
"Huuffhh... Nyebelin banget. Udah berhari-hari aku kerja di sana, tapi belum ada satu petunjuk pun. Penjagaan pun semakin di jaga ketat karena ada masalah kemarin."
Rania melangkah gontai melalui gang rumahnya yang cukup sepi. Padahal saat itu baru pukul tujuh malam. Udara yang sejuk sehabis hujan, ditambah lagi jalanan yang agak becek, membuat orang lebih memilih berdiam diri di rumah.
Seharian ini Qiandra lebih banyak diam. Entah karena dia sedih karena ucapan Rania tadi, atau dia mearah dan nggak terima, Rania nggak tahu. Yang jelas senyum yang terukir di wajahnya sejak pulang sekolah tadi hilang seketika.
Perang dingin kembali menyelimuti kedua remaja cantik itu.
"Gimana caranya aku meminta gelang itu padanya, ya? Aku masih yakin, ada petunjuk lainnya di gelang itu."
Rania terus berjalan sambil berpikir.
"Aku gegabah banget. Padahal dia lagi sedang menari muka padaku. Kenapa tidak ku manfaatkan saja, ya?" sesal Rania.
"Halo cantik. Mau ke mana?"
Suara wanita yang menyapanya dengan lembut itu seketika menghentikan langkahnya.
Rania menatap sekeliling. Tidak ada siapa pun. Hatinya mulai gelisah.
"Siapa sih yang ngeprank malam-malam gini?" keluhnya.
"Bukan begal, kan?" pikirnya lagi.
Jalanan selebar satu setengah meter itu dibatasi oleh pagar tinggi milik perusahaan makanan olahan di sebelah kanan.
Sedangkan sebelah kirinya adalah kebun milik warga yang ditanami tanaman pisang, ubi dan beberapa pohon buah-buahan.
Penerangan di sana sangat minim. Rumah paling dekat berada lima puluh meter ke depan.
Melihat keadaan yang tidak kondusif, Rania pun memmpercepat langkahnya. Ia tidak mau mengambil resiko buruk.
"Hei, kok malah lari, sih? Aku jangan di tinggal dong? Hehehe."
Rania memutar lehernya ke kiri dan ke kanan. Suara itu membuat bulu kuduknya berdiri sekaligus penasaran.
"Ahh...! Astaga!" Rania menjerit.
Sedang wanita berpakaian putih dan rambut terurai tersenyum ke arahnya.
"Kenapa kau lari, sih?"
"Kau yang kenapa? Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu pakai baju putih dan berdiri di bawah pohon rambutan seperti itu? Lagi syuting film horor?"
Rania menumpahkan semua kekesalannya pada wanita itu.
"Aku ingin ke rumahmu tanpa diketahui pengawalku. Tapi rupanya aku lupa di mana rumahmu dan menelepon Livy. Ia menyuruhku menunggu di sini."
__ADS_1
"Kenapa nggak telepon aku saja," ujar Rania.
"Sudah kulakukan. Lihat saja, berapa banyak panggilan tak terjawab di nomormu."
Rania mengambil HPnya dan benar saja, ada delapan panggilan dak terjawab dan dua pesan singkat dari nomor tidak di kenal.
"Ah, aku baru ingat. Tadi aku sengaja memasang mode silent ketika meeting."
"Tuh, kan..."
"Kak, Audrey! Sudah menunggu lama?" Livy datang sambil berlari.
"Kenapa kau baru datang, sih? Hampir aja aku mati karena jantungan," marah Rania.
"Hah?" Livy menatap kakaknya dengan bingung.
"Udah... Gak usah dengarkan kakakmu. Dia emang aneh. Yuk, ke rumahmu," ajak Audrey.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Aku kaget banget waktu kakak meneleponku tadi. Aku nggak nyangka banget, seorang model terkenal meneleponku bahkan mau datang ke rumahku," ujar Livy ceria.
"Ah... Tadi aku minta nomormu pada panitia acara show besok. Lagian, aku kan teman kecil dan kakakmu," jawab Audrey.
"Eh, beneran? Kakak teman kecil Kak Rania? Ku pikir hanya teman SMA aja."
"Cukup sampai di situ, Audrey. Aku nggak mau mendengarnya lagi. Apa tujuanmu datang ke sini," ujar Rania.
