
❗Peringatan! Episode ini mengandung tindakan tidak terpuji dan kata-kata kasar. Anak yang baik jangan ditiru, ya.❗
Zumstein Apartment, lantai 16, pukul 21.30.
“Astaga! Apa yang kau lakukan di rumahku, Malfoy?” ucap Fania setengah berteriak.
Seorang lelaki duduk di tengah kegelapan apartemen mewah itu. Kepalanya disandarkan pada sandaran sofa yang empuk. Kakinya direntsngkan le atas meja yang lebih rendah dibandingkan tempat ia duduk.
“Apa maksudmu? Ini masih rumahku. Aku yang membayarnya,” ujar Malfoy kesal. Bukan sambutan hangat yang diterimanya, melainkan suara bernada tinggi.
“Kita kan sudah sepakat, untuk tinggal terpisah sampai kau berhasil menjatuhkan mereka!” ucap Fania tak peduli.
“Dasar wanita kepar*t! Tak bisakah kau menyambutku dengan baik? Setidaknya kau membuatkanku makan malam atau secangkir kopi untuk suamimu ini.”
“Apa? Kau berharap mendapatkan makan malam? Bahkan kau tak pantas menghirup udara di rumah ini,” ujar Fania tak kalah kesal.
Setelah seharian mengurus berbagai macam pekerjaan, ia berharap dapat istirahat dengan tenang di rumah. Akan tetapi, sepertinya ia harus menunda keinginannya dulu, sampai pria mengesalkan itu pulang.
“Aku sudah berusaha menyingkirkan anak mereka sesuai keinginanmu. Setengah kakiku sudah berada di penjara jika aku tak membereskannya dengan baik. Apa kau belum puas?” Hati Malfoy tercabik-cabik. Segala usahanya demi menyenangkan wanita yang masih menjadi istri sahnya itu, tak pernah dihargai.
“Hah? Mana yang kau sebut menyingkirkan itu? Yang kau tabrak saat kita sedang bertengkar malam itu? Dia masih belum mati, Malfoy. Bahkan dia berharap menjadi ketua tim dalam show berikutnya.”
“Coba ulangi lagi kalimatmu tadi. Apa maksudmu dia belum mati?” kata Malfoy tak mengerti.
“Dia masih hidup dalam keadaan segar bugar. Beberapa malam yang lalu dia muncul di hadapanku. Tak ada cela apapun selain kebod*han di kepalanya itu,” jelas Fania.
Fania menahan tubuhnya agar tidak gemetar. Saat gala dinner beberapa hari yang lalu, ia bagaikan tersambar petir. Gadis remaja yang ia pikir telah menghilang dari muka bumi, justru datang dalam keadaan sehat. Bahkan Fania sempat berpikir, apakah makhluk di depannya itu manusia atau bukan.
“I-itu tidak mungkin. Kau sendiri yang melihatnya malam itu, kan? Bagaimana aku membereskan jasad yang terbujur kaku di tengah jalan. Dan menghilangkan semua jejaknya. Bahkan anjing liar pun tak mungkin dapat menemukannya.” Malfoy telihat gelisah.
“Aku tak bisa mengatakan, jika aku melihatnya. Aku tak ingin menjadi saksi dan terkait dengan masalah hukum. Cukup kau simpan sendiri saja,” ucap model cantik itu dingin.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Fania melupakan kejadian mengerikan malam itu? Setiap detail yang dilakukan suaminya kala itu, masih sangat membekas diingatannya. Ia bahkan mampu melukiskan wanita malang korban kebencian mereka itu dengan sangat jelas.
Apa Malfoy tahu, seberapa mengerikannya duduk berhadapan dengan orang yang sudah mereka anggap meninggal dunia?
“B*ngs*t. Kau pikir aku melakukan ini untuk siapa?” ucap Malfoy geram. Andai saja ia tidak mau terlibat tindak kriminal lagi, ia pasti sudah mencekik leher wanita berhati iblis itu.
“Itu sudah tugasmu sebagai suami,” jawab Fania tegas.
“Aku tak pernah merasa kau perlakukan sebagai suami. Justru sebaliknya, aku bagaikan budak bagimu,” seru Malfoy. Kesabarannya sudah meluap seluruhnya.
“Heh.” Fania menyeringai tajam. “Kenapa dulu menikahiku, padahal kau tahu sifatku seperti ini?” ucap Fania.
Fania memang tidak menyesal menikah dengan Malfoy. Lelaki bucin itu selalu memenuhi apa pun yang ia inginkan, meski mempertaruhkan nyawanya sekali pun. Tetapi di sisi lain, Fania juga tidak ingin terbebani dengan segala urusan rumah tangga yang sangat merepotkan.
