
Harum bunga kenanga, berpadu dengan wangi vanilla dari parfum mewah milik Audrey. Bongkahan batu monocrom berjajar dengan rapi membentuk barisan panjang.
"Tante, maaf. Saya baru datang lagi setelah sekian lama," ucap Audrey lirih.
Gadis berdarah Eropa itu meletakkan sebuket bunga anyelir yang dipadukan dengan lily putih. Tak lupa ia mengirimkan doa untuk seseorang yang telah pergi lebih dulu dari dunia fana ini.
Drap! Drap! Drap!
"Audrey! Sudah ku duga, kamu pasti di sini."
"Hai, Mikko. Apa kabar?" sapa gadis itu dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Aku... Hosh... Hosh.. Aku kaget banget waktu dengar kamu bakal datang ke Indonesia," ujar Mikko dengan suara terbata-bata. Napasnya sesak karena ia berlari dari parkiran menuju ke areal pemakaman ini.
"Ya, aku sedang ada project bagus di sini. Sekalian mengunjungi tante," jawab Audrey.
"Kamu pasti tidak pernah ke sini, kan? Lihatlah, rumputnya sudah melebihi tinggi lututku," lanjut gadis itu lagi.
"Hmm... Begitulah. Aku, cukup sibuk." Mikko mengalihkan pandangan dari wanita itu.
"Alasan! Kamu pasti hanya malu jika tante melihatmu menangis, kan?" tebak Audrey.
"Ya... Begitulah. Aku malu pada mama, setiap kali aku datang selalu menumpahkan air mata di depan pusaranya."
"Sudah kubilang, menangis itu bukan tanda cowok lemah. Justru artinya ia memiliki hati yang lembut dan sangat menyayangi orang yang berharga baginya," ceramah Audrey.
Mikko hanya mendengarkan omelan wanita itu sambil tersenyum simpul.
"Mikko, tante itu orang yang sangat baik. Aku tahu itu, walau pun bertemu dengannya sangat sebentar. Jadi setidaknya, aku harus mengunjunginya setiap kali ada di Indonesia," Audrey terus menceramahi Mikko.
"Kamu memang gadis yang manis, Audrey," celetuk Mikko.
"Ya... Ya... Simpan saja gombalanmu itu untuk Rania. Jadi gimana keadaan Rania sekarang? Apa kau sudah menyatakan perasaanmu?" goda Audrey.
Wajah Mikko berubah seketika. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan gadis itu.
"Mikko, kamu tahu kan, aku sudah tidak mempermasalahkan kejadian waktu kami kecil dulu. Kami bahkan dulu belum tahu apa itu susu basi? Tapi orang tuaku memang sangat berlebihan," ucap Audrey.
Matanya yang biru menatap langit yang dihiasi gumpalan awan-awan putih. Cuaca di musim kemarau ini memang cukup terik. Sesekali udara berhembus pelan, membawa butiran pasir dan yang sudah lama tidak tersiram air hujan.
"Orang tuamu memang sangat keterlaluan. Terutama saat kegiatan perkemahan pramuka waktu itu. Apa harus menghentikan pencarian seperti itu?" ucap Mikko dengan nada emosi.
__ADS_1
"Hmm? Jadi mana yang kamu percayai? Apakah tragedi itu terjadi satu tahun yang lalu sebelum aku pindah, atau hanya beberapa bulan yang lalu? Setelah itu tidak ada kegiatan perkemahan pramuka lagi, kan?" selidik Audrey.
Mikko membulatkan matanya. Mulutnya terbuka.
"Iya juga, ya? Padahal Rania sudah mengatakan ini berulang kali padaku. Tetapi kenapa baru sekarang aku memahaminya?" ucap Mikko pada dirinya sendiri.
"Mikko, aku memiliki penyesalan yang amat dalam pada Rania. Hingga aku pindah sekolah, aku tidak ada mengucapkan kata maaf padanya atas kejadian saat itu. Setiap saat aku hanya berdoa, semoga malaikat menyelamatkannya dari maut."
Sudut mata Qiandra basah. Beberapa detik kemudian ia pun terisak. Pasti hatinya sudah lama menahan perasaan ini.
"Mikko, apa kamu yakin, Rania yang di hadapan kita sekarang adalah Rania Putri?" ujar Audrey di sela isak tangisnya.
"Apa maksudmu, Audrey? Memangnya Rania punya kembaran?" tanya Mikko.
