
"Kamu mau kemana, sayang?" Ucap Bram yang baru saja bangun dari tidurnya dan melihat Syifa yang sudah rapi dengan pakaian olahraga.
"Bram, hari ini aku khusus senam ibu hamil. Aku ke kantor nanti siang ya" ucap Syifa.
"Senam? Bukannya jadwal senam kamu itu hari
sabtu?"Bram mengernyitkan dahinya.
"Pelatih senamnya bisanya hari ini. Cuma sebentar doang kok" ucap Syifa .
"Kalau gitu, aku ikut "sahut Bram menyibakkan
selimutnya dan duduk menghadap Syifa.
“Ish ngapain kamu ikut? Emangnya kamu mau ikut senam khusus ibu hamil?" Tanya Syifa.
"Aku cuma lihat kamu aja, sayang. Pasti kamu
seksi saat senam" ucap Bram Syifa langsung
menatapnya dengan galak.
"Otak kamu itu kenapa gak pernah lurus sekali aja? Pasti gak jauh-jauh dari kata mesum" Syifa menjitak kening Bram dengan gemas
"Aw. Gimana aku gak berfikiran seperti itu. Makin hari, kamu makin seksi dengan perut buncit kamu, sayang" ucap Bram jujur. Syifa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku mau senam dulu biar little Bram sehat"
Syifa beranjak keluar kamar.
"Tunggu, kamu gak usah sama pak Kardi. Aku yang akan anter kamu" Bram langsung beranjak ke kamar mandi. Syifa hanya mengangguk singkat kemudian ia ke dapur membuat sarapan.
Sesampainya di tempat senam para ibu hamil. Syifa langsung menulis namanya pada meja pendaftaran. Banyak sekali ibu-ibu muda yang hamil sekitar tiga sampai tujuh bulan yang mengikuti senam ini. Syifa pun meminta Bram menunggunya
Bram duduk di sofa tunggu tepat di belakang ibu hamil sedang senam. la menunggu bersama para suami lainnya.
"Tunggu istrinya, pak?" Ucap salah satu pria yang sebangku dengan Bram.
"Iya, pak" Bram menoleh.
"Istrinya sudah berapa bulan?" Tanya pria itu lagi.
"Enam bulan. Istri anda?" Tanya balik Bram.
"Sudah besar. Istri saya baru tiga bulan. Sudah
di usg?" Tanya bapak itu lagi.
__ADS_1
"Belum. Kami memang sengaja karena biarkan menjadi kejutan nantinya" sahut Bram tersenyum. Pria itupun juga ikut tersenyum menanggapinya.
Bram memperhatikan Syifa dan para ibu hamil lainnya yang sudah mulai acara senam. la tertarik melihat bagaimana lekukan tubuh Syifa yang terbalut kaus ketat dengan perut membuncit begitu terlihat menggemaskan.
Sementara Syifa, ia mengikuti instruksi senam dengan baik. Di sela-sela aktifitasnya, ada ibu muda lain yang berbisik-bisik disampingnya.
Mom ada suami ganteng bisik salah satu ibu muda tepat di samping kiri Syifa Syifa hanya
"Oh ya, yang mana mom?" Timpal ibu hamil lainnya.
"Itu dibelakang, suami yang bule itu" ucapnya
"Yang itu? Wah bener banget, mom. Suaminya ganteng ucap temannya girang.
Syifa menajamkan pendengarannya. la tak salah dengar, yang jadi bahan pembicaraan ibu-ibu hamil itu adalah suaminya sendiri. la pun melirik Bram yang sedang memperhatikannya. Bram memang tampak tampan dengan wajah seriusnya dengan mata biru tajamnya.
"Kira-kira siapa istrinya ya mom? Bisa punya suami ganteng seperti itu" ucap ibu hamil itu lagi.
"Iya saya juga penasaran. Seberapa cantiknya
sih istrinya."
Telinga Syifa sudah panas mendengar perbincangan para ibu hamil yang jelas-jelas sedang memuja suaminya. Tiba-tiba Syifa merasa kesal.
"Hmm maaf ibu-ibu. Yang anda bicarakan itu suami saya" sela Syifa la tersenyum puas begitu para ibu hamil itu menatapnya dengan tak percaya.
"Oh ya? "Pekik ibu itu menatap wajah Syifa
Syifa semakin kesal dengan respon para ibu itu. Mereka malah lebih memperhatikan suaminya yang sialnya membuat Karen tak suka.
