Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 67 - Mikko dan ...?


__ADS_3

"Nggak salah lagi, remaja yang kujumpai tadi adalah putri Geffie Austeen."


Malfoy mencocokkan foto di internet dengan gadis yang dia temui tadi.


"Tapi kalau memang benar, kenapa dia nggak takut denganku, ya? Aku juga nggak merasa benci padanya."


Malfoy masih merasakan keanehan.


"Setelah kejadian malam itu, harusnya dia takut denganku, kan? Apa jangan-jangan dia nggak mengenaliku?" Malfoy mulai bersasumsi.


"Tapi bagus, sih. Aku jadi nggak bakal takut dilaporkan ke polisi kalau begini," lanjutnya lagi.


Malfoy menyeruput minuman energi yang ia beli tadi. Kakinya naik ke atas meja.


Apartemen murah itu benar-benar seperti gudang sampah. Entah berapa lama pria itu tidak membersihkan rumah.


"Nggak. Tetap aja ada yang aneh." Malfoy masih belum bisa melepaskan pikirannya dari remaja cantik tadi.


"Ada banyak keanehan di sini. Salah satunya, bagaimana dia bisa selamat malam itu? Berapa kali pun dipikirkan, aku masih tidak mengerti. Dia jelas-jelas bukan hantu."


Pria bengis tersebut masih sangat ingat, bagaimana dia dan Fania, istrinya, berbuat keji untuk menghilangkan jejak keturunan tunggal keluarga Austeen. Rival mereka.


"Dan dia juga nggak memiliki bekas luka sama sekali. Nggak mungkin kami salah orang."


Malfoy kembali gelisah. Bukan karena dihantui rasa bersalah, melainkan karena misteri yang tidak terungkap ini.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Ehem! Sibuk banget kayaknya. Sampai jam istirahat tadi nggak datang ke tempat janjian."


"Nggak sibuk, kok. Aku pikir tadi paket itu salah kirim," sahut Rania tanpa menoleh.


"Ckk! Aku lupa, kalau aku masih bertemu dengannya di sini," ucap Rania dalam hati.


Tangannya sedang sibuk mengupas bawang merah. Salah satu keahlian barunya sejak menjadi asisten rumah tangga.


"Aih, maksudmu gadis cantik rambut pirang itu?" Mikko duduk di sebelah Rania.


"Qiandra mana menyukai kue manis kayak gitu? Dia lebih suka zupa soup dan beef burguignon," lanjut Mikko.


"Hmm aneh juga, ya. Dia asli Inggris tapi malah menyukai masakan prancis?" celetuk Mikko kemudian.


"Oh.. Jadi kamu udah tahu makanan kesukaan dia,nih?" sindir Rania.


"Buset! Salah jawab mulu gue," ucap Mikko spontan.


"Ya udah deh. Aku nggak mau basa-basi lagi. Kamu malam itu mengikuti kami ke kafe, kan?" tanya Mikko kemudian.


"Hah, dia tahu?" batin Rania.


"Kok diam? Diam artinya benar ya."


"Ih, nggak. Enak aja. Aku kan lagi meeting sama editor aku. Ngapain aku ngikutin kalian?" bantah Rania.


"Oh... Meeting gaya baru, ya? Sampai jongkok-jongkok di belakang kursi gitu," balas Mikko.


"Sial@n! Dia tahu keberadaan kami sejak kapan, sih?" gerutu Rania dalam hati.


"Kamu pikir masih bisa bohong padaku? Aku udah lama kenal kamu," lanjut Mikko.

__ADS_1


"Terus sekarang mau kamu apa?" tanya Rania.


"Kenapa kamu meneror Qiandra malam itu?"


"Meneror?" Rania bingung.


"Iya, kamu sudah mendengarnya dari rekaman telepon kami, kan?" tuduh Mikko lagi.


"Malam itu kamu seperti menghantuinya. Menjebaknya di kamar misterius itu, lalu menyekapnya di ruang bawah tanah. Aku curiga, kamu memiliki orang dalam yang sangat mengenali rumah mewah itu."


Rania terhenyak mendengar tuduhan Mikko, "Aku sama sekali nggak ada melakukan itu, Mikko. Percayalah."


"Dia pasti menerima itu karena kesalahan yang pernah dibuatnya. Mana kita tahu, kan?" ujar Rania lagi.


Rania benar-benar sebel dengan tuduhan Mikko.


"Kesalahan apa?" Mikko terua membela wanita kaya tersebut.


"Ya kan kamu tahu sendiri. Dia kasar, tukang bully. Kamu aja dulu benci sama dia. Hah, apa jangan-jangan kamu kena pelet, ya?" ucap Rania.


"Jaga ucapanmu! Jangan asal tuduh!" seru Mikko.


"Ya kan kamu duluan yang menuduh aku. Aku sudah bilang berkali-kali, bukan aku yang melakukannya." Rania sudah hampir menangis.


