
"Oh ya, itu pintu kamar untuk anak-anak kita nanti. Kamu mau lihat?" Bram beranjak dari ranjang dan menuntun Syifa untuk melihat kamar itu.
Syifa sendiri merasa jantungnya berdebar. Bagaimana bisa Bram mempersiapkan ini semua hingga memikirkan kamar untuk anak-anaknya nanti? Bram memang selalu penuh kejutan yang membuat Syifa tercengang.
Syifa terperana melihat desain kamar anak-anak yang hampir mirip dengan desain kamarnya. Bram berjalan mengikuti Syifa di belakang.
Tiba-tiba Bram memeluk Syifa dari belakang. Syifa sempat terkejut. Kemudian Bram berbisik di telinga Syifa .
"Kalau kita punya anak, kamu maunya anak pertama kita laki-laki atau perempuan?" Bisiknya di telinga Syifa membuat jantung Syifa berpacu lebih cepat.
"Hmm aku sih apa aja gak masalah. Mau laki-laki atau perempuan gak masalah" sahut Syifa lirih. Untung saja Bram memeluknya dari belakang karena Syifa sedang menutupi wajahnya yang merona.
"Kok aku feelingnya anak pertama kita itu laki-laki ya?" Ucap Bram Syifa mengernyitkan dahinya. Padahal ia belum hamil dan baru dua minggu lalu dirinya melewati masa suburnya.
"Aku belum hamil. Kok kamu sudah yakin kalau anak kita laki-laki?" Tanya Syifa terheran. Bram mengecup singkat lekukan leher Syifa
"Hanya feeling" sahut Bram singkat. Baiklah. Syifa tidak terlalu memikirkan itu. Lagipula bisa saja feelingnya Bram tidak benar, bukan?
"Aku mau lihat halaman belakang" ucap Syifa melepaskan pelukan Bram di pinggangnya. "Ayo!" Bram menggandeng tangan Syifa.
Mereka berdua pun turun dan menuju halaman
belakang
Sesampainya di halaman belakang. Syifa semakin terperana melihatnya. Ada sebuah kolam renang yang luas serta taman bunga Taman itu terdiri berbagai bunga. seperti mawar. lily, bahkan bunga tulip.
__ADS_1
Di tengah taman itu terdapat gazebo untuk bersantai dan sebuah kolam ikan koi kecil. Syifa pun berjalan ke tepian kolam renang. Bram hanya memperhatikannya.
Syifa melepas flatshoes yang dipakainya dan diletakkan di pinggir kolam. Kemudian ia duduk di tepian kolam renang menceburkan dan menyibakkan kakinya di air.
"Ini seru." Ucap Syifa bermain air dengan kakinya seperti anak kecil berumur lima tahun.
"Bram, kamu gak ikutan duduk disini?" Ucap Syifa yang melihat Bram hanya berdiri memperhatikannya sejak tadi.
"Okey" Bram mengangguk lalu melepas sepatunya dan meletakkannya di samping flatshoes Syifa. Lalu menggulung celana panjangnya hingga dengkul.
"Kamu kayak anak kecil aja "Bram menjawil hidung Syifa setelah duduk disampingnya.
"Sakit tau" Syifa menepis tangan Bram yang memencet hidungnya yang membuat Syifa tak bisa bernafas
"Aku suka rumahnya. Makasih ya. Bram" ucap Syifa entah sadar atau tidak ia menyenderkan kepalanya di bahu kiri Bram.
"Aku gak bakal sebahagia ini kalau seandainya orang tua kita gak menjodohkan kita" ucap Bram mengingat perjodohannya dengan Syifa
"Aku juga gak tahu gimana aku sekarang kalau papa gak menjodohkan aku sama kamu" sahut Syifa yang tak kalah bahagianya. Ia merasa perjodohannya dengan Bram memang sangat tepat.
"Kamu masih ingat awal pertemuan kita waktu kamu menabrak mobil aku dipinggir jalan?" Tanya Bram kembali pada pertemuan pertamanya dengan Syifa
"Aku gak sengaja karena mama dan papa terus ceramahin aku soal pernikahan "ucap Syifa .
"Dan kamu berhasil membuat dompet aku tipis cuma buat gantiin bemper mobil kamu yang penyok sedikit doang." Lanjut Syifa. la merasa kesal saat itu. Bram hanya terkekeh
__ADS_1
"Kan uang kamu buat gantiin bemper mobil sudah aku ganti" sahut Bram.
"Maksud kamu?" Syifa tidak mengerti ucapan Bram.
"Aku sudah ganti dengan membeli rumah ini buat kamu" ucap Bram. Syifa merasa speechless.
"Kok pipi kamu jadi merah. "Celetuk Bram gemas melihat pipi Syifa berubah menjadi merah.
"Gak kok" sanggah Syifa mengalihkan pandangannya ke kolam renang.
"Beneran. Aku lihat lho." Ucap Bram menggoda Syifa.
"Ish! Gak ada. Mana yang merah?" Ucap Syifa mengelus pipinya.
"Ini yang merah." Bram menarik dagu Syifa lalu
mengecup bibirnya.
Syifa yang terkejut refleks mendorong Bram hingga Bram tercebur ke dalam kolam renang.
"Dasar gombal!" Ucap Syifa.
Bram sangat terkejut Syifa mendorongnya tiba-tiba. Jadilah ia tercebur ke dalam kolam. Kemeja kerja yang masih di pakainya basah.
"Sayang". Pekik Bram la pun berenang mendekati Syifa ketepian. Syifa bukannya menolongnya malah menonton dirinya yang tercebur seperti anak kucing.
__ADS_1
"Makanya kamu jangan gombal. Rasain!" Syifa menjulurkan lidahnya Bram merasa hari ini ia benar-benar sial. Sudah dua kali ia terkejut karena ulah istrinya. Tadi pagi la dicekik, dan