Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 24 - Kutukan Masa Lalu


__ADS_3

Tuk... tuk... tuk... Rania mengetuk-ngetuk ujung pensilnya di meja. Bola matanya memandang jauh ke luar jendela. Sekelompok anak-anak kelas satu sedang berbaris di lapangan mengenakan pakaian olahraga.


Para siswa tersebut terbagi menjadi beberapa barisan dan melakukan aktivitas yang berbeda. Ada yang berlatih baris berbaris, paskibra, dan lainnya. Ah, pasti mereka sedang berlatih upacara untuk kegiatan Hari Pendidikan Nasional mendatang.


Semua pemandangan itu membuat Rania teringat ucapan Pak Salamun tadi, "Perkemahan terakhir diadakan setahun yang lalu. Setelah itu kita mengentikan sementara kegiatan di luar. Kamu tahu kan, ada seorang siswi kita yang menghilang di danau?" ujar Pak Salamun saat jam istirahat tadi.


Akan tetapi, semua guru lainnya mengatakan baru dilaksanakan minggu lalu.


Manakah yang benar? Apakah Pak Salamun sengaja menyembunyikannya dari Rania? Ataukah ia memang mengatakan yang sebenarnya?


Setahu Rania, tahun lalu Pak Salamun sedang mengambil izin belajar untuk melanjutkan program magister. Mengapa ia lebih mengetahui kejadian tahun lalu dari pada yang terjadi baru-baru ini?


Rania bisa melihat dengan jelas potret dirinya berseragam pramuka lengkap yang berdiri di dalam barisan regu perempuan. Tetapi jika diperhatikan dengan jelas, warna mata gadis di dalam foto itu, berwarna cokelat. Sama dengan foto keluarga di rumah.


"Rania, apa Bapak kurang seram jika dibandingkan Ibu Atun?" ujar Pak Rayhan. Ibu Atun adalah guru kimia super killer dan paling tegaan di seantero sekolah internasional tersebut.


"Rania..." bisik Anjani sambil menyentuh lengan gadis tujuh belas tahun itu.


"Eh... Oh..." Rania tersadar dari lamunannya. Pak Rayhan telah berdiri persis di samping mejanya sambil membawa penggaris kayu legendaris. Giginya bergeretak menahan marah.


"Apakah Bapak harus pasang wajah Hitler dulu agar kamu takut? Atau pelajaran sejarah di kelas IPA membuatmu bosan?" tanya Pak Rayhan. Wajahnya kini justru lebih seram dibandingkan Hitler maupun Gengis Khan.


Rania menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah dan malu, "Tidak, Pak. Maafkan saya," ucap Rania.


"Rania, Bapak sudah mendengar kabar tentang kamu dari guru-guru lainnya. Belakangan ini kamu sering melamun di kelas. Bapak tidak tahu kamu ada masalah apa, tetapi cobalah untuk tetap fokus selama pelajaran berlangsung," ujar Pak Rayhan.


"Baik, Pak," ucap Rania lirih.


"Bukan karena putus cinta, kan?" tanya Pak Rayhan.


"Bukan, Pak," jawab Rania dengan pipi bersemu merah delima.


"Ya sudah, sekarang kita kembali ke pelajaran," ucap Pak Rayhan.


"Penyebab perang dunia pertama yang brrlangsung sangat lama, mencakup kebijakan luar negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Prancis, dan Italia. Pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris takhta Austria-Hongaria..." Pak Rayhan memulai penjelasannya.

__ADS_1


"Ssst... Rania... Kamu kenapa, sih? Jam istirahat tadi juga tiba-tiba menghilang?" bisik Anjani.


"Itu yang berbisik di belakang... Bapak bisa mendengar suaranya, ya..." tegur Pak Rayhan. Anjani segera membungkam mulutnya.


"Anjani, jelaskan alasan utama di balik terjadinya perang dunia pertama," ujar Pak Rayhan dengan tatapan tajam.


"Umm... itu..." Anjani merasa otaknya benar-benar blank saat ini. Ia sangat menyesali karena pelajaran sejarah bukanlah minatnya.


"Jika kamu sampai dua kali tak dapat menjawab pertanyaan dari Bapak, maka kamu di hukum nanti. Mengerti?," sambung Pak Rayhan.


"Mengerti, Pak," sahut Anjani malu.


Di sudut ruangan, Qiandra tersenyum sinis melihat kedua teman sekelasnya, " Dasar orang-orang rendahan. Rania pasti terlalu memikirkan ucapanku tadi pagi," gumam Qiandra dalam hati.


