
Bep… Bep…
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rania.
“Buto Ijo? Siapa nih?” Dahi Rania berkerut membaca nama kontak pesan masuk.
“Hei Nona, buku PR mu ketinggalan, nih?” Sebuah pesan disertai foto buku yang sangat dikenali Rania, dikirim oleh kontak dengan nama Buto Ijo.
“Astaga! Aku lupa!” Rania menepuk jidatnya.
Tadi ia dan ibunya buru-buru pulang karena takut kehujanan. Tak disangka, buku PRnya malah tertinggal di rumah majikannya.
“Eh, tunggu dulu. Jadi buto ijo itu Mikko? Hahahah… Astaga… Tapi cocok banget deh nama itu untuk dia, dengan sifatnya yang nyebelin banget,” tawa Rania.
Rania lalu membalas pesan dari Mikko. Hatinya gugup, selama lebih satu tahun ia mengenal Mikko, ini pertama kalinya ia mengirim pesan pada cowok itu. Jangankan mengirim pesan, senyum dan sapaannya saja tidak tidak pernah dibalas. Entah Mikko dulu pernah menganggap dia ada atau tidak. Beneran, begitulah ingatan Rania.
^^^“Maaf banget. Bolehkah aku minta tolong bawakan? Besok aku ada fisika di jam kedua,” balasnya.^^^
“Hmm… gimana ya? Aku pikir-pikir dulu deh…” balas Mikko.
“Gawat nih,” bisik Rania. Bisa-bisa ia jadi atlet lari mengelilingi sekolah besok. Ia lalu memutar otaknya.
^^^“Kalau kamu mau menolongku, akan aku traktir deh. Apa aja, terserah kamu. Please,” balas Rania.^^^
“Baiklah. Warung Iga Penyet jalan Duyung, besok jam dua siang. Pagi besok aku tunggu di belakang laboratorium biologi,” balas Mikko.
^^^“Warung Iga? Duit jajanku mana cukup?” balas Rania.^^^
Ia kini selalu merasakan keterbasan uang. Dulu bagaimana ya, ia bisa menghabiskan uang lima ratus ribu lebih hanya dalam satu minggu?
“Tadi katanya terserah aku. Kalau gitu, siapkanlah mental dan fisikmu untuk kelas fisika besok pagi.”
“Waduh, mati aku!” keluh Rania.
Bu Tresna terkenal dengan guru paling galak di sekolah, mengalahkan galaknya guru sejarah dan matematika. Mereka yang tidak patuh dengan perintahnya akan dihukum keliling halaman sekolah sebanyak sepuluh kali, lalu dihukum untuk membuat PR dengan jumlah dan tingkat kesulitannya lima kali lipat dari sebelumnya.
^^^“Baiklah, aku akan mentraktirmu di warung iga. Tapi menu yang paling murah, ya,” balas Rania.^^^
“Tergantung,😜” balas Mikko.
“Huuhh… dasar Buto Ijoooo.” Rania meremas bantal gulingnya hingga kempes.
“Buto ijo? Kakak berantem lagi sama Bang Mikko?” tanya Livy yang tiba-tiba muncul.
“Ah, eh… nggak kok. Ada apa?” kata Rania salah tingkah. Memangnya dia sudah akrab dengan Mikko sejak dulu?
“Maaf tadi Livy tidak bantu bekerja. Kata ibu hari ini banyak kerjaan, ya?” ucap Livy.
“Duh, gemasnya. Gini ya rasanya punya adik perempuan,” gumam Rania dalam hati. “Nggak apa-apa kok, Dek. Kamu kan ada kegiatan di sekolah. Semuanya sudah beres,” jawab Rania.
“Huhuhu… Terima kasih, ya. Besok Livy aja deh yang mencuci piring dan membersihkan dapur,” kata Livy.
“Tidak usah. Itu tetap jadi pekerjaan kakak,” balas Rania.
“Eh, itu ayah kenapa?” tanya Rania. Ia melihat ayahnya berjalan melalui kamarnya dengan wajah kusut.
“Biasalah, Kak. Dagangan ayah banyak yang tidak laku. Apalagi di hari hujan begini. Kue tradisional sekarang sudah mulai kalah dengan kue-kue kekinian,” jawab Livy.
“Emang masih banyak banget, ya? Tahan nggak tuh sampai besok pagi?” tanya Rania.
__ADS_1
“Tahan, dong. Emang kenapa?” tanya Livy.
“Akan kakak bawa ke sekolah. Barangkali teman-teman suka,” jawab Rania.
“Eh, tapi kan di sekolah kakak siswa tidak boleh berjualan?” sahut Rania.
“Pasti ada cara biar nggak ketahuan,” ucap Rania sambil mengedipkan mata.
Sepeninggal Livy, Rania terus terbayang wajah ayahnya yang sedih. Ia tidak tega melihat pria paruh baya itu menanggung beban kian berat. Rania ingin sekali membantu, tetapi bagaimana caranya? Benar kata Livy, di sekolahnya para siswa dilarang berjualan, agar tidak mengganggu kegiatan belajar. Tetapi apakah waktu kegiatan ekstrakulikuler masih dilarang juga?
