JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 2 #Menjadi mahasiswa


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang aku tunggu_tunggu selama berhari_hari. Akhirnya aku resmi menjadi seorang mahasiswa. Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah setelah OPAK selama tiga hari.


Aku senang bisa bertemu teman baru yang berasal dari berbagai daerah, bahkan dari luar sulawesi pun ada.


Aku segera menghubungi mama dan memberitahunya bahwa aku baik_baik saja dan aku sekarang telah resmi menjadi mahasiswa serta aku beritahukan kepadanya bahwa aku sekarang punya banyak teman baru dari berbagai daerah dan mereka senang berteman denganku.


Mama sangat senang mendengarkan ceritaku, sepertinya mama telah berhasil untuk bisa pisah denganku walaupun itu hanya seminggu.


Aku bercerita banyak kepada mama tentang pengalamanku selama aku di sini.


Aku segera menutup telfonku dengan mama karena seru teman_temanku bahwa dosen telah tiba di kelas. Aku berjalan menuju kelas bersama teman_teman baruku, namun sejenak aku berhenti dan mempersilahkan yang lain masuk ruangan seraya aku membaca basmalah.


Ku hentakkan kaki kananku masuk ruangan dengan penuh percaya diri. Sebelum aku melanjutkan langkahku menuju kursi, aku di suruh oleh teman laki_lakiku untuk menutup pintu agar keributan yang ada di luar ruangan tidak mengganggu aktivitas belajar kami. Aku duduk di bagian ujung paling depan.


Saat itu aku sibuk memasukan lembaran_lembaran kertas dalam buku binderku, aku sama s’kali belum melihat dosenku hari itu. Sementara dia (dosen) yang duduk di bangku yang telah di siapkan untuknya juga belum memulai kelasnya, dia masih sibuk dengan handphonenya sambil menunggu teman_teman yang lain.


Selang beberapa waktu kemudian, ketika aku menghadapkan pandanganku ke depan tiba_tiba aku terkejut melihat dosen yang duduk di depan itu. Wajahnya tak asing di mataku, seperti aku pernah bertemu dengannya tetapi kapan dan di mana. Saat itu aku di geluti dengan rasa penasaran,


Sementara dia masih sibuk menatap nama_nama di absen. Aku sungguh penasaran dengannya, aku tidak sabar untuk mengetahui nama dan asalnya. Beberapa waktu kemudian, akhirnya dia pun memulai kelasnya dengan membaca basmalah di sertai salam lalu memperkenalkan diri, namanya Muh. Arsyad Ridwan.


Hanya nama yang dia perkenalkan saat itu karena menurutnya cuma nama yang penting. Setelah itu dia pun ingin mengenal mahasiswanya satu persatu, dia hanya menyebutkan nama saja dan menyuruh pemilik nama itu untuk berdiri menyebutkan asal daerah, asal sekolah dan tanggal lahir.


Menurutnya memperkenalkan diri hanya nama yang penting tetapi mengapa dia menyuruh kami untuk menyebut asal daerah dan asal sekolah kami di tambah lagi tanggal lahir. Pikirku...

__ADS_1


Beberapa mahasisiwa yang telah di sebut namanya dan menyebutkan asal daerahnya, asal sekolah dan juga tempat tanggal lahirnya. Giliran nama aku yang di sebut, aku berdiri dengan penuh percaya diri dan menghadapkan wajahku kepadanya, aku menyebutkan semua apa yang di sebutkan teman_temanku sebelum aku.


Setelah itu aku duduk kembali, sepertinya dia memperhatikanku ketika aku mulai memperkenalkan diriku.


Dia begitu tidak terlalu fokus dengan perkenalan mahasiswa yang lain, dia hanya menyebutkan nama saja tanpa dia dengarkan asal daerah, asal sekolah dan juga tanggal lahirnya.


Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, mungkin apa yang ada di pikirannya sama dengan apa yang ada di pikiranku. Aku berfikir bahwa tidak salah lagi dia adalah dosen yang tak lain keponakan papaku sendiri yang ingin dia jodohkan denganku. Jujur saja aku tidak menerima perjodohan itu dan aku pun tidak pernah berjanji bahwasanya setelah aku lulus S1 aku akan segera menerimanya. Terakhir aku bertemu dengannya saat aku tamat SMP beberapa tahun yang lalu, dia datang di rumahku untuk bersilaturahmi dengan keluargaku sekaligus menemuiku, tetapi setelah aku menolaknya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku berfikir saat itu bahwa mungkin dia telah menikah, tapi ternyata dia tidak pernah menyentuh hati perempuan selepas aku menolaknya. Dia tetap saja bertahan dengan keinginan papa.


Tapi aku masih ragu akan kebenaran ini, apakah itu keponakan papa atau bukan. Aku juga belum bisa memastikannya karena aku tidak punya bukti kuat untuk itu. Namanya saja aku tidak tahu, hanya wajahnya yang sedikit terbesik di mata dan pikiranku. Wajahnya sekarang tidak seperti dulu. Kini sekarang dia tumbuh menjadi dosen keren, cerdas dan islami. Khayalanku tetap terpacu padanya sampai pengenalan dalam ruangan itu selesai.


