Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 30 – Persaingan


__ADS_3

Lantai tiga Apartemen Kencana. Pukul 07.30….


“What the h*ck! Peluncuran jam tangan mewah? Tak bisa dipercaya. Aku kalah satu langkah lagi dari mereka,” marah Malfoy.


Prang!!! Ia melempar botol minumannya ke lantai. Kemasan minuman berenergi gambar banteng itu hancur berkeping-keping di lantai.


Ruangan sederhana ukuran 4 x 3,5 meter itu membuatnya sesak. Ditambah lagi pendingin ruangan yang tidak bekerja dengan baik. Menambah panas pikiran pria berdarah Inggris itu.


Lawan bisnis keluarga Ansley itu rupanya tidak hanya mengeluarkan produk perhiasan konvensional saja, tetapi juga merambah bisnis lainnya juga. Boleh juga idenya. Tetapi mengapa malah dilakukan di Amsterdam? Bukannya untuk jam tangan lebih baik diperkenakan di Swiss atau Jepang?


“Ah, bodo amat. Kalau mereka kalah strategi kan aku juga yang diuntungkan,” pikir Malfoy. “Tetap saja aku merasa kesal. Aku sudah membuang waktu untuk ‘mengurus’ putrinya, tetap mereka malah memanfaatkan waktu itu untuk melangkah lebih jauh. Si*la*n!” marah Malfoy. Kali ini kaki meja di depannya yang jadi sasaran kemarahannya.


“Apa mereka tidak pernah memikirkan anak mereka?” pikirnya lagi.


Tuk… tuk… Brakk!!


“Argh…! Kenapa barang di rumah ini tidak ada yang bisa bekerja dengan baik, sih?” Remot AC yang di lempar oleh pria itu terbelah menjadi dua.


“Lihat saja. Aku akan menyusun rencana baru. Jika kali ini aku berhasil, akan kurebut kembali apartemen mewahku yang ditempati wanita itu,” ucap Malfoy. Ia masih belum berbaikan dengan istrinya.


Pria bule itu berdiri di sisi jendela kamarnya. Menyibakkan tirai jendela agar sinar matahari memasuki kamarnya dengan leluasa. Matanya yang hijau, memandang jauh ke luar jendela. Seorang pria terlihat menggendong anak laki-laki berseragam TK di pundaknya. Seorang lainnya membonceng anak perempuannya yang berseragam putih abu-abu dengan sepeda motor.


Terbesit iri di hati Malfoy, “Seperti apa ya, rasanya memiliki anak? Pasti akan menyenangkan. Hidupku tidak akan membosankan seperti ini,” gumamnya.


Beberapa minggu belakangan, ia terasa sangat kesepian. Setelah pisah rumah dengan istrinya, hidupnya menjadi semakin tidak teratur. Berat badannya turun seketika.


Siang dan malam tak terasa berbeda. Ia tidak bisa tidur maupun makan. Pikirannya hanya tertuju pada dua hal, rumah tangganya yang telah retak dan bisnisnya yang diujung tanduk.


Hati kecilnya marah, tetapi ia juga tak bisa melepaskan wanita itu melalui sidang cerai. Apa pun yang dilakukannya, semata-mata karena mencintai Fania Ansley, istrinya.


“Kenapa kami tidak punya anak, ya? Rasanya hari-hariku pernah diselimuti kehangatan. Tetapi sekarang yang kurasakan hanyalah musim dingin berkepanjangan,” pikir Malfoy.


Jika dilihat dari sifat ambisius Fania, rasanya tidak mungkin mereka akan memiliki bayi. Jangankan untuk mengurus anak, membuatkan sarapan untuknya saja tidak pernah. Hari-hari wanita itu selalu dipenuhi dengan pekerjaan dan ambisinya menjadi supermodel, mengalahkan Chloe Austeen.


Drrrttt… Ponsel Malfoy bergetar. Siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini?


"Kamu sudah lihat portal berita bisnis?"


"Hmmm..." jawab Malfoy malas.


"Lihatlah, kamu kalah lagi kan dari mereka? Dan kutebak, kamu pasti sedang menghancurkan seisi ruangan demi melampiaskan kekesalanmu," ujar Fania di seberang telepon.

__ADS_1


"Apa kamu menelepon hanya untuk mengatakan ini?" tanya Malfoy mulai kesal. Jarang sekali Fania meneleponnya duluan, tetapi ketika menelepon justru mengatakan hal yang tidak perlu.


"Tidak juga. Aku ingin mengatakan jika aku berhasil duduk di dalam tim summer show, mengalahkan anak ingusan itu,” ujar Fania.


“Oh… Kamu pikir itu murni karena usahamu? Kalau bukan karena aku membayar mahal make up- make up tidak berguna milik Aska Vilton, serta mensponsori liburan pada pemegang saham Beverly Mall, belum tentu kamu akan mendapatkannya. Mereka pasti masih memihak gadis ingusan itu,” kata Malfoy.


“Kemampuanmu tidak berkembang ya dari dulu. Masih selalu bermodalkan sogokan seperti zaman purba,” ucap Fania tanpa berterima kasih sedikit pun. “Sudah dulu, ya. Aku sibuk,” ucapnya lalu menutup telepon.


"Tuh, dia sama sekali tidak menanyakan kabarku. Bagaimana bisa seorang istri berperilaku seperti itu?" kesal Malfoy. Moodnya semakin buruk. Jemarinya mengetikkan sebuah nama di kontak teleponnya.