“Ekstrakulikuler? Ah, benar juga. Rania tiba-tiba memikirkan sebuah ide. Ia bangkit dan mengambil ponselnya.
^^^“Teman-teman, aku sudah memikirkan akan masuk ekstrakulikuler apa,” Rania mengetik pesan di grup kembang goyang.^^^
Alvi
“Apa?”
Anjani
"Ambil apa?"
^^^“Memasak. Aku ingin ikut klub memasak alias tata boga,” balas Rania.^^^
Anjani
“Wow… keren… kalau aku sepertinya ingin masuk klub merajut dan renang saja."
Alvi
“Loh, tidak jadi ikut klub menjahit dan menari?”
Anjani
Alvi
“Aku mau ikut klub pecinta alam dan fotografi. Jadi aku bisa ikut mendaki gunung sekalian foto keindahan alam."
^^^“Hah, pendaki gunung? Gerak jalan waktu tujuh belasan aja sering pingsan,” balas Rania.^^^
Alvi
“Ya memang itu tujuanku. Klub mendaki banyak diisi oleh cowok-cowok macho, yang bisa menggendong aku kapan saja.😉"
^^^“Astaga. Alasannya itu lho,” Rania terkikik membaca pesan kedua temannya.^^^
Anjani
“Rania, kamu baru menentukan satu ekskul aja? Kita kan wajib memilih dua ekskul.
“Oh, iya.” Rania baru ingat. Satu lagi apa ya?
Selepas chatting dengan para sahabatnya, Rania pun meminta pendapat pada seorang teman lainnya. Eh, teman atau bukan, ya?
...“Sudah tidur belum? Aku boleh tanya sesuatu?”...
“Belum. AKu masih bermain game. Kamu banyak tanya hari ini, ya,” balas Mikko.
^^^“Maaf. Lanjut deh jika aku mengganggumu,” balas Rania.^^^
__ADS_1
“Hei, mau tanya apa? Aku udah left game,” balas Mikko beberapa menit kemudian.
^^^“Kamu ambil ekskul apa?” tanya Rania.^^^
“Sudah jelas kan?” Balas Mikko
“Sudah jelas? Mana aku tahu dia ambil ekskul apa? Oh, iya. Anak-anak populer pasti mengambil ekskul itu,” gumam Rania.
^^^“Basket, kan? Lalu satu lagi apa?” tebak Rania.^^^
“Bukan. Aku tidak masuk klub basket. Coba tebak lagi,” balas Mikko.
“Hisss… apaan sih? Main tebak-tebakan gini?” ucap Rania kesal. Tetapi ia penasaran juga. Selama ia memperhatikan Mikko, ia memang belum pernah melihat cowok itu bermain basket.
^^^“Voli,” tebak Rania lagi.^^^
“Salah,” balas Mikko.
^^^“Badminton.”^^^
“Salah.”
^^^“Renang.”^^^
“Salah.”
^^^“WTH… salah semua jadi apa dong? Kamu ikut klub kecantikan, ya?” tebak Rania.^^^
“Dih, enak aja. Itu sih untuk anak perempuan. Aku ikut paskibra, pramuka dan PMR,” balas Mikko.
“Wow, di luar dugaan,” bisik Rania. Ia baru ingat, waktu di kelas satu, Mikko juga anggota paskibra.
“Kenapa kamu tanya-tanya. Jangan bilang kamu belum memilih ekstrakulikuler,” balas Mikko tepat sasaran.
^^^“Ih, nggak kok. Aku hanya penasaran aja kita satu klub atau nggak,” balas Rania bohong.^^^
Gengsi dong, jika ia kalah dari cowok ini.
“Tenang aja. Kamu nggak bakal sanggup mengikuti kegiatan ektrakulikulerku,” balas Mikko.
“Ih, nyebelin banget sih ni cowok. Kenapa aku dulu suka sama dia, sih?” geram Rania.
“Btw aku harus ambil ekskul apa, dong? Dulu kelas satu aku ikut klub melukis dan musik malah di suruh jadi tutornya dong,” kata Rania seorang diri.
“Oh, iya. Qiandra kira-kira ambil eksul apa, ya? Apa ia juga akan mengisi posisiku di klub melukis dan klub musik?” pikiran Rania kembali melanglang buana.
Tok, tok, tok…
“Rania? Sudah tidur, Nak?”
“Belum, Bu,” sahut Rania. Ia membukakan pintu untuk ibu.
“Rania, ini baju sekolahmu sudah ibu setrikain. Kok kamu sekarang jadi suka numpuk-numpuk kerjaan, sih? Pekerjaan sekolah kamu lagi banyak, ya?” Ibu membawa setumpuk baju yang sudah rapi dan wangi.
“Oh, iya. Sekarang kan aku harus mengerjakan semuanya seorang diri. Di sini tidak ada asisten yang akan mengerjakannya. Aku malah membuat ibu yang sudah kelelahan sejak pagi, bergadang untuk menyeterika bajuku,” gumam Rania dalam hati.
“Maaf, Bu. PRku tidak banyak, kok. Lain kali akan aku kerjakan. Ibu sebaiknya istirahat saja,” jawab Rania malu.
“Besok aku harus belajar menyeterika dari Livy. Harus!” tekad Rania.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.