Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 64 - Jennia Putri


__ADS_3

"Kamu kok sekarang jadi penakut, sih? Kebanyakan nonton film horor, ya?"


"Hehehe..."


Rania menggaruk kepalanya yang nggak gatal.


"Jangan hehehe doang. Tadi kamu berisik banget, tahu. Untung gak sampai digedor tetangga."


Bang Arka masih mengomel sepanjang jalan. Mereka berbelok ke arah kiri lalu melalui puskesmas.


"Bang, kita bertiga lahir di sini, ya?" Rania menunjuk ke arah puskesmas yang kini gelap gulita itu.


"Bukan. Kita lahir di puskesmas dekat SD sana." Arka menunjuk ke arah jalan besar. "Puskesmas yang ini baru dibuat waktu kamu SD," lanjutnya lagi.


"Ooo..." gumam Rania.


"Kenapa? Tumben tanya-tanya?"


"Ya aku kan nggak ingat semuanya sejak kecelakaan," ujar Rania.


"Ah... Beneran lupa, ya? Btw kamu loh yang paling dramatis dulu lahirnya," ucap Arka.


"Kok gitu?"


"Waktu itu musim hujan. Belum zamannya HP. Ibu di rumah sendirian," Arka memulai ceritanya.


"Ayah dan Abang ke mana?"


"Ayah bekerja dan Abang sekolah." Arka memperlambat langkah kakinya.


"Di tengah hujan lebat ibu keluar rumah cari bantuan, terus ketemu salah seorang warga dekat persimpangan. Bapak itu pergi mengantar ibu ke puskesmas pakai becak."


"Terus aku lahir?" tebak Rania.


"Nggak. Ibu menahan sakit sampai tiga jam. Ayah dijemput sama tetangga kita." Arka melanjutkan ceritanya.


"Emang waktu itu ayah kerja di mana?"


"Di rumah keluarga Eikberg, sebagai petugas taman."


"Eikberg? Mungkinkah itu keluarga Audrey?" pikir Rania.


"Terus, gimana keadaan ibu waktu itu?"


"Ibu hampir dirujuk ke rumah sakit untuk operasi. Tapi karena terkendala biaya, akhirnya ibu tetap dirawat di puskesmas sampai kamu lahir."


Arka menghentikan ceritanya sejenak. Dia menoleh ke arah Rania.


"Saat itu abang pikir udah hampir kehilangan mama. Abang benar-benar takut, sampai siang malam berada di samping mama."


Rania menghentikan langkahnya. Dia takut bertanya apa yang terjadi saat itu. Apakah saat itu ibu mengalami koma?


"Lho, kok malah nangis?" Cowok tampan itu mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Aku nggak tahu kalau perjuangan ibu sangat besar. Aku merasa bersalah sering ngambek sama ibu."


"Ya, wajar kalau kita kadang merasa kesal dan sedih. Tapi jangan sampai melukai hatinya, apalagi melawannya," sahut Arka.


"Itu sebabnya ibu selalu khawatir kalau kamu pulang terlambat," lanjut mahasiswa fisika itu.


"Bang, apa aku punya kembaran?" tanya Rania tiba-tiba.

__ADS_1


"Kembaran? Nggak mungkin. Abang tahu banget waktu kamu lahir."


Arka mengusap kepala Rania dengan sayang.


"Kamu itu waktu baru lahir, warna kulitnya merah banget. Alisnya hitam dan cantik." Arka mengenang kembali saat ia pertama kali menggendong adik kecilnya.


"Kenapa kamu bisa berpikiran gitu?" Arka balik bertanya pada Rania. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kemarahan.


"Aku sering bermimpi seram. Seseorang yang mirip denganku mengalami kecelakaan tragis dan jasadnya tak ditemukan siapa pun." Rania memberanikan diri cerita pada Arka.


"Jadi itu sebabnya kamu selalu merasa ketakutan?"


Rania mengangguk, "Kadang aku merasa, dia ada di dekatku. Memperhatikanku."


"Abang sama sekali tidak mengenal orang lain yang berparas mirip denganmu," jawab Arka. Sorot matanya menggambarkan kejujuran.


"Jangan takut Rania, kamu kan nggak sendirian di rumah. Semoga saja itu hanya mimpi buruk."


"Abang masih ingat tentang keluarga Eikberg itu?"


"Tentu saja. Gimana abang bisa melupakan mereka?"sahut Arka. Nada suaranya naik satu oktaf.


"Ayah udah bekerja dengan keluarga mereka sejak belum menikah. Tapi balasan mereka dengan kita malah seperti itu."


"Emang apa yang terjadi?"


"Mereka hampir melenyapkanmu dua kali," jawab Arka.


