duduk sambil tersenyum melihat Syifa


"Senyam-senyum aja, sudah minta maaf belum?" celetuk Angga membuyarkan lamunan Bram.


"Ganggu orang lagi berimajinasi aja!" sahut Bram kesal.


"Bram, sampai kapan lo mau sembunyiin masa lalu lo ke Syifa?" tanya Angga tiba-tiba. Bram tersentak.


"Lo kan tau, Angga. Gue gak sanggup jika Syifa nanti seperti Lidia." sahut Bram lirih.


"Lidia dan Syifa itu beda, Bram . Syifa bukan wanita sembarangan seperti Lidia. Cobalah untuk cerita masa lalu lo padanya. Supaya Syifa tidak beranggapan kalau lo masih mencintai Lidia. Gue tahu, kalau Syifa sangat sayang sama lo walaupun dia belum pernah ngomong langsung sama lo kan?" ucap Angga. Bram hanya mengangguk samar Angga memang sahabatnya yang paling memahami dirinya.


"Dan gue juga tahu kalau lo mencintai Syifa. Lupakan masa lalu dan menata masa depan bersama Syifa. Masa untuk hal ini aja kudu gue yang harus jadi penengah? Besok gue pecat aja jabatan CEO lo." ucap Angga. Bram langsung menatapnya tajam.


"Yang ada gue yang pecat lo!" ucap Bram. Angga tertawa.


"Gue balik ke kantor. Ingat, ceritain masa lalu lo pada Syifa. Kalian ini suami istri kan? Suami istri itu harus saling terbuka dan jangan merahasiakan apapun agar pernikahan kalian langgeng" ucap Angga lalu ia berdiri dan meninggalkan Bram kembali ke kantor.


Bram hanya diam terpaku mendengar penuturan sahabatnya. Terkadang, Angga menjadi sangat bijak dalam memahami dirinya. la pun kembali memandang Syifa yang masih bermain dengan anak-anak.


"Tante pulang dulu ya. Kapan-kapan tante kesini lagi!" ucap Syifa. la menyeka keringatnya yang mengalir di dahinya setelah bermain.


"Hore. aku selalu nunggu tante bermain ke taman lagi!" ucap bocah perempuan berambut bob dan gigi ompong itu dengan senang.


Setelah berpamitan dengan bocah-bocah itu. Syifa berjalan menghampiri Angga yang masih duduk di bangku dengan menunduk bermain ponselnya.


"Angga, ayo pulang. Aku capek" ucap Syifa.


Bram yang merasa dirinya dipanggil dengan sebutan Angga itu langsung menoleh. Syifa terbelalak bahwa itu Bram bukan Angga. la terlalu lelah sehingga tidak mengenali jika dari kejauhan saja sudah sangat jelas jika itu memang Bram karena rambutnya yang kecoklatan, sedangkan Angga berambut hitam.


"Sudah selesai bermainnya? Ayo kita pulang!" Bram beranjak dari duduknya dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.-


"Mana Angga? Tadi aku kesini sama dia!" ucap Syifa.

__ADS_1


"Angga sudah balik ke kantor. Ayo kita pulang ke apart "Bram menggandeng lengan Syifa. Namun Syifa langsung menepisnya.


"Gak mau! Aku mau pulang sama Angga "rengek Syifa .


"Angga sudah kembali ke kantor. Pulang sama aku" aja bujuk Bram .


"Gak mau. Aku lagi marah sama kamu!" ucap


Syifa.


"Oke, sayang. Aku minta maaf soal tadi." ucap Bram serius.


"Pokoknya aku masih marah!" sahut Syifa.


"Aku benar-benar minta maaf, sayang" ucap


Bram menatap Syifa lembut.


"Aku gak peduli "Syifa berjalan meninggalkan Bram. Bram mengikuti di belakangnya.


Mereka berjalan hingga sampai di depan mobil Bram Syifa langsung naik di kursi penumpang tanpa menghiraukan Bram


"Sayang, kamu kok duduk dibelakang. Aku jadi kayak supir dong?" ucap Bram menggelengkan kepalanya.


"Sudah cepat jalan. Aku capek mau tidur!" ucap Syifa dengan ketus.


