
Tap... Tap... Tap...
Qiandra menjaga langkahnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gombang suara berfrekuensi tinggi.
"Ke mana kakek itu pergi? Sepertinya menuju ke ujung lorong," gumam Qiandra.
Sesuai rencananya, hari ini Qiandra memang hendak mencari tahu tentang kamar aneh yang membuatnya terjebak di bawah tanah beberapa waktu yang lalu.
Namun siapa sangka, ia malah melihat sang kakek juga berjalan ke arah yang sama.
"Kenapa kamu mengikutiku?" ujar Nico, kakek Qiandra.
"Siapa yang mengikuti kakek? Aku memang juga mau berjalan ke arah sini. Ini kan rumahku," sahut Qiandra.
"Aku tidak memakan cookies kesukaanmu lagi. Jadi jangan ikuti aku lagi," ujar Nico lagi.
"Astaga, kakek tua ini," gumam Qiandra geram.
"Kakek, makan aja cookies itu. Habiskan aja nggak apa-apa. Aku bisa membelinya lagi," ucap Qiandra kemudian.
Ia masih mengikuti sang kakek.
"Katakan padaku, di mana Rania cucuku?" tanya Nico tiba-tiba.
"Aduh... Kakek ngomong apa, sih? Aku cucu kakek. Udah berapa kali dibilangin. Aku satu-satunya cucu kakek," ucap Qiandra jengkel.
"Hmm... Aku masih nggak percaya. Sebelum terlambat, lebih baik cari tahu saja siapa orangtua kandung kamu," ujar Nico sambil berlalu.
Qiandra memperhatikannya," Ah, rupanya ia bukan pergi ke ujung lorong. Tetapi menuju beranda di samping rumah."
Qiandra pun meneruskan rencananya mencari kamar rahasia.
"Ckk... Aku udah muter-muter tujuh kali tapi masih nggak ada petunjuk? Harusnya ada tombol rahasia kek, atau pintu geser otomatis yang tersembunyi kayak di film-film gitu."
Qiandra mulai kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai.
Tak! Kepingan granit lantai tersebut sedikit bergeser.
Semula remaja itu mengira bahwa lantai rumah itu sudah rusak. Tapi kemudian ia teringat sesuatu.
Qiandra kembali bersemangat, "Apa jangan-jangan ini tombol rahasianya, ya?"
Tapi nggak semudah itu ia menemukan pintu untuk membuka jalan rahasia.
Dengan acak, ia lalu kembali menginjak setiap keping lantai rumah tersebut. Tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Apaan, nih? Kenapa nggak ada apa-apa?" Qiandra bingung.
Dia kembali mencoba menginjak kepingan-kepingan granit yang menempel pada semen tersebut.
Tak! Salah satu kepingan tersebut kembali bergeser.
"Hei, sepertinya benar kalau ini adalah jalan rahasia. Tapi kenapa baru sekarang ia berdenting? Padahal sudah kuinjak sedari tadi."
Qiandra berpikir keras. Ia memperhatikan kepingan tersebut dengan seksama.
"Mungkinkah ini tak bisa sembarang dipijak, melainkan membuat sebuah pola dan harus berurutan?" pikir Qiandra.
Tapi ia sama sekali belum tahu, pola apa yang digunakan. Apakah angka, huruf, bunga, nama bintang atau geometri?
__ADS_1
Qiandra kembali mencoba menginjak setiap kepingan. Kali ini ia melakukannya dengan perlahan agar bisa mengingatnya.
Tak! Kepingan ketiga pun bergeser. Qiandra pun kembali memutar otaknya, menemukan pola rahasia untuk membuka kunci atau ruangan tersembunyi.
"Sepertinya aku tahu polanya," gumam Qiandra.
Ia lalu mencoba menginjak kepingan berikutnya sambil membentuk sebuah geometri.
Usahanya gagal. Tidak terjadi apa pun.
"Hmm... Gimana kalau begini?" Remaja itu pantang menyerah. Ia mencoba sekali lagi dengan pola yang berbeda.
Drak! Drak! Drak!
Dinding di belakangnya bergeretak seperti akan runtuh.
"Berhasil!" serunya.
Dinding berwarna putih tersebut terbenam ke lantai dan memperlihatkan sebuah pintu persis yang dilihatnya malam itu. Sebuah pintu yang dipenuhi dengan ukiran unik dan di sebelahnya terdapat lukisan klasik bergaya Eropa.
"Tak kusangka, pola tersebut membentuk huruf R. Apa mungkin artinya Rania?" pikir Qiandra. Entah mengapa ia merasa sedikit cemburu.
