JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 61


__ADS_3

Syifa terdiam memejamkan matanya merasakan sensasi pada lehernya.Syifa ingin sekali membalikkan tubuhnya dan memeluk Bram. Namun ia tahan dan tetap membiarkan Bram yang memeluknya dari belakang.


"Aku harus gimana, sayang agar kamu maafin aku?" ucap Bram hampir putus asa.


"Sayang, jangan diam aja." ucapnya lagi. Syifa


pun tak tahan untuk tak berbicara.


"Aku mau kamu jelasin ke aku semuanya" sahut Syifa lirih.


"Aku janji akan menjelaskan tentang masa lalu aku" ucap Bram. Syifa pun membalikkan tubuhnya menghadap Bram. Bram merapatkan pelukannya.


"Kamu mau aku mulainya dari mana?" tanya Bram la benar-benar serius sekarang.


"Aku ngantuk, Bram. Bisakah besok aja?" Ucap Syifa lalu ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Bram.


"Selamat malam, sayang" Bram mengecup kening dan puncak kepala Syifa lalu mengeratkan pelukannya.


Pagi harinya. Syifa merasakan perutnya bergejolak dan ingin mengeluarkan semua isinya. Syifa pun melepaskan pelukan Bram yang masih ternyenyak. la langsung berlari ke kamar mandi.


"Hoekk." Syifa memuntahkan cairan bening itu di wastafel. Tiba-tiba kepalanya menjadi pening.


Bram yang masih tertidur pun bangun, la langsung panik begitu memdengar Syifa di kamar mandi. Bram langsung menghampiri Syifa.


"Hoek..." Syifa benar-benar merasa dirinya masuk angin.


"Sayang, kamu kenapa?" Bram langsung memijat tengkuk Syifa serta menyingkirkan rambut Syifa yang terurai di sekitar wajahnya.


"Aku pusing" sahut Syifa. la pun berkumur-kumur setelah rasa mualnya sudah berhenti.


"Kita ke dokter ya?" Ucap Bram. la sangat khawatir dengan Syifa sekarang


"Aku hanya masuk angin. Mungkin karena kemarin bermain di taman" ucap Syifa lirih.


"Aku panggil dokter aja kalau begitu" ucap


Bram.


"Gak usah, Bram. Aku minum obat pusing aja nanti juga hilang kok" sahut Syifa.


"Sayang, aku gak tega lihat keadaan kamu seperti ini" ucap Bram


"Aku cuma butuh istirahat aja. Bram " jawab Syifa.


"Aku tetap akan memanggil dokter" bukan Bram namanya jika tidak sedikit memaksa agar Syifa menurut padanya.

__ADS_1


"Gak, Bram "


"Syifa, turuti ucapan suamimu!" Ucap Bram dengan nada tegasnya. Syifa langsung terdiam tak berani membantah jika Bram sudah menggunakan nada tegasnya.


"Sekarang kita kembali ke kamar "Bram pun menggendong Syifa ala bridal. Syifa hanya diam menuruti Bram.


Setelah meletakkan Syifa kembali di kasur, Bram pun mengambil ponselnya dan menghubungi dokter langganan keluarganya.


Bram juga membuatkan teh hangat untuk Syifa serta menyuruh Pak Kardi untuk membelikan bubur.


Minum dulu tehnya, sayang" ucap Bram


Menyodorkan segelas teh pada Syifa


Baru saja Syifa mendengus aromanya. membuatnya kembali merasakan pening.


"Gak mau. Bram " Syifa menjauhkan gelas teh itu.


"Sedikit aja, sayang. Nanti dokter akan kesini sebentar lagi. "Ucap Bram. Namun Syifa tetap menggeleng. la pun tak memaksa.


Tak lama kemudian, seorang dokter muda datang ke apartemennya. Bram pun menyambutnya dengan ramah.


Terima kasih sudah datang, dok "ucap Bram


"Sama-sama. Perkenalkan saya dokter Farhan. putra dari dokter Albert, dokter pribadi keluarga Joseph" ucap dokter Farhan.


mual-mual" ucap Bram.


Dokter Farhan mengeluarkan stetoskop dari tasnya dan mulai memeriksa keadaan Syifa.


"Apa yang anda rasakan?" Tanya dokter sambil memeriksa Syifa. Bram memperhatikannya


"Kepala saya pusing juga mual. dok" sahut Syifa


"Apakah anda merasakan nafsu makan meningkat?" Tanyanya lagi.


Syifa mengangguk Benar sekali dugaan dokter bahwa saat ia memeriksa Syifa, ia dapat merasakan tanda adanya kehidupan di dalam diri Syifa.


