Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 128 - Peri Hutan


__ADS_3

"Mikko, tunggu!"


Rania menunggu Mikko di parkiran sekolah.


"Yo," sahut Mikko.


"Kamu kan sudah janji untuk cerita padaku. Tapi kamu malah ingkar janji jam istirahat kedua tadi," ujar Rania dengan wajah kesal.


"Maaf, Rania.Tadi aku di panggil ke ruang BP. Padahal aku ingin menemuimu di perpustakaan tadi," jawab Mikko.


"Dipanggil ke ruang BP? Kenapa? Anak teladan sepertimu masuk ruang BP?" tanya Rania tak percaya.


"Hei, anak teladan bukan berarti nggak pernah bikin kesalahan, kan? Aku juga siswa biasa yang bisa aja melakukan kesalahan," ujar Mikko diiringi senyuman tipis yang sangat manis.


Perasaan Rania nggak enak, saat mendengar kalimat Mikko, "Nggak ada masalah apa-apa, kan? Mereka nggak tahu kan kalau kamu menghacker data sekolah?" bisik Rania.


"Tenang aja? Semua sudah terkendali," jawab Mikko.


"Terkendali? Maksudmu apa?"


"Udah... Kamu pergi kerja aja dulu ke tempat Qiandra. Nanti sepulang kerja aku jemput, terus aku ceritakan soal mamaku." Mikko mengalihkan pembicaraan.


"Hei, Mikko. Jelaskan dulu padaku. Ada apa sebenarnya?" desak Rania.


"Nggak ada apa-apa. Kamu nggak terlambat pergi kerja?"


"Nggak. Qiandra bilang, hari ini aku nggak perlu ke sana. Jadwal hari ini hanya rapat para pemegang saham. Dan sudah dihadiri oleh wakil CEO dan dewan direksi," jawab Rania.


"Oo.."


"Jadi, kamu mau cerita, kan?" Rania terus mendesak.


"Ya... Ya... Tapi jangan di sini. Kita cari tempat dulu sambil makan siang," kata Mikko sambil memberikan sebuah helm pada Rania.


"Kok sekarang kamu bawa helm dua terus?"


"Ya jaga-jaga aja. Mana tahu aku bisa mengantarmu ke tempat Qiandra, atau menjemputmu pulang kerja."


Mikko mengedipkan sebelah mata.


"Gawat! Ganteng banget sih dia?" batin Rania.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Mikko akhirnya membawa Rania pulang ke rumahnya. Mereka hanya beli nasi bungkus padang untuk makan siang.


"Mamaku itu keturunan Spanyol dan Jawa. Wajahnya sangat cantik. Ia mewarisi rambut hitam, bibir mungil dan juga bulu mata lentik khas orang Jawa. Tapi di sisi lain, ia memiliki mata biru, kulit putih dan tubuh tinggi dari ayahnya yang dari Eropa," cerita Mikko.

__ADS_1


"Pantas anaknya ganteng gini," gumam Rania.


"Eh, apa?"


"Nggak. Rendangnya kok pedes gini," ucap Rania tergagap.


Mikko hanya tersenyum. Ia sebetulnya dengar, apa yang dikatakan Rania tadi.


"Terus, kenapa ibumu sampai di bully? Padahal udah cantik gitu. Jangan-jangan yang bully itu malah mirip boneka annabel," tanya Rania.


"Mamaku memang cantik dan jadi bunga desa. Tapi, menurut teman-teman perempuannya, dia sangat aneh," kata Mikko. Ia menjeda sebentar ceritanya, untuk minum air putih.


"Aneh gimana?" tanya Rania.


"Hmm... Gimana ya jelaskannya?" Mikko berpikir sejenak.


"Gampangnya sih, mamaku itu sangat menyukai tumbuhan, terutama bunga. Ia seperti mengerti makna dari setiap bunga itu. Mama lebih sering menyendiri di kebun dari pada bermain dengan teman-temannya. Malah ada yang bilang, kalau mama itu sering ngomong sama bunga."


"Ah, masa?" celetuk Rania tak percaya.


"Iya. Aku juga pernah melihatnya sendiri. Mama kadang ngomong sama bunga, kayak ngerti bahasa mereka. Kalau tanaman di kebun itu ada yang layu atau mati, mama bakal sedih banget," cerita Mikko.


"Ohh..."


"Kamu pasti juga mikir kalau mamaku itu aneh, kan?" tebak Mikko.


"Yah.. sedikit. Tapi nggak sampai ngebully juga, sih. Terus apa hubungannya dengan cerita Audrey padaku?" ucap Rania.



