
"Cepatlah pegang tali ini. Terserah kau mau keluar dari sana atau tidak," seru Qiandra lagi.
Meski hatinya masih diliputi keraguan, Rania tidak punya pilihan lain. Ia memegang erat tali itu.
Hingga beberapa detik kemudian, tali itu tidak juga bergeser satu milimeter pun.
"Berratt.." batin Qiandra. Ia menarik tali itu sekuat tenaga.
"Ah, bodohnya aku. Berat badan Rania yang hampir sama denganku, bagaimana aku bisa menariknya keluar?" pikir Qiandra. Ia lalu melepaskan tali itu.
"Lho, kok?" Rania mengernyit heran, melihat tali yang dipengangnya kendor.
Tiba-tiba...
"Rania, menyingkir ke dekat dinding."
Qiandra datang membawa setumpuk karpet yang terbungkus plastik.
"Tidak mau! Dinding ini banyak cacingnya," balas Qiandra.
"Kau mau keluar dari sana nggak? Kalau aku memanggil bantuan ke atas, memangnya kamu berani di ruangan ini sendiri? Butuh waktu lama lho untuk naik dan kembali lagi ke sini?" kata Qiandra.
Uh, lagi-lagi Rania tidak bisa membantah kalimat Qiandra.
"Ya sudah. Aku minggir, nih," ucap Rania.
Bam! Qiandra melemparkan karpet ke bawah sebagai tangga darurat. Cipratan air kotor dan bau yang menggenang, membasahi hampir seluruh tubuh Rania.
"Gimana? Bisa naik, nggak?" tanya Qiandra.
"Bisa, cuma agak susah nih. Kakiku sepertinya terkilir," kata Rania.
"Terus gimana lagi? Aku nggak bisa menjangkau lantai atas," ucap Rania.
Bruk! Kali ini Qiandra meletakkan beberapa kotak yang mirip kotak perhiasan di atas tumpukan karet. Kini posisi Rania jauh lebih tinggi dibandingkan tadi.
"Pegang tali ini selagi kau memanjat," ucap Qiandra.
Kedua wanita itu saling bahu membahu hingga Rania keluar dari jebakan tersebut.
"Ah, sialan! Ini benar-benar hari yang buruk bagiku," keluh Rania ketika telah berada di atas.
"Sorry, Rania," ucap Qiandra.
"Huh! Apa sih maksudmu membawa ke sini?" Rania masih merasa kesal dengan Qiandra.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menunjukkan, ini lho rumahmu yang sebenarnya, banyak hal mistis di dalamnya. Jadi wajar saja kalau dulu aku berpikir, kamu lah yang menggunakan ilmu hitam padaku," kata Qiandra.
"Ngomong apa sih kamu? Aku aja baru tahu semuanya hari ini," balas Rania.
"Apalagi malam tadi juga bulan purnama, biasanya sosok itu datang menakutiku. Aku berharap, dengan membawamu ke sini, kita bisa menyelesaikan masalahnya," ucap Qiandra.
"Kalau kamu memang mau menyelesaikan masalah ini, ya berikan saja gelang yang aku minta kemarin," kata Rania.
"Gelang itu tidak ada padaku, Rania. Aku sudah mencarinya," balas Qiandra.
"Gelang itu ada di kamar. Di dalam brankas perhiasan," jelas Rania.
"Tidak ada. Aku sudah membongkar semuanya," kata Qiandra lagi.
"Bohong! Itu hanya alasanmu saja, kan?" ucap Rania. "Kau ingin mempertahankan posisimu di sini, kan? Kalau tidak, untuk apa kamu mengganti warna rambut, style berpakaian serta mempelajari bahasa Rumania?"
Tiba-tiba Rania kembali tidak bisa mengendalikan rasa emosinya.
"Beberapa saat yang lalu, aku masih menganggapmu teman. Aku membantumu keluar dari jebakan itu dan juga berusaha mencari jalan keluar masalah kita. Tapi ternyata kau terus memandangku jahat."
Nada bicara Qiandra terdengar lebih lemah dari biasanya.
"Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat tidak mengenali seorang pun di rumah ini? Tidak mengingat semua kejadian yang telah berlalu? Sakit hatiku," ucap Qiandra.
Rania sedikit merasa bersalah mendengar pengakuan Qiandra. Tapi ia masih tidak mau lengah dari jebakan gadis itu.
