JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 55


__ADS_3

Menunduk dengan ala-ala seperti Prince Charming mengajak Cinderella untuk berdansa. Syifa sedikit terkejut dengan tingkah Bram yang aneh.


"Do you wanna dance with me?" ucap Bram dengan romantisnya. Syifa dengan cepat mengangguk seperti anak kecil yang diberikan es krim oleh ibunya.


"Yes yes I do "Syifa langsung mengait lengan Bram. Bram membawanya ke lantai dansa dimana para pegawainya juga berdansa disana. Sejenak. Bram mengalihkan perhatiannya agar Syifa lupa dengan Reyhan.


Syifa menaruh sebelah tangannya di bahu Bram dan sebelah tangannya lagi berpegangan pada tangan Bram. Sementara tangan Bram yang satu lagi memegang pinggang Syifa dengan erat. Mereka mulai bergerak ke kanan dan kiri mengikuti alunan musik


Keduanya sama-sama menikmati alunan musik yang begitu romantis sambil berdansa. Bram tersenyum menatap Syifa dan Syifa yang lagi-lagi terhipnotis dengan mata biru Bram yang menatapnya lembut penuh kasih sayang.


Lagi-lagi terhipnotis dengan mata biru Bram yang menatapnya lembut penuh kasih sayang. Sambil menatap suaminya. Syifa lantas berpikir bagaimana rupa wajah anaknya nanti apakah tampan seperti Bram atau cantik seperti dirinya.


Syifa menggelengkan kepalanya. Mengapa ia bisa berfikir sampai kesitu? Padahal ia sendiri belum merasa bahwa dirinya hamil. Bram melihat Syifa yang nampak menggelengkan kepalanya.


"Kamu pusing, sayang?" tanya Bram lembut. la sedikit khawatir dengan istrinya.


"Enggak kok "Syifa langsung tersenyum pada


suaminya bahwa ia baik-baik saja. la hanya mengenyahkan pikirannya tadi.


"Kalau kamu pusing, bilang aku. Kita balik ke hotel aja" ucap Bram cemas.


"Aku gak apa-apa. Bram" sahut Syifa, la bisa melihat betapa Bram yang sangat khawatir padanya.


Mereka pun kembali berdansa dan mengikuti acara pesta hingga hampir tengah malam.


Syifa terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan penglihatannya. la pun terbangun dengan melilitkan selimut ke tubuhnya. Terlihat Bram yang masih nyenyak dalam tidurnya.


Syifa meringis melihat kamar hotel yang sangat berantakan dengan bajunya dan baju Bram yang ada dimana-mana. la pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sesampainya di kamar mandi, ia terkejut begitu mendapati dirinya di cermin. Seluruh tubuhnya terdapat bercak merah mulai dari leher, dada hingga semua sekujur tubuhnya membuatnya bergidik


"BRAMMM!!!" Syifa berteriak begitu kencang dengan refleksnya.


Bram yang masih tertidur pun langsung terbangun dan berlari menuju kamar mandi. la takut Syifa terjatuh di kamar mandi.


"Ada apa, sayang?" Ucap Bram panik begitu ia melihat Syifa.


Syifa sedikit terkekeh dalam hatinya melihat Bram yang begitu panik dengan rambut yang masih acak-acakan, bertelanjang dada, dan juga hanya memakai boxer selutut nya.


"Lihat ini! Semua kerjaan kamu"! Bentak Syifa menunjukkan kemerahan di tubuhnya. Bram kemudian terkekeh.


"Ih Bram, kok kamu ketawa?" Syifa sudah kesal ditambah kesal dengan Bram yang hanya tertawa

__ADS_1


"Sayang, kamu gak ingat siapa semalam yang


mulai duluan?" Ucap Bram.


Syifa benar-benar lucu. la tidak ingat semalam ketika pulang dari pesta, tiba-tiba saja Bram terkejut mendapati Syifa yang langsung menciumnya. Dan jangan salahkan Bram jika ia membalas Syifa lebih dari apa yang dilakukan Syifa. Dan Syifa pun juga tampak senang.


Bram sempat heran akan sikap istrinya yang menjadi lebih agresif dan sensitif akhir ini.


"Aku heran akhir-akhir ini kok kamu jadi lebih agresif? Sangat beda dari biasanya" ucap Bram pada Syifa Pipi Syifa memerah. la sendiri juga tidak tahu dengan dirinya akhir ini.


"But it's okey. Kamu menyerang aku dan untungnya bukan orang lain atau Reyhan yang kamu serang." Lanjut Bram. Syifa sudah tidak kuat mendengarnya. Malah dirinya yang dipojokkan oleh suaminya.


