Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 87 - Membuka Sebuah Kunci


__ADS_3

Seperti janjinya tadi, Arka membantu sang adik memeriksa gelang bersejarah itu.


"Ini sih kayaknya gelang dari zaman megalitikum. Kode-kodenya nggak ada kebaca," ujar Arka diselingi tawa kecil.


"Enak aja zaman megalitikum. Zaman itu mah belum ada tulisan. Aku yakin saat itu bahasa dan komunikasi juga belum berkembang dengan baik," protes Rania.


"Hehehe... Gitu aja marah-marah, Non." Arka mengusap rambut adiknya yang dikucir ekor kuda.


"Tapi ada satu hal yang bikin aku bingung," ujar Arka. "Dari mana nenek mendapatkan gelang ini? Kalau misalnya gelang ini diukir dalam bahasa kalian atau simbol tertentu, artinya mereka bisa membacanya, kan?" lanjutnya.


"Hmm... Iya. Makanya aku mau cari Nenek Ester tadi," sahut Rania.


"Nah, apa kamu nggak berpikir? Kalau mereka tahu gelang ini membawa mantra kutukan, kenapa masih tetap disimpan? Kamu bilang, kamu juga memilikinya satu di rumah, kan?"


"Iya juga, ya. Kenapa aku nggak mikir ke sana, ya?" gumam Rania. Kepalanya manggut-manggut.


"Kalian ngapain? Udah kayak detective Sherlock Cannon aja."


Livy muncul di depan kamar. Ia mengerutkan kening, melihat kedua saudaranya memegang kaca pembesar dan sebuah gelang.


"Emm... Heheh... Kamu mau ikutan?" ajak Rania.


"Ini gelang hadiah ulang tahun Kakak, ya?"


"Iya. Kamu mau coba?" Rania memberikan gelang itu pada Livy.


"Boleh ku pakai?" tanya Livy ragu.


"Ya boleh, dong. Cepetan pakai. Abis itu pakai bando ini. Biar kakak foto."


Dengan wajah gembira, Livy pun mengikuti perintah kakaknya. Tak lupa ia menyisir rambutnya dan menyematkan bando berhiaskan bunga-bunga kecil. Remaja cilik itu lalu mematut dirinya di depan cermin.


"Gimana?" tanya Livy dengan polos.


"Cantik." Rania dan Arka kompak mengangkat jempolnya.


Cekrik! Rania tak lupa mengabadikan momen itu dari kamera ponselnya.


"Eh, tunggu dulu," ucap Rania. "Coba kamu mensekat lagi ke cermin," pinta Rania.


"Begini? Kata Livy bingung. Begitu juga dengan Arka.


"Gelangnya di dekatkan ke cermin."


Livy mengikuti perintah kakaknya dengan wajah super bingung, "Kenapa sih, kak?"


"Sebentar..." Rania terus memandang bayangan gelang di cermin tanpa berkedip.


"Nah, itu dia. Pencerminan," seru Rania. Senyum mengembang di wajahnya. Matanya membulat.


"Hebat, Livy. Aku berhasil menemukannya karena kamu." Rania mengguncang tubuh Livy.

__ADS_1


"Menemukan apa sih, Kak?" Livy semakin bingung.


"Oh, jadi begitu? Astaga, kenapa kita nggak terpikir dari tadi." Arka pun tersenyum ceria. "Tapi ngomong-ngomong, itu bahasa apa ya? Yunani? Rusia?"


"Ada apa, sih? Halooo? Kok cuma aku sendiri yang nggak ngerti?"


Livy mulai kesal. Ia mengerutkan wajahnya dan melipat tangan di depan dada. Kakinya menghentak-hentak ke lantai.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Di waktu yang sama, tempat yang berbeda.


"Selamat malam. Maaf, Anda siapa? Ada keperluan apa?"


Dua orang petugas keamanan yang lebih mirip bodyguard menahan Mikko di gerbang depan.


"Selamat malam, saya teman sekolah Qiandra. Apa ia baik-baik saja?" jawab Mikko tenang.


Sudah beberapa lama ia berteman dengan putri konglomerat kaya tersebut, ia pun semakin terbiasa dengan segala keanehan yang ada.


"Nona baik-baik saja."


"Apa saya bisa bertemu dengannya sekarang?" tanya Mikko.


Bola matanya berulang kali menatap rumah mewah tiga lantai tersebut. Tentu saja ia tidak bisa menebak, di mana letak kamar Nona muda tersebut.