Glek!
Tiba-tiba hati Qiandra menjadi ragu, "Apa aku harus kembali masuk ke ruangan ini? Gimana kalau aku terjebak lagi di dalam seperti waktu itu?"
Qiandra masih cukup trauma dengan penampakan yang dilihatnya malam itu. Dia juga khawatir tidak ada yang mendengarnya.
Lorong tersebut memang jarang dilalui para pelayan dan juga tidak dijangkau oleh CCTV. Apakah ini sengaja?
Ia berpikir cukup lama.
"Nggak. Kali ini berbeda. Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya dan membawa HP untuk komunikasi." Qiandra memberanikan dirinya.
"Yah, ternyata dikunci," gumamnya sedikit kecewa.
Ia lalu memperhatikan sekeliling, mencari kunci tersebut.
Hasilnya nihil.
Qiandra lalu terpikir ide lainnya. Dengan segera ia pergi ke kamarnya dan kembali lagi membawa serenteng kunci cadangan.
Tentu saja kunci-kunci tersebut bukanlah kunci untuk pintu rahasia tersebut, melainkan milik pintu-pintu lain di rumah ini. Tapi nggak ada salahnya kan dicoba.
Qiandra mencobanya satu-persatu dengan sabar.
Ceklek!
"Ah, kunci ini pas sekali, tinggal sedikit sentuhan saja."
Qiandra lalu mengambil sebuah kawat dan menyelipkannya ke lubang pintu.
Usahanya tak sia-sia. Pintu itu terbuka dengan mudah.
Qiandra tertegun melihat isi kamar tersebut.
"Tidak ada yang aneh. Sama aja seperti kamar biasa," gumamnya.
Ukuran kamar tersebut cukup kecil dibandingkan ruangan lainnya di rumah ini. Mungkin hanya sekitar 3x 4 meter saja.
__ADS_1
Ruangan bercat putih tersebur hanya memiliki satu tempat tidur dan juga sebuah lenari dengan cermin besar di salah satu daun pintunya.
Tidak hanya itu, terdapat juga sebuah kamar mandi.
Glek! Lagi-lagi Qiandra menelan ludahnya. Ia menahan rasa takut dan membuka kamar mandi tersebut dengan perlahan.
Zonk! Ternyata kamar mandi tersebut sama aja seperti kamar mandi lainnya.Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Oh iya. Aku belum memeriksa tempat itu."
Qiandra lalu membuka lemari.
"Astaga!" seru Qiandra.
Hampir saja ia menjatuhkan HPnya karena terkejut.
Belakang lemari tersebut tidak memiliki dinding. Terdapat seperti sebuah terowongan besar dengan tangga menurun yang sangat gelap.
Qiandra mencoba menerangi terowongan tersebut. Namun cahaya ponselnya tidak bisa memberi penerangan hingga ke ujung. Namun ia meyakini, itulah jalan menuju gudang rahasia tempat dirinya disekap dulu.
"Kenapa di rumah ini ada ruangan seperti ini? Nggak mungkin kan, mama dan papa nggak tahu?" pikir Qiandra geram.
Drrtttt...
HP Qiandra berbunyi.
"Iya, Ma?"
"Kamu di mana, sayang? Kita harus segera pergi ke acara makan malam yang diadakan perusahaan O' Neil."
"Ya, aku segera ke sana."
Qiandra lalu menutup pintu tanpa menguncinya dan menginjak kepingan granit seperti pola tadi.
Dan benar saja, pintu itu kembali tertutup oleh dinding putih.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sementara itu di tempat yang berbeda.
"Aku masih nggak percaya, mereka menuduh seorang anak kecil sebagai pembunuh hanya karena sekotak susu?" gerutu Rania di kamarnya.
"Kakak, udah apa belum? Kita udah ditungguin ayah, nih," seru Livy.
"Iya, sebentar. Lagi ganti baju, nih," balas Rania.
Remaja itu pun menarik baju dari lemari. Ia tak mau ayahnya terlalu lama menunggu bekal yang akan mereka antar.
Crang!!!
Tanpa disadari, Rania menjatuhkan sebuah kotak dan mengeluarkan isinya.
"Duh, untung aja gelangnya nggak rusak."
Tiba-tiba matanya terpaku, "Hei, kenapa aku baru sadar? Ukiran di sisi gelang ini mirip dengan gambar yang ku lihat di novel fantasy milik Anjani."
"Apa ini memiliki makna rahasia juga?" pikir Rania lagi.
"Kakak, cepetan dong," seru Livy lagi.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi..