
"Ruang VVIP? Awas kalau dia nanti pesan macam-macam," ujar Rania sambil membalas pesan dari Mikko.
^^^"Aku lagi piket kelas. Setelah itu aku langsung ke sana," tulis Rania.^^^
Ia tadi pagi sudah izin pada ibunya, bahwa ada janji dengan Mikko siang ini.
Lima belas menit kemudian, Rania tiba di Warung Iga Penyet yang dijanjikan Mikko. Tak sulit bagi gadis berkulit putih itu menemukan ruang VVIP. Ini bukanlah pertama kalinya ia makan di sana. Tentu saja, saat itu statusnya masih seorang model terkenal.
"Telat sepuluh menit," ujar Mikko ketika Rania menuju mejanya.
"Ya, maaf. Angkotnya ngetem dulu. Orang kaya mah mana paham angkot kalau lagi ngetem," ujar Rania pura-pura merajuk.
"Aku udah pesan, nih. Kamu buruan pesan juga," perintah Mikko.
"Ehm aku bawa bekal... Kamu sendiri pesan apa tadi?" tanya Rania penasaran.
Batinnya terus berdoa, semoga uang yang dibawanya kini cukup untuk membayar menu makanan pesanan tuannya. Harga makanan di restoran ini tidak bisa dibilang menjangkau semua kalangan. Mineral water aja harganya lima belas ribu segelas. Bisa untuk ongkos angkot berapa hari tuh?
"Sudahlah Rania. Kamu tak perlu khawatir soal pembayarannya. Kamu pilih saja menu yang kamu suka," ucap Mikko tiba-tiba menjadi baik.
Di saat yang bersamaan, seorang pria berkumis tebal, usia sekitar lima puluh tahunan, duduk bersama di meja mereka. Rania spontan menggeser kursinya.
"Rania..." Mikko memberi isyarat mata.
"Apa?" balas Rania dengan isyarat mata juga. Kami tak mengenalinya, bukan?
Mikko melirik ke arah pria itu, seakan menyuruhnya bersalaman. Dada Rania berdesir.
"Itu bukan pria hidung belang, kan? Apa maksudnya aku tak perlu membayar, tetapi harus menemani tua bangka ini?" batin Rania ngeri.
"Rania, kamu tidak lupa pada papaku, kan?" ujar Mikko kemudian.
"Papa?" ucap Rania spontan.
Dahi Mikko dan pria itu berkerut, "Kamu benar tak mengenali papaku?" tanya Mikko lagi.
"Hahahaha... Bukan begitu... Aku..." Rania menggaruk kepalanya karena malu.
"Kamu pasti terkejut, Om tiba-tiba datang mengganggu acara kalian berdua," ujar pria yang bernama Ganendra Walandou itu.
"Ng-nggak kok, Om," jawab Rania salah tingkah. Ia lalu menyalami Om Ganendra.
Ia memang menyangka hanya akan makan berdua. Tetapi ia lebih tidak menyangka lagi, orang yang dipikirnya pria hidung belang, ternyata papa dari gebetannya.
__ADS_1
"Papa kebetulan ada kerja di dekat sini. Dari pada makan siang sendirian, lebih baik kita ajak makan bersama," jelas Mikko, setelah Rania dan papanya memesan menu.
"Tidak apa-apa kan, Rania?" tanya Om Ganendra.
"Gak apa-apa kok, Om. Dari pada cuma berdua, pasti bakal canggung mau ngobrolin apa," sahut Rania.
"Loh, kok gitu? Kalian berantem? Biasanya juga selalu belajar bersama di rumah. Kalian juga sering bikin cumi goreng tepung untuk camilan. Kamu tuh udah seperti anak gadis Om," kata Om Ganendra.
"Hah, kapan? Rania kan alergi cumi," Rania menjawab dengan spontan. Mikko dan papanya kompak mengerutkan dahi.
"Eh, ma-maksudnya, Rania sekarang alergi cumi. Jadi kapan-kapan jangan masak cumi lagi," ujar Rania terbata-bata. Bisa gawat kalau Mikko dan Om Ganendra curiga.
"Bagaimana keadaanmu? Katanya kemarin kecebur parit di dekat danau, ya?" Om Ganendra mengalihkan pembicaraan.
"Nah, itu dia Pa. Rania aneh semenjak dia jatuh masuk parit. Kayak sering linglung gitu," komentar Mikko.