"Oh, seperti nenekku, ya? Jadi itu sebabnya rumah ini memiliki taman yang lebih luas dari pada rumah?" kata Rania.


"Ya. Kata mama, setiap bunga itu memiliki manfaatnya sendiri-sendiri. Sayangnya, kemampuan mama itu membuatnya semakin sering dibully," kata Mikko.


"Terus?" Rania tak sabar menunggu kelanjutannya.


"Sayangnya mama melanggar suatu hal. Jadi ilmu mistis itu bisa berarti baik atau jahat sesuai niat dan kepribadian pemiliknya. Nah, suatu hari mama yang sudah capek dibully, membuat ramuan khusus untuk mencelakai teman-temannya."


"Astaga!" seru Rania. "Pasti ibumu sudah lama menahan sakit hatinya," lanjut Rania.


"Pastinya. Dan papaku sudah berusaha membela mama, tapi ternyata para pembully itu jauh lebih cerdik. Mama pun melakukan rencana balas dendam. Ia meramu beberapa bunga dan tanaman dengan hati marah, dan menumpahkan air ramuan itu di setiap mobil mereka," cerita Mikko.


Rania mendengarkannya dengan penasaran.


"Tanpa disadari, rupanya rencana jahat itu malah jadi bumerang bagi mama. Para roh jahat lalu menghasut teman-teman mama untuk merusakkan rem mobil mama."


"Ah... Maaf aku telah memaksamu menceritakan hal pahit ini," ucap Rania.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Toh akhirnya para pembully itu juga tewas. Mobil mereka benar-benar tidak bisa dikendalikan setelah disiram oleh ramuan itu. Aneh, kan? Tapi itulah kenyataannya," kata Mikko.


"Kamu udah lihat buku-buku mistis di perpustakaan, kan?" kata Mikko kemudian.


"Yah.. aku udah lihat. Beberapa juga udah ku baca," jawab Rania.


"Setelah mama pergi, aku baru menyadari. Kalau mama sudah merencanakan balas dendam itu sejak lama. Mama mempelajarinya dari buku. Dia bahkan memesan akar mandrake dari luar negeri, memetik bunga melati di malam hari, dan menggentikan konsumsi bawang putih."


"Akar mandrake?" gumam Rania.


"Jadi, aku menyadari suatu hal. Tidak ada ilmu sihir hitam atau putih di dunia ini. Yang ada hanya sifat dan hati manusia yang terus berubah sesuai hawa nafsunya," ujar Mikko.


Rania mengernyitkan dahinya. Ini mirip seperti yang didengarnya waktu kejadian aneh malam tadi.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Apa ya maksud Mikko tadi? Apa dia sengaja bilang gitu untuk membela Qiandra? Duh, nggak tahu deh."


Rania memasak makan malam untuk keluarganya dengan perasaan kacau balau.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam. Wah, Ibu sudah pulang? Dari mana saja? Kok tadi nggak kerja di rumah Om Ganendra?" tanya Rania.


"Tadi Ayah dan Ibu pergi tes DNA di rumah sakit polisi. DNA kami akan disesuaikan dengan sampel darah di aspal TKP tabrak lari," jelas ibu


"Ah... Rupanya penyelidikannya sudah sampai sana, ya? Terus hasilnya gimana?," gumam Rania.


"Hasilnya masih belum keluar. Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi," kata ibu.


Rania bisa melihat rasa cemas dan sedih dari wajah ibu. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini harus segera diungkap, agar semua kembali seperti semula.


Drrt... Tiba-tiba HP Rania berbunyi. Qiandra meneleponnya.


"Ada apa, Qian?" tanya Rania.


"Apa kamu sudah dengar kabar? Kalau Mikko ditangkap polisi karena menghacker data sekolah?" tanya Qiandra dengan cemas.


"Apa? Kau serius?" balas Rania.


"Iya. Aku baru saja mendengarnya dari Felix. Dan Om Ganendra sampai sekarang masih belum diizinkan untuk bertemu Mikko," ucap Qiandra.


"Sudah kuduga. Ada yang aneh sejak Mikko dipanggil ke ruang BP. Tapi bagaimana keadaan Bang Arka sekarang?"


(Bersambung)


__ADS_1


Dalam budaya Eropa, bawang putih mampu menangkal sihir, ilmu hitam dan juga vampir. Bawang putih juga dipercaya mereka mampu memurnikan jiwa.


Sedangkan akar mandrake yang mirip dengan ginseng ini, sering digunakan dalam ritual sihir tingkat tinggi. Namun, akar mandrake ini juga bisa mencelakai penggunanya jika tak berhati-hati.


__ADS_2