Dia sedikit bercerita tentang pengalamannya sejak dia duduk di bangku kuliah. Dia sebagai motivator bagi teman_teman kelasku, karena selain keren dia juga suka memotivasi orang. Keahliannya itulah yang membuat teman_temanku terkagum dengannya, sedangkan aku biasa_biasa saja. Aku akan terus menelusuri tentang dirinya. Setelah dua jam di dalam ruangan kelasku, akhirnya dia keluar juga.


Aku semakin penasaran di buatnya, karena sebelum dia keluar dia sempat memberiku senyuman.


Sepulang kampus, aku kembali menghubungi mama untuk menanyakan nama keponakan papa yang dosen itu. Saat itu mama sedang sholat adzar dan kebetulan yang mengangkat telfonku adalah papa, aku langsung saja menanyakannya padanya. Papa pun segera memberitahuku bahwa namanya adalah Arsyad yang lulusan Australia itu. Aku kaget mendengarnya, dan segera memberitahu papa kalau dia adalah dosenku dan tadi siang dia masuk di ruanganku. Aku juga memberitahu papa kalau aku sempat berfikir bahwa dia benar_benar keponakan papa tapi aku takut salah orang.


Papa bertanya bagaimana dengan dia, apakah dia mengenalmu.? Aku jawab, mungkin iya, karena dia selalu memperhatikanku di kelas dan bahkan saat dia mau keluar ruangan dia sempat melemparkan senyumnya padaku, dan aku membalasnya dengan senyuman juga.


Papa sepertinya merasa senang mendengarkan ceritaku atas pertemuanku kembali dengan keponakannya.


Papa sangat berharap kalau aku bisa menerimanya perjodohan itu kelak. Namun sebelum papa memberitahuku tentang itu, aku terlebih dahulu memberitahunya bahwa aku mau kuliah dulu, aku tidak ingin cepat menikah, dan papa pun setuju dengan permintaanku.


Papa menyuruhku untuk mengenal lebih dekat dengan keponakannya itu, tapi aku malu ketika aku yang harus memulai menyapanya. Sebenarnya sih aku pengen dekat juga dengannya, tapi aku mengingat masa_masa di mana aku menolaknya. Sepertinya dia tidak lagi memberikan kepedulian terhadapku, tetapi apa salahnya mencoba mengenalnya lebih dekat. Pikiran masa laluku akan segera kulenyapkan.

__ADS_1


Profesinya saat ini adalah pengajar dan dia punya hak untuk mengajariku tentang berbagai hal yang mencakup kehidupan dunia kampus. selain itu juga aku bisa belajar dengannya tentang bahasa Inggris.


Setelah aku berbincang_bincang dengan papa dan meminta untuk menyampaikan salamku kepada mama memberitahu bahwa aku dan kakakku di sini baik_baik saja.


Beberapa menit setelah aku menelfon papa, tiba_tiba telfonnya kembali berdering.


Hallo om, selamat sore .? seru penelfon itu.


Iya, sore juga. Ini siapa.? Jawab papa singkat.


Aku Arsyad om, om masih ingat aku.? Tanyanya.?


Oh, Arsyad iya. Masa om lupa. Jawab papa akrab.


Bagaimana kabar om dan tante.?


Om baik_baik saja begitupun dengan tantemu.


Pak Arsyad tidak segera menanyakan tentang keberadaan aku sekarang. Mereka masih sibuk menceritakan sesuatu entah itu apa. Di tengah perbincangannya, papa bertanya tentang profesinya saat ini, apakah dia sudah menjadi seorang dosen? Papa bertanya tentang itu karena papa ingin memastikan bahwa benar kalau dia adalah dosenku. Tanpa panjang lebar, pak Arsyad segera bercerita tentangnya kepada papa. Pak Arsyad juga baru menanyakan keberadaan aku sekarang, dan papa memberitahunya bahwa aku sekarang suadah jadi mahasiswa. Papa tidak memberitahu pak Arsyad kalau baru saja aku menelfonnya dan menanyakan tentang dirinya.


Tanpa basa_basi lagi, pak Arsyad bertanya akan jurusan aku dan juga nama lengkapku untuk memastikan bahwa benar aku adalah mahasisiwanya. Papa mengatakan bahwa aku di jurusan pendidikan bahasa Inggris nama lengkapku Putri Anindia Hasan. Pak Arsyad berfikir bahwa tidak salah lagi kalau yang tadi adalah aku dan begitupun dengan pikiran papa.


Saat itu mereka telah mengetahui yang sebenarnya, tetapi mereka masih sama-sama menutupinya. Papa menyuruh pak Arsyad untuk menemuiku kapan-kapan dan juga menyuruhnya untuk membantu kakakku menjagaku selama aku kuliah. Pak Arsyad dengan sopannya mengiyakan permintaan papa. Pak Arsyad juga meminta nomor handphoneku dengan papa dengan alasan supaya dia mudah menemukanku.

__ADS_1


***


__ADS_2