Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 93 - Bau Mayat


__ADS_3

(Peringatan! Episode ini banyak mengandung kata-kata dan tindakan tidak terpuji. Mohon jangan ditiru, ya.)


"Ugh! Sial*an! Sial*n!"


Fania melemparkan sepatu dan tasnya ke sembarang arah. Hatinya benar-benar kesal.


"Bagaimana aku bisa lalai begini? Siapa yang merencanakan hal ini?"


Crang!! Kali ini Fania menghamburkan isi rak make upnya. Padahal jika ditaksir, total harganya tidak lebih rendah dari tujuh puluh lima juta.


"Apa kaki tangan Chloe sudah mengetahui semua rencanaku, lalu sengajamembalasnya dengan cara begini? Arrgghhhh... Kepalaku sakit."


Apartemen mewah itu kini tampak berantakan. Semua benda berserakan di lantai.


"Padahal tinggal sedikit lagi. Jika fashion show minggu depan berhasil, aku bisa duduk di kursi divisi dengan mudah. Lalu aku akan mulai memainkan saham," geram Fania. Ia masih tidak ikhlas dengan apa yang menimpanya.


Di tempat yang berbeda.


"Kerja bagus, Darrent. Bisa dibilang kita cukup berhasil. Tetapi jangan lengah, ini masih permulaan," ucap Malfoy melalui telepon.


"Benar. Tidak kusangka rencanamu begitu halus. Kalau begini kita bisa menguasai pasar lebih besar," balas Darrent.


"Lalu, apalagi rencanamu ke depannya?" lanjut Darrent.


"Untuk sementara, kamu bekerja sana di bawah perusahaan Austeen seperti biasa. Jangan sampai mereka semakin mencurigaimu. Dan jangan pula menghubungiku untuk beberapa waktu," pinta Malfoy.


"Baiklah. Jika kamu membutuhkanku lagi, jangan sungkan untuk menghubungiku," kata Darrent.


"Yang paling aku inginkan darimu, adalah kabar bahagia. Aku ingin melihatmu melamarnya. Lalu membuka toko roti kalian bersama," balas Malfoy.


"Ah, tak kusangka kawanku yang sangar ini bisa juga berpikiran melow seperti hello kity. Aku pasti akan melakukannya. Olivia sudah terlalu lama menungguku," ucap Darrent diiringi tawa kecil.


"Si*l, kamu pikir aku siapa? Pembunuh bayaran?" balas Malfoy. "Ah, sudah dulu ya. Ada seseorang yang meneleponku."


"Baiklah." Darrent lalu menutup telepon.


"Hei, bangs*t! Ke mana saja kamu susah di telepon? Menelepon wanita, ya?"


Baru saja menerima telepon, Malfoy langsung dihujani dengan kata-kata mutiara dari sang istri.


"Wanita? Satu-satunya wanita yang kutelepon hanya kamu, sayang," jawab Malfoy.


"Cih! Rayuanmu itu sudah basi. Sudahlah, aku mau langsung ke intinya saja. Kamu kan yang menjebakku?" tanya Fania.


"Menjebakmu?" Malfoy balik bertanya.


"Iya. Siapa lagi yang punya akal licik seperti itu kalau bikan kamu," kata Fania.


"Lagi-lagi kamu menuduhku seperti itu. Aku sendiri masih nggak tahu, apa yang terjadi padamu," jelas Malfoy.

__ADS_1


"Heh, jangan berlagak bod*h. Aku kenal kamu sudah cukup lama!" Fania menjerit histeris. "Apa kamu tahu, berapa lama aku menghabiskan waktu untuk ini. Dan di saat tinggal satu langkah lagi, kamu menghancurkan semuanya."


Prang!!! Terdengar suara benda kaca pecah.


"Hei! Sayang! Tenang dulu! Katakan padaku. Aku akan membantumu." Rasa marah malfoy berubah menjadi khawatir.


Sudah lama sekali ia tidak melihat Fania se-frustrasi ini, mungkin yang terkahir ya sebelum kejadian di danau beberapa waktu lalu.


"Kamu masih mau membodohiku? Semua bahan yang kubeli dari perkebunan itu, ternyata masih satu lokasi dengan ladang opium. Apa kamu tahu itu? Dan kini, satu napas lagi aku pun akan menjadi tersangka."


Fania menangis tersedu-sedu sambil berteriak histeris. Malfoy semakin khawatir.


"Sayang, kamu tahu kan betapa aku sayang padamu. Aku akan lakukan semua hal demi kamu. Sampai aku jatuh bangun membangun perusahaanku sendiri," kata Malfoy menenangkan Fania.


"Apa kamu tahu istilah anak zaman sekarang? Aku ini bucin padamu, budak cintamu. Jadi untuk apa aku menghancurkan karirmu?" bantah Malfoy lagi.


