Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 129 - Kasus Mikko


__ADS_3

"Halo?"


"Nona. Ini Felix. Nona sedang di tempat yang aman, kan?"


"Ya. Aku ada di rumah. Ada apa, Felix?"


"Ada perkembangan baru dari kasus ini. Darrent mengakui, kalau ia dan beberapa orang pegawai memodifikasi seluruh dinding kapal untuk membawa narkoba tanpa terdeteksi alat detektor di pelabuhan."


"Nggak cuma itu, ruang bawah tanah di bawah parkiran apartemen Zumstein adalah kantor utama mereka. Sementara tempat produksi narkotika adalah laboratorium utama CL cosmetic. Wilda dan beberapa pegawai laboratorium lainnya bersaksi tentang itu."


Felix memberi laporan pada Qiandra.


"Ah... Syukurlah. Dengan begitu, hukuman mama dan papa bisa berkurang, kan?"


"Sayangnya tidak, Nona," jawab Felix.


"Lho, kenapa?"


"Sampai saat ini, Tuan dan Nyonya tidak mau terbuka, kenapa mereka membuat ruang bawah tanah itu. Jadi polisi mengira, ada campur tangan Tuan dan Nyonya juga dalam masalah ini," jawab Felix.


"Astaga..." Qiandra geram dengan keputusan kedua orang tuanya.


"Selain itu, Tuan dan Nyonya juga tidak menindaklanjuti masalah Wilda, yang menyebut kalau ada bahan berbahaya yang digunakan dalam industri kosmetik, terutama bedak padat," lanjut Felix.


"Iya juga, sih. Aku tidak bisa menyangkal, kalau mama dan papa memang salah dalam hal ini. Tapi, mereka belum tahu masalah antara aku dan Rania, kan?"


"Belum, Nona. Ah, iya. Ada kabar baik. Kami sudah menemukan lokasi Tuan Gregory di Inggris. Kepolisian Indonesia sedang menunggu surat dari Kepolisian Inggris untuk menyelidikinya," lapor Felix.


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Felix."


Qiandra mengurung diri di kamar setelah mendengar kabar dari Felix. Masalahnya dengan Rania belum selesai, kini orang tuanya malah terancam hukuman penjara.


Nico, sang kakek terbaring lemah di kamar, setelah mendengar putri dan menantunya masih harus menjalani hukuman penjara hingga beberapa waktu ke depan.


Drrtttt...


Sebuah nomor tidak dikenal, menelepon Qiandra.


"Siapa, ya? Sepertinya ini kode luar negeri?" pikir Qiandra. Ia mengangkatnya dengan ragu.


"Halo..."


"Halo, sayangku. Ini Tante Elodie. Bagaimana kabarmu, Nak?" seorang wanita berbahasa Inggria fasih menelepon Qiandra.


"Oh... I-ya. A-ku baik-baik saja," jawab Qiandra gugup. Ini pertama kalinya ia berbicara dengan adik papanya.


"Maaf Tante baru bisa menghubungiku sekarang. Apa kami perlu ke Indonesia untuk menemanimu, sayang? Sekarang Serophine sedang berada di Paraguay," tanya Elodie.


"Nggak perlu, Tante. Aku baik-baik saja di sini. Tapi kakek memang kurang sehat. Ia pasti shock mendengar kabar terbaru dari mama dan papa," jawab Qiandra.


"Oh, ya ampun... Selanjutnya Tante akan lebih sering menghubungimu. Kalau ada perlu bantuan jangan sungkan untuk memberi tahu kami," ujar Elodie lagi.

__ADS_1


"Baik, Tante. Terima kasih banyak."


Klik! Telepon ditutup.


"Hiks..."


Qiandra tak bisa menahan tangisnya. Ia merasa Rania sangat beruntung, karena dikelilingi oleh banyak orang-orang baik. Meskipun ada saja yang ingin melenyapkannya, tapi setelah itu akan banyak orang baik berdatangan untuk menolongnya.


Sedangkan Qiandra sendiri, ia tak tahu siapa orang tua kandungnya. Ia juga tidak tahu, bagaimana kehidupannya sebelum ini. Mungkin saja Tuan Gregory memungutnya dari jalanan.


"Aku harus segera menyelesaikan masalah ini, agar Rania bisa segera kembali ke posisinya. Aku tak pantas berada di sini," tekad Qiandra.


Drrrtttt.... Felix kembali meneleponnya.


