
“Emm… Rania… Sebenarnya kamu dari tadi mencari apa, sih?” tanya Mikko tidak mengerti.
Sudah lebih dari satu jam, Mikko dan Rania mondar mandir mengelilingi pesisir danau ini. Ia juga memeriksa setiap selokan di sana.
“Kalian bilang aku terjatuh di selokan danau, kan?” tanya Rania. Ia memandang ke seluruh danau. Biasanya ia ke sini Bersama ayahnya untuk memancing.
“Iya, benar. Terus?” Mikko semakin tidak mengerti.
“Mungkin saja di sekitar tempat kejadian ada petunjuk,” kata Rania.
“Hah… Petunjuk? Memangnya kamu korban kriminal?” Mikko mengerutkan dahinya.
“Nah, kalau begitu coba jelaskan padaku, kenapa aku bisa terjebur selokan saat itu?” tanya Rania.
“Kenapa tanya padaku? Kan kamu yang mengalaminya…” ujar Mikko.
“Emm… Sejujurnya aku memang tidak terlalu ingat kejadian malam itu,” ujar Rania sambil menggaruk kepala.
“Eh, masa sih? Aku sebenarnya juga nggak tahu pasti …” ujar Mikko sambil mengingat-ngingat. Ia duduk di atas sebuah batang kayu bekas tebangan untuk melemaskan otot kakinya.
“Waktu itu sekolah kita sedang camping, kamu yang bukan anggota aktif pramuka tiba-tiba ingin ikut. Terus pada hari itu, saat sedang melaksanakan bakti sosial susur danau, tiba-tiba kamu menghilang,” cerita Mikko. Ia menghentikan kalimatnya sejenak untuk menyeruput air mineral.
“Semua Pembina dan regu pramuka panik. Kami semua mencarimu di tengah hujan. Bahkan ayah dan abangmu juga turut datang. Beberapa jam kemudian, kamu ditemukan pingsan di salah satu selokan dengan air tergenang,” ujar Mikko menyudahi certitanya.
“Apa kalian tidak mencium sesuatu yang aneh saat itu? Bagaimana aku bisa tiba-tiba menghilang begitu?” komentar Rania.
Mikko menyipitkan matanya. Justru saat ini bau aneh tercium sangat kuat dari Rania. Masa iya dia tidak mengetahui apa-apa? Memangnya malam itu dia kena hipnotis?
Rania tiba-tiba menyadari isi hati Mikko, “Maksudku, dari pandangan orang lain itu pasti bakalan aneh, kan?” ucap Rania.
“Tentu saja. Setelah kamu pulang kan polisi langsung menyelidikinya. Pembina dan teman-teman satu regumu semua dimintai keterangan. Semua tempat yang kita juga di cek polisi untuk menemukan sesuatu yang mencurigakan,” kata Mikko. Ia menatap Rania lekat-lekat.
“La-lalu?” tanya Rania gugup. Rania penasaran sekali siapa teman satu regunya saat itu, tetapi Mikko pasti akan semakin curiga padanya.
“Haaah… Masa kau juga tidak tahu, sih?” ujar Mikko.
“Aku hanya ingin tahu, versi cerita yang kamu dengar. Apakah sama dengan yang kudengar?” kilah Rania.
“Kasus ini akhirnya ditutup keesokan harinya, karena menurut hasil penyelidikan polisi, ini semua murni kecelakaan. Mungkin saja sesaat sebelum hujan kamu terpeleset lalu masuk ke dalam parit dan pingsan,” jelas Mikko mulai kesal.
“Apa kamu segitu malu mengakuinya, kalau kamu terjatuh masuk parit hingga menghebohkan semua orang? Sampai memilih pura-pura lupa?” tuduh Mikko.
__ADS_1
“Dih, sembarangan,” bantah Rania. “Yuk, temani aku keliling lagi,” ajak Rania.
“Ogah, ah. Aku nunggu di sini aja. Gak lihat tuh matahari mau membunuh kulit kita?” tolak Mikko.
“Addudu… Katanya lelaki sejati. Anak pramuka, paskibraka… Tapi sama sinar matahari yang manis-manis manja aja takut,” sindir Rania.
“Cih! Iya, deh. Aku temani,” ujar Mikko seraya berdiri.
Rania tersenyum tipis. Tak disangkanya, ia bisa dekat dengan pria es itu. Bahkan mengomandonya seperti saat ini. Tetapi dibandingkan gebetan, Rania justru lebih merasa Mikko adalah salah satu sahabatnya. Ia tidak berani mendahulukan kisah cintanya, sebelum identitasnya benar-benar dipastikan jelas.
Kali ini mereka menuruni jembatan. Menyusuri tepian danau hingga ke selokan tempat Rania ditemukan. Gadis remaja itu benar-benar menajamkan indra penglihatannya. Tak satu sisi pun luput dari pandangannya. Jika saja saat ini ia bisa meminjam mata burung elang, pasti sudah dilakukannya sejak tadi.
Tetapi tetap saja, setelah berjalan sekitar empat puluh menit, mereka tidak menemukan petunjuk apa pun alias nihil.
“Mikko, jika wanita di depanmu ini bukanlah Rania yang kamu kenal, melainkan wanita asing yang tiba-tiba muncul dari dalam danau bagaimana?” gumam Rania di tengah rasa putus asanya.
