
Benar, aku jatuh cinta
Tak terasa sudah cukup setahun aku menjadi putri dosenku pak Arsyad, tetapi untuk tahun ini dia tidak mengajar lagi di kelasku. Hubungan kedekatanku dengannya sampai saat ini belum di ketahui oleh siapa_siapa kecuali aku berdua. Kedua orang tuaku saja tidak pernah aku ceritakan.
Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin dekat dengannya, dan aku semakin merasa nyaman. Rasa jengkelku terhadapnya telah hilang dengan sendirinya, mungkin ini semua karena sikapnya yang mengajarkanku arti sebuah hubungan.
Hubunganku dengannya semakin hari semakin berbeda, rasa cintaku yang awalnya cuma sebesar biji kelereng telah berubah menjadi biji kelapa yang isinya akan selalu menambah rasa renyahnya makanan begitu pun rasa cinta yang kami miliki yang akan selau terasa nikmat dengan bumbunya.
Aku merasa kalau saat ini dia begitu memanjaku, apa yang aku inginkan semua dia penuhi, tetapi aku tidak terima itu lagi karena kapan aku bisa mandiri ketika dia terus memenuhi keinginannku. Aku ingin memenuhi keinginanku dengan diriku sendiri, tetapi dia tidak mau itu. Dia akan selalu ada dalam segala hidupku. Dia begitu peduli dan semakin perhatian padaku. Aku telah memberitahunya bahwa jangan terlalu berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Ketika dia ingin memberiku uang atau barang lainnya, aku selalu menolaknya karena belum saatnya dia membiayaiku, kedua orang tuaku masih punya tanggung jawab terhadapku, mereka belum lepas akan tanggung jawabnya. Mereka yang lebih berhak memberiku daripada dia. Namun suatu hari kejengkelanku tiba_tiba muncul. Bagaimana tidak, dia menghubungi papa dan meminta izin kepadanya untuk selalu memenuhi kebutuhanku, aku tidak mau itu karena dia sama s’kali belum berhak melakukan itu padaku.
Aku kembali memberitahunya bahwa untuk kebutuhanku itu hak dan kewajiban kedua orangtuaku. Uang yang akan kamu keluarkan untuk kebutuhanku, berikan saja sama orang yang lebih berhak. Aku sama s’kali tidak berhak dengan semua itu. Adekmu yang lebih berhak dari pada aku. Ucapku sebagai tanda penolakanku, tetapi dia tetap akan melakukannya karena dia telah memisahkan gajinya untuk adik_adiknya. Dia sebagai orang tua untuk ke dua adiknya karena sejak adek bungsunya lahir ibunya meninggal.
Aku tidak tahu mesti beralasan apa lagi. Beberapa alasan yang aku berikan, namun tak satupun yang dia terima. Akhirnya aku menerimanya, tetapi uang itu sebagian aku berikan untuk adiknya tanpa sepengetahuannya dan sisanya aku tabung. Walau aku ambil sedikit untuk membelanjakan ketika aku belum dapat kiriman atau kakakku belum gajian.
__ADS_1
@@@
Semakin cepat perputaran bumi, semakin cepat pula jalannya waktu. Seminggu lagi umurku sudah menginjak 21 tahun. Sementara pak Arsyad masih nunggu sebulan untuk mencapai umurnya yang ke 28. Umurku dan umurnya memang beda jauh, tetapi umur dan wajahnya tidak sesuai. Wajahnya lebih muda dari pada umurnya.
Tinggal tiga hari lagi Ultahku yang ke 21. Pak Arsyad mengajakku keluar jalan_jalan, dan dia minta untuk aku menunggu di rumah saja karena dia ingin menjemputku. Aku meinta izin kepada kakak iparku karena kak Rifal kakak kandungku sedang tidak di rumah, aku juga meminta izin kepadanya untuk membawa Ayla, karena aku takut jalan berdua. Kakak iparku pun memberiku izin untuk pergi bersama Ayla, saat itulah kakak iparku mulai curiga akan kedekatanku dengan pak Arsyad.
Setelah beberapa waktu, suara klakson mobil terdengar di luar. Sepertinya pak Arsyad telah datang sementara aku belum siap. Aku mendengar suaranya memberi salam, namun aku tidak keluar. Untung kakak iparku sangat baik hati dan segera keluar mempersilakan pak Arsyad masuk dan memberitahu bahwa aku sementara berpakaian. Sambil mereka ngobrol, aku mengirimkan sebuah sms untuk pak Arsyad bahwa aku ingin membawa Ayla dan aku sudah minta izin kepada ibunya, dia membalasnya dengan Ok, tandanya setuju kalau Ayla boleh ikut.