Setelah senam berakhir, Syifa langsung masuk ke dalam mobil tanpa menoleh pada Bram yang memanggil-manggilnya.
"Sayang." Ucap Bram yang tidak tahu mengapa istrinya itu menjauhinya.
"Sayang, ada apa? Kok aku dicuekin sih?" Ucap Bram sambil menjalankan mobilnya. Istrinya itu
sama sekali tidak mau melihatnya.
"Syifa, sayangku. Kok aku dicuekin sih? Apa salah aku?" Bram berusaha membuat Syifa tidak ngambek dengannya.
Bram sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya tiba-tiba diam. la merasa tidak berbuat sesuatu yang salah.
"Sayang. Ucapnya lagi. la mengelus
pergelangan tangan Syifa dengan lembut
"Berisik! "Syifa langsung menyentak tangan Bram yang mengelusnya. Bram terkejut, ia langsung menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sayang?" Bram sudah tidak sabar dengan kelakuan istrinya.
"Aku benci sama kamu. "Ucap Syifa lirih tanpa
mengalihkan tatapannya.
"Hah? Memangnya aku salah apa, sayang?" Bram terkejut
"Kenapa sih kamu harus jadi perhatian orang lain? Ucap Syifa. Bram membelalakkan matanya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya.
"Apa maksud kamu, sayang?" Bram benar-benar tidak paham dengan ucapan ngelantur istrinya.
"Pokoknya aku benci sama wajah kamu yang selalu membuat wanita menatap kamu!" Ucap Syifa mengalihkan perhatiannya dan menatap tajam suaminya.
"Aku gak suka mereka yang jelas-jelas suka sama kamu. Mereka sudah hamil dan bersuami juga, masih beraninya cari perhatian sama suami orang. Ingin rasanya aku cakar wajah kamu!" Ucap Syifa dengan sadisnya.
Bram malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Syifa. Jadi ini yang menyebabkan Syifa ngelantur gak jelas
"Ih kamu kok malah ketawa? Syifa mencubit pinggang Bram dengan gemas.
"Sayang, bilang saja kalau kamu cemburu. ya kan?" Ucap Bram dengan senyum penuh kemenangan.
"Cemburu? Gak mungkin!" Tiba-tiba saja pipi
Syifa memerah.
"Haha. Kamu itu cemburu kan sama aku karena banyak yang perhatikan aku kan?" Bram menoel dagu istrinya. la gemas sekali dengan tingkah Syifa yang menjadi malu-malu.
"Gak!" Syifa tetap bersikukuh. Mana mungkin ia cemburu pada suami yang pedenya minta ampun seperti Bram.
"Aku senang kamu bisa cemburu juga" Bram mengukir senyum di sudut bibirnya. Setelah sekian lama, ia tahu bahwa Syifa juga mencintainya juga
"AKU gak bilang kalau aku cemburu, Bram! Aku hanya kesal dengan wajah kamu itu". Syifa menunjuk wajah Bram dengan telunjuknya membuat Bram selalu gemas dengan tingkah Syifa yang malu-malu untuk mengakuinya.
"Kenapa dengan wajah tampan aku ini? Kenapa kamu gak senang punya suami tampan kayak aku?" Bram menggoda istrinya. Syifa hanya mendelik malas suaminya tersebut
"Aku menyesal ikut kelas senam hamil hari ini.." Lirih Syifa namun pandangannya melihat keluar jendela. Bram menjalankan kembali mobilnya.
"Besok-besok aku mau sama Pak Kardi aja yang temenin aku" lanjut Syifa. Bram menyimaknya.
"Kamu gak senang kalau aku yang antar
kamu?" Tanya Bram menaikkan sebelah alisnya.
"Aku gak mau pamerin wajah kamu di depan para ibu hamil yang genit seperti tadi." Sahut Syifa entah sadar atau tidak.
"Dan kamu juga jangan coba-coba genit sama mereka." Lanjut Syifa dengan nada sedikit mengancam suaminya. Bram hanya terkekeh Tingkah Syifa saat ini benar-benar manis menurutnya dan itu membuatnya gemas.
__ADS_1
"Cari perhatian dikit gak apa, lagipula bumil disana juga masih muda dan cantik." Ucap Bram dengan senyum menggodanya membuat Syifa kesal.
"Awas kalau kamu berani! Sudah tua masih aja genit." Ucap Syifa dengan nada tidak sukanya.