
Musim semi tiga tahun kemudian, di Muker Village, North Yorkshire, Inggris.
"Nak, apa kamu sudah sarapan?"
"Sudah, Nek."
"Kalau begitu cepatlah mandi. Kenapa kamu masih mengurusi ayam dan kalkun itu?"
"Duh, Nenek. Akan harus memberi makan hewan ternak kita agar gemuk-gemuk. Lihat ini, aku menemukan enam telur ayam lagi."
"Lagian, aku harus ke kebun dulu untuk memetik labu dan memanen wortel untuk makan siang kita."
"Tidak perlu. Kali ini kamu bersantai saja. Itu temn-temanmu sudah datang dari tadi. Mereka juga membawakan kita makan siang yang lezat," kata Nenek.
"Maksud Nenek, Ruby dan Elea? Tumben mereka membawa makanan enak? Biasanya malah mereka yang menghabiskan makan siangku. Memangnya di desa ada perayaan apa?"
"Bukan Ruby dan Elea, tetapi teman-temanmu dari Indonesia, Qiandra," ujar Nenek.
"Apa?"
Wanita dua puluh tahun itu berlari ke dalam rumah untuk memastikan ucapan sang nenek.
Dari balik dinding dapur, ia bisa melihat tamu-tamu yang datang.
"Sial! Gimana ini?" gumam Qiandra.
Dua puluh menit kemudian, Qiandra telah rapi dengan pakaian dan make up seadanya.
"Qiandra, apa kabar?"
"Ba-baik, Kek," jawab Qiandra kikuk.
"Kamu ini keterlaluan sekali. Masa meninggalkan kami begitu saja tanpa kabar? Padahal kamu setiap tahun menemui ayahmu di Indonesia," omel Nico.
"Maaf, aku hanya..."
"Tidak ingin merepotkan kami? Kamu salah kalau berpikir begitu. Kamu ini cucu kakek," kata Nico lagi.
"Maaf, tapi saat itu aku nggak punya pilihan lain. Aku dibully karena mengaku sebagai anak konglomerat, padahal orang tuaku pembunuh."
"Dan aku juga tak ingin meninggalkan nenekku sendirian di sini," kata Qiandra.
"Begitu? Memangnya siapa yang berani membully cucu kakek yang baik ini?" tanya Nicco.
"Sangat banyak, termasuk temanku sendiri..."
"Maksudmu Nurul dan Dewi?" celetuk Rania.
Qiandra mengangguk, "Nggak cuma itu. Aku memang lebih nyaman hidup begini bersama nenek. Hanya aku lah satu-satunya keluarga nenek, di saat ayah dan ibuku di penjara," kata Qiandra.
"Bagimana hidupmu di sini, Nak? Apa kamu melanjutkan sekolah dengan baik?" tanya Nico.
Air mata menggenang di pelupuk mata Qiandra. Seharusnya sudah tak perlu ditanyakan lagi. Melihat kondisi rumah yang sangat sederhana, dan pekerjaan Qiandra yang tak jauh dari kebun dan kandang ternak, sudah bisa ditebak kalau hidupnya cukup sulit.
Ditambah lagi dengan tubuh kurus berbalut pakaian sederhana dan riasan minimalis, jelas sekali ia telah meninggalkan kehidupan mewah dalam waktu cukup lama.
"Jadi kamu berhenti sekolah?" desak Nico.
"Tidak benar sepenuhnya. Aku tetap melanjutkan sekolah di sini, dengan beasiswa sampai tamat SMA. Tapi setelah itu... aku lebih fokus pada pekerjaanku yang sangat sederhana, yaitu menjahit."
"Aku sudah lihat baju-baju hasil karyamu. Aku juga sudah mencicipi semua kue buatanmu yang dijual di toko ujung jalan. Semuanya luar biasa," kata Rania.
"Qian, maaf telah membuatmu hidup dalam kesulitan," lanjut Rania.
