Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 34 - Super Blue Blood Moon


__ADS_3

"Kak, katanya malam ini ada fenomena 'Super Blue Blood Moon', ya? Apa itu? Kedengarannya keren sekaligus misterius," ucap Livy saat mendengar berita di televisi. Ia tadi bertugas membersihkan ruang keluarga.


"Super blue blood moon? Maksudnya gerhana bulan total, kan?" sahut Rania sambil terus menyiang bayam untuk makan siang.


"Fenomena itu lebih dari sekedar gerhana bulan total biasa. Dinamakan Super blue blood moon karena peristiwa tersebut merupakan gabungan dari tiga fenomena bulan sekaligus," jelas Mikko.


"Wah, keren banget. Emang fenomena apa saja yang terjadi?" tanya Livy antusias.


"Bulan akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi (perigee), sehingga tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari biasanya. Dan ini kejadian sangat langka. Hanya terjadi sekitar 150 tahun sekali," lanjut Mikko.


"Wih... Keren banget!" sahut Livy. "Eh, tetapi kenapa namanya ada 'blood moon-nya'? Apa ada hubungannya dengan kejadian supernatural atau mistis gitu?" tanya Livy lagi.


"Nggak lah, Dek. Itu murni fenomena alam. Semua bisa dijelaskan secara ilmiah. Tetapi di berbagai tempat, memang sering dihubungkan dengan hal-hal gaib atau mistis. Sesuai kepercayaan masyarakat setempat," jawab Mikko.


"Benar. Bulan akan ditutupi bayangan Bumi, membuatnya tampak kemerahan seperti darah, makanya disebut 'blood moon'. Hal ini karena sinar matahari menembus atmosfer Bumi dan meneruskan cahaya merah," ucap Bang Arka. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Ia baru selesai membantu ayah memotong rumput.


"Keren, ya. Ku pikir karena ada " blood"nya, ada kejadian berdarah kayak di film-film penyihir gitu?Hehehe... Apa kita bisa melihatnya langsung?" tanya Livy.


"Ih, Abang sok keren deh. Gak mau kalah sama Bang Mikko. Napas masih bengek gitu ikut-ikutan jelasin," protes Rania.


"Lah... Abang kan anak MIPA Fisika. Pasti tahu lah hal-hal yang seperti itu. Lagian Abang bukan sok keren, kok. Tapi emang keren," ucap Bang Arka.


"Eh, tunggu! Penyihir? Hmm...benar juga kata Livy," baton Rania.


"Yah... Malah berantem. Pertanyaan aku belum dijawab," protes Livy sambil memonyongkan bibirnya.


"Tentu saja bisa dilihat langsung. Tetapi akan lebih jelas jika menggunakan alat bantu. Aku punya teleskop sederhana, bisa aku pinjamkan," kata Mikko.


"Wah, beneran Bang? Mau banget..." kata Livy.


"Aku juga harus ikut bergadang. Kalau memang kejadian yang menimpaku adalah karena hal mistis, di saat seperti itu mungkin saja akan ada sesuatu yang terjadi," pikir Rania.


"Biasanya malam bulan purnama, bulan baru, satu suro dan sebagainya banyak digunakan untuk ritual mistis, kan? Di luar negeri juga begitu. Hari-hari tertentu digunakan untuk ritual," batin Rania lagi.


Duh, sebenarnya ia benci banget mempercayai hal-hal mistis seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Semua yang ia alami selama satu bulan ini saja sudah cukup aneh jika dipikirkan secara normal. Tidak ada salahnya kan ia mencoba cara lain?


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Kenapa sepi banget, sih?" gerutu Qiandra.

__ADS_1


Ia baru saja pulang dari pesta. Tak seperti biasanya, ia pulang diantar oleh Dewi. Sang supir yang telah menunggunya sejak sore, disuruhnya pulang duluan.


Ponselnya ia non aktifkan agar tidak terganggu telepon dan pesan masuk. Ia benar-benar ingin bebas hari itu.


Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Tetapi rumah mewah itu terasa bagaikan kuburan. Sepi kosong melompong. Padahal biasanya para asisten masih berada di rumahnya, mengerjakan tugas masing-masing.


"Sania," panggil Rania. Suara langkah kakinya menjejak di anak tangga terdengar sangat jelas, tanda bahwa rumah itu sangat sepi.


"Ugh, pada ke mana sih? Kepalaku pusing banget. Harusnya aku tadi minum cola saja di sana," keluh Qiandra.


Ia menuju ke kamar dan duduk di depan meja rias. Satu per satu dilepaskan aksesoris yang menempel di tubuhnya. Badannya yang gerah, tak sabar ingin segera bertemu dengan air.


"Ah, piyama mandiku di mana, ya? Lulurku juga di letak di mana sih?" batinnya. Ia tak menemukan barang-barang yang dibutuhkan di dalam kamar mandinya.


Selama ini segala seauatunya telah dipersiapkan. Ia tinggal mandi, makan dan tidur saja. Bahkan pakaian kotor pun, ia tidak pernah tahu di mana letaknya. Semua sudah ada yang mengurus dan merapikan.


Dengan terpaksa, Qiandra melangkahkan kaki keluar kamar. Menyusuri setiap ruangan dan anak tangga di rumah itu.


