
Publik kembali digemparkan oleh berita kontroversial dari keluarga Austeen.
Baru saja empat bulan lalu mereka dikejutkan dengan kasus narkoba, anak yang tertukar, hingga kasus tabrak lari yang menewaskan Rania Putri, kini mereka dikejutkan dengan pengakuan baru oleh keluarga konglomerat itu.
Di depan para wartawan, Chloe mengakui bahwa dua orang pelayannya hilang di rumah itu beberapa tahun yang lalu.
Gita Fitrilishia dan Nurma Harisa. Kedua pelayan yang bekerja di bagian penata busana pribadi itu hilang dalam waktu yang berbeda, karena sempat ketahuan mencuri beberapa pakaian mahal milik Chloe lalu menjualnya.
Meski keluarga mereka terus mendesak ingin mengetahui jejak para wanita itu karena sudah tidak ada kabar berbulan-bulan, namun Chloe selalu beralasan bahwa mereka melarikan diri karena ketahuan mencuri.
Hari ini, Chloe mengakui, bahwa ia sengaja menjebak kedua wanita itu memasuki ruang rahasia, dan mengunci mereka di sana selamanya.
Namun, rahasia itu terbongkar setelah Rania memecahkan semua teka-teki di rumah itu, dan membuka semua pintu rahasia yang ada di sana.
Rania tidak ingin, kasus itu kembali terjadi di masa yang akan datang. Dan orang tuanya menanggung dosa yang sangat besar.
Akibat pengakuan itu, Chloe pun menerima hukuman denda sebesar 2 Milyar untuk kedua keluarga para pelayan tersebut, dan hukuman penjaranya di tambah tiga tahun.
Sementara Geffie menerima tambahan hukuman penjara selama satu tahun.
Meskipun banyak yang membela sikap Chloe dan Geffie pada pelayan curang itu, namun tak sedikit pula yang menghujat mereka. Popularitas pasangan itu pun anjlok seketika.
"Maafkan aku, Ma, Pa. Andai saja aku tak membongkar teka-teki itu dan memaksa Mama Papa mengakuinya," ucap Rania.
"Tidak, Nak. Ini memang kesalahan kami yanh harus dipertanggung jawabkan. Kami bukanlah orang yang sempurna. Tapi kami ingin memperbaiki diri di sisa umur ini," ucap Geffie bijak.
"Terima kasih sudah menyadarkan Mama dan Papa, Nak. Kami akan menjalani hukuman ini sebaik-baiknya," kata Chloe pula.
"Tapi pesan kami, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jadilah orang yang jauh lebih baik dari pada Mama dan Papa," lanjut Chloe pula.
"Syukurlah..." ucap Rania lega.
Sekarang, tinggal satu misteri lagi yang membuat Rania penasaran.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Kamu yakin di sini tempatnya?" tanya Arka dan Felix.
"Iya. Jika itu TKP tewasnya Rania, berarti jalan setapak di sebelah kiri jalan ini menuju ke gubugnya Nenek Esther," kata Rania.
"Tapi kita sudah berjalan sekitar dua puluh menit dan tidak menemukan gubuk sama sekali," ucap Arka.
"Mungkin masih sedikit ke dalam lagi," ucap Rania ragu.
__ADS_1
"Teman-teman, kami boleh ikut juga, kan?"
Rania, Felix dan Arka menoleh ke belakang.
"Oh, Mi-mikko, Valen," jawab Rania kikuk.
"Tentu saja, boleh. Ayo ikut. Rania buta arah. Manatahu kalian bisa membantu," kata Arka ember.
"Husss," gumam Rania kesal.
"Kenapa? Kamu masih marahan sama Mikko? Dasar remaja labil," bisik Arka di telinga Rania.
Dengan setengah hati, akhirnya Rania pun mengizinkan kedua teman sekolahnya untuk ikut masuk ke hutan menemui Nenek Esther.
"Aku memiliki foto Nenek Esther saat ia masih muda dan juga sesaat sebelum ia melarikan diri ke hutan," kata Mikko sambil menunjukkan beberapa lembar foto.
"Kalau aku membawa peta hutan ini," kata Valen pula.
"Nah, ini sepertinya lebih membantu daeipada sekedar di handphone. Dari mana kalian mendapatkan barang-barang ini?" tanya Felix.