Qiandra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Untuk beberapa saat, ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Meski Qian hanya membuat baju murah untuk para petani di sini, tapi saya lihat ia jauh bahagia dibandingkan dahulu," kata sang nenek.
__ADS_1
Nico memandang Qiandra cukup lama, seakan meminta jawaban pasti.
"Ya, aku senang tinggal di sini. Hidup mewah bukanlah segalanya bagiku sekarang," kata Qiandra
"Tapi bagaimana kalian bisa menemukan alamatku di sini?" tanya Qiandra.
"Kami menelusuri jejak setiap surat kaleng yang kamu kirim ke penjara untuk ayahmu. Ternyata pengirim surat itu sama, yaitu seorang tukang kebun yang bekerja di rumah Tuan Gregory di Indonesia," jelas Nico.
"Oh iya, aku membawa dua hadiah lagi untukmu. Seharusnya sebentar lagi sudah sampai," kata Rania.
Qiandra mengerutkan dahinya.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dua orang pria lalu turun dan berjalan ke arah rumahnya.
"Mikko... Felix.. Kenapa Felix ada di sini?" ucap Qiandra.
"Mana ku tahu. Tanya aja sendiri," ucap Rania sambil mengedipkan sebelah mata.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Qian, tega sekali kamu meninggalkanku di Indonesia tanpa kabar," ucap Felix ketika mereka berperahu di sungai.
"Kenapa aku harus pamit padamu?" kata Qiandra.
"Aku tahu, sejak kita mengobrol bersama malam itu dan aku menceritakan tentang keluargaku, kamu jatuh cinta padaku, kan?" ucap Felix.
"Ih, kepedean," kata Qiandra.
"Kamu nggak bisa bohong padaku. Setiap kamu mencoba berbohong, tanganmu pasti memainkan rambut dan matamu menhindari pandanganku, kan?" kata Felix.
Wajah Qiandra bersemu merah. Bagaimana mungkin, setelah tiga tahun tak bertemu, pria ini masih membuat jantungnya berdegup kencang?
"Kalau aku suka padamu lalu kenapa? Toh kamu bucin akut sama Sania."
"Jadi kamu cemburu sama Sania?" Felix mengedipkan matanya.
"Jadi kamu dicampakkan dan aku jadi pelarian?"
"Bukan begitu. Aku benar-benar sudah move on sejak lama. Dan belakangan aku sadar, kalau aku telah jatuh cinta padamu sejak lama."
"Gombal, ih," kata Qiandra.
"Jadi, Gimana caranya agar kamu percaya?" kata Felix sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong.
"Kamu belum punya pasangan, kan? Mau menikah denganku?" Felix mengulurkan sebuah cincin pada Qiandra.
"Eh, aku... itu..."
Fyuh... Qiandra mengatur napasnya agar kembali normal.
"Felix, aku berbeda dengan dulu. Aku hanya seorang petani miskin, bukan supermodel yang dipuja banyak orang," tolak Qiandra.
"Aku nggak peduli. Aku hanya menginginkan dirimu apa adanya," ucap Felix.
"Aku tak memaksamu untuk menjawabnya saat ini. Aku tahu hatimu masih ragu karena kita baru bertemu. Tapi jika kau bersedia, kita akan menikah setelah ayahmu bebas tahun depan," kata Felix
"Glek! Gimana ini?" pikir Qiandra.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Senang banget, akhirnya Felix dan Qiandra bertemu dan menyatakan cintanya," kata Rania.
"Aku juga," kata Mikko.
"Eh? Maksudmu?"
"Aku ke Inggris bukan tanpa tujuan," kata Mikko.
__ADS_1
"Lalu, apa tujuanmu?" tanya Rania.
"Bagaimana kalau besok kita ke Liverpool. Aku ingin menunjukkan sebuah rumah di sana," ajak Mikko.
"Liverpool? Kamu menyewa rumah di sana?" Rania masih bingung.
"Bukan. Aku membelinya. Rumah untuk kita berdua setelah menikah nanti."