"Hah? Kenapa bisa begitu? Paritnya dalam, ya? Atau kepala kamu terbentur?" tanya Om Ganendra cemas.
"Tinggi airnya hanya 60 cm kok, Pa. Anak kecil saja tidak akan tenggelam. Apa memang ada benturan, ya?" kata Mikko.
Rania kembali tersipu malu, "Semua orang mengatakan insiden masuk parit itu. Dan waktu itu aku juga mimpi tenggelam. Sepertinya permulaan masalahnya berada di sana. Tetapi, memangnya aku minggu lalu ada ke danau?" pikir Rania.
"Papa juga lagi pusing, nih. Seorang tersangka kasus percobaan pembunuhan mengaku, jika jiwanya terjebak dalam tubuh orang lain. Seperti reinkarnasi atau bertukar jiwa begitu. Papa gak ngerti deh fantasi begituan," cerita Om Ganendra.
"Mengapa begitu? Memangnya dia gila?" tanya Mikko.
"Masih diselidiki. Apakah itu hanya bualan dia agar terlepas dari hukum. Atau memang gangguan mental seperti Skizofrenia* atau tidak. Tetapi cukup membuat penyelidikan jadi terhambat. Dia terus menerus mengatakan, jika ia aslinya berasal dari Kanada," terang Om Ganendra.
*Skizofrenia adalah gangguan mental jangka panjang. Penderitanya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Sehingga penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri. (Berbagai sumber).
Rani tiba-tiba pucat mendengarnya, "Apa benar aku hanya mengalami delusi berkepanjangan? Tetapi ini terlalu nyata jika dibilang delusi? Bagaimana aku bisa mengingat secara detail semua kehidupanku dahulu?"
"Rania, kamu tidak berpikir mengalami jiwa tertukar atau Skizofrenia juga, kan?" celetuk Mikko.
Tepat sekali. Ia memang sedang memikirkan semua kemungkinan itu.
"Sudah... Jangan sudutkan Rania terus. Mungkin ia hanya kelelahan karena aktivitas yang padat, jadi kurang fokus," sela Om Ganendra. "Makan, yuk. Papa lapar, nih," lanjutnya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, Rania terus teringat pada ucapan Om Ganendra. Apakah ia menderita gangguan mental? Atau ia memang bertukar jiwa? Tetapi rasanya semua itu tidak masuk akal. Terlalu banyak anomali dari kasusnya ini.
Petunjuk terbesar saat ini adalah danau. Sepertinya ia harus memastikan lagi ke danau. Apakah ada sesuatu di sana?
__ADS_1
"Dek, mau turun di mana?" tanya sang supir angkot.
"Simpang Garuda, Bang," jawab Rania.
"Simpang Garuda? Sudah lewat dari tadi, Dek," jawab sang supir.
"Eeeh...?" Rania tak memperhatikan jalan lagi karena sibuk berpikir. "Saya turun di sini saja, deh," ucap Rania lagi.
Yah... Sepertinya kesialan siang ini belum berakhir.
Malam harinya....
"Rania, kamu jual berapa kue ini per potong? Kenapa uangnya banyak sekali?" tanya ayah curiga.
"Waduh, mampus. Aku lupa kalau ayah pasti menghitung jumlah dagangan dan hasilnya," gumam Rania dalam hati.
"Rania?" desak ayah.
"Nggak apa-apa kok, Yah. Yang beli anak orang paling kaya di sekolah, kok," jelas Rania sambil menyeringai jahil.
"Ya tapi tidak boleh seperti itu juga. Itu namanya riba," omel ayah.
"Jangan marah dong, Yah. Yang beli gak keberatan, kok." Rania membela diri. "Oh iya. Ini sup iga untuk makan malam kita," ujar Rania.
"Itu kamu beli pakai uang hasil dagangan juga?" selidik ayah.
"Bukaan... Ini dibelikan Om Ganendra. Tadi siang Rania dan Mikko makan bersama Om," jelas Rania.
"Walah... Kamu udah jadian dengan Mikko, ya?" ledek Arka.
"Ih.. Nggak," bantah Rania.
"Yaudah. Kali ini ayah maafkan. Tetapi janji, ya. Lain kali jangan berjualan di sekolah lagi," ucap ayah kemudian.
Rania mengangguk.
"Yang serius dong janjinya," pinta ayah.
"Janji..." ujar Rania ogah-ogahan. Ayah hanya mendelik tanda tak yakin dengan janji putrinya.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1