
Tik! Tik! Tik! Jarum jam terus berputar, mendekati pukul dua belas malam.
Krrrkkk.. krrrkkkk.. cit... ciit...
Burung hantu dan kelelawar berputar-putar di udara saling bersahutan. Hewan-hewan itu terlihat sangat gelisah.
Semakin mendekati tengah malam, purnama membentuk bulat sempurna, menyinari belahan bumi yang gelap.
Hampir semua orang di kota telah terlelap. Tak ada satu pun yang menyadari, kalau kabut kegelapan yang membawa rasa keputusasaan menyelimuti seluruh kota.
Aaaaauuuuu.....
Lolongan panjang dari para anjing liar, menandakan waktu tepat menunjukkan tengah malam. Pergantian hari itu pun diikuti dengan perubahan suhu udara yang sangat drastis.
Cklak kerrkkk! Jendela kamar para Nona muda terbuka dan tertutup dengan sendirinya Hawa dingin mengalir ke dalam kamar tanpa penghalang.
"Uh... Uh...Hekkkk!"
Napas Rania terasa sesak. Seluruh tubuhnya kakum Gadis itu merasa seseorang mencekiknya sangat kuat. Dalam keadaan masih setengah mengantuk, Rania pun mengumpulkan tenaga untuk melawan sosok yang belum dilihatnya dengan jelas.
"Siapa kamu? Singkirkan tanganmu dari tubuhku," seru Rania sambil memfokuskan pandangan.
"Qian! Qian! Bangunlah! Tolong aku!" seru Rania sambil mempertajam penglihatannya.
Hah!! Napas Rania kembali normal. Ternyata tidak ada seorang pun yang mencekiknya. Tapi, sosok berbaju aneh itu benar-benar berdiri di depan tempat tidurnya.
"Hei, siapa kamu!" ulang Rania.
Mata Rania menoleh cepat ke arah Qiandra. Akan tetapi, tempat tidur mewah itu kosong. Rania kembali melihat ke depan.
"Qian? Kamu Qiandra?" tanya Rania dengan rasa tak percaya.
Wanita mengenakan gaun Eropa Klasik itu memiliki rambut berwarna hitam. Padahal beberapa waktu lalu, Qiandra sudah mengembalikan warna rambutnya menjadi pirang. Wajahnya tak bisa dibilang ramah. Tapi ia memang benar-benar Qiandra.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa berpakaian aneh seperti itu?" tanya Rania sambil mundur ke belakang. Gadis itu berusaha menemukan HPnya.
Sayang sekali, bukannya ia menemukan HP miliknya, kamar indah itu malah berubah menjadi hutan lebat. Lantai kamar yang terbuat dari batu marmer mahal, kini hanya betupa tanah berlumut. Pohon-pohon aneh muncul di sekeliling mereka. Kabut tebal pun turun, menghalangi pandangan Rania. Suasana hijau kelam sangat mendominasi.
"Sihir itu bukan hal yang mudah untuk dihancurkan. Hanya jiwa yang tulus yang mampu memecahkannya."
"Apa kamu bilang?" tanya Rania. Ia masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
"Jiwa-jiwa yang terkutuk, bukanlah orang-orang yang berdosa. Mereka hanyalah korban dari kekuatan gelap yang berselindung di dalam hati manusia."
__ADS_1
Sosok Qiandra dalam tampilan berbeda itu berjalan menjauhi Rania. Ia hampir saja menghilang di kegelapan.
"Tunggu! Jelaskan dulu apa yang terjadi pada kita sekarang." Rania berusaha mengejar Qiandra.
"Hanya itu yang bisa aku katakan. Sihir hanya bisa dihancurkan oleh pemilik jiwa yang tulus."
Srak! Kaki Rania tersandung. Ia hampir saja terjatuh.
"Eh?" gumam Rania.
Tanpa disadari, ternyata pakaian yang dikenakan Rania juga telah berubah. Ia mengenakan gaun putih panjang.
Sambil mengangkat ujung gaunnya, ia terus mengejar Qiandra yang semakin menjauh dari pandangan.
"Tunggu! Jangan pergi!" panggil Rania. Tapi badan Rania tiba-tiba kaku. Tubuhnya sangat berat, seperti sedang memanggul seseorang.
Suasana hutan serba hijau, kini berganti menjadi lembah salju yang amat dingin.
"Aaaaaa!!!!" Rania berteriak sekencang-kencangnya, ketika mengetahui sosok menyeramkan mencengkeram tubuhnya.
Sssssshhh...