"What? Asksksj..." Rania tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa? Kamu mau, kan? Aku sudah memikirkan baik-baik siapa wanita yang aku cintai, bahkan setelah kita berpisah ketika tamat SMA. Tapi jawabannya tetap ada pada kamu," kata Mikko dengan wajah serius.
"Itu... Aku masih kuliah dan..."
"Sama. Aku juga masih kuliah. Tapi beberapa tahun yang akan datang, aku akan menjadi seorang pengusaha dan ilmuwan yang handal. Sementara kamu menjadi ahli kimia di bidang parfum dan make up. Cocok bukan? Atau kamu mau tetap tinggal di Indonesia?" kata Mikko.
"Dasar kamu ini! Dari dulu kamu nggak pernah berubah. Selalu memutuskan suatu hal seorang diri saja."
"Tapi kamu suka, kan? Kamu mau, kan?" goda Mikko sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Ih, apaan, sih? Geli tahu."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Satu tahun kemudian, Rania telah lulus kuliah dari jurusan Biokimia. Ia juga masih menjadi model papan atas internasional. Rania juga berhasil memperbaiki keadaan perusahaan yang sempat memburuk.
Sebagai penunjang karirnya, Rania berserta Alvi dan teman-teman lainnya membangun sebuah perusahaan di bidang pendidikan dan penyaringan bakat, bagi anak-anak tidak mampu.
Sementara Mikko sukses membangun bisnisnya sendiri di bidang perusahaan software terbaik di Asia dan Eropa. Ia juga memiliki kebun beragam buah yang sangat luas, sebagai wujud mimpi sang mama yang telah di surga.
Berita baik lainnya, Chloe dan Geffie telah bebas dari penjara. Mereka mulai bekerja seperti dulu.
Beberapa bulan kemudian, Malfoy dan Darrent juga dinyatakan bebas, karena mereka mendapatkan pengurangan masa tahanan.
Bagaimana dengan Nenek Esther? Ia sempat tinggal selama beberapa bulan di rumah Rania, sebelum akhirnya meninggal dunia karena diabetes.
"Hei, kalian jangan lupakan kami, ya," ucap Valen Alvi dan Anjani.
"Apaan, sih?" kata Rania.
"Kamu juga masih punya PR menyelesaikan Novel, lho," kata Ringga pula.
"Hei, jangan ganggu istriku," marah Mikko.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Mikko dan Rania. Mereka akhirnya memutuskan bersatu, setelah Rania cukup lama berpikir.
Satu bulan kemudian, disusul dengan pernihakan Felix dan Qiandra yang dihadiri oleh Malfoy sang ayah kandung dan juga neneknya. Dengan bujukan Felix, akhirnya Qiandra kembali terjun menjadi desgner profesional, bekerja sama dengan Livy di CL fashion.
"Qian, barusan kabar dari penjara, ibumu mencoba bunuh diri lagi," bisik Malfoy setelah pesta pernikahan.
"Duh, biarin aja. Sampai dosanya habis, ia gak bakalan bisa mati bunuh diri. Yang penting sekseang aku dan Papa hidup bahagia. Janji ya, Papa jangan bikin masalah lagi," balas Qiandra.
Yah, ini mungkin bukan akhir bahagia bagi semuanya. Fania masih harus mendekam cukup lama di penjara. Demikian juga dengan Sania.
Dan kedua orang tua Rania Putri masih meninggalkan luka atas kepergian anaknya dengan cara keji. Tapi untungnya, Arka dan Livy adalah anak-anak yang baik. Dan Rania juga masih menganggap Jennia Putri dan Gelfara sebagai orang tuanya.
Tak hanya itu, Malfoy juga meminta maaf secara langsung pada kedua orang tua itu.
Gimana menurutmu? Apa hukuman yang diterima Fania cukup adil?
(Tamat)
Terima kasih sudah membaca Novel absurd ini sampai tamat. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author.
Sampai jumpa lagi di karya berikutnya...
...β€β€β€β€β€...
__ADS_1