Setelah aku selesai, aku memanggil Ayla untuk menggantikan bajunya.
Aku segera beranjak dari kursi dan salam kepada kakak iparku sebagai pamitanku.
Mobil pak Arsyad melaju begitu santai, untuk keberapa kalinya aku jalan, tetapi pertama kali ini dia menjemputku di rumah, biasanya aku cuma janjian di Kampus. Obrolanku begitu lancar di atas mobil, sementara Ayla sedang tidur di pangkuangku.
Obrolanku masih sementara berjalan, tiba_tiba saja Ayla terbangun, mungkin karena kami terlalu ribut. Ayla minta air minum dan saat itu aku lupa membawa air untuknya. Aku membujuknya untuk tidak menangis. Pak Arsyad tiba_tiba menghentikan mobilnya di depan sebuah tokoh_tokoh kecil untuk membeli air minum buat Ayla. Dia sama s’kali tidak merasa keberatan dengan kerewelan Ayla karena dia tahu bagaimana anak kecil itu dan dia pernah merasakan ketika adek bungsunya masih seumuran Ayla
__ADS_1
@@@
Tak terasa sekitar tigapuluh menit kami di perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat yang sangat asing buatku. Aku melihat di sekeliling tempat itu begitu banyak patung_patung yang menghiasinya. Kami semua turun dari atas mobil. Aku dan Ayla berjalan menuju patung_patung itu dan menyuruh pak Arsyad untuk mengambil gambarku. Setelah itu aku menyuruh pengunjung lain untuk mengambil gambar kami bertiga dan dia sangat iri dengan kami, dia mengirah bahwa kami telah menikah dan Ayla adalah anak kami, tetapi mendengar pujian dari orang itu, kami hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kami masih pacaran. Aku mengaminkan perkataan orang itu tadi dalam hati dan ternyata pak Arsyad juga mengatakan itu dalam hatinya. Saat itu kami sangat bahagia. Mungkin semua orang di tempat itu beranggapan bahwa kami suami istri padahal baru calon. Mudah_mudahan saja tercapai anggapan semua orang yang melihat kami.
Setelah mengelilingi semua patung_patung yang ada, kami meninggalkan tempat itu dan mencari makan. Setelah kami makan, kami kembali berkeliling ke kota sampai sore. Sore harinya kami pulang.
Sesampai di rumah, aku langsung masuk sementara pak Arsyad segera pulang. Sepertinya tidak ada orang di rumah saat itu. Aku masuk menggendong Ayla yang masih tidur dan merebahkan tubuhnya di atas kasur tempat tidurku.
Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu tiba_tiba saja handphoneku berdering tanda telfon, aku melihat telfon dari mama. Aku memberitahu mama kalau aku mau sholat dulu, nanty aku telfon kembali.
Setelah aku sholat, aku kembali menelfon mamam Aku menceritakan kepadanya bahwa hari ini aku habis jalan_jalan sama Ayla dan juga pak Arsyad. Mama sama s’kali tidak memberiku respon terhadap kedekatanku dengan pak Arsyad. Mama kedengaran biasa_biasa saja berbeda dengan papa yang gaul. Aku melarang mama untuk menceritakan ini ke papa, karena aku malu.
Sekitar setengah jam aku bicara dengan mama lewat handphone, rasa kangenku begitu terobati melalui suaranya. Namun aku merasa heran kenapa mama tidak membahasa acara ultahku. Padahal tinggal tiga hari lagi, dan biasanya masih sebulan dia sudah ingatin kakakku, atau mungkin mama lupa, tapi tidak mungkin juga. Bagaimana mungkin mama bisa lupa sedangkan dia yang lahirin aku. Pikiranku yang semakin kacau, aku sedih kalau mama sampai lupa tanggal ulang tahunku.
Tak terasa air mataku menetes, mana mungkin mama melupakannya. Itu tidak mungkin terjadi. Aku melihat foto_foto ultahku yang lalu yang di rayakan oleh mama dan keluarga lainnya, masa untuk kali ini mama tidak merayakannya.
__ADS_1
Tidak....Tidak.... mama tidak mungkin lupa. Aku buktikan setelah malam ultahku. Mama menelfonku atau tidak.