
"Loh, ini kan?"
Rania mengangkat selembar kaus lengan panjang bercorak bunga pennie dan juga celana kulot berwarna hitam dari rak lemari paling bawah.
"Ini kan baju yang aku pakai terakhir kali ke danau? Bekas cat airnya juga masih ada," gumam Rania.
"Kok bisa ada di sini, ya? Gak ada noda lumpur sama sekali selain cat air. Padahal pertama kali aku bangun sudah memakai baju milik Rania Putri."
Rania memeriksa setiap inchi baju miliknya tersebut.
Krincing! Terdengar suara logam berdentingan dari saku celananya. Rania segera merogoh isinya.
"Eh, loh? Ini kan gelang yang aku cari-cari. Ternyata Qiandra gak bohong. Benda ini ada sama aku," seru Rania kegirangan.
Isi saku tersebut rupanya sebuah gelang emas berukir milik Rania, sebuah cincin emas berhias berlian biru, dan juga beberapa keping uang logam lima ratus rupiah.
"Ah, aku ingat. Karena sebelum melukis aku membantu ayah mencari cacing, jadi aku menyimpan perhiasan ini di saku celana."
"Apa jangan-jangan... jam tangan itu juga di bawah oleh Rania putri sebelum menghilang? Makanya tidak ada di rumah ini," pikir Rania.
"Sudah ketemu?" Ibu berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.
Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya, " Apa perlu kita lihat bawah tempat tidur juga, Bu?"
"Sudah Ibu cari sampai ke sana," jawab ibu.
"Apa mungkin jam tangan itu dipakai Rania Putri sebelum ia menghilang?" tanya Rania.
"Itu nggak mungkin. Dia tidak pernah membawa barang mahal saat kegiatan sekolah," bantah ibu.
"Tapi mungkin saja, ia mengira kalau itu jam tangan miliknya. Seperti ayah yang tak sadar kalau jam tangannya tertukar," ujar Rania.
Ibu terduduk lemas di depan pintu, "Bagaimana ini?Jam tangan itu satu-satunya harta milik kita. Ayah akan menggunakannya untuk biaya berobat. Akhir-akhir ini jantung ayah sering bermasalah," ujarnya sangat lemah.
"Ayah dan ibu pasti tidak mau mengganggu tabungan sekolah milik Livy," pikir Rania.
"Bu, jual saja cincin ini. Besok pagi aku akan ke rumah mama Chloe untuk mengambil surat-suratnya," usul Rania.
"Tapi, Nak..."
"Tidak apa-apa, Bu. Kalau Ayah dan Ibu sungkan untuk menerimanya langsung, ibu boleh meminjamnya dulu dan mencicil bayarannya nanti sedikit demi sedikit. Kesehatan ayah lebih penting," ucap Rania.
"Benar begitu?" ibu masih terlihat ragu.
__ADS_1
"Hu'um. Sebenarnya aku tidak ingin ibu meminjamnya, tapi aku tahu ayah dan ibu pasti sungkan menerimanya begitu saja. Dan nanti, kita cari lagi jam tangan milik ayah," jelas Rania.
"Terima kasih, Nak." Ibu tidak bisa menyembunyikan air matanya. "Tapi dari mana kamu dapatkan cincin itu?" tanyanya lagi.
"Oh... ini ku temukan dalam bajuku yang terakhir ku pakai, sebelum datang ke sini. Makanya tadi aku sempat berpikir, kalau jam tangan itu hilang bersama Rania Putri. Tapi semoga saja tidak."
"Oh iya, kenapa ayah dan ibu tidak jadi membuar laporan ke polisi tentang hilangnya Rania? Ayah malah berjualan tadi," ucap Rania.
"Kami tadi sudah pergi ke kantor polisi bersama Arka untuk melapor, Nak. Tapi kata polisi, kasus itu sudah diangkat ke pengadilan dan akan di sidangkan minggu berikutnya," jawab ibu.
"Lho, siapa yang melaporkannya?" tanya Rania bingung.
"Kata mereka, putri Chloe yang sekarang menggantikan posisimu yang melaporkannya. Dan tim investigasi sekarang sedang menuju ke lokasi yang diduga menjadi TKP dan memeriksa black box mobil milik tersangka," ucap Ibu.
