
Dua hari sebelum Rania menginap bersama Qiandra di malam bulan purnama.
"Apa Bapak bilang tadi?" tanya Qiandra dengan nada marah.
"Dasar anak muda gak tahu sopan santun. Saya bilang tadi, kalau kasus tabrak lari ini gak bisa dilanjutkan. Buktinya sangat sedikit," ujar Polisi bertubuh gempal tersebut.
"Kurang bukti gimana? Itu black box mobilnya ada. Rekaman CCTV juga ada. Butuh bukti apa lagi?" Qiandra melawan polisi bernama Namrud itu.
"Orang tua mana, sih, yang memberi anaknya nama raja paling kejam dalam sejarah?" pikir Qiandra dalam hati.
"Ya kamu pikir aja sendiri. CCTV di tikungan jalan itu hanya merekam kendaraan yang lalu lintas. Memang, pada saat itu mobil tersangka melalui jalan itu, tapi kan tidak merekam kejadiannya langsung," jawab Pak Polisi.
"Terus rekaman black box itu juga tak jelas. Mereka memang menabrak sesuatu. Tapi tak ada suara jerit kesakitan dari seseorang yang ditabrak. Apa itu artinya dia menabrak seorang anak perempuan?" lanjut Namrud.
"Ya kali aja dia langsung pingsan atau terluka parah, Pak," kata Qian menahan kesal. Kalau saja usia mereka sebaya, pasti Qiandra sudah menampar pria itu dari tadi.
"Kamu mau melakukan CT scan? Kalau memang kamu pernah ditabrak, kan pasti tubuhmu ada bekas luka. Lagian, kenapa keluargamu tidak ada yang melapor kasus tabrak lari itu? Padahal kalian orang terpandang," balas Namrud.
Qiandra melepaskan napasnya beserta amarahnya. Ia harus tetap bersikap tenang, agar pihak berwajib mau meneruskan penyelidikan kasus ini.
"Pak, dari awal kan saya melaporkan kasus tabrak lari. Yang menduga kalau mereka ingin membunuh putri tunggal keluarga Austeen, tapi malah salah orang. Saya masih memiliki salinan lengkap dari black box itu, rekaman yang Bapak punya pasti sudah dipotong-potong," jelas Qiandra tak gentar.
Sesaat, wajah polisi itu terlihat pucat. Tapi kemudian ia bisa menguasai suasana.
"Bagaimana kami bisa percaya, kalau rekaman yang kamu punya itu asli dari black box. Bisa aja udah kamu edit-edit sendiri, kan?" sindir polisi itu.
"Astaga!" geram Qiandra dalam hati.
"Para polisi dan penyidik yang kemarin menangani kasus ini mana? Siapa yang menyuruh untuk menutupi kasus ini?" seru Qiandra kesal.
"Bocah kurang ajar! Hei, jaga sikapmu. Ini kantor polisi," perintah Namrud.
Sebenarnya sama sekali tidak ada yang menyuap, agar kasus itu ditutupi. Polisi bernama Namrud itu hanya ingin kasus besar yang menyeret keluarga Austeen dan Ansley ini segera selesai, dan ia mendapatkan penghargaan dari lembaga kepolisian.
"Permisi sebentar, Pak," seorang polisi muda berpangkat rendah, datang menemui Namrud.
__ADS_1
"Kemarin kita menerima laporan anak hilang, usia SMA bernama Rania Putri. Kejadiannya satu tahun yang lalu. Ini sesuai dengan laporan kasus tabrak lari ini. Dan barusan masuk laporan lagi, kalau Rani Putri sudah dinyatakan meninggal, tapi data sekolahnya masih aktif hingga sekarang," lapor polisi muda tersebut.
"Itu nggak bisa jadi bukti. Bisa aja data itu mereka buat-buat sendiri," jawab Namrud.
Qiandra mengepalkan tangan mendengar kalimat Namrud tersebut.
"Tapi, Pak. Beberapa intel sudah menyelidiki tempat yang diduga TKP. Pada malam kejadian memang terjadi hujan lebat, jadi kalau ada kecelakaan, darah korban pasti langsung terbawa air," kata polisi muda itu.
