
"Kalau kamu? Ikut camping?" Zehra menatap Danur.
"Aku ikut. Waktu itu cuaca cukup buruk, seperti mau hujan lebat. Angin juga kencang. Kegiatan api unggun pun dibatalkan," cerita Danur sambil mengingat-ingat.
"Terus?" tanya para gadis penasaran.
"Kami semua disuruh berkumpul dalam tenda masing-masing. Tiba-tiba ketua regu Venus melapor, bahwa dua teman mereka hilang," lanjut Danur.
"Dua orang? Siapa aja?" tanya Rania.
"Hmmm... Kamu dan Audrey Eikberd. Masih ingat dengannya?" Danur balik bertanya.
"Ah.. Iya. Anak dewan komite sekolah, kan?" ucap Zehra.
"Bukannya dia udah lama pindah, ya?" tanya Rania.
"Iya. Dia pindah setelah kejadian itu. Kalian tahu nggak? Waktu itu pencarian dihentikan setelah Audrey ditemukan. Padahal saat itu kamu belum masih belum ketemu," cerita Danur. Ia menggali ingatannya dalam-dalam.
"Kok gitu?" protes para gadis.
"Rania benar-benar tidak menyangka, ada fakta seperti ini dibalik misteri kasus hilangnya siswa di perkemahan.
"Menurut tim penyelamat. Cuaca saat itu sangat buruk. Bisa membahayakan para tim penyelamat. Meskipun orang tua kamu dan beberapa guru memohon, mereka tetap menghentikan pencarian. Katanya bakal dilanjutkan pagi hari."
"Duh, gak manusiawi banget, tuh," marah Elle.
"Emangnya waktu itu separah apa cuacanya?" tanya Rania pula. Diam-diam ia merekam obrolan ini menggunakan ponselnya.
"Hujan lebat, disertai petir dan angin kencang. Tenda kami saja banyak yang rubuh dan mengungsi ke penginapan di tepi danau," ungkap Danur.
"Pantas saja kamu waktu itu ditemukan di dalam saluran air oleh ayah dan abangmu. Pasti mereka tetap meneruskan pencarian meski dilarang," kata Elle.
"Benarkah demikian?" Mata Rania berkaca-kaca membayangkan kejadian malam itu.
Betapa pilunya sang ayah, ketika ia menghilangdi tengah malam dan semua orang tidak ada yang peduli. Apakah Audrey ada hubungannya dengan kejadian ini? Atau cuma kebetulan saja?
Rania tahu betul. Audrey bukanlah anak sembarangan. Ayahnya seorang konsulat dan ibunya pengacara. Mereka sering berselisih dengan kedua orang tua Rania, Geffie dan Chloe, dalam banyak hal.
Mungkinkah Audrey merencanakan kasus hilangnya mereka, demi melenyapkan dirinya? Tapi kenapa nama yang kudengar dalam mimpi itu adalah orang tua Qiandra?
Pertanyaan lainnya, kenapa Rania Putri yang jadi korbannya? Apa mereka salah mengenali antara Edlyn Rania Austeen dengan Rania Putri? Kalau benar begitu, artinya semakin besar kemungkinan ada dua Rania di sekolah ini.
__ADS_1
Sudah bukan hal yang aneh lagi kalau Rania memikirkan hal-hal yang mustahil. Karena, kejadian yang ia dan Qiandra alami saja sudah sangat aneh.
"Danur, apa kamu tahu siapa ketua kelompok Venus? Aku ingin bertanya lebih banyak padanya," ujar Rania.
"Hmm... Kalau nggak salah sih, namanya Nurmairanti. Anak IPA 2. Aku juga sedikit lupa," sahut Danur.
"Kenapa waktu itu aku bisa keluar Audrey, ya?" gumam Rania.
"Nah, baru saja aku ingin menanyakan ini padamu," ucap Elle.
"Guys, kalian tahu nggak? Sebenarnya saat itu aku nggak ikut camping. Makanya gak ingat semua kejadian itu. Saat itu, aku lagi karantina untuk persiapan olimpiade."
Rania akhirnya memberanikan diri mengungkap sebuah fakta yang selama ini ia pendam. Mau sampai kapan ia pusing sendirian?