"Sesuai prosedur, maka kami harus memeriksa kartu identitas dan barang bawaan setiap pengunjung yang datang," ujar salah seorang petugas keamanan.


Meskipun hatinya sudah tak sabar, ia tetap mengikuti prosedur agar tidak diusir.


Bukan tanpa alasan, puluhan wartawan berkumpul di depan rumah keluarga Austeen. Mereka berlomba-loma berburu berita ter-update dari kasus yang menimpa konglomerat tersebut.


Tidak sedikit dari mereka yang diusir karena membuat kerusuhan dan membawa barang-barang berbahaya.


"Joe, tidak perlu lakukan itu. Dia temanku. Kamu bisa percaya padaku."


Qiandra berseru dari taman depan rumah. Setengah berlari, ia berlari menuju ke gerbang tanpa alas kaki.


"Tapi, Nona..."


"Percaya padaku. Aku meminta bantuannya untuk beberapa hal," ucap Qiandra.


"Baiklah."


Joe dan Biden membuka pagar dan mempersilakan Mikko masuk ke dalam.


Tentu saja pemandangan itu menjadi santapan bagi para wartawan. Entah apa berita yang akan muncul nanti.


Akankah mereka bisa menebak wajah Mikko yang menggunakan masker dan topi?


...🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


"Gimana keadaanmu? Aku khawatir sekali karena teleponmu terputus," ucap Mikko.


Mereka berdua kini duduk di ruang tamu, ditemani beberapa pelayan.


"Tak kusangka lelaki dingin yang tak kenal wanita sepertimu, langsung berlari ke rumahku hanya karena telepon terputus," kata Qiandra.


"Siapa yang nggak khawatir melihatmu menjerit lalu menjatuhkan HP begitu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu tadi?"


"Kamu tuh, ya. Udah nakut-nakutin aku, tapi abis itu pura-pura nggak ada apa-apa. Untung tadi ada Sania." Qiandra menekuk seluruh wajahnnya tanda kesal.


"Jadi tadi itu beneran Sania? Tapi kok...?" Mikko tidak melanjutkan kalimatnya. Ia takut membuat Qiandra kembali khawatir.


"Pucat dan matanya menghitam?" ucap Qiandra. "Itu pasti karena dia kurang tidur beberapa hari ini. Tuh, orangnya."


Sania muncul dari tangga dan membawa nampan berisi minum serta beberapa cemilan.


"Kok kamu yang menghidang? Musliha mana?"


"Nggak apa, Nona. Saya berhutang maaf dengan Mikko. Dia kelihatan syok banget tadi."


"Habis tadi ku pikir kamu makhluk jadi-jadian. Memangnya tadi Qian kenapa? Sampai teriak-teriak gitu?" Mikko mengulang pertanyaannya.


"Tadi aku lihat ada yang gerak-gerak di balik gorden. Terus, muncul kain putih dan semakin mendekat. Untung aja Sania langsung datang," cerita Qiandra.


"Kain putih?" Mikko mengerutkan dahinya, menanti penjelasan dari Qiandra.


"Ada kucing bersembunyi di balik gorden dan menyeret-nyeret taplak meja dekat jendela," jelas Sania.


"Kucing? Ada yang aneh," pikir Mikko. "Apa Sania juga terlibat dalam masalah ini?" pikirnya lagi.


"Pokoknya aku harus bisa menemui Pak Yahya atau Bu Rohaya. Aku masih nggak percaya tiba-tiba ada kucing di kamarku sampai bawa-bawa taplak meja. Terus yang dilihat Mikko tadi apa? Mikko nggak mungkin bohong, kan?" ucap Qiandra.


"Pak Yahya dan Bu Rohaya siapa?" tanya Mikko.


"Dia pelayan senior di sini. Bahkan tahu semua rahasia rumah ini," jawan Qiandra.


Sania juga terkejut mendengar mendengarnya, "Dari mana Nona mendengar nama mereka?"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Akhirnya, berhasil. Jadi ini artinya?" seru Arka girang.


"Yah, kira-kira begitu. Aku juga nggak begitu mahir bahasa ini," ujar Rania.


"Tapi apa maksudnya "Dua yang saling melengkapi, Dua yang saling melindungi, Tetapi hanya satu yang mampu bertahan?" pikir Rania lagi.


"Mungkin maksudnya dua gelang saling melengkapi? Atau dua orang saling melindungi?" ucap Arka ikutan bingung.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


Penasaran sama bentuk simbolnya dan bagaimana cara membacanya? Tunggu episode berikutnya, ya.


__ADS_2