"Foto-foto ini aku dapatkan dari sekolah, setelah menanyakan soal perawat dan juga pustakawan asal Rumania bernama Esthera," jawab Mikko.
"Dulu dia pernah dituduh membunuh salah seorang siswa, lalu melarikan diri. Padahal setelah diselidiki, tuduhan itu nggak benar," jelas Mikko lagi.
"Kalau aku mendapatkan peta digital ini dari pengelola danau tadi," ucap Valen.
"Iya. Kami masuk ke sini atas izin pengelola danau," kata Valen memotong ucapan Rania.
"Nah, kalau gitu ayo kita lanjut jalan," ucap Arka semangat.
Empat jam kemudian...
"Rania, kamu nggak halu, kan? Kamu beneran bertemu Nenek Esther di sini?" ucap Felix kelelahan.
"Ya jelas, dong. Aku nggak mungkina halu. Gelang itu buktinya. Dia yang memberiku gelang itu," kata Rania.
"Tapi kenapa kita nggak menemukan gubuk sama sekali? Apa mungkin nenek-nenek tinggal di hutan selama puluhan tahun? Bisa aja kan dia hanya beberapa bulan di hutan, lalu kembali ke kota atau desa terdekat?" keluh Felix lagi.
"Benar! Dalam peta ini juga tidak ada foto gubuk?" sahut Valen.
"Duh, dasar anak mami. Baru diajak jalan bentar udah kecapekan. Mending tadi aku mengajak Wilson dan Wilbert ke sini," gerutu Rania.
"Coba lihat tuh jam tangan kamu. Kita udah jalan selama empat jam, lho. Aku rasa, kita sebentar lagi udah sampai ke puncak gunung," celetuk Mikko.
__ADS_1
"Udah mulai sore, nih. Turun aja, yuk," ajak Arka pula.
"Betul. Kita lanjut besok aja," sahut Valen.
Rania memajukan bibirnya tanda tak setuju.
Srak! Srak!
Dari arah timur, beberapa orang tim patroli hutan berjalan ke arah mereka.
"Adik-adik, kalian dari mana? Ini sudah hampir malam," tanya mereka.
"Ah, kami hanya penjelajah hutan yang ingin bertemu dengan nenek yang tinggal di sini," ucap Felix polos.
"Nenek-nenek? Tinggal di sini? Di hutan?" tanya mereka.
"Iya," jawab Felix dan kawan-kawan.
"Hmm... Kalian yakin ada nenek-nenek tinggal di hutan? Lagian kalian mau apa jumpa dengannya? Uji nyali untuk konten kamutube?" tanya para tim patroli itu lagi.
"Kami ada perlu dengannya. Dia adalah teman kecil nenekku," jawab Rania.
"Apa maksud kalian Nenek-nenek yang selalu pakai pakaian tradisional itu? Beliau memang nenek penjaga hutan ini sejak puluhan tahun lalu. Beliau juga sering menyelamatkan orang-orang yang tersesat."
"Iya, benar." Rania menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Oh... Kalau nenek itu rumahnya ada di sebelah tenggara dari sini. Berada dekat lembah. Kalau kalian lewat sana bisa sekalian ketemu jalan keluar," ucap salah seorang tim patroli tersebut.
"Tapi kalian yakin mau menemuinya? Beliau kan sejak satu tahun lalu... Ah, pokoknya sebaiknya kalian pulang saja," lanjutnya.
"Jadi gimana? Pulang atau lanjut," tanya Felix ketika tim patroli itu sudah pergi.
"Lanjut saja. Toh kita udah terlanjur sampai sini," kata Rania.
"Tapi kata mereka tadi, kalau satu tahun lalu nenek itu sudah..."
"Duh, kalian penakut banget sih. Kalau nggak mau pergi biar aku sendiri saja," marah Rania memotong ucapan Valen barusan.
Menjelang matahari terbenam, mereka pun berjalan ke arah lembah, seperti yang ditunjukkan tadi.
"Kalian mau ke mana?"
"Kyaaa....!"
__ADS_1
Suara wanita tua yang tidak tampak wujudnya, menakuti Rania dan kawan-kawan.
(Bersambung)