"Astaga!"


Rania terkejut mengetahui fakta itu. "Apa mereka punya anak perempuan?"


"Maksudmu Audrey? Kalau bukan karena dia, pasti kamu nggak bakalan kehilangan ingatan kayak gini."


Obrolan mereka terjeda sejenak, ketika memasuki minimarket yang buka dua puluh empat jam tersebut.


🌺🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya...


Hari ini hati Livy berbunga-bunga. Pasalnya, ia akan menandatangani kontrak dengan Aslee Fashion.


Ditemani ayah dan ibu, dia datang menggunakan dress simpel dan rambut di kepang dua. Tak lupa ia menggunakan pita rambut berwarna senada.


"Uwwaah... Besar banget gedungnya. Sedangkan kita nanti akan ke lantai lima," seru Livy ketika menjejakkan kaki ke halaman kantor Austeen Corp.


"Berkat kamu, ayah dan ibu juga bisa mengunjungi perusahaan sebesar ini," ujar ayah bangga.


Livy tersenyum senang melihat ayah ibunya begitu bahagia.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan ramah.


"Selamat siang, putri kami, Livy Talisa Putri ada janji tanda tangan kontrak dengan Aslee Fashion," ucap ayah.


"Oh... Sebentar ya, Pak." Resepsionis tersebut mengecek komputer.


"Nanti jam dua bertemu dengan Ibu Fania Ansley ya, Pak di lantai lima. Tanda tangan kontrak dengan Aslee Fashion akan dilakukan di sana," jelas resepsionis kemudian.


"Untuk saat ini Bapak dan Ibu silakan menunggu di ruang tunggu dulu sampai ada pemberitahuan," lanjut resepsionis itu lagi.


"Baiklah. Terima kasih, Nona," jawab ayah.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Sebuah mobil BMW i8 roadster berwarna navy berhenti di lobby. Seorang wanita berwajah timur tengah campur kaukasian turun dari mobil mewah tersebut. Beberapa orang menyambutnya.


Deg! Tiba-tiba langkah wanita cantik itu terhenti.


"Aku nggak salah lihat, kan? Itu Jennia Putri. Kenapa dia ada di sini?" Chloe menajamkan indra penglihatannya.


Seorang wanita yang sedang duduk di sebuah ruangan berbatas kaca bening, mengalihkan seluruh perhatian Chloe.


"Aku tidak salah lagi. Itu pasti Jennia Putri."


Chloe mengingat-ingat wajah Jennia yang terdapat dalam foto dari asistennya beberapa bulan lalu.


"Nyonya, mau ke mana? Rapat di mulai lima menit lagi."


Salah seorang asisten Chloe berusaha menghentikan langkah wanita itu.


"Kalian duluan saja. Katakan aku akan segera menyusul," sahut Chloe tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi..."


"Ada sesuatu yang harus aku urus lebih dulu," ujar Chloe tegas.


"Eits, mau ke mana kamu?" seseorang menarik lengan Chloe hingga memerah.


"Fania?" Chloe berdecak kesal.


" Di saat penting gini kenapa malah ada dia, sih?" gumam Chloe.


"Kamu mau ke mana?" Fania masih enggan melepaskan lengan Chloe.


"Bukan urusan kamu. Lepaskan ini, atau aku akan panggil keamanan."


"Nggak semudah itu, Chloe. Tempat ini milikku juga sekarang," jawa Fania sinis.


"Dan kamu, mau merebut bibit unggulku, kan?" lanjut wanita berambut pirang itu lagi.


"Apa maksudmu?" Chloe bingung.


"Aku tahu akal busukmu. Kamu mau menyabotase pekerjaanku, kan? Dengan begitu kamu bisa dengan mudah menjatuhkanku. Kamu lupa? Aslee Fashion sudah berada di tanganku."


Chloe menggeleng tanda tak mengerti, "Kebanyakan menghayal kamu!"


"Siapa bilang? Buktinya kamu mau menemui dia, kan, Livy Talisa Putri. Salah satu remaja yang mempunyai bibit ungul di bidang fashion."


Fania menunjuk ke arah Jennia Putri berada.


Ah, Chloe paham apa yang terjadi.


"Kamu salah paham, Fania. Aku bukan menemui gadis remaja itu. Tapi perempuan yang duduk di sebelahnya." Chloe menoleh ke arah Jennia.


Tapi...


"Ah, ke mana wanita itu?" Chloe berdecak kesal.


"Maaf Nyonya-nyonya. Kita sudah terlambat untuk rapat," ujar salah satu pegawai, menengahi pertengkaran.


"Gawat! Aku kehilangan dia lagi," gumam Chloe kesal.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2