"Genny, Sania ada di mana ya?" tanya Qiandra pada salah seorang asisten rumah tangga. Ia biasanya bertugas menyikat kamar mandi dan dapur.


"Tadi saya lihat ia di kamarnya, Nona. Kamar ya berada di ujung lorong lantai satu," jawab Genny.


"Baik, Nona," jawab Genny.


Qiandra menuruni anak tangga. Menyusuri lorong lantai satu rumahnya hingga ke ujung.


"Kamar Sania di mana, sih? Katanya di sini?" keluh Qiandra. Meski perlengkapannya disediakan oleh Genny, namun ia tetap masih membutuhkan asisten pribadinya tersebut.


Satu per satu pintu kamar ia ketuk. Beberapa ruangan di antaranya kosong, tak berpenghuni.


Para asisten rumah tangga sebenarnya memiliki perumahannya sendiri, di belakang rumah utama. Namun bebeberapa asisten pribadi utama tetap tinggal di rumah itu untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu di butuhkan.


"Loh, bukannya aku tadi udah melewati ruangan ini, ya?" ucap Qiandra. Ia mengingat-ingat lorong yang dilewatinya tadi.


Duh, Qiandra baru menyadari jika dirinya ternyata tidak hapal isi rumahnya sendiri. Ia bahkan tak tahu kini dirinya berada di mana. Rumahnya terasa seperti labirin raksasa.


"Rasanya rumahku tidak sebesar ini? Bahkan aku dulu rasanya sangat hapal setiap sudut rumahku. Bahkan lorong rahasia para kucing dan tikus," batin Qiandra.


Ia benar-benar menyerah. Jangankan menemukan kamar Sania, kembali ke kamarnya pun ia tak tahu lagi harus lewat mana. Semua terlihat sama dan membingungkan. Entah berapa banyak ruangan di lantai itu.

__ADS_1


"Perasaan, dapur ada sayap kanan dan kamar Sania berada di ujung lorong sayap kiri, deh. Tetapi kenapa aku tak menemukan ruangan tersebut?" Qiandra mulai panik.


Tempat ia berada sekarang, tidak dilewati oleh seorang asisten pun. Qiandra berteriak memanggil seseorang sambil terus menyusuri lantai satu, namun belum ada jawaban.


"Hei, apa kalian semua makan gaji buta? Jam segini kalian sudah pada ngorok? Kenapa tidak ada yang menyahutku?" seru Qiandra kesal. Padahal jika mama dan papanya ada, para asisten tetap berada di rumah hingga pukul sepuluh malam.


"Ruang apa ini? Sepertinya aku gak pernah lihat," gumam Qiandra sambil menuju ke sebuah ruangan di sudut lorong dengan pintu dipenuhi ukiran unik. Di sampingnya terdapat lukisan bergaya eropa klasik.


Tanpa ragu, Qiandra membuka pintu. Ternyata tidak terkunci. Namun, ruangan itu sangat berbeda dari bayangan Qiandra, dingin dan berbau apek, walau pun isinya cukup rapi.


"Sepertinya aku salah ruangan lagi," ujar Qiandra sebal. Ia sebenarnya ingin menyudahi ini. Tetapi belum menemukan jalan ke kamarnya.


"Qian," ucap seseorang. Qiandra berbalik badan.


"Ra-... Rania. Kenapa kamu di sini?" ucap Qiandra terkejut. Di hadapannya berdiri Rania putri, mengenakan baju pramuka lengkap. Dengan wajah sedikit pucat.


"Kamu mengenalku?" tanya wanita di hadapannya.


"Hei, jangan main-main kamu. Ini rumahku. Aku teriak saja kamu bisa dikepung para penjaga," ucap Qiandra. Walau pun ia sendiri sedikit ragu. Dari tadi kan sangat sepi.


"Kamu gak mau minta maaf padaku? Atas nama orang tuamu?"


"Apa sih, Rania? Aneh banget deh. Kamu gimana bisa masuk rumahku? Apa salah satu petugas keamanan di sini kenalanmu? Yang harusnya minta maaf tuh kamu," ucap Qiandra.


Tangannya menyentuh lengan teman sekelasnya, untuk menyeretnya keluar. Namun Qiandra terkejut, tubuh gadis itu sangat dingin, mirip mayat. Badannya pun kaku bagai patung. Meski ditarik sekuat tenaga, gadis itu tetap bergeming.


"Kamu tak akan bisa mengusirku dari sini, sebelum kamu dan orang tuamu meminta maaf kepadaku," ujar Rania. Wajahnya berubah. Qiandra seketika terkejut dan tak sadarkan diri.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Arka, Rania dan Livy duduk di halaman depan rumahnya, beralaskan tikar pandan yang sudah mulai lapuk. Mereka menyaksikan super blue blood moon yang hanya berlangsung beberapa menit, dengan teleskop mini milik Mikko.


"Indah banget. Luar biasa. Walau agak mendung, tetapi masih bisa lihat," komentar Livy.


Sementara Rania sama sekali tidak menikmatinya. Ia sedikit kecewa, karena tidak ada satu pun yang terjadi. Sepertinya hubungan antara fenomena alam dengan hal supernatural hanyalah mitos belaka.


Tetapi benarkah demikian?


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2