"Aku saja yang dari lahir tinggal di sana, masih nggak tahu tentang kamar rahasia dan ruang bawah tanah tersebut," batin Rania.


"Kenapa kamu beda banget sih, dari yang aku kenal dulu? Ke mana Rania yang baik hati dan lemah lembut?"


Tidak ada raut marah di wajah Mikko. Sebaliknya, cowok Manado itu terlihat sedih.


"Aku memang bukan Rania yang kamu kenal dulu," balas Rania dengan Lantang.


Drrrttt... Ponsel Mikko berdering.


Mikko segera berpindah ruangan, menjauhi Rania.


"Oh, udah jadi gitu? Sekarang dia pindah haluan? Terus kenapa justru aku yang dibilang aneh?"


Rania menekan dadanya yang terasa sakit melihat sikap Mikko.


Sementara itu di ruangan lain.


"Apa maksud kamu Rania Putri udah meninggal?" tanya Mikko pada Qiandra.


"Aku tadi mendengar obrolan mereka. Bahwa Rania Putri mungkin aja udah meninggal dan sekarang arwahnya menghantui aku." Qiandra mengulang ceritanya.


"Terus kamu percaya?" tanya Mikko.


Meskipun Rania tadi mengatakan, dirinya yang sekarang bukanlah Rania yang dikenal Mikko dulu, anak polisi itu nggak mau percaya begitu saja.


"Bisa jadi, kan?"


"Qian... Qian... Udah aku bilang berkali-kali, kalau Rania itu nggak punya kembaran. Dan Rania masih ada di hadapan kita saat ini. Terus siapa yang meninggal?" bantah Mikko.


"Jangan-jangan mereka sengaja memancingmu untuk lengah dari masalah ini," lanjut Mikko lagi.


"Terus gimana caranya menjelaskan sosok seram malam itu? Gimana juga tentang pelayan yang udah meninggal tiba-tiba melayaniku?" tanya Qiandra.


"Ya dengan sihir atau ilmu hitam semua itu mungkin aja, kan?" ujar Mikko.

__ADS_1


"Entahlah. Aku jadi ragu. Yang pasti, sekarang aku semakin nggak tenang."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Rania, aku sudah mendapatkan kontak Wilda Ningsih."


Alvi mengirim pesan pada Rania.


"Beneran? Terus apa katanya?" balas Rania.


"Kita boleh menemuinya nanti sore jam lim, tapi hanya boleh empat orang aja. Dan tempatnya dia yang menentukan." Balas Alvi lagi.


"Oh, yaudah nggak apa. Siapa aja yang mau kita bawa? Apa dia udah tahu, akan bertemu denganku?"


"Iya. Dia tahu. Gimana kalau kita bawa Mira dan Kak Ringga aja. Anjani kan sibuk persiapan olimpiade."


"Beneran nggak apa-apa? Ntar kalau Anjani marah gimana?"


"Tenang. Ntar aku yang ngomong sama dia."


"Sip deh kalo gitu. Thanks ya."


Rania kembali bersemangat. Ia buru-buru menghubungi Ringga.


"Sore ini?" tanya Ringga melalui pesan singkat.


"Iya. Kakak bisa?" Rania balik bertanya.


"Hmm... Bisa, tapi kayaknya agak telat. Nanti kabari aja lokasinya di mana," sahut Ringga.


"Oke deh." Rania lalu menutup telepon.


Tinggal satu lagi tugas Rania, yaitu menyelesaikan pekerjaannya di rumah sang majikan.


Ibu sedang ada rapat di sekolah Livy, maka hari ini Rania hanya bekerja seorang diri.


"Kamu cukup beres-beres rumah dan masak sup ayam saja. Sisanya besok Ibu kerjakan." Begitu pesan ibu tadi.


Rania kini sudah pandai masak sup ayam. Dengan mudah ia menyelesaikannya.


"Yak, tinggal nyapu lantai dua," seru Rania.


Sebetulnya ia males banget ke lantai dua, pasti bakalan tatapan muka lagi sama Mikko.


"Ugh, kok nggak mau geser, sih? Kayak ada yang nyangkut gitu?" Rania berusaha menggeser lemari untuk dibersihkan.


"Pantes, ada bingkai foto rupanya." Rania menjangkau belakang lemari dengan tangkai sapu.


"Eh, ini kan Mikko dan Audrey? Mereka saling kenal sejak kecil?" Rania memperhatikan foto tersebut.


"Tapi kok terlipat?" Gadis itu mengeluarkan foto dari bungkai.


"Ini kan aku? Maksudku, Rania Putri!"


Drrrttt....


"Halo, Alvi?"


"Maaf Rania, kita nggak jadi ketemuan sama Wilda. Dia tiba-tiba membatalkannya."

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2