"Yah... Padahal aku mau minta maaf soal kejadian waktu kita kecil, sama kejadian waktu pramuka. Tapi kayaknya kamu tidak bisa memaafkannya," ucap Audrey dengan wajah sedih.
"Minta maaf? Kamu kira kejadian kayak gitu bisa diseleaaikan hanya dengan kata maaf?" Rania benar-benar marah.
"Aku tahu ini sangat terlambat dan tidak bisa mengubah apa pun lagi. Tapi setidaknya, aku tidak terus-terusan mendiamkan masalah ini," ucap Audrey.
"Apa kamu tahu dampak dari perbuatanmu itu?" Mata Rania terbuka lebar. Suara desah napasnya terdengar sangat jelas.
Audrey menundukkan kepalanya. Apa lagi yang harus ia katakan pada Rania, agar mau menerima permintaan maafnya.
"Kakak-kakakku yang cantik, sudahi dulu pertengkarannya. Besok kita ada acara besar. Lebih baik kita fokus ke sana dulu," ucap Livy sambil meletakkan sepiring bakwan jagung panas.
"Ah, benar. Maafkan aku, Livy. Hampir saja aku terbawa emosi," kata Audrey.
Tanpa rasa sungkan, gadis jelita itu menyomot sebuah bakwan di piring.
"A-"
"Aduh!" Audrey melepaskan bakwan dan menaruhnya kembali.
__ADS_1
"Yah... baru aja aku mau bilang 'awas', kalau bakwan itu masih panas," tawa Livy.
Rania memandang kedua perempuan di depannya. Ia tak tahu, bagaimana kedekatan dan pertengkaran yang dialami Rania Putri dulu.
Tetapi, ia harus terus berakting sebagai Rania Putri, agar Audrey maupun Livy tidak curiga.
Masalahnya sampai sekarang, ia belum tahu motif Audrey datang ke Indonesia sampai mendekati adiknya.
Padahal beberapa waktu yang lalu, dengan tegas Audrey mengatakan ia tak mau ikut campur urusan Rania lagi.
"Jadi, Kakak besok pakai baju rancangan siapa?" tanya Livy.
"Hmm... Rahasia. Tapi semua design yang aku lihat kemarin bagus-bagus, kok," jawab Audrey.
"Yah... Nggak bisa dikasih bocoran dikit, ya?" bujuk Livy.
"Nggak surprise dong entar. Tapi yang jelas, baju yang aku pakai besok, adalah baju terbaik musim ini. Jadi, bukan design yang juara pertama kemarin yang terbaik," jawab Audrey.
"Ooh... Gitu ya? Berarti masih ada keaempatan designku bakal jadi yang terbaik, dong," seru Livy bersemangat.
"Berdoa saja," sambung Audrey lagi.
Rania tak ikut serta dalam obrolan Audrey dan adiknya. Ia justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Jadi bagaimana hasilnya, Pak?"
"Sejauh ini belum ada kaitannya, kasus produksi dan peredaran narkoba ini dengan Tuan Malfoy," jawab Pak Burhan, seorang intel BNN*.
*BNN : Badan Narkotika Nasional
"Tapi kemarin itu...? Protes Qiandra.
" Ya, itu hanya pembelaannya sebagai seorang suami. Wajar kalau dia ingin melindungi istrinya," jelas Pak Burhan.
"Ckk... Padahal aku sudah sangat yakin, kalau Malfoy adalah dalang utama di balik semua masalah ini," kata Qiandra.
"Terus, kalau dugaan tabrak lari yang terjadi satu tahun lalu bagaimana?" tanya Qiandra.
"Apa Nona sangat menginginkan mereka masuk penjara? Sepertinya ini tidak ada kaitannya dengan masalah Nona," jawab Pak Naufal, intel dari kepolisian reserse Narkoba.
"Mungkin memang tidak. Tapi ini terkait masalah kemanusiaan. Masa masalah seperti ini mau kita diamkan saja," sahut Qiandra.
"Bukan kita diamkan, Nona. Tetapi hingga satu tahun berlalu, tidak ada laporan orang hilang atau pun tuntutan hukum dari korban tabrak lari itu sendiri. Jadi kami tidak bisa meneruskan penyelidikannya," jelas Naufal pula.
"Jadi harus ada laporan korbannya dulu, ya? Susah juga kalau begitu," gumam Qiandra.
__ADS_1
(Bersambung)