"Hah, maksudmu? Saat itu kamu benar-benar ikut camping, kok. Karena salah satu pemenang lomba membaca sandi itu kamu," tegas Danur.
"Nah, ini salah satu buktinya," gumam Rania dalam hati.
Sayang sekali, bel masuk memaksa mereka membubarkan diri.
... πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Aku dari kelas IPS," jawab Rania jujur.
"Ngapain? Ketemu Mikko, ya?" goda Alvi.
Gadis berkulit eksots itu meletakkan sebungkus makanan di meja Rania. "Nih, resoles mayo udang favoritmu. Aku sampai antre lho belinya," sambung gadis berambut keriting itu.
"Idih, Kok Mikko? Aku tadi cuma ketemu teman lama aja," sahut Rania jutek. "Wah... Trims, ya... Padahal aku bawa bekal dari rumah." Raut wajah Rania berubah seketika kala membuka bungkusan berbau wangi itu
"Sstt... Kok malah ngomongin Mikko, sih? Dia kan gosipnya udah jadian sama Qiandra," bisik Anjani.
"Sorry, aku lupa," bisik Alvi pula.
"Wah, ternyata Rania punya teman juga selain kami berdua," sela Alvi.
"Apa sih? Kok kesel ya dengarnya? Btw aku dengar lho kalian tadi bisik-bisik soal apa," sahut Rania sambil tertawa. Kedua temannya hanya saling sikut.
"Oh, iya. Nanti aku ganti ya uangnya. Enam ribu, kan?" lanjut Rania.
"Nggak perlu," tolak Alvi.
__ADS_1
"Udah, sih. Terima aja. Dia udah kerja sekarang," goda Anjani.
"Oh, ya. Kerja di mana? Kok aku nggak tahu?" ucap Alvi serius.
"Tuh, jadi pengasuh dia," jawab Rania spontan.
"Ih, bukan! Dia tutor aku untuk persiapan olimpiade," seru Anjani. Alvi hanya melongo mendengarnya.
"Btw, kalian masih ingat Audrey Eikberg, gak?" tanya Rania tiba-tiba.
"Ah, Audrey... Ingat, dong. Dia kan yang tiba-tiba pindah ke Belgia setelah kasus dia hilang dulu, kan?" jawab Alvi.
"Bukannya aku juga hilang saat itu?" pancing Rania.
"Eh? Tapi dia kan pindahnya tahun lalu. Sedangkan kamu baru beberapa bulan yang lalu," bantah Anjani.
"Tapi kata pembina osis, tahun ini gak ada kegiatan perkemahan lagi, karena ada kasus waktu itu," sela Rania lagi.
"Eh, masa sih? Aku nggak ikut pramuka. Jadi nggak tahu. Tapi kalau dia pindahnya tahun lalu, jadi kayak ada... plot hole nggak sih? Apa kamu yakin hilangnya dia bersamaan dengan kejadian kamu." gumam Alvi.
"Nah, itu dia. Aku ingat semua kejadian selama setahun terakhir, kecuali tentang kejadian itu. Kapan dan siapa teman satu reguku," kata Rania.
"Kok aku jadi bingung, ya," timpal Alvi.
"Aku juga bingung. Kamu sebenarnya kenapa, sih?" tambah Anjani.
Rania menjawab pertanyaan kedua sahabatnya hanya dengan mengangkat kedua bahu, "Kalau Nurmairanti kalian kenal, nggak?"
"Mira maksudnya? Anak IPA 2 tuh. Yang chubby imut-imut gitu. Emang kenapa?" tanya Alvi.
"Istirahat kedua temani aku ketemu sama dia yuk," ajak Rania.
"Ayo anak-anak, pada kembali ke kursi masing-masing. Ibu akan mengisi jam kosong kalian dengan pelajaran kimia," seru Bu Atun yang tiba-tiba muncul.
Para siswa berhamburan menuju ke kursi masing-masing.
"Yah... Kemerdekaan kita direbut, guys," gumam seorang siswa
"Iya, nih. Padahal jadwal pelajaran kimia kita udah tiga kali seminggu, lho," sahut beberapa siswi pula.
"Apa kalian bilang? Mau marathon keliling sekolah siang ini?" seru Bu Atun sambil memasang wajah garang.
__ADS_1