"Stop! Aku gak mau dengar yang lagi!" Syifa menutup kedua telinganya sementara pipinya merona dengan jelas.


"Hahaha. Omong-omong, tanda merah di tubuh kamu itu sangat seksi. Siapa yang buat sih?" Bram terkekeh dan sedikit menggoda istrinya.


"KAMU. Aku gak masalah jika kamu buatnya dibagian yang tertutup. Tapi leher? Ini keliatan banget, Bram!" Ucap Syifa kesal dan penuh penekanan.


"Hey, kamu gak sadar. Lihat leher aku ada bekas gigitan kamu. Belum lagi punggung aku kena cakar kamu yang seperti kucing garong." Ucap Bram tak mau kalah. la menunjukkan bagian yang diserang Syifa.


Syifa bergidik melihatnya. la tak menyangka dirinya seagresif itu pada suaminya.


"Kita satu sama. Ayo, sekarang kita mandi bareng dan lanjutkan yang semalam biar tau siapa pemenangnya." Ucap Bram dengan horor. Ia menyeringai lalu menggendong Syifa.


Tok. Tok. Tok


Ada yang mengetuk pintu hotel. Sejenak Bram menghentikan sarapannya dan menatap Syifa yang dengan lahapnya memakan nasi goreng seafoodnya. Ya, mereka memutuskan untuk sarapan di dalam hotel.


"Siapa itu?" Tanya Bram pada Syifa. Syifa hanya mengangkat bahunya acuh lalu kembali melahap nasi gorengnya sambil menonton siaran berita pagi di tv


Bram langsung membuka pintu hotel tersebut dan betapa terkejutnya jika yang datang adalah pelayan hotel yang membawakan banyak sekali makanan. Perasaan ia tidak memesan sebanyak itu. Dengan terpaksa Bram mengambilnya dan memberikan tip pada pelayan itu.


Syifa melihat Bram yang sangat kerepotan membawakan makanan di tangan kanan dan kirinya langsung melompat senang. la langsung mengambil semua makanan yang ditangan Bram dan membukanya satu persatu.


Bram sukses terkejut. la tak menyangka Syifa memesan makanan sebanyak itu dan ini masih sangat pagi untuk menghabiskan semua makanan itu.


"Sayang, semuanya kamu yang pesan?" Tanya Bram penasaran


"Iya. Aku lapar banget. Bram " sahut Syifa lalu memakan spagetinya dengan lahap.


"Kapan kamu pesannya dan siapa yang akan habisin semuanya?" Ucap Bram dengan nada sedikit marah.

__ADS_1


"Tenang aja. Aku yang bakal habiskan. Oh ya, ini ada vegetable porridge buat kamu" ucap Syifa


lalu memberi sekotak bubur pada Bram .


"Aku sudah cukup makan nasi goreng tadi" tolak Bram mentah-mentah.


"Aku gak mau tau. Kamu habiskan ini aku sudah pesan tadi" ucap Syifa dengan tidak peduli. "Lagipula siapa yang suruh kamu pesan itu?"


Ucap Bram la tak bisa membayangkan Syifa


dengan tubuh yang mungil dapat menampung


semua makanan itu.


Lihat saja sekarang. Setelah spagetinya habis.


Syifa langsung memakan pancake dan waffle nya dengan lahap.


"Kamu makan aja. Aku mau makan pancake aku dulu." Syifa menyuap sepotong pancake dimulutnya.


"Memangnya kamu sudah bayar semua makanan ini?" Tanya Bram


"Belum "satu kata yang paling ditakuti Bram keluar juga dari mulut Syifa.


"Apa?" Ulang Bram la tak habis pikir jika pagi ini tingkah Syifa sangat membingungkan.


"Aku belum bayar. Kamu yang akan bayar semuanya" sahut Syifa santai sambil menyuap waffle nya.


Bram kehilangan akalnya. la sangat pusing dengan kelakuan istrinya yang sangat aneh dan diluar kepalanya. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan gemas.


"Aku rasa kita perlu ke dokter" ucap Bram


berhasil membuat Syifa menoleh padanya.


"Kamu sakit, Bram?" Tanya Syifa dengan tampang polosnya. Bram rasanya ingin terjun juga dari lantai 15 ini.


"Bukan aku. Tapi kamu" ucapnya. Syifa mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Aku gak sakit, Bram. Kamu ini ada-ada aja" Syifa


menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Pokoknya setelah ini kita ke dokter!" Ucap Bram dengan tegasnya. Syifa mengerucutkan bibirnya


"Gak mau!" Sahut Syifa lalu kembali memakan wafflenya yang belum habis.


__ADS_2