
Bram lagi-lagi dibingungkan oleh sikap Syifa. Syifa menjadi gampang menangis jika keinginannya tidak dituruti Syifa juga menjadi doyan makan dan Bram hampir selalu menyerah dengan semua keinginan Syifa.
"Bram, aku mau pecel madiun" Syifa merengek pada Bram yang sedang sibuk dengan laptopnya dihadapannya.
"Nanti kita cari ya resto indonesia di sekitar sini." ucap Bram tanpa mengalihkan tatapannya pada layar monitor didepannya dan jarinya yang senantiasa menari diatas keyboard.
"Aku maunya beli di Indonesia." lanjut Syifa lagi dengan cemberut.
"Iya sayang, besok kita pulang ke Jakarta dan beli pecelnya ya "bujuk. Bram Tidak biasanya Syifa meminta dengan menuntut seperti ini.
"Aku maunya asli khas Madiun." ucap Syifa ingin sekali makan pecel yang berisi sayur-sayuran disertai saus kacang itu
"Aku paham, sayang. Besok kita cari di restoran khas Madiun di Jakarta" ucap Bram. Syifa mulai merengek. Ini yang Bram sangat khawatirkan.
"Aku mau belinya di Madiun langsung. Sekarang juga!" ucap Syifa. la sudah mengeces ingin segera menyantap pecel madiun itu.
Bram mematikan laptopnya dan duduk disofa samping Syifa. Syifa membuang muka saat Bram duduk disampingnya.
"Kalau itu mau kamu, aku segera telpon---* Baru saja Bram ingin mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Syifa langsung menahan tangannya.
"Aku gak mau orang lain yang beli. Maunya kamu" tekan Syifa memandang Bram dengan wajah memelasnya. Bram menjadi tidak tega dengan tatapan memelas istrinya itu.
"Tapi sayang. Madiun itu jauh dari sini" ucap Bram. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus bolak balik.
"Kamu gimana sih? Kan kamu punya jet pribadi. Kamu bisa terbang dengan mudah!" Timpal Syifa kesal. Mengapa suaminya ini lola sekali? Sudah jelas-jelas ia mempunyai jet pribadi yang selalu siap siaga tatkala membawa dirinya pergi kapan pun dan kemana pun.
"Apa?" Bram membulatkan kedua matanya mendengar penuturan kesal Syifa
"Bram, please." Syifa memasang wajah puppy eyes nya. Inilah yang paling Bram tidak tahan untuk segera memenuhi kebutuhan istrinya itu.
"Okey aku akan beliin pecel itu. Tapi dengan satu syarat!" Ucap Bram mengerlingkan matanya.
"Apa syaratnya?" Syifa berbinar senang.
"Hmm. Aku minta jatah rutin setiap malam" Bram mengedipkan sebelah matanya. Senyum diwajah Syifa tiba-tiba memudar.
"Gak ada syarat lain?" Ucap Syifa la langsung bergidik dengan permintaan Bram.
"Gak ada, sayang" jawab Bram dengan senyuman kemenangannya.
__ADS_1
"Ayolah Bram. Kalau kamu minta satu ciuman, aku bakal lakuin." Ucap Syifa masih meminta penawaran.
"Kalau soal itu aku bisa melakukannya sendiri"
sahut Bram dengan cepat.
"Atau kamu mau aku masakin masakan yang
paling spesial buat kamu?" Ucap Syifa lagi.
"Tidak, sayang. Aku tetap maunya yang pertama" Bram menggelengkan kepalanya.
"Emangnya kamu gak kasihan sama aku kala
kita melakukannya setiap malam?" Syifa
mencoba mencari alasan agar suaminya
mengganti persyaratannya.
"Gak. Aku bakal membuat kamu ketagihan" sahut Bram cepat.
"Gak akan sayang" Bram tetap keras kepala akan pendiriannya.
Syifa mengerucutkan bibirnya karena ia sudah kehabisan ide dan kata-kata untuk melawan suaminya yang keras kepala itu.
"Huh dasar mesum!" Umpat Syifa kesal.