Qiandra yang tadi berada sangat jauh, kini tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
"Tidak!" tolak Rania.
"Berikan gelang itu padaku, kalau mau kutukan sihirnya segera hilang."
"Aku bilang, tidak! Ini hanya tipu muslihatmu saja, kan? Kau membaca buku sihir dan mempraktekkannya padaku. Lalu kau meminta gelang ini untuk kepentinganmu sendiri," kata Rania.
"Aku tak pernah berbohong padamu, sayang. Kemarikan gelang itu. Kembalikan gelang itu pada pemiliknya. Hanya jiwa yang tulus yang bisa menghancurkannya."
"Aku nggak akan pernah memberikan gelang ini padamu. Aku pemilik gelang ini!" tolak Rania.
"Kau bukan pemiliknya. Akulah pemiliknya. Akulah sang penyihir, yang bisa memusnahkan sihir ini," pintanya lagi.
"Kau pikir aku akan percaya? Aku adalah keturunan keluarga Austeen yang sah. Jadi akulah pemilik gelang ini. Kau penipu, kau pembully. Kau tidak akan bisa menghilangkan sihir ini," jawab Rania.
Tubuh gadis itu mulai terluka, karena cengkeraman yang sangat erat dari makhluk menyeramkan itu.
"Tidak sayangku, kau bukanlah siapa-siapa. Hatimu menyimpan jiwa yang gelap. Kau dikuasai rasa iri dan pikiran negatif. Kau tak mampu memusnahkan sihir ini. Sebaliknya, jiwamu akan semakin dikuasai oleh kegelapan."
Rania yang semakin lemah dan terluka, tak mamou membalas Qiandra lagi. Perlahan, tubuhnya ambruk ke tumpukan salju yang membekukan tubuh.
__ADS_1
"Ini pilihan terakhirmu untuk mengakhiri penderitaan kita. Aku tak akan merebut gelang itu. Kau bisa menyerahkannya dengan sukarela."
Sayangnya, hingga detik terakhir sebelum ia pingsan, Rania tak kunjung berubah pikiran.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Eh, itu suara Adzan subuh?" Rania mengerjapkan matanya. Ia melihat sekeliling. Sayup-sayup, ia mendengar lantunan adzan yang dikumandangkan di masjid.
"Lho, aku masih di kamar Qiandra?" ucap Rania dengan nada kecewa. Ternyata, mereka masih belum kembali ke tempat semula.
"Jadi, yang tadi malam itu hanya mimpi?" pikir Rania.
Gadia itu turun dari ranjangnya untuk ke kamar mandi.
"Shhh... Aduh!" Bahu Rania terasa nyeri. Ia punelihat ke cermin.
Ternyata kulit bahunya terluka, seperti terkena cakaran kuku yang sangat tajam.
"Hei, aku beneran terluka. Apa jangan-jangan..."
Rania pun mengecek sesuatu. Sepertinya kejadian malam itu bukanlah mimpi. Ia bisa melihat bekas lumpur dan lumur menempel di kakinya dan kaki Qiandra.
Jendela kamar terbuka. Jejak-jejak kaki yang masih basah dan kotor, terdapat di seluruh bagian kamar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Rania bingung.
Tak mau mengambil resiko besar, Rania pun meninggalkan rumah mewah itu, sebelum Qiandra bangun.
Beberapa jam kemudian, Rania bersiap ke sekolah Selama di dalam angkot, ia terus mendengar pembicaraan orang-orang, tentang suhu kota yang menurun drastis tadi malam.
Bahkan beberapa diantaranya mengaku, bahwa mereka melihat salju turun dengan sangat lebat.
Tentu saja ini aneh. Kota mereka kan berada di negara tropis. Tapi gimana bisa, udara di kota ini mencapai suhu minus sembilan derajat tadi malam. Apalagi sampai turun salju.
Keanehan tak sampai disitu, beberapa petugas jaga malam juga mengaku melihat ratusan kelelawar memenuhi langit kota, disertai lolongan anjing yang menyayat.
Semuanya benar-benar aneh.
"Aku harus menemui Mikko. Aku harus segera menceritakan kejadian yang aku alami tadi malam," pikir Rania setelah sampai di sekolah.
Setelah menyimpan tas sekolah ke kelasnya, Rania segera meluncur ke kelas IPS untuk menemui Mikko.
Deg!
Pemandangan tak menyenangkan menjadi asuoan sarapannya pagi ini. Rania melihat Mikko mengelus Rambut Qiandra yang halus.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.