
"Kamu... Edlyn Rania Austeen, kan?" seorang wanita memanggil Rania.
Deg! Jantung Rania berdegup kencang. Siapakah sosok yang mengenali dirinya?
"Ibu?" Rania mengingat-ngingat seseorang yang memanggil nama aslinya tersebut.
"Ya, kita yang bertemu di angkot waktu itu," jelasnya.
Oh, ya ampun. Rania baru mengingatnya. Hatinya sedikit kecewa. Ia pikir seseorang benar-benar mengenali dirinya yang asli.
"Saya memiliki hutang pada ibu, ya. Syukurlah kita bertemu di sini. Maaf saya belum menepati janji pada ibu," ucap Rania. Tangannya mencari-cari dompet di dalam tas.
"Tidak, Nak. Ibu bukan mau menagih hutangmu. Ibu ikhlas membantumu saat itu. Ibu benar-benar salut, keluarga Austeen ternyata benar-benar berhati mulia," kata wanita itu.
Anjani dan Alvi menatap Rania dengan penuh pertanyaan.
"Eem.. Maaf, Bu. Saya waktu itu hanya bercanda mengatakan putri keluarga Auteen. Tetapi memang benar, jika keluarga Austeen berhati mulia. Putrinya adalah teman sekelas saya. Saya benar-benar minta maaf, Bu," kata Rania malu. Ia memberikan selembar uang lima ribuan
"Oh, begitu ya. Tidak apa-apa, Nak. Saat itu kamu pasti panik karena hampir terlambat. Tetapi ongkos kemarin tidak perlu dibayar, ya. Ibu ikhlas, kok," ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Hei, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu pasti mengaku sebagai anak keluarga Austeen lagi," bisik Anjani pada Rania ketika mereka mengantre di kasir.
"Hehehe... Lupakan saja. Aku malu," kata Rania.
Jantung Rania masih berdegup kencang. Ia tadi sempat berpikir, jika ada orang yang mengenali dirinya yang asli. Yakni putri tunggal Geffie dan Chloe Austeen. Tetapi sayang, dugaannya salah.
Kini posisi tersebut malah diisi oleh rivalnya, Qiandra Austeen, yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan keluarga Austeen. Apakah tak ada satu pun yang ingat, orang tua asli dari Qiandra?
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Nona, apakah Nona benar-benar absen di acara panti asuhan sore ini? Ini perintah langsung dari Nyonya, lho," ucap Sania.
Asisten pribadi itu menyibakkan kain gorden jendela. Matahari yang mulai beranjak tinggi, menyebarkan sinarnya melalui jendela kamar Nona muda.
"Kamu sudah mempertanyakan hal itu sebanyak tiga belas kali hari ini. Mau bertanya sampai berapa kali lagi baru berhenti?" sahut Qiandra dengan kesal.
__ADS_1
"Saya tidak akan berhenti bertanya sampai Nona berubah pikiran," jawab Sania.
"Sania, aku tidak akan pergi. Aku malas berjumpa anak-anak tersebut. Kotor, bau, tidak terurus. Mana mereka rewel lagi," kata Qiandra.
"Bukannya Nona sangat menyukai anak-anak? Biasanya Nona selalu bersemangat jika akan mengunjungi panti asuhan. Bahkan Nona selalu menyisihkan uang saku untuk membeli hadiah sendiri," kata Sania.
"Ih, kapan? Mana pernah aku begitu. Lebih bagus uangnya aku simpan untuk beli koleksi brand terbaru," kata Qiandra.
Gadis itu telah bosan. Setiap hari orang-orang selalu mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan dirinya. Seakan-akan yang mereka ceritakan bukanlah dirinya, melainkan orang lain. Putri lain dari mama dan papanya. Pikirannya langsung teringat pada Rania.
"Sania, apakah mama pernah cerita tentang anaknya?" tanya Qiandra.
"Maksudnya cerita bagaimana? Cerita dengan siapa?" tanya Sania tak paham.
"Apa mama punya anak selain aku?" tanya Qiandra blak-blakan.
"Astaga, Nona! Mana mungkin. Nona dengar gosip itu dari siapa, sih?" ucap Sania. "Ibu Felindra, yang juga ibu kandung saya, adalah orang yang membantu Nyonya melahirkan. Bahkan merawat Nona sejak bayi," jelasnya.
Qindra mangut-mangut mendengarnya, "Benar juga. Jika mama memang memiliki anak selain diriku, tidak mungkin ia melahirkan di rumah ini. Pasti ibunya Rania yang sekarang lah yang membantunya," pikir Qiandra.