"Baiklah, kita sudahi materi hari ini. Nanti tulis alamat email kalian, dan kumpulkan kepada ketua kelas. Bapak akan mengirim tugas mandiri. Ingat, setiap siswa akan mendapat tugas yang berbeda-beda. Jadi kalian tidak bisa menyontek," kata Pak Rayhan mengakhiri kelasnya.


"Baik, Pak," jawab seluruh siswa.


"Oh iya. Rania, ikut Bapak ke kantor untuk menerima hukuman kamu. Jangan pikir Bapak melupakan kesalahanmu begitu saja," ucap Pak Rayhan.


"Rania, tuliskan alamat emailmu," pinta Anggit sang ketua kelas, sambil menyodorkan selembar kertas.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Permisi, Bu. Buku sejarah untuk kelas tiga di rak sebelah mana, ya?" tanya Rania.


"Untuk kelas Pak Rayhan, ya?" Bu Beva balik bertanya.


"Iya, benar," jawab Rania.


"Ada di blok G4, rak paling tepi. Nanti catat di komputer, ya," kat Bu Beva.


"Terima kasih, Bu," jawab Rania. Gadis jelita itu mendorong sebuah troli menuju lorong yang ditunjuk oleh petugas perpustakaan tadi. Ia mesti membawa tiga puluh buku sejarah, sesuai hukuman Pak Rayhan.


Bola mata Rania memandang sekeliling dengan takjub. Ia memang suka membaca sejak kecil, tetapi ia jarang sekali membaca buku-buku sejarah. Sepertinya menarik juga.

__ADS_1


"Ah, itu dia," Rania berdiri di depan rak ping tepi, blok G4.


Deretan buku panduan sejarah kelas XII IPS berjajar rapi di setiap rak. Sampulnya berwarna maron, dengan gambar utama Napoleon Bonaparte. Sesuai permintaan Pak Rayhan, ia mengambil tiga puluh buku.


Di rak sebelahnya, terdapat beragam buku sejarah, baik sejarah nasional maupun dunia. Rania mengamatinya satu per satu.


Pluk! Sebuah buku ukuran 17 x 22 cm terjatuh dari sela-sela buku sejarah tersebut. Rania memungutnya untuk dikembalikan ke rak.


"Sejarah lengkap Rumania?" Rania bergumam ketika membaca judul buku yang dipegangnya itu. Sepertinya cukup lengkap. Meski lebih kecil dibandingkan ukuran buku lainnya, tetapi sangat tebal.


Rania membuka-buka buku yang warna kertasnya mulai berubah kecoklatan. Sepertinya itu buku lama. Ah, pantas saja, ternyata terbitan tahun 1993. Rania saja belum lahir saat itu.


Semakin dibuai rasa penasaran, Rania kembali membolak balik halaman buku itu. Isinya sangat menarik perhatian Rania.


Selama ini, ia hanya tahu mamanya keturunan Rumania. Namun Rania tak pernah tahu seluk beluk keluarga Neneknya secara mendetail. Ia hanya tahu bahwa negara yang terletak di Eropa Tengah dan Tenggara itu memiliki keindahan alam yang sangat memukau, budaya yang unik dan sejarah yang panjang.


"Aku pinjam untuk di bawa pulang, ah," batin Rania. Ia semakin tertarik untuk membacanya.


Tluk! Sebuah foto hitam putih terjatuh dari dalam lembaran buku. Rania mengambil dan mengamatinya.


Foto tersebut mengabadikan seorang wanita asing nan cantik. Sorot matanya tajam, alisnya melengkung dengan tegas, bibirnya mungil, dan memakai pakaian tradisional Eropa. Cantik sekali. Tetapi siapa dia? Tak ada keterangan apa pun di dalam foto itu.


"Eh?" Rania tiba-tiba bergidik ngeri. Bola mata wanita di dalam foto itu seakan bergerak mengikuti gerakan Rania.


"Tak akan bisa keduanya hidup, salah satu harus mati, salah satu harus mengorbankan dirinya agar keseimbangan kehidupan tidak terganggu."


Zrug... Hah... Hah...


Dada Rania terasa sesak sekali, kepalanya terasa berputar ketika mendengar suara bisikan asing yang mengerikan tersebut.


Gedubrak...!!!


"Astaga! Tolong! Ada yang tertimpa rak buku." Bu Beva berlari keluar dari perpustakaan, mencari pertolongan. Entah bagaimana, rak buku di dekat Rania tiba-tiba ambruk.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2