"Siap Nyonya Joseph!" tanpa banyak berkomentar. Bram menjalankan mobilnya. la jadi merasa seperti supir, sedangkan Syifa menjadi nyonya besarnya.


Bram benar-benar gelisah sekarang. Syifa menepati janjinya untuk marah padanya. Alhasil Syifa mengabaikan Bram. Seperti sekarang ini. Bram disuruh untuk tidur sofa ruang tamu. Syifa mengunci kamarnya agar Bram tidak mengganggunya.


Berulang kali Bram mencoba memejamkan matanya. Namun rasa kantuk tak kunjung datang juga. la malah tidak bisa tertidur karena tak bisa memeluk Syifa seperti biasanya. Ditambah tidur sofa membuat seluruh badannya pegal-pegal.


"****! Ini benar-benar sangat menyiksa." gumam Bram, la pun menggerak-gerakan tubuhnya kesamping kanan maupun kiri, namun tetap saja matanya masih terjaga. Akhirnya Bram memutuskan untuk bangun.


la pun berdiri di depan pintu kamar yang tertutup. Sepertinya Syifa sudah tidur di dalamnya. Bram mencoba membuka knop pintu, namun tetap saja pintu dikunci dari dalam oleh Syifa. Lebih sialnya lagi Bram tak memiliki kunci cadangannya.

__ADS_1


"Sayang." Bram mengetuk pintu yang masih tertutup rapat itu.


"Sayang, buka dong pintunya. Aku gak bisa tidur di sofa." ucapnya lagi dengan tangan masih mengetuk-ngetuk pintu tersebut


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanyanya pada pintu terutup. Tak ada jawaban dari dalam sana.


"Sayang, aku mohon buka pintunya. Aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu" lagi-lagi hanya hening yang Bram dapat dari dalam. Sepertinya Syifa sudah benar-benar tertidur.


"Aku minta maaf sayang Maafkan aku." ucap Bram.


"Aku janji bakal jelasin semuanya ke kamu. Asal kamu jangan abaikan aku seperti ini. Ini sangat menyiksa, sayang." ucapnya lagi.


Sementara dari dalam kamar. Syifa memang belum tertidur pulas. la masih terjaga. Syifa dapat mendengar suara Bram beserta gedoran pintu. Namun Syifa tak berniat membukanya.


Tak dapat dipungkiri Syifa, jika sekarang la juga merasa tidak nyenyak tidurnya. Entah dorongan darimana. Syifa rasanya ingin sekali Bram memeluknya yang tertidur. Namun Syifa tetap pada egonya untuk marah dan sedikit memberi pelajaran pada suaminya itu.


Syifa mencoba memejamkan matanya berusaha tidak mendengar gedoran beserta teriakan Bram dari luar kamar. Tetap saja matanya tidak bisa terpejam dan malah keinginannya untuk tidur dipeluk oleh Bram pun makin menjadi.


"Sayang, maafkan aku." terdengar suara Bram dari luar sana


Akhirnya Syifa mengalah dengan rasa egonya. la pun menyingkirkan selimutnya lalu bangun hendak membukakan pintu.


"Sayang, maaf"


"Masuk!" Bram menganga tak percaya. jika dihadapannya Syifa akan membukakan pintu kamarnya.


"Cepat masuk!" ucap Syifa sedikit meninggi.


"Sayang, kamu lagi-lagi "ucapan Bram sudah dipotong terlebih dahulu.


"Cepat masuk atau aku akan berubah pikiran?“ ucap Syifa dengan nada seriusnya. Bram pun tak mau menyia-nyiakan kesempatannya.


la langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping Syifa. Bram langsung memeluk Syifa yang memunggunginya. Syifa juga tak menolak dengan pelukan Bram karena memang la ingin.


"Sayang, maafkan aku" ucap lirih Bram. Syifa dapat merasakan nafas hangat Bram dilehernya.

__ADS_1


"Aku janji aku bakal jelasin ke kamu semuanya sayang. Tapi aku mohon jangan abaikan aku." lanjutnya semakin mengeratkan pelukannya pada Syifa. Bram pun menenggelamkan kepalanya pada lekuk leher Syifa sesekali mengecupnya.


__ADS_2