“Benar. Kenapa dulu aku menikahinya, dengan yang buruk seperti ini? Sepertinya bukan ia yang gila. Tetapi aku yang gila, karena menikahi wanita gila” gumam Malfoy dalam hati.
“Lalu bagaimana agar aku bisa kau anggap seperti suami? Kau ingin aku melakukan apa kali ini?” tanya Malfoy pada istrinya. Satu-satunya kelemahan dirinya adalah kecantikan wanita itu.
“Apa pun, untuk mengalahkan mereka. Tetapi jangan kau hancurkan show kali ini. Dan buat aku jadi bintang di sana,” ujar Fania kemudian.
Malfoy menyeringai tajam. Permintaan sang istri tepat seperti dugaannya.
“Tetapi kau tidak akan menyuruhku pulang dalam keadaan perut kosong, kan?” kata Malfoy.
“Hah… Baiklah. Kali ini saja, aku akan membuatkanmu bubble and squeak. Setelah itu kau harus pulang,” ujar Fania.
Demi kelancaran tujuannya, ia harus sedikit berbaik hati pada pria berdarah inggris itu.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Basement Zumstein Apartment cukup sepi malam ini. Puluhan mobil mewah berbagai merk dan warna berjajar dengan rapi.
__ADS_1
Malfoy melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuju blok D1 tempat mobil bututnya diparkir. Sesekali ia menoleh ke belakang dan samping, memastikan tidak ada seorang pun yang mencurigakan. Cerita yang didengarnya dari Fania adi membuat hatinya semakin was-was.
“Ckk! Bagaimana bisa orang yang telah tak bernyawa, bisa kembali lagi seperti sedia kala? Bahkan tak ada bekas luka sedikit pun. Dipikirkan seperti apa pun benar-benar tak masuk akal,” gumam Malfoy dalam hati.
Pada malam itu, Malfoy dan Fania memang baru saja selesai minum-minum. Tetapi mereka masih cukup sadar untuk mengingat kejadian minggu lalu. Mereka bertengkar sambil berkendara di sekitar danau.
Gadis yang memiliki hubungan erat dengan saingan bisnis mereka, tiba-tiba muncul seorang diri di depan mobil yang mereka kendarai. Kedengkian Fania pada rivalnya serta kemarahan Malfoy saat itu, membuat mereka gelap mata. Tanpa pikir panjang, mereka pun menghabisi nyawa gadis tak berdosa itu serta menghilangkan jejaknya.
“Kalau Fania bilang ketemu hantu, itu lebih masuk akal,” ujar Malfoy sambil bergidik ngeri.
Brakk! Ia menutup pintu mobilnya dengan keras. Kuda besi itu sangat kontras dibandingkan mobil mewah di sekitarnya. Ia sengaja membawa mobil tuanya, agar menghindari petugas keamanan yang kemungkinan mencarinya.
Malfoy mengetikkan sesuatu di smartphonenya. Dalam beberapa milidetik, hasil pencarian pun keluar. Mata Malfoy membulat ketika membaca berita dan artikel yang muncul.
“Benar kata Fania. Gadis itu masih hidup,” seru Malfoy dalam hati.
Pantas saja beberapa hari ini tidak ada berita yang menggemparkan. Jika putri dari seorang pengusaha terkenal tiba-tiba menghilang, pasti akan jadi berita yang sangat heboh.
Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang mereka bunh malam itu? Padahal jelas-jelas wajah yang mereka lihat adalah putri tunggal dari Geffie dan Chloe Austeen. Sia-sia saja ia bersembunyi di sebuah kontrakan sempit selama satu minggu ini. Tidak hanya itu, ia juga menonaktifkan gadgetnya.
“Lihatlah, Fania. Aku tidak akan melepaskanmu dari semua masalah ini,” ucap Malfoy dalam hati.
Ughh… Entah kenapa dadanya sesak melihat foto remaja cantik berkulit putih itu. Hatinya seakan kosong dan merindukan sesuatu yang telah lama hilang.
Memang benar, ia merindukan Fania yang manis dan lembut. Akan tetapi, yang dirasakannya saat ini seperti kerinduan pada seseorang yang berbeda. Tanpa disadari, air matanya menetes ke pipi tirusnya.
“Mengapa aku merasa sedih melihat wajah wanita ini? Apa aku begitu merasa bersalah padanya?” pikir Malfoy tak mengerti.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.