"Tapi dari hasil investigasi menggunakan bahan khusus yang diteteskan ke jalan aspal, masih menunjukkan sisa-sisa darah manusia yang tertinggal di sana. Barangkali kita bisa mengecek DNAnya untuk menemukan siapa korbannya. Sejauh ini, kita memang belum menemukan jasad korban," lanjut polisi itu.
"Hmm.. menarik! Polisi muda ini tidak bisa diperintah begitu saja oleh bosnya," pikir Qiandra.
"Ya... Ya... Lanjutkan saja penyelidikannya. Pastikan kalau ini semua bukan rekayasa," ujar Namrud dengan nada kesal.
"Pak, ada laporan baru lagi," seru polisi muda lainnya sambil membawa sebuah amplop berisi berkas.
"Apa lagi?"
"Salah seorang penjaga danau, mengaku ia melihat tabrakan itu, saat mencari korban pramuka yang hilang. Ia dulu juga pernah membuat laporan itu, tapi kemudian kasus ditutup begitu saja," jawab polisi muda itu.
"Yes, akhirnya. Aku tinggal menggaet pengacara handal untuk menangani masalah ini," pikir Qiandra.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apa kalian masih belum menemukan keberadaan Tuan Gregory?" tanya Qiandra.
"Belum, Nona. Kabarnya, beliau dan istrinya melarikan diri ke Inggris, sejak kasus suapnya ke pejabat negara itu terbongkar," ujar Wilson.
"Para polisi pun harus bekerja sama dan memiliki izin dari konsulat Inggris untuk menyelidiki maaalah ini," tambah Felix.
"Ah, jadi Qiandra juga menyelidiki keluarganya," gumam Rania dalam hati.
"Ada apa, Nona Rania? Dari tadi anda terus memandangku," bisik Felix.
"Ah, anu. Tidak ada apa-apa."
__ADS_1
Rania memalingkan wajahnya karena malu ketahuan memperhatikan Felix yang semakin glow up. Pria muda tersebut kini semakin sering tersenyum dan mengenakan pakaian kasual.
Entah mengapa hati Rania sedikit iri. Rasanya, tanpa mama dan papa, Qiandra jauh lebih berhasil mengelola rumah dan perusahaan dibandingkan dirinya. Padahal ia tahu, dulu Qiandra juga sempat terpuruk.
"Rania, nanti malam kamu menemaniku gala diner dengan para investor pariwisata, ya. Setelah itu kamu menginap di sini. Ingat, kan? Malam ini bulan purnama, lho."
"Baiklah," jawab Rania.
Sesuai perjanjian, sepulang dari gala dinner, Rania pun menginap di kediaman keluarga Austeen atas izin ayahnya.
"Rania, kamu membawa gelang itu, kan? Apa tidak ada ritual khusus agar mantra sihir itu lepas dari kita?" tanya Qiandra sembari mengenakan piyama.
"A-aku juga nggak tahu. Yang membaca buku sihir itu kan kamu," jawab Rania.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyalakan lilin aroma lavender, lalu mwmbaca simbol di gelang itu sebelum tidur. Jangan lupa, gelang itu nanti kamu pakai," usul Qiandra.
"Boleh, juga," sahut Rania.
Mereka berdua lalu menjalankan ritual sederhana sebeluk beranjak tidur. Tapi entah kenapa, perasaan Rania semakin was-was. Ia pun mengirim oesan kepada Audrey.
"Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang dunia ilmu hitam atau ilmu gaib, Mikko adalah orang yang tepat untuk tempat bertanya. Karena mendiang ibu Mikko, juga berkecimpung di dunia yang seperti itu," balas Audrey lagi.
"Eh?" Rania terkejut membaca balasan dari Audrey yang sangat tidak terduga. "Kenapa Mikko menutupi hal ini?" pikirnya.
Tetapi rasa kantuk yang menyerang Rania, membuatnya terpaksa menghentikan obrolan online tersebut.
Menjelang tengah malam, purnama semakin menerangi sisi bumi yang gelap. Semua orang pun terlelap.
"Uh... Uh...Hekkkk!"
Rania merasa seseorang mencekiknya sangat kuat. Masih setengah mengantuk, Rania pun melawan sosok yang belum dilihatnya dengan jelas.
"Siapa kamu? Singkirkan tanganmu dari tubuhku," seru Rania sambil memfokuskan pandangan.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.