"Semuanya tidak ada yang gratis, sayang" Bram terkekeh dan tersenyum sangat puas
Bram pun rela terbang dari Jerman menuju Madiun menggunakan jet pribadinya hanya untuk memenuhi keinginan Syifa. Sedangkan Syifa ia tetap menunggu di hotel dengan duduk manis. Padahal Bram sudah mengajaknya untuk langsung kembali ke Jakarta, namun Syifa masih betah di Jerman
Kurang lebih dari tiga jam Bram sudah kembali ke hotel tempat ia dan Syifa menginap di Jerman. Ia meminta pilot pribadinya agar mengemudikan jet yang dibawanya dengan kecepatan maksimal karena Syifa sudah merengek tak sabar melahap makanan satu itu.
Bram pun masuk ke dalam hotel dengan menenteng paper bag berisi makanan keinginan istrinya. Syifa yang sedang menonton tv di sofa langsung berlari ke arah Bram begitu ia melihat suaminya yang datang membawa keinginannya.
"Kamu emang yang terbaik!" Syifa langsung memeluk dan mengecup pipi kanan Bram Bram membalas pelukan istrinya.
"Lain kali kalau kamu ingin sesuatu yang mudah aku cari aja." ucap Bram menunjukkan wajah lelahnya setelah penerbangan kilat yang telah ia lalui hanya untuk memenuhi keinginan istrinya.
__ADS_1
"Aku gak tau kenapa aku ingin ini dan itu." balas Syifa la merasa sedikit bersalah dengan suaminya Karenanva Bram harus rela jauh-jauh balas Syifa la merasa sedikit bersalah dengan suaminya. Karenanya, Bram harus rela jauh-jauh untuk mendapatkan keinginannya.
"Tapi makasih Bram kamu sudah mau memenuhi keinginan aku" ucap Syifa lagi. Bram tersenyum tulus pada istrinya.
"Sama-sama sayang. Asalkan itu tidak membuatmu menangis" balas Bram Ya, ia akan melakukan apa saja agar Syifa bahagia dengannya. Bram sudah berjanji tidak akan membuat Syifa menangis terlebih karenanya.
Syifa pun beralih ke sofa dan menghidangkan pecelnya, la langsung melahap pecelnya yang sudah ia inginkan sejak tadi. Bram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang akhir-akhir sangat doyan sekali makan.
"Kamu mau?" Disela-sela makannya. Syifa menawari Bram yang hanya mengamatinya makan.
"Buat kamu aja" sahut Bram.
"Ayolah ini enak loh, Bram. Bukannya kamu suka sayur-sayuran?" ucap Syifa lagi.
"Memang. Tapi itu buat kamu aja. Aku sudah membelinya jauh-jauh kan buat kamu." sahut Bram Syifa hanya mengangguk dan meneruskan makannya lagi.
Bram mengganti channel tv dengan acara yang lebih menarik. Sedangkan Syifa asyik dengan makanannya sehingga ia mengabaikan tv yang ditonton sejak tadi.
"Aku merasa agak aneh dengan sikap kamu
Akhir ini." ucap Bram setelah beberapa menit mereka terdiam dan hanya suara tv lah yang menyeruak.
"Aneh? Perasaan gak deh." sahut Syifa. Ia tidak mengerti dengan ucapan Bram.
"Kamu tentu gak merasa. Tapi aku yang
merasakan. Akhir ini. sifat kamu selalu berubah"
ucap Bram
"Kamu menjadi lebih banyak makan, mudah ngambek, mudah marah, lalu manja" lanjut Bram. Syifa hanya mendengarkannya sambil memakan makanannya yang masih tersisa setengah
"Aku juga gak tau ada apa dengan aku. Bram" sahut Syifa mengangkat bahunya acuh tak acuh la juga merasakan dirinya aneh. Tapi Syifa berfikir itu wajar, karena sikap orang memang selalu berubah kan.
"Aku menyimpulkan bahwa sikap labil kamu Ini adalah bawaan" ucap Bram la memang sudah curiga dengan Syifa sejak kemarin dan la sedikit demi sedikit mulai paham dengan kelakuan Syifa sekarang.
"Bawaan, maksud kamu?" Syifa lagi-lagi tidak mengerti apa yang dibicarakan suaminya.
"Mungkin saat ini kamu sedang ngidam "ucap Bram Syifa langsung menghentikan makannya dan menatap Bram
__ADS_1
"Ngidam? Aku gak merasa diri aku sedang ngidam. Bram. Aku hanya ingin makan ini saja" sahut Syifa. Syifa memang merasa dirinya aneh, tapi ia tidak merasa bahwa keanehannya