"Aku takut, kalau aku benar-benar kehilangan kesempatan untuk mengucapkan maaf pada Rania. Aku takut kalau dia sudah..."
"Hei, hentikan kalimatmu itu. Aku tak suka mendengarnya."
Mikko menarik Audrey ke dalam pelukannya. Ini adalah pertama kalinya ia memeluk wanita selain sang ibunda.
"Apa kamu dulu mengenal Rania Austeen saat kelas satu SMA? Ia berada di kelas yang sama dengan Rania Putri. Seharusnya semua orang menyadarinya, bahwa hanya tinggal ada satu 'Rania' saat ini," ucap Audrey lirih.
Perlahan, wanita itu melepaskan dirinys dari pelukan Mikko. Ia tidak ingin orang lain salah paham. Mikko hanyalah sahabatnya, tidak lebih.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apa ini benar-benar Nona?" Musliha mengatupkan bibirnya melihat Rania.
"Ssstt... Kecilkan suaramu, Musliha. Aku sendiri masih belum yakin soal itu," ucap Rania.
Di luar dugaan, ternyata Qiandra benar-benar menceritakan tentang mereka pada Musliha, asisten koki di rumah tersebut.
"Aku kira dia hanya tukang ngibul aja," bisik Rania.
"Apa, Nona?"
"Ah, tidak ada apa-apa," ucap Rania.
"Tadi Nona Qiandra berpesan, sembari menunggunya bersiap-siap untuk pergi meeting, Nona boleh makan apa saja di sini. Apa Nona ingin saya masakkan sesuatu?" ujar Musliha.
"Emm... Tidak usah. Aku sungkan," sahut Rania.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nona. Ini perintah langsung dari Nona Qiandra. Bagaimana jika saya masakkan sarmale*?" ucap Musliha.
(*Makanan khas Turki)
"Eh, gitu ya? Boleh, deh."
Tiga puluh menit kemudian...
"Qiandra! Apa yang terjadi pada rambutmu?" seru Rania ketika melihat Qiandra.
"Kenapa? Terlihat lebih bagus, kan?" ujar Qiandra santai.
Rania berdecak kesal melihat penampilan baru dari majikannya tersebut. Wanita yang terlahir dengan rambut pirang khas bangsa kaukasian itu, kini mengubah warna rambutnya dengan warna hitam.
Bukan cuma itu, penampilannya yang bak barbie itu diubah menjadi lebih sederhana dengan pakaian cukup tertutup. Itu merupakan ciri khas Rania.
"Kenapa dia semakin mengikuti penampilanku? Bahkan ia mau bersusah payah mempelajari bahasa Rumania. Untuk apa?" gumam Rania dalam hati.
"Kenapa kau terlihat kesal? Bukankah kita jadi seperti anak kembar?" kata Qiandra cuek.
"Hmm? Tidak apa-apa." Rania beranjak dari kursinya dan bersiap untuk berangkat.
"Bagaimana persiapan adikmu untuk acara besok malam? Bawa saja ia dan ibumu ke sini untuk make up bersama kita," usul Qiandra.
Rania menghentikan langkahnya, "Kenapa kamu tiba-tiba jadi baik begini?" tanya Rania dengan suara tinggi.
"Apa maksudmu?" ucap Qiandra dengan kening berkerut.
"Kenapa kamu menjadi baik? Ini semakin menyulitkanku. Apa rencanamu?" desak Rania.
"Rencana apa? Memangnya salah kalau aku berbuat baik?" balas Qiandra.
"Ini tidak seperti dirimu yang biasanya," kata Rania lagi.
"Jadi kamu lebih menyukaiku yang tukang bully dari pada yang seperti ini?" Qiandra menggenggam tangannya untuk menahan emosi.
"Mungkin iya. Sejak aku mengenalmu enam tahun lalu, kita tak pernah menoreh sejarah dengan hubungan baik. Kamu selalu berlomba padaku untuk menunjukkan, siapa yang terbaik di antara kita," kata Rania panjang lebar.
"Itu aku yang dulu, Rania. Meski pun sekarang aku tak ingat apa-apa lagi. Yang kuingat, hanya diriku yang selalu merasa kesepian, sendirian, walau berada di pusat keramaian sekali pun. Apa aku tak punya kesempatan untuk berubah?"
Rania menghembuskan napasnya dengan kesal. Ia tidak boleh terbuai dengan kata-kata cewek itu. Ia adalah ahlinya playing victim.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.