"Bagaimana keadaan istri saya. dok?" Tanya Bram dengan tidak sabaran. Dokter Farhan pun berdiri dan tersenyum pada Bram.


"Selamat, anda akan menjadi seorang ayah. Mr Joseph! Dokter menjabat tangan Bram .


"Apa istri saya hamil, dok?" Tanya Bram dengan tidak percayanya.


"Ya. Usianya sudah memasuki minggu ke-4. Jika selama ini anda merasakan istri anda yang sensitif, itu bawaan dari janinnya" ucap dokter Farhan

__ADS_1


"Dan sebaiknya jika istri anda mengalami morning sickness seperti tadi, buatkan teh mint dan biskuit asin itu akan sedikit meredakan rasa mualnya. Saya akan memberi obat dan vitamin agar janinnya terlindungi dari virus dan penyakit karena janinnya masih rawan. Anda bisa menebusnya di apotik terdekat." Ucap dokter panjang lebar dan memberi selembar kertas berisi resep obat dan vitamin pada Bram


"Baiklah, saya permisi karena harus praktek di rumah sakit Sekali lagi. selamat untuk Mr and Mrs Joseph ucap dokter Farhan lalu pamit.


"Terima kasih banyak, dok" Bram pun segera mengantar dokter hingga pintu apartemen.


Syifa merasa tidak percaya apa yang dikatakan dokter padanya. Jadi selama ini yang membuatnya berubah adalah keinginan janin dalam kandungannya. Syifa pun mengelus perutnya yang terdapat kehidupan di dalam sana.


Bram kembali menghampiri Syifa dengan senyuman mengembang. Tak dapat dipungkiri, jika saat ini ia sangat bahagia. Keinginannya menjadi seorang ayah dan memberikan janjinya pada kedua orang tuanya terwujud.


"Sayang, dugaan aku selama ini benar. Kamu hamil. Makasih sayang, aku sangat bahagia." Bram tak henti-hentinya mencium kening Syifa. Syifa hanya terdiam dan menyunggingkan senyum samar. Bahwa Syifa juga bahagia seperti Bram .


"Hey, Bram junior. Aku janji akan melindungi kalian dan melakukan apa saja untuk kalian." Bram mengelus perut Syifa yang masih rata.


"Terima kasih. Tuhan. Terima kasih engkau mengabulkan doaku dengan hadirnya malaikat kecil di keluarga kami. "Bram tak henti-hentinya bersyukur dan mencium bibir Syifa dengan lembut. Syifa mengalungkan kedua tangannya pada leher Bram


"Mulai sekarang, kamu harus menjadi ayah yang baik. Luangkan waktu bekerja kamu untuk aku dan anak kita" ucap Syifa.


"Pasti sayang. Pasti. Hmm, btw. kamu sudah


maafkan aku kan? "Ucap Bram. Syifa menarik tangannya dari leher Bram.


"Siapa bilang aku sudah maafin kamu!" Syifa langsung memasang wajah juteknya dan memunggungi Bram.


"Hey, kok gitu sih?" Protes Bram, la menggeleng-gelengkan kepalanya. Cepat sekali perubahaan ibu hamil ini.


"Sayang. maafkan suamimu ini. "Ucap Bram dengan nada memelasnya. Syifa menyunggingkan senyum. Mengerjai suami sekali-sekali tidak apa-apa.


"Sayang... Bram memeluk Syifa berharap


Syifa memaafkannya. Syifa geli dengan ucapan memelas suaminya itu. "Aku sudah maafin kamu, Bram. Tapi.." Ucapan Syifa sengaja ia gantungkan.


"Tapi apa sayang?" Seketika raut wajah Bram berbinar.


"Hmm." Syifa sengaja menggantungkan kalimatnya.


Jawab dong, sayang" ucap Bram tidak sabaran.


"Anak kamu yang tidak mau memaafkannya"


sahut Syifa.


Bram membalikkan tubuh Syifa sehingga Syifa terlentang. Kemudian menggulung piyama Syifa hingga perutnya terbuka. Syifa cukup terkejut dengan suaminya itu.


"Kamu masih marah dengan daddy? Hey, sayang bahkan kamu masih terlalu kecil diperut mommy. Maafkan daddy ya." Bram pun mencium perut Syifa yang masih rata.

__ADS_1


Syifa tersenyum melihat tingkah Bram yang begitu manis. Bahkan ia sudah mengajak anaknya yang bahkan masih membentuk gumpalan kecil berbicara.


__ADS_2