"Aku mempelajari bahasa kampung halaman nenek, agar bisa membaca semua buku-buku itu. Sama sepertimu, aku pun berharap semua keanehan ini akan berakhir," ucap Qiandra.
"Dari salah satu buku itu juga aku tahu, kalau sihir atau ilmu hitam terjadi tanpa sebab yang jelas, artinya kita telah melanggar sesuatu larangannya, atau kita tanpa sengaja mendekati dan membuat mantranya bekerja," lanjut Qiandra lagi.
"Buku-buku tua itu maksudmu, kan?" Rania menunjuk setumpuk buku di sudut ruangan. Qiandra mengangguk.
"Kalau gitu, kenapa kau nggak ngomong langsung sama aku? Mengapa susah payah mempelajari bahasa Rumania segala? Kau pasti ingin mempertahankan citraku, agar kamu semakin diakui sebagai pewaris tunggal keluarga ini."
Rania masih terus mempertahankan pendapatnya.
" Ngomong apa sih, kamu? Terserahlah kalau kau tak percaya. Kau boleh bawa semua buku itu. Lakukan saja semaumu sekarang." Qiandra terlihat kecewa.
"Aku bukannya tidak ingin bekerja sama denganmu, tapi aku sudah berusaha mungkin melakukannya. Dan gelang yang kau minta itu juga tidak aku temukan," kata Qiandra lagi.
"Qian... Apa kau benar-benar..."
"Aku sudah selesai main petak umpetnya. Kau mau keluar atau tidak?"
Qiandra sengaja memotong kalimat Rania. Hatinya sangat kecewa. Tetapi di hati kecilnya ia menyalahkan dirinya sendiri, yang dulu tidak pernah bersikap baik pada Rania. Jadi wajar saja jika cewek berambut hitam panjang itu mencurigai dirinya.
__ADS_1
"Aku ikut keluar juga. Aku harus membersihkan tubuhku dari lumpur dan cacing yang masih menempel," ucap Rania.
Atas bantuan Qiandra, Rania pun membersihkan dirinya di salah satu kamar mandi di lantai dasar. Ia juga meminta para pelayan membawakan pakaian bersih untuk Rania.
"Nona, ada Tuan Mikko," ucap salah satu pelayan.
"Baiklah, suruh tunggu sebentar di ruang tamu. Lima menit lagi kami ke sana," jawab Qiandra.
Lima menit kemudian, sesuai janji Qiandra, mereka pun menemui Mikko di ruang tamu.
"Rania? Kau nggak apa-apa? Aku khawatir padamu, karena kau tidak mengangkat teleponmu dan riba-tiba menginap di sini," ucap Mikko khawatir.
"Ya, aku nggak apa. Tadi kami hanya berjalam di sekitar rumah saja, dan aku tanpa sengaja terjatuh ke dalam lumpur," kata Rania.
"Terus sekarang Qiandra mana?" tanya Mikko.
"Lho, bukannya tadi jalan bersamaku, ya?" Rania lebih bingung dibandingkan Mikko.
Pada saat yang sama di balik pilar lantai dua...
"Semoga tindakanku ini bisa menebus kesalahan-kesalahanku pada Rania selama ini. Sekarang yang terpenting, aku harus mengusut tuntas Fania, Sania dan juga Darrent yang sudah menyebabkan masalah besar di perusahaan. Aku juga harus mulai mencari, siapa orang tua kandungku," batin Qiandra dalam hati.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Rania dan Mikko berbincang cukup lama namun Qiandra tak kunjung muncul.
"Sebentar, aku panggil Qiandra dulu," ucap Rania diikuti anggukan kepala dari Mikko.
Rania pun menyusuri tangga belakang, karena tangga utama sedang dibersihkan oleh para pelayan.
Rania melalui ruang perpustakaan, ruang baca, hingga ruang musik yang tadi belum sempat dikunkunginya bersama Qiandra.
Tiba-tiba mata Rania menangkap sesuatu di ruang galeri seni yang pintunya terbuka setengah.
"Kenapa aku seperti sangat mengenal lukisan ini? Apa ini salah satu lukisanku yang belum selesai?"
Rania memberanikan diri masuk ke ruangan itu dan menyentuh lukisan pemandangan danau dan matahari terbenam yang belum selesai.
"Uh... Kepalaku kenapa sakit sekali?" keluh Rania.
Lalu beberapa saat kemudian.
"Astaga! Aku ingat! Lukisan ini kan...?"
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...