“Memangnya kamu Banshee*?” celetuk Mikko.
“Banshee? Wah tega sekali kamu,” rajuk Rania.
“Hahaha… Ternyata kamu tahu Banshee juga?” tawa Mikko.
*Banshee, makhluk mitologi asal Irlandia. Ia disebut juga setan pencabut nyawa. Penduduk di sana percaya, jika mendengar suara tawa banshee, artinya aka nada yang meninggal. Dikabarkan bahwa Banshee menghuni danau atau rawa sebagai tempat tinggalnya. CMIW…
“Hmm?” Mikko tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Lupakan saja. Kamu tahu kan kalau aku memang suka menghalu?” ucap Rania gugup.
“Hei, berhenti. Siapa pria itu? Sedang apa dia?” bisik Mikko. Ia menarik lengan Rania, menyuruhnya berhenti.
Disebalik rerimbunan nipah muda, sekitar dua puluh meter dari mereka, terihat seorang pria mengenakan kacamata dan topi. Sedari tadi ia menyusuri tepian danau, menyibakkan setiap rerumputan dan membawa sebuah teropong, tongkat besi panjang dan seekor anjing.
“Wah, lihat penyamaran yang dilakukannya itu. Ia bahkan bersusah payah membuat kumis palsu itu menempel. Apa dia juga mencari sesuatu di sini? Mencurigakan,” bisik Mikko lagi.
Rania menajamkan penglihatannya. Memperhatikan pria yang dimaksud Mikko.
“Hah… itu, kan…!” ucap Rania.
“Kamu mengenalnya?” tanya Mikko.
Rania menggeleng, “Maksudku, itu kan baju pola edisi terbatas,” kata Rania.
__ADS_1
Hampir saja ia mengatakan jika itu Tuan Malfoy Ansley. Meski sudah menggunakan penyamaran, Rania meyakini jika orang yang dilihatnya saat ini adalah rival bisnis ayahnya. Tetapi mengapa pria itu berada di sini dengan menyamar?
“Apa, sih? Di saat begini kamu justru mengomentari bajunya?” ucap Mikko setengah kecewa. “Hei, pria itu mendekat ke sini,” bisik Mikko, lalu mengajak Rania bersembunyi di sebalik rerimbunan pohon perdu.
Samar-samar, kedua siswa SMA itu mendengar suara langkah kaki mendekat. Rania menahan napas, saking ketakutannya.
“Jangan takut. Ada aku di sini,” bisik Mikko sambil menggenggam tangan Rania. Duh, rasanya jantung Rania mau copot dengan sikap Mikko barusan. Ia menarik kembali kata-katanya yang menomorduakan urusan cinta.
“Benar-benar tidak ada jejaknya. Bahkan bekas darah dan tulang belulang pun tidak ada. Memangnya dia itu penyihir yang masih tetap hidup, meskipun sudah disiksa dan dihabisi seperti itu? Blacky, cari terus jejaknya,” geram pria berambut pirang itu.
“Apa? Tuan Malfoy membunuh seseorang? Tetapi siapa?” batin Rania.
“Mau mati saja masih merepotkan. Kalau tidak ada jejak begini aku jadi semakin tidak tenang,” gumam pria itu lagi. Kali ini ia menggali sebuah gundukan tanah yang digaruk-garuk anjing peliharaannya.
“Apa perlu kita laporkan ke polisi?” bisik Mikko sambil merekam semua gerak gerik pria itu dengan ponselnya.
“Jangan,” balas Rania dengan berbisik juga.
Kini pria berkumis palsu itu benar-benar berada sangat dekat dengan mereka. Bahkan bau parfumnya yang norak pun bisa tercium dengan jelas. Mata Rania menatap lekat-lekat pria itu.
Drakkk!!! Gubrak!!! “Hah… Hah… Jangan bunuh aku… Jangan… Aku masih hidup… Tolong!”
“Hah, bayangan apa ini?” gumam Rania dalam hati.
Tiba-tiba dadanya menjadi sangat sesak. Tubuhnya gemetaran menahan rasa takut. Seklias ia melihat sekelebat bayangan darah yang berserakan dan dua wajah samar yang dipenuhi kebencian. Itu bukan khayalan, tetapi lebih tepatnya sebuah ingatan.
“Siapa di sana?” tiba-tiba terdengar seruan seorang pria dengan suara berat.
“Ah… Maaf. Sa-saya hanya pengnjung di sini,” kata pria berkumis palsu.
“Maaf. Tetapi ini area terlarang untuk pengunjung,” jelas pria yang ternyata petugas keamanan danau. Sepertinya ia sedang berpatroli.
“Begitu, ya? Tadi saya hanya sedang memancing sambil membawa anjing saya jalan-jalan. Tak sadar jika sudah sampai sini. Kalau begitu permisi,” ucap pria itu buru-buru pergi.
“Cih, dasar pembohong. Jelas-jelas dia tidak membawa alat pancing,” gumam Mikko setengah berbisik. “Rania, kita juga harus segera pergi dari sini,” lanjutnya.
“Rania… Rania…” ucap Mikko panik. Rania ternyata telah tak sadarkan diri dengan hidung mengucurkan darah segar.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1