Namun bagaimana pun juga, Qiandra belum menemukan bukti apa pun yang menunjukkan jika Rania adalah putri lain dari mamanya. Ia hanya mengambil kesimpulan berdasarkan kemiripan kedua wanita tersebut.
"Lah, Nona bicara apa? Setiap ke panti asuhan, Nona kan selalu mengambil foto dengan ponsel Nona. Apa semua fotonya sudah dihapus?" ucap Sania.
"Masa, sih?" gumam Qiandra. Tanpa perintah, ia pun segera membongkar galeri ponselnya.
Ternyata Sania benar. Banyak sekali foto-foto di panti asuhan. Bahkan salah satu ulang tahunnya, diadakan di panti asuhan.
"Heh, apa aku hilang ingatan? Aku sama sekali tidak pernah merasa mengunjungi mereka?" batin Qiandra. Tetapi yang dilihatnya saat ini benar-benar foto dirinya. Apa sebenarnya yang tidak beres?
Drrttt...
Foto di layar ponsel yang sedang dipandangnya berubah menjadi tampilan panggilan masuk.
"Duh, mama telepon deh," gumam Rania. Ia sudah bisa menebak, apa yang akan dikatakan mamanya.
"Kamu kenapa nggak datang ke acara panti, Nak? Padahal kita founder utamanya," ucap Chloe di seberang sana.
__ADS_1
"Nah, benar kan dugaanku," batin Qiandra.
"Mama bangun pukul tiga pagi hanya untuk menanyakan itu?" ucap Qiandra.
Perbedaan waktu antara Indonesia Bagian Barat dengan Inggis adalah enam jam. Saat ini di Indonesia menunjukkan pukul sembilan pagi, artinya di Inggris baru sekitar pukul tiga pagi.
"Hah..." Terdrngar Chloe menghela napa, "Kamu tahu, kan... Itu acara penting. Kenapa kamu banyak berubah gini, sih?" ucap Chloe dengan nada meningkat satu oktaf.
"Duh, Ma... Aku tuh malas banget jumpa mereka. Dekil, bau, cerewet," kata Qiandra.
"Astaga! Kamu di sekolah bergaul sama siapa, sih? Kenapa sifatmu berubah drastis seperti ini?" Kali ini suara Chloe sudah melengking sangat tinggi.
"Erghhh... Mulai deh mengomel," batin Qiandra.
"Anak mama satu-satunya sudah bersikap kasar dan sombong seperti ini. Mama kecewa sekali sama kamu. Kamu tidak pantas bicara seperti itu. Mereka sama dengan kita. Apa kamu lupa papa dan mama berasal dari kalangan mana?" lanjut Chloe.
"Yakin aku anak mama satu-satunya?" selidik Qiandra.
"Lho, ya iya lah. Anak asuh mama memang banyak. Tetapi anak kandung mama dan papa ya cuma kamu. Dan sekarang kamu malah benar-benar mengecewakan mama," balas Chloe.
"Anak kandung 'mama dan papa'? Nah, jika papanya ada yang lain berarti ada anak lainnya juga dong," batin Qiandra lagi.
"Halo? Qian?" panggil Chloe.
"Hmm... Iya, Ma," sahut Qiandra ogah-ogahan.
"Pokoknya Mama gak mau dengar, ya. Kamu mangkir lagi dari kegiatan amal. Kecuali ada kegiatan sekolah yang tidak bisa ditinggalkan," perintah Chloe.
"Iya, deh," jawab Qiandra setengah hati.
"Sania, siapkan baju dan mobil. Aku mau ke pesta jam sebelas nanti," perintah Qiandra setelah Chloe menutup teleponnya.
"Tetapi Nyonya kan baru saja meminta Nona hadir di acara itu?" kata Sania.
"Tidak harus hari ini, kan? Acara amal tidak hanya ada satu. Aku masih bisa menghadirinya besok. Aku lelah. Semua orang membentukku seperti orang lain. Apa aku tidak bisa melakukan hal yang aku inginkan? Aku bukan boneka," ucap Qiandra penuh emosi. Ia menarik tubuhnya ke bawah selimut tebal.
Sania terdiam. Ia sadar jika Nona mudanya lelah diatur-atur. Tetapi bukankah dulu dirinya suka kegiatan seperti ini? Atau semua itu hanya berpura-pura?
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...