"Apa Qiandra sudah gila? Kalau dia sendiri mengangkat kasus itu, artinya dia membuk kedok dirinya sendiri di depan publik, kalau dia bukan putri kandung mama," pikir Rania cemas.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Kok nggak ada satu mantra pun yang berhasil? Padahal Felix udah susah payah translete dan ajarin cara bacanya. Si " dia" masih aja mandorin aku?" keluh Qiandra.
Leher Qiandra terasa pegal. Sejak tiga puluh menit yang lalu, ia tidak berani menggerakkan lehernya dan memindahkan pandangannya dari buku tua yang sedang ia baca.
Sosok seram itu kembali datang ke kamarnya. Wujudnya kini menjadi lebih seram, mirip dengan k*ntil*nak yang terus melayang di kamarnya.
Setia Qiandra ingin berlari keluar dari kamar, atau mengambil HP untuk meminta bantuan seseorang, arwah tersebut akan mendekatinya.
"Apa ini yang namanya ketempelan hantu? Huhuhu..."
Qiandra semakin merinding ketakutan. dari ujung matanya, ia bisa melihat kain putih yanh dipenuhi corak lumpur itu melayang di sudut kanan kamarnya.
"Fyuh.. Aku bukan cuma baca mantra, tapi baca doa juga. Kenapa dia belum pergi? Apa dia bukan hantu atau arwah?"
Qiandra tak tahan lagi dengan penampakan-
penampakan yang terus dilihatnya.
Drrrttt...
"Astaga!" Qiandra hampir saja melompat dari tempat tidur ketika ponselnya bergetar.
Sambil memejamkan mata, ia mengambil ponselnya.
"Ha-halo?" jawab Qiandra.
__ADS_1
"Halo, Nona. Ini Jupri."
"Ah, Jupri. Tolong aku. Di kamarku ada oenampakan hantu. Tolong segera kirim seseorang ke kamarku," seru Qiandra sambil terua memejamkan mata.
"Oh... i-iya.. saya akan suruh seseorang ke sana. Nanti saya telepon lagi." Jupri menutup teleponnya.
Dalam waktu kurang dari satu menit, Felix pun datang. Tapi ia tidak melihat penampakan sosok seram sama sekali.
Sesuai janjinya, Jupri pun kembali menelepon.
"Nona, kami bertemua Tuan Malfoy di salah satu panti asuhan," lapor Jupri.
"Eh? Kenapa dia ada di sana?"
"Kami bertemu dengannya tanpa sengaja, waktu sedang mencari data tentang Nona. Ternyata dia juga mencari putrinya."
"Benarkah? Kenapa dia mencari putrinya di panti asuhan?"
"Sepertinya dia sudah lama tidak bertemu dengan putrinya. Ia tidak ingat wajahnya. Tapi menurut pengakuannya kepada pihak panti asuhan, putrinya memiliki nama yang mirip dengan nama sang ibu..."
"Apa kamu bilang? Sudah tak salah lagi. Pasti putrinya itu Sania. Namanya mirip dengan Fania, dan dia juga berasal dari panti asuhan," seru Qiandra.
"Tapi Nona, menurutnya usia sang putri baru sekitar 18 atau 19 tahun. Dan nama putrinya memiliki arti 'Putri yang Sangat Cantik.'
" Eh? Gitu ya? Sekarang dia masih ada di sana?"
"Tidak. Dia sudah pergi dan akan menuju panti asuhan lainnya," jawab Jupri.
"Bagus! Ikuti dia terus. Cari tahu siapa putrinya."
"Eh? Kenapa kita tidak menangkapnya langsung? Bagaimana kalau dia nanti malah kabur? Dia kan salah satu tersangka percobaan pembunuhan Nona?"
"Tidak apa. Biarkan dia mencari putrinya, paling lama tiga hari ke depan. Aku jamin dia nggak akan bisa pergi dari kota ini," ucap Qiandra.
Felix memandang Qiandra dengan seksama.
"Ada apa?" ujar Qiandra setelah menutup telepon.
"Tidak ada apa-apa. Nona sudah harus tidur. Ini sudah hampir jam 12 malam."
"Tapi aku tidak berani tidur sendiri? Apalagi tengah malam begini," ucap Qiandra.
"Lalu bagaimana? Saya kan tidak mungkin menemani Nona tidur di sini?"
__ADS_1
"Uh..."
(Bersambung)