"Aku nggak peduli. Yang jelas sekarang hidupku sudah diujung tanduk."


"Tenang Fania. Aku akan datang ke sana menemanimu."


Dalam waktu sekejab, Malfoy telah berganti pakaian dan menuju lift. Hatinya sudah tak sabar untuk menemui istri tercintanya.


Ternyata Malfoy memang benar-benar bucin.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Brak! Brak! Malfoy menendang kap mobilnya berkali-kali. Body mobil tua itu pun semakin penyok.


"Ckk... Bagaimana keadaan Fania sekarang? Apa dia masih di rumahnya?"


Malfoy menekan nama 'SayangkuπŸ’•πŸ’•' di ponselnya. Ini sudah ketiga kalinya, namun tidak ada jawaban.


"Ke mana sih dia?" Pikir Malfoy khawatir.


"Kenapa mobilnya, Pak? Apa boleh kami bantu?"


Dua orang pejalan kaki datang menghampiri Malfoy.


"Oh, mogok nih. Maklum, mobil tua. Dari tadi mesinnya menyala, tapi nggak mau jalan."


Hmmm? Aneh memang.


Malfoy yang sudah putus asa pun membiarkan kedua orang tersebut melihat kendaraannya lebih dekat. Tapi tetap mengawasi setiap gerak gerik mereka.


"Jangan sampai malam ini apes lagi, karena kena tipu dua tupai seperti mereka," pikir Malfoy dalam hati.


Memang belum diketahui niat mereka sebenarnya, apakah memang benar ingin membantu, atau justru menipu.


"Gil*! Bau apa, nih?"

__ADS_1


Salah seorang dari mereka muntah, setelah melangkah lebih dekat ke mobil yang terparkir di tepi jalan.Padahal ia baru saja hendak melihat bagian mesin.


"Bau sampah mungkin," ujar pemuda satunya lagi.


"Nggak! Ini sih lebih mirip bau bangkai. Coba deh kamu ke sini," kata pemuda pertama.


Keduanya pun semakin mendekati mobil. Malfoy yang melihat gerak-gerik aneh mereka pun heran. Ada apa gerangan?


"Bapak membawa bangkai, ya? Kok mobilnya bau banget?"


"Nggak sopan kalian! Memangnya kalian pikir aku siapa? Bawa-bawa begituan. Coba saja bongkar seisi mobilku. Aku tidak ada membawa barang seperti itu," marah Malfoy.


Kedua pemuda itu pun urung mambantu Malfoy. Berkali-kali mereka mengeluarkan isi perut mereka.


"Nggak perlu deh, Pak. Kalau kayak gini sih bukan bau bangkai lagi, tapi justru bau mayat."


"Bangs*t kalian! Kalau nggak mau bantu bilang saja, jangan menghina," umpat Malfoy.


"Atau jangan-jangan mobilku terlalu rongsok, ya? Jadi mereka berpikir ulang untuk merampoknya," pikir Malfoy kemudian.


Kedua pemuda itu ngacir tanpa menoleh ke belakang lagi.


"Jupri, benar kan itu mobil yang kita intai dari tadi?"


"Iya, benar. Itu suami Fania, yang sempat menghilang satu tahun yang lalu. Plat mobilnya juga sama dengan mobil yang tertangkap CCTV di dekat danau malam itu," ujar Jupri.


"Nggak disangka, kita menemukannya secepat ini. Bahkan bisa berinteraksi langsung dengannya," kata Jupri lagi.


"Di danau tahun lalu, ya? Apa kamu ingat? Saat itu seorang penjaga danau melaporkan kasus tabrak lari yang sempat dilihatnya, tetapi kemudian kasus itu ditutup karena tidak ada bukti dan tidak ada laporan orang hilang. Apa jangan-jangan?" kata Hendra, rekan kerja Jupri.


"Nah, aku juga berpikir sama. Jalan itu sangat jarang dilalui orang," kata Jupri. "Dan satu-satunya kendaraan yang melewatinya dalam kurun waktu tiga hari hanya dia," sahut Jupri.


"Hahh... Udahlah, gak usah mikirin yang di luar tugas penyelidikan kita. Kasusnya juga sudah ditutup," kata Jupri lagi. "Kamu sudah memindai kendaraannya dan memasang penyadap, kan?"


"Sudah aman, Bro. Sepertinya dia nggak bohong. Dia nggak membawa apapun di dalam mobilnya. Jadi, bau busuk itu datang dari mana, ya?" kata Hendra.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Glek! Glek!


Qiandra meneguk air putih di ruang makan.


Tiba-tiba...


"Aaa....!!!"


Crang!!!


"Siapa kamu? Pergi! Pergi!"

__ADS_1


__ADS_2