"Apa Nona sudah mendengar kabar? Teman Nona, Mikko dilaporkan oleh pihak sekolah karena telah membobol data base milik sekolah," lapor Felix.


"Apa kamu bilang? Sekarang dia di mana?" ujar Qiandra terkejut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Apa ya maksud Mikko tadi? Apa dia sengaja bilang gitu untuk membela Qiandra?"


"Akar Mandrake? Aku dulu pernah mendengar mama dan papa membicarakan hal ini. Ku pikir itu hanya sekedar dongeng saja. Ternyata beneran ada?"


Rania membuka aplikasi pencarian di HPnya. Dia mencari tahu tentang akar mandrake.


"Astaga! Ini kan tanaman yang di balkon kamar mama? Untuk apa mama menanam beginian?" pikir Rania.


Rania memasak makan malam untuk keluarganya dengan perasaan kacau balau. Hingga ibu yang baru saja tes DNA pulang, Rania belum menyelesaikan masakannya. Lebih tepatnya, ia malah membuat makan malam mereka gosong.


"Astaga! Apa yang kamu pikirkan, Rania?" ibu segera mematikan kompor.


"Jangan terlalu dipikirkan masalah ini dan juga hasil DNAnya. Kita pasti akan menyelesaikannya bersama-sama. Kalau perlu, ibu bicara langsung dengan Chloe." Ibu memeluk Rania erat.


"Ibu yang selama ini menghindari mama, malah memilih untuk bicara demi aku?" pikir Rania.


"Maafkan aku, Bu," tangisnya pecah dalam pelukan ibu.


"Kamu nggak salah, sayang. Ini sudah takdir kita," kata ibu.


Drrt... Tiba-tiba HP Rania berbunyi. Qiandra meneleponnya.


"Ada apa, Qian?" tanya Rania.


"Apa kamu sudah dengar kabar? Kalau Mikko ditangkap polisi karena menghacker data sekolah?" tanya Qiandra dengan cemas.


"Apa? Kau serius?" balas Rania.


"Iya. Aku baru saja mendengarnya dari Felix. Dan Om Ganendra sampai sekarang masih belum diizinkan untuk bertemu Mikko," ucap Qiandra.


"Sudah kuduga. Ada yang aneh sejak Mikko dipanggil ke ruang BP. Tapi bagaimana keadaan Bang Arka sekarang?"

__ADS_1


Rania langsung mengusap air matanya dan mengambil ponsel.


"Apa yang terjadi?" tanya ibu bingung. Rania pun menjelaskannya.


"Ya ampun. Bagaimana keadaan Arka dan Mikko sekarang?" tanya ibu cemas.


"Tidak tahu. Bang Arka masih belum mengangkat teleponnya. Ah, ini diangkat..." kata Rania.


"Ha-"


"Halo, Abang di mana?" Rania memotong ucapan abangnya.


"Di kampus."


"Sudah dengar kabar Mikko?" tanya Rania.


"Sudah. Om Ganendra baru saja menelepon Abang," jawab Arka.


"Terus?"


"Mikko sedang diselidiki polisi. Tapi sejauh ini ia mengatakan, ia melakukannya sendirian. Tapi jika sewaktu-waktu abang dipanggil, Abang siap," jawab Arka.


"Duh..." Rania tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Nggak apa-apa, Rania. Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah."


"Nggak apa-apa gimana? Ini sudah jelas masalah besar. Ini semua gara-gara aku. Semua jadi terlibay begini gara-gara aku," sesal Rania.


"Hei, jangan bicara begitu. Kita ini keluarga," marah Arka.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Rania, tidurlah. Ini sudah jam sepuluh malam. Nanti kalau ada kabar dari Ganendra akan Ibu sampaikan," kata ibu.


"Tidak bisa, Bu. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau mereka tersangkut masalah gara-gara aku," ucap Rania.


Ibu tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memeluk sang putri dengan erat.


Drrrttt... Tiba-tiba ponsel Rania berdering.


"Om Ganendra!" seru Rania senang. Ia sengaja menerima telepon itu.


"Halo, Om."


"Halo, Rania. Ini aku pakai HP papa. Aku cuma diberi tiga menit untuk telepon."


"Mikko? Dasar cowok pembohong! Kau bilang semuanya sudah terkendali. Kau bilang semua baik-baik saja. Lalu ini apa?" marah Rania.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2