"Halo?"


"Darrent, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku," pinta Malfoy tanpa basa basi.


"Apa pun itu, kawan. Tetapi apa yang akan kamu berikan padaku?" ucap Darrent.


“Dasar!" gerutu Malfoy.


"Aku memihak seseorang karena keuntungan yang mereka berikan padaku. Bukan karena hubungan kekeluargaan apalagi pertemanan. Hubungan keluarga tak mampu memberikan jaminan untuk kehidupan di usia tua,” jelas Darrent.


"Huh! Aku pasti akan memberikanmu sesuatu yang sangat benefit. Kamu pasti bisa membuka kafe impianmu nanti, dan menikahi Olivia,” kata Malfoy.


Ia tahu, jika sahabatnya itu sangat mencintai Olivia, teman mereka sejak remaja. Namun entah kenapa, Darrent tak pernah punya keberanian untuk mengajaknya ke hubungan yang lebih serius.


"Percayalah. Kali ini aku pasti berhasil. Aku jamin kamu segera bebas dari pekerjaanmu yang sekarang. Tetapi jika kamu berkhianat di tengah jalan, maka aku tak akan mengampunimu. Ku pastikan kamu akan menjadi mumi di rumahmu sendiri,” kata Malfoy. Ia lalu mengatakan rencananya pada Darrent.


“Dasar kamu! Itu rencana yang riskan banget. Aku nggak akan bisa melakukannya seorang diri. Leherku akan menjadi ancamannya jika rencana ini meleset sedikit saja,” kata Darrent.


“Aku juga tak akan membiarkanmu kerja seorang diri. Aku akan mengirim beberapa orang yang terpercaya sebagai rekan kerjamu. Tetapi berusahalah agar tidak ketahuan. Tetapi sebelum itu, kamu harus memberikan informasi yang kuminta secara berkala,” kata Malfoy.


“Ugh… Apa aku masih bisa berpikir ulang. Ini terlalu berat bahkan untuk seorang komplotan kelas dunia sekali pun. Aku memang menginginkan uang dan pengakuan lebih dibandingkan sekarang. Tetapi nyawaku juga hal yang sangat berharga,” ucap Darrent mulai ragu.


“Kamu sudah mendengar semua rencanaku. Jika kamu mundur maka sama saja dengan bunuh diri. Ingatlah, ayahmu selalu menunggumu pulang setiap musim dingin,” kata Malfoy.


“Baiklah, aku akan berusaha,” kata Darrent kemudian.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Dzzztttt…. Dzzzttttt…


Brak! Malfoy menendang mobilnya yang tak mau menyala.

__ADS_1


“Selalu saja ada hal yang membuatku kesal,” gumamnya. Selera makannya tiba-tiba hilang.


“Mobilnya kenapa, Om? Mogok, ya?” seorang gadis kecil berambut cokelat menyapanya.


“Hei, gadis kecil ini tidak takut padaku?” pikir Malfoy bingung. Jangankan anak kecil, kasir minimarket aja takut menatap wajahnya.


“Iya, nih. Mobil Om sedang mogok. Kamu sama siapa? Sendirian?” tanya Malfoy hati-hati. Gak lucu kan, jika dia dianggap pedofil nanti.


“Aku sama Papa. Itu Papaku,” tunjuk gadis kecil itu.


“Ya ampun, Nak. Sudah Papa bilang jangan pergi jauh-jauh dari mobil kita,” ujar seorang pria tiga puluh tahunan.


“Mobil Om ini mogok, Pa,” kata gadis itu.


“Benarkah?” ucap pria itu pada Malfoy.


“Ah, iya benar. Maklum, mobil tua,” jawab Malfoy.


“Kamu bisa meminjam engineering kit milikku jika mau. Oh iya, aku Deni, penghuni lanti dua,” kata pria yang merupakan ayah dari gadis kecil itu.


“Malfoy. Jika kamu berkenan, aku ingin sekali meminjamnya,” sahut Malfoy.


“Tentu saja. Kamu bisa mengembalikannya nanti padaku,” ujar Deni. Ia kemudian mengambil engineering kit miliknya.


“Terima kasih,” ucap Malfoy. “Ini juga ada hadiah untuk gadis kecil kita yang baik hati.” Malfoy memberikan beberapa pita dan gantungan kunci cantik yang tersimpan di dalam mobilnya.


“Terima kasih, Om,” jawab gadis cilik itu.


“Punya anak perempuan juga, ya?” tanya Deni.


“Hmm… Tidak. Itu hadiah makanan ringan yang kubeli,” jawab Malfoy berbohong.


Sesungguhnya ia juga tidak mengerti, mengapa ada jepit rambut di dalam mobilnya. Tadi pagi, ia juga menemukan dua pasang kaos kaki lucu warna pink di dalam lemari baju. Milik siapa ya kira-kira? Fania bukanlah orang yang suka mengoleksi benda seperti itu.


"Pa, di dalam kap mobil Om itu tadi ada seorang gadis yang sedang tertidur. Wajahnya seram sekali seperti hantu. Rambutnya hitam dan panjang sekali," kata gadis itu ketika berjalan menuju lift.


"Kamu jangan menghayal yang aneh-aneh lagi, sayang," kata Deni.


Siapa yang tahu, jika gadis kecil itu ternyata indigo.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi


__ADS_2